5. Jebakan Via Sosmed

1009 Kata
Kubuat akun kloninganku semenarik mungkin. Jika bukan demi menjerat Mbak Lastri. Aku tak akan pernah bersusah payah seperti ini. Ia pikir aku perempuan lemah? Diam saja melihat semua perbuatannya. Tidak segampang itu, Mbak. Orang licik tak bisa dilawan dengan otot. Kudu mikir pake otak. Kalau kuturuti hawa nafsu. Emosi menjadi saat bertemu dengan Mbak Lastri. Bisa-bisa aku yang kena getah sendiri. Dan ia semakin ngelunjak tak tahu diri. Kulihat lagi laman profil utama milik Mbak Lastri. Menscroll isi di dalamnya. Aku tersenyum miris. Statusnya julid sekali padaku. Menghina dan mengata-ngatai. Pantas saja akunku diblokirnya. Agar ia bebas bercuap-cuap di sosial media tanpa sepengetahuanku. Kuketik sebaris pesan untuk Mbak Lastri. Kebetulan mesenggernya berwarna hijau. Artinya ia sedang on saat ini. Sungguh, aku geram sekali dengan tetanggaku satu ini. [Makasih udah dikonfirm. Salam kenal ya.] Send. Kukirim sebaris pesan pembuka percakapan. Tak lama kulihat pesanku sudah terbaca dan ada keterangan mengetik di sana. Mbak Lastri merespon pesanku. Secepat itu. [Sama-sama. Salam kenal juga.] Satu balasan kuterima. Aku tersenyum, celah mulai terbuka dengan sendirinya. Good. [Saya Ryan. Mbak namanya siapa? Boleh kenalan?] Kuembus napas pelan sambil mengatur deguban dalam d**a. Rasanya seperti aneh saja. Terlalu agresif mengajak kenalan lebih dulu. Ya, meski ini demi penyelidikan. Tetap saja. Aku deg-degan. Takut ketahuan atau Mbak Lastri tak lagi merespon. Ting! Satu pesan masuk. Kubuka cepat. Rupanya dari mesengger. Mbak Lastri membalas lagi. Wah, cepat sekali ternyata. Aku benar-benar tak menyangka, apakah pada semua lelaki ia seperti ini? [Boleh. Panggil aja aku Lastri. Btw, kamu orang mana?] Dih! Gayung bersambut. Ia meresponku dengan baik. Oke, kita lanjutkan sandiwara ini. [Orang mana aja boleh. Usia brapa nih? Udah nikah?] balasku tak kalah cepat. [Enaknya udah nikah apa belum ya? Coba lihat sendiri. Menurut kamu, gimana?] Aku terbelalak. Kedua mataku membulat sempurna. Bukan membaca pesan yang dikirim Mbak Lastri. Akan tetapi, ia melampirkan sesuatu yang tak pernah terbayang olehku. Begitu percaya dirinya ia mengirim foto selfie. Baru juga berteman dengan akunku. Dih, gini ngatain aku genit. Lha, sendirinya? Boleh kusebut ia gampangan? Kuabaikan pesan barusan. Biarkan Mbak Lastri penasaran dengan akun yang kugunakan tadi. Ternyata ada manfaatnya juga punya akun kloningan. Sering ku update dulunya. Setelah ini, mantan tetangga itu akan kepo dengan foto-fotoku. Biarkan saja. Biar ia tertarik. Nanti saat sudah tiba waktunya. Akan banyak kejutan yang kuberikan untuk Mbak Lastri. Kututup segera aplikasi mesenggerku. Putri kecilku sudah terlelap tidur. Sementara ia terpejam. Aku harus mengerjakan tugas rumah yang lain. *** Setiap masalah pasti ada akar rumit yang harus dipecahkan. Dan dalam masalah ini, Mbak Lastri adalah biang kerok yang sudah melibatkan banyak orang. Termasuk Mas Bram, suamiku. Sudah kupikirkan matang-matang. Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk suamiku hari ini. Sebagai permintaan maafku. Atas hal yang ia nilai buruk dari omongan mantan tetangga. Kia masih terjaga dalam gendongan. Kutatap binar matanya. Wajah mungil gadis kecilku itu membuat hati terenyuh. Betapa indah ciptaan sang pencipta. Aku bahagia setiap kali melihatnya. Kukecup kening dan pipi anakku. Kubisikkan doa untuknya. Semoga ia tak bernasib sama sepertiku. Berharap agar Allah berikan jodoh yang terbaik. Terutama dalam agama dan akhlaknya. Tidak sepertiku. Yang harus terpaksa menikah karena perjanjian kedua Bapak kami. Ya, aku dan Mas Bram menikah bukan atas dasar cinta. Melainkan paksaan. Itulah sebab, tak banyak yang kuketahui dari suamiku. Andai boleh memilih, saat tahu Mas Bram orang yang bertemperamen tinggi. Tentu aku akan mundur teratur sebelum ikatan terjalin. Karena setiap kali marah, suamiku akan dengan mudah melayangkan tangannya. Aku tersentak saat mendengar deru mesin mobil suamiku. Mas Bram sudah pulang. Ia terlambat sekali. Biasanya paling telat jam enam. Tapi, ini sudaj hampir jam delapan. Cepat aku berjalan menuju daun pintu. Membuka untuknya. "Assalamualaikum," ucap Mas Bram sambil nyelonong masuk. Tak sedikit pun menatap ke arahku. Bahkan, Kia juga dilewatinya begitu saja. "Mas!" panggilku sambil mensejajari langkahnya. "Iya?" Kuraih punggung tangan Mas Bram kemudian menciumnya takzim. "Salim dulu," kataku lalu melepasnya kembali. "Oh, iya. Lupa. Mas buru-buru," ucapnya salah tingkah. Ia lalu berjalan masuk ke dalam. Meninggalkanku. Sikapnya aneh sekali. Entah perasaanku saja atau memang benar adanya. Punggung tangannya tadi tanpa sengaja kuendus bau wangi. Seperti bau parfum, tapi .... Ah, sudahlah. Suamiku bukan orang seperti itu. *** Usai makan malam, kuhampiri suamiku yang sedang duduk termenung di depan televisi. Ia mudah marah, tapi juga mudah lupa. Kulihat sejak makan malam tadi sikapnya kembali normal. Tak mengungkit masalah kemarin. Kia sudah kutidurkan di keranjang bayinya. Kini, ada waktu untukku bisa berdua saja bersama Mas Bram. Banyak yang ingin kukorek darinya. Hanya saja, aku harus kembali mendapat kepercayaan lebih dulu. "Mas," panggilku lirih. Mas Bram menoleh. Ia menatap ke arahku. Satu senyuman terulas di bibirnya. "Iya, kenapa?" tanyanya. Aku mendekat. Duduk tepat di sampingnya. Kusandarkan kepala di pundak Mas Bram. "Mas sudah ke rumah Ibu," ucapnya tiba-tiba. Baru saja aku ingin bercerita. Ia sudah membuka suara lebih dulu. "Di sana juga ada Mbak Lastri dan suaminya." Deg! Kenapa lagi ini? Baru juga aku ingin mencairkan suasana. Kenapa harus membahas dua manusia itu. Jangan-jangan mereka hendak mengompori lagi? Memfitnahku lagi? "Ibu mengundang mereka ke rumah. Dan Mas Dengar, sepertinya mereka akan balik ngontrak di sebelah." Napasku tercekat mendengar kalimat Mas Bram barusan. Benarkah ini? Mereka bakal balik ngontrak di sebelah rumahku? Wah, masuk kabar buruk atau kabar baik, ya? "Oh. Bagus dong, Mas," timpalku cepat sambil senyum-senyum. "Kenapa emang? Kamu seneng ada Mas Rudi lagi di sini?" Sengit Mas Bram bertanya. Ia terbakar cemburu seketika. Aku paham sekali. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Riak di wajahnya yang menunjukkan bahwa ia cemburu, kentara sekali tertangkap oleh mataku. "Enggak. Bukan itu," sanggahku. "Lha, kenapa?" Aku tersenyum sinis. Tak kujawab pertanyaan Mas Bram. Kupikir juga percuma, karena ia tak perlu tahu tentang itu. Biarkan saja Mbak Lastri dan Mas Rudi balik lagi ke sini. Tikus sudah siap masuk kandang! Tak perlu dipancing atau pun diundang. Dia yang mencari masalah, jadi biar ia yang merasakan akibatnya. Aku sangat yakin, kejahatan tidak akan pernah menang. Kembalinya dua orang itu, sepertinya akan membuat semuanya menjadi semakin jelas. Aku pun tak sabar ingin mendengar bagaimana tanggapan Mas Rudi terkait istrinya. Bahkan jika perlu, kubeberkan semua hutang-hutang yang dipinjam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN