6. Pesan dari Mas Rudi

1016 Kata
Banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak. Sejak Mas Bram bilang ada Mbak Lastri dan Mas Rudi di rumah Ibu. Perasaanku jadi kembali tak menentu. Dugaanku pada wanita tak tahu diri itu terus saja buruk. Ah, apakah aku harus menyesal telah mengenalnya? Tak habis pikir dengan orang-orang yang jahat. Niat baik yang kulakukan selama ini semoga tidak pernah kusesali sampai kapanpun. Kuperhatikan ke arah jam di dinding, jarumnya menunjukkan pukul sebelas malam. Ekor mataku beralih melihat Mas Bram yang sudah terpejam. Ia lelap sekali. Maklum, kami usai memadu kasih. Kutunaikan kewajibanku sebagai istri dengan baik. Demi merekatkan kembali hubungan yang telah renggang. Masalah rumah tangga tak melulu hadirnya pelakor sebagai orang ke tiga. Contohnya saat ini. Pihak lain yang ternyata membuat retak rumah tanggaku adalah tetangga sendiri yang sama sekali tak pernah kusangka sebelumnya. Semoga Mas Bram selalu percaya padaku, tak ada rasa curiga karena aku tak mungkin mengkhianatinya. *** Malam beranjak semakin matang. Perlahan aku bergerak menuruni ranjang. Kuraih gawai milik Mas Bram di atas nakas. Barusan, layar benda pipihnya berkedip-kedip. Aku penasaran. Siapa gerangan yang menghubungi malam-malam begini. Jemariku menyentuh jendela notifikasi. Ada chat dari aplikasi hijau yang bertumpuk-tumpuk di sana. Mataku bergerak menyusuri layar yang menyala. Banyak sekali pesan yang masuk dan belum sempat dibuka. Kebanyakan sih dari teman-teman dari kantor Mas Bram.. Kubiarkan saja. Karena fokusku bukan itu. Melainkan pada akun Mbak Lastri dan Mas Rudi. Ada satu hal yang menggelitik. Aneh bukan? Kenapa hanya nomorku yang diblokir Mbak Lastri? Sementara nomor suamiku? Aman-aman saja. Tak ada blokir memblokir di sana. Kulihat status-status Mbak Lastri dari gawai Mas Bram. Ia membuat beberapa status. Masih seperti dulu. Foto-foto yang ia posting pun berisi tentang keseharian Mbak Lastri bersama teman sosialitanya. Aku berdecak kesal. Malas melihat status Mbak Lastri yang tak penting. Kubuka saja nomor Mas Rudi di gawai suamiku. 'Bismillah .... Maaf kalau aku lancang, Mas,' gumamku dalam hati. Kutarik napas pelan. Dinginnya udara malam hari yang menerpa kulit, semakin membuatku gugup. Tak seperti tadi. Sesekali kulirik ke belakang. Takut jika Mas Bram kebangun. Ya, meski aku istrinya. Tetap saja aku takut jika ketahuan lancang membuka gawai suami tanpa izin. Lagi-lagi aku menelan saliva. Gugup. Kubuka pesan dari Mas Rudi. Menscroll mulai dari awal chat. Entah di detik keberapa, seketika aku terpaku. Pesan dari Mas Rudi membuat napasku seolah tertahan di tenggorokan. Begitu banyak hasil tangkapan layar yang Mas Rudi kirimkan ke nomor Mas Bram. [Assalamualaikum, Mas Rudi. Sini main ke rumah. Mumpung Mas Bram lagi kerja.] [Lagi apa, Mas?] [Mas, kenapa nggal balas chat ku?] [Sibuk, ya?] [Diam-diam aku perhatiin kamu, lho, Mas. Lumayan ganteng juga kalo senyum. Nggak seperti Mas Bram.] Skip! Darahku mendidih. Memalukan sekali! Tangkapan layar itu, berisi chat dari nomerku yang dikirim ke nomer Mas Rudi. Ditambah, ada beberapa foto pribadiku tanpa hijab, yang turut terlampir dalam pesan. Astagfirullah! Astagfirullah! Kenapa bisa?! Tangan kananku bergetar. Kututup mulut dengan telapak tangan kiri. Aku syok. Gemuruh dalam d**a terus menyentak hebat. Sungguh, demi apa pun itu aku benar-benar terkejut tak menyangka. Mataku panas. Dadaku sesak. Seperti ada yang menghimpit di dalamnya. Pantas saja Mas Bram sangat marah. Fotoku juga chat-chat yang tak pantas. Kenapa bisa terkirim dari nomorku? Sementara, aku sendiri tak pernah melakukannya! Aaaaaarrggh! Kuusap muka dengan kasar. Frustasi! Aurat yang selama ini kujaga. Kenapa bisa terpampang di gawai milik orang. Allahu Rabbi .... Apakah Watsappku dihack? Tapi, bagaimana mungkin? Yang benar saja! Kalaupun iya, kenapa sedetail itu? Terlebih saat membandingkan Mas Rudi dan Mas Bram. Memuakkan! Kuhirup napas dalam-dalam. Sementara otakku masih bekerja mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Aku bergegas membuka file galeri milik Mas Bram dengan jari-jari yang masih bergetar. Ya, tentu saja hasil tangkapan layar yang kulihat tadi masih tersimpan di galerinya. Kugerakkan jemari dengan cepat seiring deguban jantungku yang terus menyentak hebat. Kukirim semua hasil tangkapan layar tadi ke nomor baruku. Iya, harus cepat. Siapa dalang dibalik ini semua? Apa niatnya?! "Lagi ngapain, Dek?" Degh! Aku tercekat. Sekujur tubuhku seakan kaku. Di saat tengah serius begini. Ya Allah! Mas Bram terbangun. Bagaimanalah ini?! Kupaksakan diri mematikan layar gawai yang masih menyala. Lalu meraih satu benda di dekatnya. "I-ini, ambil minyak telon, Mas," jawabku gugup sambil menoleh ke arahnya. Mas Bram sudah menuruni ranjang. Duh, bagaimanalah ini? Aku bahkan belum sempat menghapus riwayat chat dari nomor Mas Bram ke nomor baruku tadi. "Emm, mau ke mana, Mas?" tanyaku. Mas Bram menghentikan langkah. Ia menguap. "Mau ke kamar mandi," jawabnya singkat. "Oh, iya." Aku tersenyum. Mencoba bersikap biasa saja dengan mengusap minyak telon ke tengkuk leher. Semoga ia tidak curiga. Mas Bram berjalan menuju kamar mandi. Kuamati gerakannya. Berharap agar ia segera masuk dan aku bisa menghapus riwayat pesanku. Jangan tanya bagaimana jantungku saat ini. Detakannya masih tak wajar seperti tadi. Ternyata begini rasanya takut ketahuan. Benar-benar menguras emosi dan pikiran. *** Hingga menjelang subuh aku tak kunjung bisa tidur. Bukan karena Kia yang rewel. Sungguh, anakku itu anteng sekali. Ia hanya sesekali menangis minta s**u. Selepas itu, ia kembali tidur lagi. Aku masih menekuri gawai milikku. Membaca kembali hasil tangkapan layar yang kukirim dari Watsapp Mas Bram. Keadaan ini membuatku dalam kebimbangan tak menentu. Sungguh menyesakkan. Siapa yang tega berbuat sekeji ini padaku? Memfitnahku dengan sangat keterlaluan. Selama ini gawai selalu kupegang. Kalau pun dihack, kenapa bisa sedetail itu? Tahu nama suamiku? Aku meraba memori yang telah lalu. Kuingat-ingat dengan benar. Satu bayangan masa lalu tergambar. Ayolah, Inamah! Berpikir cepat dan selesaikan semua fitnah yang ada. Lama aku berpikir. Hingga kalimat istigfar meluncur begitu cepat dari bibir. Aku baru ingat. Kala itu, pernah beberapa kali Mbak Lastri meminjam gawaiku. Ya, aku ingat dengan jelas, alasannya karena kuota habis dan tak punya uang untuk membelinya. Kukumpulkan keping-keping memori masa lalu. Dadaku semakin sesak saja. Apakah dia pelakunya? Dia mengirim chat dari gawaiku untuk menggoda suaminya? Begitu? Tapi, untuk apa? Ada modus apa sebenarnya? Kenapa tega sekali berbuat sekeji ini padaku? Adakah hal yang tak kuketahui selama ini? Ya Allah ... sungguh aku bingung mencerna semua keadaan yang ada. Kebaikan yang kulakukan kenapa justru disalah artikan? Pikiranku terus saja buruk pada Mbak Lastri. Apa ia ada dendam pribadi padaku? Atau, memang ia sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku bersama Mas Bram?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN