"Datang saja ke sini kalau masih punya nyali. Toh, nama kamu sudah tercemar sampai ujung gang."
Masih terngiang kata-kata Mbak Lastri dalam panggilan tadi. Sebegitu jahatnya ia berbuat seperti itu. Mencemarkan namaku. Ah, entahlah, fitnahan apa yang telah ia buat. Kupikir ia perempuan yang tak tahu diri saja. Menghindari hutang dengan memilih berpindah rumah. Tapi, dugaanku salah. Rupanya ia dan Mas Rudi cukup licik juga.
Kepalaku pusing. Dadaku sesak. Memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi. Tentang Ibu yang meminta jatah kontrakan. Tentang ulah Mbak Lastri dan suaminya yang tak tahu diri. Juga tentang Mas Bram yang ... ah, aku tak sanggup melanjutkannya.
Andai Mas Bram berdiri di sisiku. Percaya dengan apa yang kukatakan. Tentu hal seperih ini tak akan terlalu menyiksa.
Karena sebesar-besarnya masalah akan menjadi ringan saat ada belahan hati yang turut menopang.
Akan tetapi, bahkan suamiku itu tak mau mendengarkan kata-kataku. Maka, jalan satu-satunya adalah mendatangi rumah Mbak Lastri di kontrakan Ibu Yuyun. Memaksanya untuk berkata jujur di depan Ibu dan Mas Bram. Demi kehormatan juga harga diriku.
***
Cahaya mentari menelisik ke dalam jendela kamarku. Membiaskannya ke seluruh ruangan. Menerangi setiap sudut-sudut yang ada.
Kususui putri kecilku, Kia. Hanya ia yang terlihat menghiburku di saat seperti ini. Dengan memeluk dan menciuminya saja aku bisa menemukan sedikit ketenangan. Nyaman.
Kuhirup napas dalam-dalam. Sesak di d**a yang kurasakan, tak sedikitpun menguap menghilang.
Jika saja aku tak mudah percaya pada orang lain. Tak mudah kasihan pada orang lain. Dan lebih teliti jika hendak meminjami uang pada seseorang.
Huft!
Iya, semua bermula karena satu hal yang bernama uang. Hanya masalah lembaran kertas berwarna merah itu, jadinya berbuntut panjang begini.
Apakah aku salah membantu orang yang kesusahan? Bukankah kita diajarkan untuk saling tolong menolong? Apalagi melihat Mbak Lastri orang perantauan. Ia yang tak punya siapa-siapa di sini dan sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Rupanya memiliki watak yang tak baik.
Aku seperti melepaskan anjing terjepit. Begitu ia bebas, aku yang digigit.
Ugh, sesak sekali rasanya.
Kembali kuhirup napas dalam-dalam sambil mengusap air mata dengan ujung jari.
***
Langkah kaki kugerakkan dengan cepat. Tak ingin menunggu waktu lebih lama. Aku harus segera menemui Mbak Lastri.
"Mau ke mana, Mbak In?" tegur Bu Darmi saat tak sengaja kami berpapasan. Kuhentikan langkah. Beliau orang yang cukup disegani di daerah sini.
"Mau ke belakang, Bu. Ada perlu," ucapku seraya mencium punggung tangannya.
"Ke rumah Mbak Lastri, ya? Tadi Ibu juga lihat mertuamu di sana."
Deg!
Napasku tercekat mendengar apa yang Bu Darmi ucapkan.
"Rame banyak orang. Ada apa, ya?" tanyanya lagi.
Aku masih terpaku. Otakku seakan kebas. Ibu di rumah Mbak Lastri? Banyak orang? Apa yang terjadi?
"Nduk, he. Kok, malah bengong," sergahan Bu Darmi membuyarkan lamunanku. Nyaliku mendadak ciut. Sepertinya aku akan balik saja ke rumah.
"Ah, nggak papa, Bu. Saya mau balik dulu. Nggak jadi pergi. Ada yang kelupaan," kataku buru-buru.
Bu Darmi mengernyit bingung. Aku tak ingin semakin memperkeruh keadaan. Akan lebih baik jika nanti saja aku temui Mbak Lastri. Sepertinya aku salah perhitungan.
"Mbak Inamah! Itu, Mbak Inamah!"
Terdengar suara teriakan memanggil saat aku hendak membalik badan.
Mbak Leli? Bu Halimah? Mereka ... tinggal di gang belakang. Astagfirullah! Kok, perasaanku jadi tak enak begini.
Derap langkah kaki Mbak Leli dan Bu Halimah semakin cepat. Bu Darmi masih berdiri di tempatnya sama sepertiku. Menunggu.
"Ayo, cepat ke rumah Lastri sekarang!"
Lenganku dicengkeram erat oleh Bu Halimah saat beliau tiba tepat di depanku. Wajahnya tampak murka.
"Ada apa ini? Tenang dulu, ada apa?" Bu Darmi melepas tangan Bu Halimah.
"Udah, deh. Bu Darmi nggak tahu apa-apa. Ayo, ikut kita ke rumah Mbak Lastri biar jelas. Tahu apa yang terjadi!" Mbak Leli mendesis. Ia menatapku tak suka.
Semakin tak keruan saja rasanya. Apakah aku akan disidang?
***
Di rumah Mbak Lastri tepatnya kontrakan Ibu Yuyun. Ada beberapa warga yang berkumpul. Termasuk Ibu Mertua dan Pak RT.
"Tuh, orangnya sudah datang!"
"Dasar gatel! Udah punya suami masih saja ganjen sama laki orang!"
"Duh, tampilannya aja tertutup! Itu kelakuan gak ada baik-baiknya!"
Suara sumbang mengiringi langkahku masuk di rumah Mbak Lastri.
Aku ... digiring bagai orang pesakitan. Tuduhan yang orang-orang ucapkan. Telah membuat hati dan kepalaku berdenyut nyeri. Sakit!
Setega ini.
Sejahat ini kamu, Mbak.
Kupeluk erat Kia dalam dekapan. Ia tampak sangat gelisah. Maafkan ibu, Nak.
"Dasar munafik! Cuih!"
"Buka aja kerudungnya! Telanjangi sekalian!"
Suara penghakiman terus menyudutkanku. Aku terpojok. Dengan satu hal yang sama sekali tak kuketahui. Benar. Fitnah jauh lebih kejam dari pembunuhan. Terlebih yang memfitnah adalah ia yang dulunya kita beri pertolongan. Ingin tahu rasanya bagaimana? Sakit!
"Sudah! Sudah, Bu! Kita dengarkan dulu penjelasan dari Mbak Inamah!" Pak RT menengahi.
Di atas kursi ruang tamu. Kulihat Ibu membuang muka. Sementara Mbak Lastri terlihat menarik segaris senyuman ke samping kiri. Ia ... licik sekali.
Pak RT mendekat. Disodorkannya sebuah gawai yang menyala.
"Lihat sendiri dan jelaskan, ini semua maksudnya apa?" ujarnya.
Aku menelan saliva. Kuraih gawai dari Pak RT dengan tangan bergetar. Melihat sendiri apa yang menjadi perbincangan orang-orang selama ini. Juga fitnahan dari Mbak Lastri.
Mataku terbelalak. Beberapa foto di dalam gawai itu membuat dadaku sesak.
Brakk!
Orang-orang terperanjat. Kubanting sudah gawai yang diberikan Pak RT dengan keras.
"Ini fitnah!" teriakku melengking. "Foto-foto itu jelas bukan aku! Editan semua! Jahannam kamu, Lastri!"
Aku kalap. Berlari dengan cepat menuju kursi Mbak Lastri. Kujambak rambutnya. Ia mengerang, meringis pula kesakitan.
"Aduuuh!" jeritnya.
Tak peduli. Aku sudah cukup diam dengan sikapnya. Kutampar dan kucakar wajahnya.
"Sakit! Sakiiit!" teriaknya sambil melindungi diri.
"Tega kamu! Hah! Dasar perempuan licik! Kere munggah bale! Gak tau diri! Ditulung malah mentung!" racauku sambil terus bergerak meluapkan emosi.
"Sudah! Sudah! Hentikan!" Pak RT melerai.
Tanggung, aku sudah naik pitam. Tak kuhiraukan. Semakin Mbak Lastri kesakitan, semakin puas hatiku.
Mbak Lastri tak bisa melawan. Aku sudah kesetanan. Entah kekuatan dari mana hingga aku bisa sesadis begini.
"Teruskan! Lakukan saja! Banyak saksi di sini! Kamu bisa dijerat masuk jeruji besi! Lakukan! Dasar perempuan gatal!" Mbak Lastri mengumpat.
"Gatal?! Aku gatal? Kau itu yang tak tahu diri! Sudah hutang nggak bayar! Pake acara fitnah ke segala arah! Setan berwujud manusia kamu, Mbak!"
Kujambak rambutnya hingga kurasakan beberapa helai tergenggam.
"Aaaaaaaarrrrgggggghhhhh!" Mbak Lastri menjerit kesakitan.
Puas! Aku puas sekali! Wajahnya memerah. Ia kesakitan, tapi aksiku tak kunjung kuakhiri.
Byurrrrr!
"Uhuk! Uhuk!"
Aku terbatuk. Napasku tersengal. Dadaku bergemuruh. Tersentak kaget, aku terbangun. Rupanya tadi hanya mimpi.
Aku gelagapan.
"Oh, bagus kamu, ya! Dasar menantu pemalas! Jam segini malah tidur!" Ibu mertua berkacak pinggang.
"Maaf, Ibu. Inamah ketiduran," ujarku sambil mengusap sisa air di wajah. Ibu menyiramku dengan air. Ya, selancang ini. Beliau punya kunci ganda. Karena bagaimana pun. Rumah yang kutempati adalah rumah Ibu mertua.
"Minta maaf terus! Kelakuan nggak berubah! Jam segini tidur! Enak sekali kamu, hah?!" cecarnya.
Kutarik napas pelan. Malas berdebat dengan Ibu. Ia pasti masih mengungkit masalah uang kontrakan. Ah, lagi-lagi masalah uang.
Kupijit kening sendiri. Mimpi tadi, benar-benar terasa nyata. Tapi, aku ingat betul semua adegan di dalamnya.
Mungkin, itu akan terjadi jika aku gegabah menemui perempuan licik macam Mbak Lastri.
Baiklah. Aku akan bermain cantik saja.
"Inamah minta maaf. Tadi lagi pusing. Pas nyusuin Kia, malah tertidur."
Kuembus napas pelan.
"Ibu tak perlu khawatir. Uang kontrakan Mbak Lastri. Bakal Inamah ganti setiap bulan," ujarku.
Ibu berdecak, tapi kemudian kulihat senyum terkembang di pipinya. Ya, tak dapat dipungkiri uang merubah segalanya. Uang juga bisa merubah keadaan.
Mungkin, kalau si Lastri kembali kere tak punya uang. Ia akan malu dan mengakui kesalahan.
Aku akan menyusun strategi untuk itu.
Bersambung ....