Aku dan Richard akhirnya mematikan shower. Hentinya suara air terasa seperti penutup sebuah bab—bukan karena segalanya telah usai, melainkan karena jeda yang sengaja diciptakan. Ia meraih handuk lalu menyerahkannya kepadaku. Aku mengeringkan tubuhku tanpa tergesa, membiarkan kehangatan yang tertinggal di kulit bertahan, seperti sisa keputusan yang belum sepenuhnya mereda. Richard tidak banyak bicara. Tangannya kembali menggenggam tanganku—kali ini lebih tegas, seolah ia tak ingin membiarkan momen itu terurai menjadi kecanggungan. Ia lalu membawaku keluar dari kamar mandi. Aku telanjang. Richard juga. Dan anehnya, rasa malu bukan yang pertama muncul. Yang ada justru perasaan terbuka dalam arti yang lebih luas: aku tidak sedang disembunyikan, juga tidak sedang dipamerkan. “Ayo,” katanya

