Segumpal daging itu bernama hati. Kita tidak pernah tahu apa saja isi di dalamnya. Sebab, tak jarang tampilan banyak yang menipu. Dari luar tampak baik. Namun, isi di dalamnya ....
Sungguh berbanding terbalik.
***
Untuk yang ke sekian kalinya. Hari baru tiba di Kota kelahiranku. Surabaya.
Pagi ini, kota yang terkenal dengan julukan Kota Pahlawan itu, disambut mesra oleh rintik hujan yang cukup padat. Bunyi tetesannya yang terdengar nyaring. Beradu dengan atap seng di belakang rumahku.
Aku masih bergelung di bawah selimut yang sama. Bersama Mas Bram, suamiku. Meski sudah pukul tujuh pagi, tapi kami masih diam di atas pembaringan. Udara yang dingin sebab mentari tak kunjung memancarkan sinarnya. Semakin membuat kami berdua malas untuk pergi ke mana-mana.
Usai shalat subuh tadi, Mas Bram bilang ingin kembali terpejam. Katanya, ia akan masuk kerja pukul sepuluh siang. Ada rapat internal di perusahaan. Jadi, tak perlu buru-buru berangkat.
Aku mengiyakan saja. Toh, saat bersama suami bukankah akan jauh lebih menyenangkan? Apalagi semalam kami ... ah, lupakan.
Skip!
***
Menjadi seorang istri sekaligus ibu bukanlah pekerjaan yang ringan. Bayangkan saja, aktivitasnya dimulai dari mata terbuka hingga terpejam kembali. Seabrek kegiatan harus dikerjakan. Mulai urusan dapur, sumur hingga kasur. Semua dikerjakan tak pernah memandang beban.
Namun, meski lelah terkadang mendera. Aku tetap senang melakoninya. Karena apa? Ibuku pernah menasehati.
"Asal kita ridha dengan pekerjaan kita. Inshaa Allah tak akan ada beban yang membuat kita merasa keberatan."
Aku tersenyum tipis. Setiap mengingat wejangan Ibu. Hati ini selalu bergetar rindu. Juga ada yang tersayat, nyeri di sudut hati. Manakala teringat, bahwa aku belum sepenuhnya berbakti.
Lamat-lamat kulafalkan Al-fatihah untuk kedua orang tuaku. Semoga Allah menempatkan Ibu dan Bapak di tempat terbaiknya.
"Belum selesai, Dek?"
Aku menoleh. Mataku menangkap Mas Bram sedang berjalan mendekat.
"Belum, Mas. Sebentar lagi," jawabku. Kugerakkan jemari dengan cepat. Menuangkan santan lalu mengaduknya agar tidak pecah. Bubur kacang hijau untuk sarapan. Sesuai permintaan Mas Bram.
Kulihat, suamiku itu sedang berjalan ke arah kursi ruang makan. Ia mengenakan setelan kemeja bergaris-garis. Juga celana hitam bahan kain yang sudah kusiapkan di kamar tadi. Tampan sekali.
"Mas nanti pulangnya agak telat," ucapnya.
Aku mengernyit. Tidak biasanya ia pamit seperti ini kalau terlambat. Seringnya memberitahu mendadak via pesan Watsapp. Tapi, kali ini ....
"Jam berapa, Mas?" tanyaku cepat. Menepis pikiran yang tidak-tidak.
"Nggak tahu. Nunggu selesai rapat," sahutnya.
Kuserahkan semangkuk bubur yang sudah matang. Mas Bram menerima. Sambil menemani suamiku makan, aku jadi teringat sesuatu.
Melihat semangkuk bubur kacang membuatku melesatkan memori yang telah lalu. Teringat pada seseorang. Mantan tetangga yang julid lagi menyebalkan.
"Nggak makan, Dek? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Mas Bram tiba-tiba.
Aku terhenyak saking kagetnya. Pikiranku sudah melayang ke mana-mana tadi. Kutarik senyuman ke atas bibir.
"Nggak papa, Mas," jawabku.
'Kamu nggak perlu tahu,' sambungku dalam hati.
***
Matahari semakin beranjak naik. Menyibak mendung yang sempat menggelapkan langit. Aku sibuk dengan pekerjaan rumahku tadi. Hingga tak terasa, jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul sembilan.
Kebetulan Mas Bram telah berangkat kerja, jadi aku bebas untuk melakukan apa pun.
Usai memandikan Kia dan menyusuinya. Aku bergegas menuju dapur. Sambil menggendong putri kecilku itu. Kutuangkan semangkuk bubur kacang untuk kuberikan pada seseorang.
Mbak Lastri.
Iya, aku akan memberikan untuknya. Karena saat di dapur tadi. Aku ingat, ada satu mangkuk milik mantan tetangga itu di rumahku. Lagian, bukan tanpa sebab aku mengunjungi rumahnya. Sebagai salah satu cara untuk bisa mengetahui, benar tidaknya ancaman yang waktu itu ia lontarkan.
Terkait pencemaran namaku hingga ujung gang. Juga, foto-foto hasil tangkapan layar yang Mas Rudi kirim ke gawai Mas Bram. Sungguh, kecurigaanku hanya satu. Pada siapa lagi kalau bukan pada mantan tetangga gak ada akhlak itu.
Aku tak pernah tahu apakah kalimat-kalimat Mbak Lastri dulu hanya sekadar ancaman agar aku tak menagih hutang-hutangnya? Ataukah memang ia sudah menebar fitnah hingga ujung gang seperti yang ia ucapkan.
Kita lihat saja nanti.
Jika sepanjang jalan menuju rumah mantan tetangga itu orang-orang berbisik saat melihatku. Tentu, Mbak Lastri tak main-main dengan ucapannya.
Namun, jika warga di belakang rumah biasa-biasa saja saat bertemu denganku. Maka sudah bisa dipastikan, ucapan Mbak Lastri waktu itu hanyalah sekadar ancaman.
***
Rumah sederhana dengan cat berwarna hijau menempel sempurna di dindingnya. Tanpa halaman, tanpa pula pagar pembatas jalan. Aku tersenyum miris. Bukan menilai bentuk bangunannya. Melainkan, menilai betapa penghuninya sangat tak tahu diri.
"Eh, Mbak Inamah. Mau ke mana?" tanya seseorang yang tak lain adalah Mbak Leli. Kebetulan ia sedang melihatku mengamati rumah Bu Yuyun. Kontrakan yang ditempati Mbak Lastri.
"Ini, mau ke rumah Mbak Lastri. Udah lama nggak ketemu," ujarku sambil tersenyum.
Melihat Mbak Leli, aku sedikit deg-degan. Teringat dengan mimpi waktu itu. Ya, betapa horornya ia di dalam mimpi. Menyeretku dan menuduh tanpa barang bukti.
Meski hal itu hanyalah sebuah mimpi. Rupanya mampu mempengaruhi isi kepalaku. Hingga dalam keadaan sadar pun. Ada sedikit rasa ketakutan.
"Oh, Mbak Lastri, ya? Tadi sih ketemu pas lagi belanja sayur," ucap Mbak Leli.
"Oh, begitu." Aku tersenyum. "Berarti sekarang nggak ada di rumah, dong?" tanyaku.
"Nggak tahu juga, sih. Emang ada apa, Mbak? Ada urusan penting apa?" Mbak Leli menatapku. Ia memang terkenal ahli dalam mengorek informasi. Juga menambah bumbu penyedap di dalamnya. "Denger-denger, emm ... maaf ini lho, ya. Mbak Inamah sama Mbak Lastri nggak akur, ya?"
Dih!
"Nggak akur gimana? Nggak juga, sih, Mbak," jawabku sambil tersenyum. Aku bersikap biasa saja. Kalau panik, bisa-bisa menguatkan ucapan Mbak Leli barusan.
Belum sempat Mbak Leli kembali bercuap. Aku sudah melihat Mbak Lastri berjalan menuju rumahnya. Ia masih belum menyadari. Hingga langkahnya semakin mendekat. Langsung saja kusapa mantan tetanggaku itu.
"Mbak Lastri!" teriakku memanggil.
Mbak Lastri mengangkat wajah. Seketika langkahnya terhenti saat ia menatapku.
"Duluan, ya, Mbak," pamitku pada Mbak Leli. "Mbak Lastrinya udah datang," tambahku lagi.
Aku berjalan mendekat. Semangkuk bubur kacang di tangan kusodorkan pada Mbak Lastri.
Perempuan itu diam mematung. Tentu saja ia terkejut. Mukanya itu pias. Dia pikir aku tak berani mendatangi rumahnya? Woah! Salah besar kamu, Mbak.
"Nggak baik, lho. Ada tamu nggak diajak masuk rumah," celetuk Mbak Leli dari belakang.
Aku menyunggingkan senyum ke samping kiri. Mbak Leli kompor yang bagus! Aku sudah tak sabar ingin mencabik-cabik tikus di depanku ini.
"Ayo, Mbak!" kugerakkan kepalaku ke arah rumah Mbak Lastri. Aku ... tamu yang tak tahu diri, 'kan?
Jika ia bisa, kenapa aku tidak?
***
"Mau apa ke sini?" tanya Mbak Lastri begitu kami masuk ke dalam rumahnya.
"Kalem aja, Mbak. Cuman mau nganterin bubur kacang, kok," jawabku santai.
"Bohong!" sanggahnya.
"Nah, sudah tahu, 'kan? Masih nanya lagi. Haha!" Aku tergelak. "Kamu lupa sama hutang-hutangmu, Mbak?" sindirku.
"Hutang? Hutang apa? Mana buktinya?" sanggahnya penuh percaya diri.
"Kamu lupa apa? Meski nomorku kamu blokir! Tetap saja riwayat chat mu di Watsappku masih ada!"
"Halah! Wong gawai kamu juga rusak gitu! Haha!" Kali ini ia yang terbahak. "Kamu pikir aku nggak tahu?" sinisnya.
Dia ... bisa tahu dari mana?
"Percuma saja kamu mau nagih kalau nggak ada bukti," ucapnya enteng.
Hatiku gatal. Geram sekali. Baru masalah hutang yang dibahas, tapi sakit hatiku sudah menuntut diri.
"Pulang sono! Atau ... mau kushare ke sosmed riwayat chatmu yang genitin suamiku?" Telunjuk Mbak Lastri menuding ke arah pintu. Mengusirku.
Ya Allah! Benar-benar keterlaluan.
Kesal melihat sikap dan ucapannya. Tak kupedulikan Kia yang mulai menggeliat tak nyaman. Aku berjalan cepat menuju Mbak Lastri.
Plak! Plak! Plak!
Kutampar pipinya bolak-balik. Ia menghindar, namun tanganku sudah berhasil menyentuhnya secara brutal.
"Keterlaluan kamu! Dasar perempuan tak tahu diuntung!"
Emosi, kujambak kasar rambutnya. Menarik berkali-kali.
"Aduh! Sakit, woi! Sakiiiiiit!" Ia berteriak.
"Kamu pikir apa? Aku bakal diam saja? Hah?! Dosa besar kamu, Mbak! Udah hutang pake memfitnah juga!" racauku sambil masih menarik rambutnya.
Ia menghindar. Tangannya mencoba menjangkau Kia. Segera aku tepiskan.
"Pergi kamu! Pergi! Mau kuteriaki kau maling? Hah?! teriaknya sambil membalas perlakuanku. Tak peduli aku semakin beringas. Kusumpal mulutnya dengan kaos kaki yang sudah kubawa.
Huweeeekk! Huweeeek!
Mbak Lastri muntah-muntah. Tentu saja. Kaos kaki itu sudah berhari-hari tak kucuci. Sengaja untuk menyumpal mulut tukang fitnah seperti dia.
Jangan bertanya baunya bagaimana. Kalau tak percaya. Boleh coba sendiri. Menyumpal mulut dengan kaos kaki yang lama tak dicuci.
Mau Mbak Lastri berteriak sekali pun tak akan ada yang mendengar. Dia kira aku bakal diam saja? Begitu? Dengan dalih sabar lantas aku harus membiarkannya? Membuat kerusakan atas diriku?
Oh, jangan salah. Kedzhaliman harus dilawan. Bukan didiamkan. Konteks sabar itu pada ujian hidup. Bukan diam saja saat kedzhaliman dilakukan orang lain pada kita. Begitu.