Wanita itu bersandar dipintu kulkas dengan nafas berat, pukulan yang bertubi-tubi ia terima sungguh menyesakkan. Sekarang bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi jiwa Chika juga hampir mati dalam setiap hentakan yang dia terima. Air mata itu mengalir tanpa suara, seolah kesunyian malam tak bisa dirusak ketenangannya oleh isakan gadis malang itu. Penampilannya sungguh tidak baik-baik saja, lengannya terdapat bekas cengkraman yang membiru, ditambah lagi wajahnya yang terluka, goresan benda tajam pun nampak mengerikan. Chika menekuk kakinya memeluk diri sendiri. Hatinya semakin sakit membayangkan bahwa hari-harinya tidak akan pernah berubah, akan terus dipenuhi rasa sakit dan pukulan. Sedalam itukah kebencian yang tersimpan dalam hati orang-orang disekiling Chika. Tidak adakah satu dari merek

