bc

Diblokir Tetangga

book_age18+
1.2K
IKUTI
11.5K
BACA
love-triangle
goodgirl
drama
first love
friendship
like
intro-logo
Uraian

Apa jadinya ketika niat baik untuk menolong tetangga ternyata justru berakibat fatal bagi diri sendiri? Kisah ini tentang Inamah, ibu rumah tangga satu anak yang menjadi korban playing victim dari Lastri, tetangga yang dipinjaminya uang. Sengketa kian rumit manakala bukan hanya lari dari hutang ataupun menebar fitnah kemana-mana , ternyata Lastri punya masa lalu kelam bersama Bram selaku suami Inamah, hingga niat jahat untuk menyingkirkan Inamah menjadi tujuannya yang harus terlaksana. Tak tanggung-tanggung, ibu mertua Inamah pun dikompori oleh Lastri agar semakin benci pada menantunya sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Kabur Dari Hutang
Sebelumnya aku tak pernah sedikit pun menaruh curiga pada Mbak Lastri, tetangga samping rumahku. Beliau orang yang baik. Supel dan ramah terhadap siapa saja. Sering Mbak Lastri mengantar makanan ke rumah. Entah itu kue kering, bolu atau pun buah-buahan segar. Kebetulan Mbak Lastri dan suaminya pendatang di kotaku dan rumah yang ia singgahi saat ini adalah rumah mertuaku. Sudah setahun lebih mereka mengontrak di sana. Aku dan Mbak Lastri cukup dekat. Seperti kataku tadi, sering sekali beliau mengantar makanan ke rumah. Hingga satu hari itu tiba. Dimana kedatangannya bukan sekadar mengantar makanan atau pun bingkisan, tapi ada embel-embel lain alias hutang. Aku selalu mempunyai uang simpanan sendiri. Dari hasil jual gamis secara offline maupun online. Tak banyak yang kudapat, tapi meski begitu aku tetap menjalaninya karena senang bisa menghasilkan uang sendiri. Ya, meskipun gaji suami selalu mencukupi. Tak ada salahnya 'kan kalau aku tetap berjualan. Suatu hari, Mbak Lastri datang ke rumah. Sembari mengantar bubur kacang beliau mengajakku berbincang. Hingga di akhir pembicaraan beliau memasang wajah melas. Berkata bahwa keuangan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi saat beliau bercerita suaminya kena PHK. Aku tak tega. Awalnya beliau meminjam seratus ribu. Lalu beberapa hari kemudian meminjam dua ratus ribu dan hari-hari berikutnya beliau kembali meminjam dengan jumlah yang lebih besar. Mbak Lastri selalu menggunakan alasan kebutuhan rumah tangga untuk meminjam uang. Beras habis, listrik habis, air habis, gas habis dan lain sebagainya. Di satu sisi aku mulai merasa risih dan sedikit khawatir apakah ia nanti mampu membayar hutang-hutangnya. Sementara di sisi lain, aku tak tega jika tak meminjaminya. Ya, sesimpel itu alasanku. Tak tega karena ada anak kecil di rumahnya. Mbak Lastri mempunyai satu anak laki-laki. Namanya Hasan. Ia berusia lima tahun. Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya jika tak ada makanan di rumah Mbak Lastri. Sementara ada Hasan, yang mungkin saja ia kelaparan. Bagaimana pun aku juga seorang ibu. Tahu rasanya saat tak punya apa-apa. Apalagi kalau dengar anak menangis ingin makan. Sungguh, aku tak tega. Hanya saja, kebaikanku telah disalah artikan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah lebih dari setengah tahun, Mbak Lastri tak juga berniat untuk membayar hutangnya. Padahal, Mas Rudi suaminya Mbak Lastri sudah kembali bekerja. Itu pun karena suamiku yang membantu memasukkannya. Ya, sekarang Mas Rudi dan suamiku berada di satu perusahaan yang sama. Mbak Lastri sudah sangat berubah. Terkesan menghindariku dan mebuang muka saat tak sengaja bertemu. Jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dulu. Tentu gaji suaminya saat ini sudah lebih dari cukup untuk membayar hutang-hutangnya padaku, tapi ... entah mengapa, sepertinya Mbak Lastri enggan untuk melunasinya. Pernah tak sengaja bertemu. Ia sedang belanja perhiasan baru. Cincin, kalung, gelang, semua terpasang manis di tubuhnya. Belum lagi status Watsapp yang sering ia tampilkan. Makan-makan di berbagai resto maupun rumah makan. Jalan-jalan ke tempat wisata bersama keluarganya. Dan satu lagi yang membuatku tercengang. Saat kulihat ia memiliki teman-teman sosialita dengan aneka barang branded yang cukup mahal harganya. Jika nominal uang yang ia pinjam tak besar, mungkin aku akan diam saja, tapi hutang Mbak Lastri bukan sejuta dua juta. Melainkan lebih dari lima juta rupiah. Bagaimana pun itu adalah uangku dan aku berhak untuk menagihnya. Mbak Lastri jarang ada di rumah. Kalaupun ada, pintu rumahnya tak pernag terbuka. Selalu tertutup sempurna. Inisiatif, kuhubungi saja nomor WA nya. [Assalamualaikum, Mbak. Gimana kabarnya? Lama nggak ketemu. Saya mau ada perlu, nih.] Kukirim satu pesan untuknya. Tak lama, balasan dari Mbak Lastri kuterima. [Iya, ada apa?] [Saya mau nagih hutang, Mbak. Karena sedang butuh hehe.] Balasku lagi. Lama. Kulihat hanya ada centang dua berwarna biru. Artinya ia sudah membaca pesanku. Sampai beberapa menit berselang tak juga ada jawaban. [Mbak, saya beneran butuh.] Kukirim satu pesan lagi. Kulihat ada keterangan mengetik di bawah foto profilnya. Sebentar lagi ia pasti membalas. [Oh, jadi kamu udah miskin sampai nagih begini? Nggak bisa apa lihat orang bahagia sebentar? Bakal aku bayar kok. Kalem. Tenang aja. Lagian, baru juga tadi pagi dapet uang arisan. Sekarang udah ditagih-tagih. Nggak seneng ya lihat tetangga seneng?!] Degh! Astagfirullah. Dadaku berdenyut nyeri. Sakit sekali. Tak menyangka dengan balasan Mbak Lastri. Meski dalam tulisan, tetap saja rasanya sakit membaca kata-kata itu. Kuketik beberapa baris pesan untuknya. [Bukan begitu, Mbak. Maaf, tapi memang saya lagi butuh. Uang yang mbak pinjam itu modal untuk jualan saya.] Send. Semoga Mbak Lastri tidak salah paham lagi. Aku bahkan baru tahu kalau ia dapat uang arisan. *** Aku tak pernah bercerita kepada Mas Bram, suamiku. Tentang uang-uang yang dipinjam Mbak Lastri selama ini. Karena memang uang yang kupinjamkan berasal dari hasil jualanku. Jadi, kupikir aman-aman saja tak perlu meminta izin. Biarlah hal itu menjadi urusan pribadiku. Malam beranjak semakin larut. Aku terbangun saat mendengar suara gaduh dari arah depan. Kuturuni ranjang dan bergerak cepat menuju daun pintu. Sempat kulihat jam yang terpasang di dinding kamar tadi. Hampir tengah malam. Mataku terbelalak melihat apa yang terjadi di halaman depan. Sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah Mbak Lastri. Oh, ya, halaman rumah Mbak Lastri dan halamanku memang jadi satu. Seperti kataku di awal. Rumah kami benar-benar berdampingan. "Ada apa, ya, Dek?" "Astagfirullah!" Aku nyaris terperanjat. Tak menyadari ada Mas Bram di belakang. Kutimpuk pundaknya. "Ngagetin aja!" seruku. Mas Bram mendekat. Ia ikut mengintip di jendela, sama sepertiku. "Mbak Lastri sama Mas Rudi mau pindah rumah? Kok malem-malem begini? Kenapa?" Kuangkat kedua bahu, "Entahlah, Mas," jawabku. Kami hanya mengintip lewat jendela. Ingin melihat ke luar rasanya tak enak. Karena sudah benar-benar larut malam. Melihat barang-barang yang diangkut ke atas mobil, jelas sekali bahwa mereka sedang pindah rumah. "Kok, pindahan malam-malam begini? Mereka kenapa, sih? Apa ada masalah sama kita?" tanya Mas Bram lagi. Membuatku jadi berpikir. Apakah karena hutang yang kutagih? Tapi, apa sampai segitunya harus pindah rumah? Itu 'kan uangku. Wajar dong jika aku menagih. Aku juga tak berkata kasar. Bahkan menghubunginya dengan cara baik-baik. Justru Mbak Lastri yang tak menggubris. Pesanku saja belum dibalas sampai sekarang. "Sudahlah, Dek. Kita lihat saja besok. Toh, pasti Mas Rudi nganterin kunci ke rumah Ibu. Nanti di kantor coba aku tanyain." Aku mengangguk. Nurut saja dengan ucapan Mas Bram. Kami kembali masuk ke dalam kamar. Melanjutkan tidur dan menyelami dunia mimpi. Aku mendadak ketakutan sendiri. Kalau Mbak Lastri pindah. Lantas, apa kabar dengan hutang-hutangnya selama ini? *** Pagi hari saat Mas Bram sudah berangkat kerja dan aku sedang sibuk beres-beres rumah. Kudengar suara pintu diketuk dengan keras. Aku bergegas cepat membuka pintu. Sebelum Kia, anakku terbangun karena suara gaduh dari luar. "Ibu?" ucapku saat membuka pintu. Plak! Satu tamparan mendarat sempurna di pipi sebelah kananku. Tak menyangka aku ditampar ibu mertua. "Kamu pakai baju tertutup begini ternyata genit juga sama suami orang!" Ibu mertua menunjuk-nunjuk ke mukaku. Wajah Ibu memerah padam. Belum sempat aku bertanya, beliau sudah tampak geram sekali. "Maksud, Ibu apa?" tanyaku. "Halah! Itu si Lastri bilang kalau kamu genitin suaminya. Makanya dia pindah rumah juga. Kamu tahu nggak, sih? Karena mereka pindah. Otomatis pendapatan Ibu nggak ada! Kamu sengaja? Hah?!" Astagfirullah! Ibu mertua membentak dan masih menunjuk-nunjuk ke mukaku juga ke arah rumah Mbak Lastri. "Ini fitnah, Bu," kataku membela diri. Dadaku sesak menerima tuduhan dari Ibu. Apalah ini, menuduhku genit pada suami Mbak Lastri? Ya Allah, ataukah ini sengaja Mbak Lastri yang mengomporinya? "Fitnah apanya? Wong, Rudi juga mengakuinya!" Hah? Mas Rudi? Ya Allah .... Belum sempat aku mengelak lagi atas tuduhan Ibu. Terdengar suara Kia menangis dari dalam kamar. "Dengar, ya! Ibu nggak mau tahu! Mulai bulan depan kamu harus gantikan penghasilan Ibu yang hilang!" Brakk! Suara pintu dibanting seiring langkah kaki Ibu meninggalkan rumahku. Beliau bahkan tak menengok Kia, cucunya sendiri. Sejak awal, aku memang menantu yang tak diinginkan. *** Jika ini hanya menyangkut hutang piutang. Mungkin aku tak akan terlalu geram menghadapi Mbak Lastri. Akan tetapi, ini menyangkut nama baikku yang semakin buruk di mata Ibu mertua. Apalagi Mas Rudi juga ikut-ikutan memfitnahku. Cepat, kuraih gawai dari atas nakas. Tak sabar ingin menghubungi nomor Mbak Lastri dan meminta penjelasannya. Aku tak tahu mana yang benar dan yang salah. Ibu mertua ataukah Mbak Lastri dan Mas Rudi. Kutelvon via Wa karena tak punya pulsa. Adanya kuota internet saja. Sambil menyusui Kia, kuhubungi nomor Mbak Lastri. Berkali-kali kupanggil, tapi tak ada keterangan berdering saat panggilan. Hanya tulisan memanggil saja terus-terusan. Sampai gawai panas pun tak kunjung berubah. [MBAK SAYA ADA PERLU!] Sengaja kuketik dengan capslock jebol. Biarkan saja. Geram sekali rasanya. Kuamati Watsapp Mbak Lastri. Hanya centang satu dan baru kusadari bahwa tak ada foto profil yang terpasang seperti biasanya. Bersambung ....

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.4K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook