Aku terbangun merasakan seluruh tubuhku yang sakit, karena ini adalah hari pertama datang bulan. Tapi, hari ini aku harus tetap ke kampus. Setelah liburan singkat yang sama sekali yang tak berkesan ini selesai. Aku melangkah ke luar kamar. Melihat suamiku yang telah rapi. Aku melirik ke ruang makan kini bahkan meja makan telah tersedia sarapan. Ia bangun pagi sekali untuk membuat sarapan sepertinya. Aa Yogi, duduk di sofa ruang tengah seraya merapikan kancing kemeja miliknya. Aku berjalan menghampiri dan berusaha membantunya mengancingkan tangan kemeja yang ia kenakan. "Kamu sakit?" Ia bertanya khawatir. Kugelengkan kepala tanpa jawaban, ia memegang keningku. "Suhu tubuh kamu normal." Aku menjawab dengan anggukan, entahlah aku hanya malas berbicara beberapa hari ini. Apalagi aku pun

