Sesampainya di Surabaya Mely dan Adrian menginap di sebuah hotel cabang milik Adrian. Ternyata suami Mely juga ada pekerjaan di Surabaya jadi mereka janjian beetemu di hotel.
"Selamat malam pak Adrian" sapa Putra suami Mely yang sudah menunggu kedatangan istrinya bersama sang bos.
"Selamat malam. Silahkan kalian beristirahat tidak usah merasa canggung. Karyawan hotel akan melayani kalian dengan baik. Anggap saja ini hadiah bulan madu untuk kalian yang tertunda. Maaf ya" Adrian berkata dengan lembut dan tersenyum. Dia merasa iri dengan kebersamaam Mely dan suaminya Putra. Sedangkan dirinya masih harus gigit jari mengingat Kanaya masih dalam haid. Lagi-lagi dia merasa frustasi dan merindukan sikap galak dari istrinya itu.
"Makanya buruan nikah bos, biar ada yang nemani kalau tidurkan nggak kedinginan" celoteh Mely yang bergurau kepada Adrian. Mely tau kalau Adrian memang terlihat tegas dan berwibawa diluar namun sangat lembut dan baik hati.
Mely merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Adrian dikala dirinya sedang terpuruk karena kejadian mengerikan yang menimpanya. Pemerkosaan yang dilakukan segerombolan para preman yang telah menghancurkan masa depannya membuatnya frustasi.
Malam itu dimana Mely ingin membuat perhitungan kepada para preman yang telah merenggut hidupnya, seakan menjadi malam terakhir bagi dirinya yang sudah merasa tidak memiliki masa depan dan berserah diri jika dia akan dihabisi oleh para pemerkosa itu. Namun takdir berkata lain, Adrian dan Tony datang menyelamatkan dirinya. Mereka pun membekuk tiga preman yang memperkosa Mely dan mengurung mereka untuk mengetahui peristiwa apa yang telah menimpa perempuan malang itu.
Setelah Mely sadar diapun menceritakan peristiwa mengerikan yang telah menimpa dirinya. Tidak berpikir panjang Adrian pun memberikan penawaran kepada Mely.
"Apakah kamu ingin balas dendam? " tanya Adrian kepada Mely yang sedang menahan amarah mengingat perlakuan para preman itu kepada dirinya.
"Iya. Saya sangat ingin menghabisi mereka, sebelumnya saya ingin membuat mereka menderita terlebih dahulu" kata Mely berapi-api.
"Apa kamu yakin? Apa kamu tidak takut melihat sebuah nyawa melayang? " tanya Adrian meyakinkan ucapan Mely.
"Tentu saja. Saya tidak akan merasa tenang jika mereka hidup dengan damai setelah merusak masa depan saya" ucap Mely dengan sedih karena merasa semau impian yang dia dambakan hancur seketika karena perbuatan mereka.
"Baiklah, kumpulkan tenagamu terlebih dahulu. Aku akan membantumu untuk membalas dendam" ujar Adrian meninggalkan Mely yang masih duduk di atas ranjang di sebuah kamar tempat Adrian mengeksekusi para musuhnya.
"Siapa dia yang sudah menolongku? Terimakasih banyak" ungkapnya dalam hati atas pertolongan yang diberikan oleh Adrian, walaupun belum saling mengenalkan nama masing-masing.
Setelah beberapa jam kemudian Adrian kembali menemui Mely kembali.
"Apa kamu sudah siap untuk balas dendam! " ujar Adrian yang kini tengah menatap Mely. Sebuah anggukan pun menjadi jawaban atas pertanyaan tadi. Mely pun mengikuti langkah kaki Adrian menuju sebuah ruangan yang menuruni tangga. Seperti sedang berada diruang bawah tanah.
Terlihat tiga orang pria yang sedang terikat dengan kedua tangan terikat ke atas. Mereka lah yang telah melakukan pemerkosaan terhadap Mely beberapa hari yang lalu. Menghancurkan segala mimpi yang akan dia bangun,rencana pernikahannya pun seketika langsung dibatalkan oleh kekasih yang telah menjalin hubungan selama tiga tahun bersamanya.
"Silahkan jika kamu ingin membalas dendam. Silahkan pilih kamu akan menggunakan alat apa untuk menuntaskan dendammu itu? " tunjuk Adrian ke arah senjata tajam yang berjejer di atas meja dan juga yang menempel di dinding. Memang ini adalah ruang eksekusi Adrian untuk membasmi para parasit yang suka menggangu hidupnya atau hidup orang lain.
Meski dia kejam dan tak berperasaan tapi dia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dimana dia tidak suka dengan penindasan yang dilakukan oleh seseorang yang lebih lemah dari orang yang mereka tindas.
"Bermainlah sepuas hatimu untuk menuntaskan semua urusan hatimu. Terserah saja jika kamu ingin segera menyelesaikan semua ini atau melakukannya secara perlahan" kata-kata Adrian seperti sebuah motivasi bagi Mely yang tengah terbakar amarah.
Dia berjalan menuju ke arah sebuah gunting tanaman yang menggantung di dinding. Sebuah pikiran penyiksaan yang kejam untuk para pemerkosa itu terlintas dalam benaknya. Dengan seringai senyum yang mengerikan Mely mendekati ke arah para pemerkosa itu.
"Hari ini aku akan bermain-main dengan kalian sayang. Bukankah kalian ingin dipuaskan olehku" ucap Mely sambil melangkah ke arah salah satu pemerkosanya. Mereka tidak dapat bersuara karena mulut mereka sedang terikat.
"Kenapa kau kelihatan sangat takut sayang? Bukannya kemaren kamu sangat begitu senang sekali bermain denganku, dan merasa bangga telah merenggut keperawananku? " ucapnya sambil mengelilingi pria tersebut. Sedangkan gunting tersebut sengaja di gesekkan ke lantai agar menimbulkan bunyi yang sedikit menengangkan. Adrian duduk santai ingin menonton atraksi apa yang akan diperlihatkan oleh Mely.
Mely pun membuka celana pria si pemerkosa dan mengeluarkan pistol kebanggan si pria tersebut.
"Ini lah yang telah menghancurkan hidupku" cengkeramnya pada pistol kecil itu yang membuat si pemiliknya merasa kesakitan namun tak terdengar teriakan. Mely pun memainkan pistol tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya hingga si pistol kecil tadi berubah ukuran menjadi sedikit besar.
"Tunggu giliran kalian, aku akan memberikan kepuasan kepada kalian juga" liriknya ke arah dua orang pria lainnya yang tergantung.
"Nikmat sayang, bukankah ini yang kamu inginkan. Aku pastikan kamu akan merasa puas dengan pelayanan yang aku berikan" kata Mely yang masih memainkan pistol si pria tadi. Sedangkan tangannya yang lainnya meraih gunting tanaman yang dibawanya dan seketika memotong pistol itu hingga terpotong dari tubuh si pria yang telah memperkosanya.
Semburan darah langsung mencurat ke wajah Mely namun dia tertawa mengerikan diiringi deraian air mata. Darah segar menetes ke lantai. Terlihat wajah si pemilik pistol yang telah terpotong kesakitan dan pucat pasi menyelimuti wajahnya yang mengerikan.
"I like her" lirih Adrian memuji Mely. Dia tidak menyangka jika wanita yang terlihat lemah dan begitu polos itu bisa menjadi bengis dan kejam seperti itu. Tidak sia-sia dia membantunya untuk membalas dendam.
"Mau kau apakan lagi dia setelah ini? " tanya Adrian yang berjalan ke arah Mely.
"Biarkan diri mati karena kehabisan darah" ucapnya sinis menatap si pria malang yang sudah tidak memiliki kejantanan itu. Terlihat dari matanya memohon ampun dan menggelengkan kepalanya agar tidak melakukan hal yang ingin Mely lakukan.
"Tidak ada maaf untuk manusia b******k seperti dirimu pemerkosa j*****m" umpat Mely sambil menampar wajah pria itu.
Kedua pria lainnya yang berada disebelah merasa ketakutan yang luar biasa jika akan mendapatkan hal serupa yang telah dilakukan Mely terhadap rekannya tadi. Mely berjalan ke arah pria yang ada disebelah kemudian membuka ikatan mulutnya.
"Aku ingin bertanya kenapa kalian memperkosaku? " tanya Mely dengan menatap tajam ke arah pria kedua yang menggahi tubuhnya.
"Kami hanya disuruh dan dibayar untuk mengancurkan hidup nona" jawabnya dengan terbata-bata karena gugup dan juga takut.
"Siapa yang menyuruh kalian? Jika kau berkata jujur maka aku akan melepaskan dirimu" Mely memberikan penawaran yang bagus kepada si pria pemerkosa itu.
"Kami bertiga disewa oleh ibu Angie untuk memberikan pelajaran kepada kamu, karena telah merusak kebahagiaan anaknya yang ingin menikah dengan Hendra" ungkapnya jujur berlinang air mata atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Berharap dengan kejujurannya akan memberikan kesempatan hidup padanya. Seketika gunting besar tadi menghujam ke perut sebelah kirinya, dan muntahan darah pun juga keluar dari mulutnya.
Pria pemerkosa ketiga pun benar-benar takut dengan kekejaman Mely dan kebohongan mely kepada temannya jika berkata jujur akan dibebaskan. Mely menatap tajam dan tersenyum sinis. Mely melihat ke arah pistol yang tergeletak di atas meja kemudian menembakan pistol tersebut ke arah kepala pria itu. Seketika itu juga pria tersebut langsung mati. Sedangkan pria pertama yang disiksanya menderita dengan kesakitannya, dan pria kedua perlahan nafasnya berhembus pelan. Kini Mely terduduk lemas tak berdaya, dia tidak peracaya jika mama tirinya yang melakukan perbuatan keji seperti ini. Dia tidak pernah menduga sama sekali dengan mama sambung yang menurutnya baik terhadap dirinya selama ini.