Susi merasakan bahwa setiap langkahnya menuju ruangan sang ayah sangatlah berat, ia bahkan merasa tak sanggup harus bertatap muka dengan kedua orang tuanya yang sedang sakit. Gadis itu menyandarkan tubuh kedinding, menahan segala gejolak yang siap meledak. Dadanya kian sesak, kenapa menahan rasa amarah dan kesal begitu menyakitkan. Disaat tidak ada siapapun yang berada didekatnya, Susi merasa bahwa ia adalah orang terbodoh karena membiarkan hari-hari kemarin adalah kenangan yang indah dan menjanjikan namun kenyataan tidak semanis itu. Dia baru saja menyaksikan Ari dan Chika bersama, meski tidak melakukan apapun yang akan membuat gempar tapi tetap saja menimbulkan rasa perih yang luar biasa menyiksa. Susi merasakan pipinya basah, ia menangis. Menangisi orang yang seharusnya membawa kebaha

