Alina menatap Gibran tanpa berkedip. “Apa maksudmu dia membutuhkan bayi itu?” Gibran tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu pelan di belakangnya. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, seolah sedang menimbang sesuatu yang sulit untuk dikatakan. “Ayahku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan,” katanya akhirnya. Alina menyilangkan tangan di d**a. “Itu sudah jelas.” Gibran berjalan mendekat sedikit. “Tapi Soraya juga tidak.” Alina menunggu. “Soraya tidak bisa memiliki anak.” Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan berat. Alina mengerutkan kening. “Lalu?” “Dia sudah mencoba selama tiga tahun.” Alina mengingat sesuatu yang Soraya katakan siang tadi. Dokter mengatakan kemungkinannya hampir nol. Namun tetap saja— “Banyak pasangan

