2. Fitnah Keji

1052 Kata
"Sejak kapan kamu genitin suami orang? Hah?!" "Mas--" "Jawab!" Mas Bram mencengkeram kedua lenganku. Matanya mendelik. Dadanya kembang kempis. Aku tahu ia sedang emosi saat ini. Ibu mertua sudah pasti mencekokinya dengan tuduhan sebelah. Aku hafal betul, sejak dulu Mas Bram sangat percaya dengan berita apa pun yang Ibu bawa. "Jawab Inamah!" bentaknya kasar sambil mendorong tubuhku hingga nyaris terjerembab ke belakang. Aku meringis menahan sakit. Mas Bram, memang sekasar ini jika sedang emosi. Kuusap kedua mata dengan punggung tangan. Ya, aku menangis. Air mataku menggenang bebas tanpa bisa kukendalikan. Mewakili hati yang teramat perih. Ingin kuutarakan semua kebenarannya. Akan tetapi, jika sudah emosi seperti ini. Mau kebenaran sekalipun yang kusampaikan. Mas Bram tak akan pernah percaya. Bahkan, ia bisa jauh lebih murka. Aku harus bagaimana? Mematung saja menerima segala tuduhan darinya? "Nggak habis pikir sama kamu. Kurang apa Mas selama ini, Dek? Bisa-bisanya genitin suami orang! Sakit hati, Mas." Suara Mas Bram bergetar. Ada nada kecewa yang kutangkap dari ucapannya. Sementara dadaku sendiri, selain sesak ada denyut nyeri yang terus menjalar ke dalam hati. Suamiku, ia sangat pencemburu. Kuangkat wajah, mencoba memberanikan diri menatap ke arah Mas Bram. Ia sedang memijit kening sendiri. Maaf, Mas. Ini salahku. Aku terlalu percaya pada orang lain dan tak jujur sejak awal. Andai aku bisa terus terang, tapi .... Suaraku menggantung di tenggorokan. Aku tak sedikit pun berani mengeluarkannya. "Mas Rudi sudah cerita semuanya!" kata Mas Bram tegas. Aku terpaku mendengar kalimatnya. Jadi, info yang Mas Bram dapat bukan dari Ibu? "Banyak sekali yang ia ceritakan. Sampai-sampai, Mas bahkan sangat jijik mendengarnya dan foto-foto itu ...." Eh, apa? Foto? Kenapa jadi semakin melebar ke mana-mana? "Kamu sangat murahan!" cela Mas Bram kasar. Bagai ditusuk-tusuk jarum. Nyeri hati ini mendengar ucapan Mas Bram. Sumpah demi apa aku dikatai suamiku begitu? Sungguh, sudah tak tahan lagi rasanya. Hatiku teramat gatal. Apa maksud Mas Bram dengan mengomentariku murahan? Fitnah apa yang Mas Rudi sampaikan pada suamiku hingga ia mencelaku sekasar itu? Aku berdiri, bangkit dari posisi duduk. Kuraih gawai dari saku gamis yang kukenakan. Mas Bram membuang muka. Tangan kanannya mengepal kuat. Aku berjalan mendekat sambil membuka layar gawai yang menyala. Sudah kubuka Watsapp Mbak Lastri. Pesan-pesan yang ia kirimkan sebelumnya masih tersimpan rapih. Sengaja tak kuhapus sebagai jaga-jaga jika hal seperti ini terjadi. "Mas," panggilku takut-takut. Sedikit ragu aku mendekat. Kusodorkan gawaiku padanya. "Ba--baca ini dulu, Mas," ujarku lagi. Mas Bram menoleh. Ia menarik segaris senyuman ke samping kiri. Digeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa melihat isi dalam layar yang menyala. Diraihnya cepat gawai milikku, lalu .... Brakkk!! Mataku membulat. Batrai dan cassing tercecer sempurna. Gawaiku, hancur berkeping-keping. Dibanting dan diinjak oleh Mas Bram. Satu-satunya bukti yang aku miliki ada di situ. Ya Allah .... "Jangan tunjukkan apa pun! Mas sudah jijik melihat foto-foto kamu di gawai Rudi tadi!" *** Seandainya aku jujur sejak awal. Seandainya aku tak mudah percaya pada orang lain. Seandainya pula rasa kasihan bisa kukendalikan. Mungkin, aku tak akan semenyedihkan ini. Mas Bram termakan fitnah hingga menyebutku murahan. Lalu, foto-foto yang ia ucapkan tadi? Maksudnya apa? Aku sama sekali tak mengerti foto mana yang Mas Bram maksud. Apakah ini sengaja direncanakan oleh Mbak Lastri dan Mas Rudi? Tujuan mereka apa sebenarnya? Kenapa harus aku dan keluargaku? Jika mereka menghindari karena perkara hutang, harusnya cukup menjauh dan tak perlu memfitnahku, tapi sepertinya ini menyangkut hal lain. Ternyata, terlalu baik pada orang lain bisa menjadi boomerang bagi diriku sendiri. *** Kuamati wajah Mas Bram yang sedang terlelap. Ia tidur di sofa ruang tamu. Sama sekali tak menemuiku sejak pertengkaran tadi. Apa yang harus kulakukan? Gawaiku sama sekali tak berfungsi. Memang susah jika menghadapi orang yang berwatak keras. Mas Bram jika marah tak bisa diajak kompromi. Bahkan, ia tak sampai berpikir jernih. Sementara Mas Bram tertidur pulas. Aku berjalan mengendap meraih gawainya yang tergeletak di atas meja. Ya, aku yakin Mas Bram pasti menyimpan nomor Mas Rudi. Tak ada cara lain selain menemui pasangan tak tahu diri itu. Mas Rudi dan Mbak Lastri. Aku harus meminta penjelasan atas apa yang mereka lakukan. Kalau perlu kulabrak langsung ke rumahnya. Geram sekali hati ini. *** Pagi hari menyapa. Aku sedang menyiapkan sarapan untuk Mas Bram. Sementara suamiku itu sedang duduk sambil menekuri gawainya. Semoga ia tak curiga apa pun. Semalam sudah kucatat nomor Mas Rudi dan Mbak Lastri. Tak langsung kuhubungi dua makhluk tak punya adab itu. Tak ingin saja jika Mas Bram semakin buruk sangka padaku. "Nanti aku mau ke rumah Ibu," celetuknya tiba-tiba. Duh, gimanalah ini, apa jadinya jika Ibu turut mengompori. "Jam berapa, Mas?" tanyaku selembut mungkin. "Pulang kerja!" tandasnya. Kuputar otakku dengan cepat. Berpikir. "Iya, hati-hati," timpalku kemudian. Sudah kuputuskan. Akan kubereskan satu-satu. Selama Mas Bram kerja, ada peluang untukku menemui Ibu. "Aku pergi dulu." "Kenapa buru-buru, Mas? Sarapannya?" "Nggak usah." Mas Bram bangkit dari duduk. Ia tanpa sedikitpun menoleh padaku. Dingin. Seperti itulah jika sudah marah. Aku bahkan tak dianggap ada. *** Tak menunggu lama. Selepas Mas Bram pergi dan mumpung Kia masih tidur. Aku berjalan cepat menuju telpon rumah di ruang keluarga. Kukeluarkan selembar kertas berisi catatan nomor Mbak Lastri dan Mas Rudi. Kupencet dengan segera. Menekan tombol-tombol angka. Tak lama panggilan terhubung. Sudah gatal ini mulut ingin mengata-ngatai Mbak Lastri. "Halo, siapa ini?" tanyanya. "Inamah, Mbak. Inget?" Bentakku. "Oh, kenapa lagi? Ada urusan apa?" sahutnya enteng. Ih. Geram sekali rasanya! Sebegitu entengnya ia bicara. Lupa apa sama hutang yang ia bawa. Belum lagi sudah memfitnahku pada Mas Bram dan Ibu. "Enak ya, udah ditulung malah mentung! Lupa kamu selama ini, Mbak! Hah?!" Emosiku sudah meledak. Ingin sekali kuberkata kasar mendengar suaranya. Tapi masih berusaha kutahan-tahan. "Ya ya ya, jadi, kamu minta aku balas budi? Gitu?" jawabnya seakan meledekku. "Di mana kamu tinggal? Aku ada perlu! Jangan sembunyi kau!" Aku mendesis. "Oh, mau apa? Mau genitin suamiku? Ke sini aja. Noh, aku pindah juga masih satu daerah sama kamu. Di kontrakan Bu Yuyun. Tahu, 'kan? Gang belakang," ujarnya santai. Sudah kukekepal tanganku. Emosi memuncak di ubun-ubun. Dia ... sama sekali tak merasa bersalah. Bahkan menuduhku akan menggeniti suaminya? Wah, benar-benar tetangga gak ada akhlak! "Datang saja ke sini kalau masih punya nyali. Toh, nama kamu sudah tercemar sampai ujung gang." Brakk! Kubanting gagang telpon dengan kasar. Ada, ya, orang seperti ini? Ya Allah. Dia pikir apa? Aku bakal diam saja? Membiarkan ia menginjak harga diriku? Memfitnahku sesuka hatinya? Oh, tidak semudah itu mantan tetangga! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN