Keesokan paginya Adrian menyuruh Tora untuk melayani Kanaya, menyediakan segala kebutuhannya. Untuk beberapa hari ini dia sibuk untuk mengurus perusahaan dan rapat-rapat penting lainnya. Sebelumnya dia sudah memberi tahu kepasa Kanaya kalau dia akan pergi ke Surabaya beberapa hari. Jadi dia menyuruh Tora untuk menjaga dirinya, jika dia ingin sesuatu bisa meminta kepada Tora. Kanaya hanya mengucapkan terimakasih dan berpesan hati-hati. Melihat balasan dari Kanaya membuat hati Adrian berbunga-bunga.
"Permisi pak" ketukan dari Mely bagian keuangan yang ingin melaporkan sesuatu yang penting kepada Adrian.
"Masuk, ada apa Mel? " tanya Adrian.
"Saya ingin melaporkan ada hal yang janggal dari laporan keuangan cabang perusahaan yang ada di Surabaya pak" jawab Mely kepada Adrian.
"Maksud kamu?" tanya Adrian yang ingin meminta penjelasan.
Mely pun memperlihatkan penemuan janggalnya dan menjelaskannya secara rinci. Mendengar penjelasan dari Mely membuat Adrian merasa murka. Secara langsung dia mencek semua pengeluaran dan pemasukan dari cabang perusahaannya. Memang kalau dilihay secara sekilas seperti tidak ada kejanggalan seperti kata Mely, namun kalau diteliti lagi ada beberapa kejanggalan. Hampir tiga puluh persen selisih data dari laporan yang masuk dari cabang perusahaan itu jika laporannya di betulkan.
"Sialan, berani-beraninya mereka ingin mempermainkanku. Dasar manusia tidak tahu terimakasih, sudah diberi kepercayaan malah mengambil kesempatan"kata Adrian dengan marah dan mata yang merah karena menahan kekesalannya.
Sebuah ketukan dari pintunya menghentikannya untuk meluapkan semua amarahnya.
"Siapa? " tanya Adrian.
"Saya ingin mengingatkan kalau tiga puluh menit lagi kita akan bertemu dengan pak Herman untuk membahas kerjasama yang diajukan beliau" kata Amanda sang sekretaris.
"Iya, terimakasih sudah mengingatkan saya" kata Adrian.
"Mely, setelah saya selesai rapat kamu ikut dengan saya ke Surabaya untuk mencek secara langsung. Sebenarnya saya memang ada urusan kesana jadi sekalian saja masalah ini kita selesaikan" ucap Adrian.
"Jadi kamu harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Mungkin nanti akan menginap beberapa hari disana. Sebaiknya kamu meminta izin dahulu kepada suami kamu. Setelah rapat saya akan menghubungi suamimu untuk meminta izinnya, saya tidak ingin dikira membawa kabur istri orang"Adrian berkata dengan nada yang dingin. Mely tau dengan sifat Adrian yang super hati-hati dalam bersikap. Namun ketika ada yang membuat kesalahan fatal maka tidak ada ampun.
***
"Maaf pak Herman saya tidak bisa bekerjasama dengan bapa kalau proposal kerjasama bapa seperti ini. Saya tidak suka dengan pemikiran seperti bapa yang menyalahi prinsip saya" Adrian berteriak marah kepada pak Herman.
"Pak Adrian tidak usah sok suci,bukankah kita sama diuntungkan dengan kerjasama ini" ucap pak Herman tak merasa salah.
"Saya tidak pernah mau merugikan siapapun, apalagi ini merugikan banyak orang. Saya itu tidak gila uang seperti bapak yang hanya mementingkan keuntungan semata" ucap Adrian penuh amarah. Melihat kondisi Adrian seperti ini sudah dipastikan dia bakal mengamuk. Amanda sang sekretaris langsung mengirim pesan ke Tony bahwa Adrian sekarang sedang emosi.
"Pak Adrian pasti akan menyesal jika membatalkan kerjasama ini. Akan saya pastikan itu pa" gertak pak Herman yang merasa dipermalukan oleh Adrian.
"Anda berani mengancam saya".
"Ckck... Bukan saya yang menyesal tapi anda pak, karena anda berurusan dan mencari masalah dengan orang yang salah" Adrian berkata dengan datar namun terdengar begitu mencekam.
Pak Herman yang tidak terima memberi kode kepada anak buahnya untuk menghalangi Adrian keluar dari dalam ruangan. Salah satu anak buah pak Herman menjaga pintu dan satunya lagi menarik tangan Adrian untuk menyuruhnya duduk kembali. Padahal pak Herman sudah tahu kalau berurusan dengan Adrian sama saja ingin mencari mati, tapi dia terlalu sombong karena merasa dirinya lebih hebat dari Adrian dan lebih senior dalam dunia perbisnisan ini.
"Jangan berharap kamu bisa keluar disini tanpa persetujuan dariku" dengan lantang pak Herman seolah menantang Adrian.
Tak terima atas penghinaan oleh pak Herman seolah membangkitkan emosinya yang sedari tadi ingin meledak. Seperti mempunyai tempat untuk meluapkan amarahnya dan kekesalannya yang kecewa dari tadi malam tidak bisa memadu kasih, mendapatkan kecurangan keuangan di kantor cabangnya. Seringai mengerikan dari wajah Adrian menyiratkan emosinya. Ketika salah satu anak buah pak Herman memaksanya untuk duduk kembali tangan Adrian langsung memelintirnya dan menjatuhkan dia dalam sekejap. Setelah itu dua orang lagi menyerang Adrian. Pak Herman mungkin dengan sengaja membawa lima orang anak buahnya untuk melumpuhkan Adrian jika kesepakatan yang dia inginkan tidak terjadi. Berbeda dengan Adrian yang hanya datang bersama Amanda sang sekretaris.
Tidak butuh waktu lama dan menguras energi banyak bagi Adrian untuk melumpuhkan semua anak buah pak Herman. Raut wajahnya seketika berubah melihat semua anak buahnya terkapar dilantai. Diwaktu yang sama Tony datang dengan beberapa anak buahnya, dia melihat Adrian duduk santai di sofa. Sedangkan pak Herman duduk di lantai memohon pengampunan Adrian.
"Kenapa ini bro? " tanya Tony masuk ke dalam ruangan dan melihat lima orang pria yang kemungkinan anak buah pak Herman terkapar tak berdaya. Dia memberikan seringaian senyum yang menyeramkan. Melihat Amanda yang duduk dengan wajah sedikit pucat karena terkejut melihat perkelahian yang menurutnya sedikit brutal tadi.
"Amanda sini keluar bersama sayasaya"ucap Tony yang melihat Amanda ketakutan dia pun melangkah menghampiri Tony. Tony pun merangkuk Amanda, terasa sekalinya tubuh bergetar.
"It's ok. Aku ada disini kamu tidak usah takut lagi" Tony pun membawa keluar Amanda dari ruangan yang baru saja terjadi pergumulan.
"Saya mohon pak Adrian ampuni kekeliruan dan kesalahan saya. Saya janji tidak akan mengganggu pak Adrian lagi" mohon pak Herman bersujud dihadapan Adrian.
"Hahaha... " tawa Adrian mengerikan.
"Kamu pikir kamu bisa lepas semudah itu dari saya. Jangan harap".
"Saya akan mengampuni kamu dengan syarat, saya akan membeli membeli perusahaan yang kamu miliki dengan harga semau saya" Adrian sekarang yang mengancam balik ke pak Herman.
"Jangan, saya mohon jangan ambil perusahaan yang saya rintis dari nol. Saya mohon jangan" pak Herman memelas pengampunan Adrian.
"Anda sudah tahu akan berurusan dengan siapa? Tapi berani sekali mengancam saya dengan bisnis anda yang bisa membunuh banyak nyawa. Saya tidak akan pernah membiarkan rencana bisnis yang ingin anda lakukan tersebut terwujud. Lebih baik hilang satu nyawa daripada puluhan nyawa yang tidak bersalah hanya keserakahan semata"ungkap Adrin dengan kesal.
"Bawa mereka dan bereskan tanpa meninggalkan jejak. Anggap seperti sebuah kecelakaan" perintahnya Adrian kepada anak buah yang dibawa oleh Tony.
"Dasar manusia j*****m, manusia iblis terkutuk kau Adrian. Sialan kau..... " teriak pak Herman yang marah karena Adrian tidak mau memaafkan kesalahan kecil yang dia buat.
Setelah beberapa saat tidak ada lagi suara teriakan ataupun jeritan dari pak Herman. Adrian melangkahkan kakinya keluar, dari kejauhan dia melihat Tony tengah merangkul Amanda sang sekretaris. Dia sebenarnya mengetahui kalau Tony memiliki perasaan kepada Amanda. Namun dia memilih diam pura-pura tidak mengetahui, dia merasa senang jika Tony serius menjalin hubungan dengan Amanda. Dia gadis yatim piatu yang baik hati, sebagai seorang tulang punggung keluarga yang menghidupi dua adiknya dan seorang paman yang memiliki keterbatasan fisik Adrian salut dengan semangat juangnya sebagai seorang perempuan.
"Ehem... Bereskan semau Kekacauan ini, Amanda kamu boleh pulang dan aku izin kan cuti selama tiga hari. Sore ini aku akan berangkat ke Surabaya bersama Mely untuk menginvestigasi perusahaan cabang" kata Adrian yang berada dihadapan Tony dan Amanda. Terlihat wajah Amanda merah merona mungkin merasa malu kepergok oleh bosnya sedang berduaan dengan sahabat si Bos.
"Ada masalah apa bro disana? " tanya Tony dengan santai.
"Ada dugaan korupsi yang dilakukan beberapa karyawan disana. Tidak akan aku lepaskan siapa pun yang berbuat curang" dengan nada kesal Adrian berkata.
"Antarkan Amanda pulang, susul aku nanti di Surabaya. Urusan proyek di Surakarta nanti dipending dulu"Adrian berkata kepada Tony kemudian melangkah pergi menaiki mobil pribadinya yang sudah menunggu didepan mereka.