"Kak Naya,kenal itu kucing garong dimana sih kak? Mending kak Naya jauh-jauh deh sama itu orang. Temperamennya buruk" ujar Andre menunjuk Adrian.
"Sialan dasar adik tahu dia, bilang kakaknya sendiri kucing garong. Lha kamu kaya bang toyip nggak pernah pulang-pulang" balas Adrian yang tidak mau mengalah.
"Enak saja bilang aku bang toyip. Maaf bro kita masih lajang, nggak ada yang nungguin pulang juga kali. Lagian siapa bilang nggak mau pulang? Malas kalau pulang cuma dengerin omelan nggak berfaedah dari kucing jantan yang kagak laku-laku" ucap Andre yang kesal dibilang bang toyip.
"Eh,kutu kupret. Siapa bilang kakak kamu yang ganteng dan rupawan ini nggak laku? Nih istrinya" kata Adrian yang menunjuk ke wajah Kanaya.
"Hah.Nggak mungkin, nggak percaya. Kak Kanaya itu terlalu sempurna kalau jadi istrinya kak Adrian" kata Andre yang nggak percaya.
"Eh,sialan emang kurang ajar banget sih punya adik modelan begini. Kanaya is my wife"ucap Adrian dengan penuh penekanan.
Andre masih seakan tidak percaya dengan perkataan Adrian melirik ke arah Kanaya berbicara pakai isyarat. Seolah bertanya apakah itu benar? Kanaya diam dan mengangguk pelan. Sontak Andre terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berharap ini semua ini hanya mimpi, tapi disisi lain dia merasa senang kalau Kanaya menjadi bagian keluarganya. Dia tidak mempermasalahkan Kanaya menjadi istri Adrian. Hanya bingung bagaimana bisa secepat ini mereka telah menjadi suami istri? Padahal Kanaya baru dua hari pergi ke Jakarta. Apa mereka sudah lama saling mengenal satu sama lain? Banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan tapi mulutnya tidak mampu untuk mengatakan.
"Kenapa bengong? Ngiri ya" ucap Adrian sambil terkekeh kepada adiknya yang sedang berpikir.
"Ngapain iri. Nggak pantas tau. Kasian sama kak Kanaya" kata Andre.
"Kak Naya, ngapain mau sih sama psikopat tuh... tuh... " kata Andre menunjuk Andrian pakai mulutnya yang dimonyongkan. Terlihat nampak jelas Adrian kesal dengan Andre.
Kanaya yang sedari tadi mendengarkan kakak beradik yang beradu mulut satu sama lain yang tidak ada yang mau mengalah membuat Kanaya merasa pusing mendengarkan celotehan mereka. Kanaya tidak menyangka jika Adrian akan sebawel ini dan Andre akan seceriwis seperti sekarang ini. Tapi Kanaya dapat melihat kalau mereka saling menyayangi meski saling melontarkan kata-kata kasar dan menghina satu sama lain.
"Kakakmu yang maksa Ndre" ujar Kanaya membalas perkataan Andre. Hal ini membuat wajah Andre menjadi memerah tidak terima walaupun kenyataannya begitu.
"Nggak usah dijelasin aku paham kok sama sifat kak Adrian yang suka memaksa. Kak Naya jangan mau ditindas sama si iblis berwajah tampan itu" ucap Andre memperingatkan Kanaya.
"Tenang saja. Kamu tau sendiri kan dengan aku, sudah ku pastikan bakal ku remuk badan mereka yang mau cari masalah denganku" kata Kanaya yang melirik ke Adrian.
Adrian merasa bergidik ngeri melihat tatapan Kanaya yang menurutnya akan memakan dia hidup-hidup. Kalo sosisnya yang dimakan pas lagi hidup malah senang dia. Tiba-tiba saja pikiran nakal dan m***m menjalar ke dalam otaknya yang membuat dirinya senyum sendiri dan membuat heran Andre dan juga Kanaya.
"Woy, lagi mikirn apa sih kak jadi senyum yang nggak jelas. Apa lagi kesambet tu orang kak Naya? " tanya Andre ke Kanaya yang masih terlihat bingung melihat Adrian yang tersenyum aneh.
"Lagi mikir yang aneh-aneh ya. Apalagi m***m" kata Kanaya mengusap kasar wajah Adrian secara kasar dan membuyarkan lamunannya yang lagi membayangkan Kanaya yang sedang menggodanya dengan memakai lingerie hitam yang sudah dibelikan oleh sekretarisnya.
"Ah, nggak. Cuma mikirin kamu aja" Adrian yang terlihat cengengesan dihadapan Kanaya.
Andre yang sangat mengenal kakaknya luar dalam melihat situasi seperti sekarang adalah ekspresi yang berbeda dari Adrian sebelumnya. Adrian tidak pernah terlalu sering menatap wajah seorang perempuan, dia malah sering suka menjaga jarak dengan para perempuan yang sering mengejarnya. Inj Adrian terlihat seperti bucin sekali kepada Kanaya. Melihat sikap Adrian yang menatapnya seperti tidak biasa membuat detak jantung Kanaya berdetak kencang. Hal yang sudah lama tidak pernah dia rasakan kini hadir saat dia bersama dengan Adrian. Meski baru mengenalnya tapi seperti dia sudah mengenalnya sejak lama.
"Ciyyyeeeee yang lagi bucin. Baru kenal wanita ya. Kemaren-kemaren kemana, apa suka lekong ka Adrian? "perkataan usil Andre lagi-lagi membuatnya merasa gerah dan memusingkan kepalanya.
"Ya allah begini amat ya punya adik mulutnya lemes dan lentur kaya slime" rintih Adrian dalam hati merasa kesal dengan kata-kata Andre.
"Huh... Sabar... sabar... Godaan setan mau memancing amarah" kata Adrian sambil mengelus d**a seraya menatap Andre. Seolah menyindir Andre.
"Ya jelas aku setan, kakak kan iblisnya" tawa Andre tidak mau kalah dengan sindiran Adrian.
Adrian yang sudah gerah dan geram dengan celotehan adiknya yang menyebalkan langsung mematikan panggilan video call tersebut tanpa seijin Kanaya. Hal itu membuat yang mempunyai kepentingan dengan Andre merasa diganggu dengan obrolan kakak beradik yang sama konyolnya.
"Siapa yang suruh mematikan panggilan? " tanya Kanaya ke Adrian yang menjadi salah tingkah.
"Aku refleks aja tadi karena kesal sama Andre yang menyebalkan" kata Adrian dengan lembut seolah memelas seperti anak kecil yang sedang mengadu.
"Memang kamu tidak menyebalkan. Pantas saja Andre menyebalkan kamu sendiri juga menjengkelkan dan bikin pusing kepala. Aku yang mau ngobrol sama Andre tapi malah kamu yang mencerocos terus dari tadi" kesalnya Kanaya kepada Adrian.
"Maaf" ujar Adrian sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Terserah.Aku mau tidur dari pada pecah kepalaku ngadepin kamu yang menyebalkan" Kanaya merapikan laptopnya dan menutupi badannya dengan selimut dan membelakangi Adrian.
"Nggak bisa bermesraan nih kalau dia merayu. Walau nggak bisa bongkar kamar setidaknya kan bisa nih mesra-mesra sedikit" ucap Adrian dalam hati. Namun dia tidak kehilangan akal agar bisa mewujudkan keinginannya.
Tanpa pikir panjang Adrian langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk Kanaya dari belakang. Memeluk mesra dan menciumi daun telinganya.
"Maafin aku ya, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak berniat membuat kamu marah. Maafin ya"kata Adrian sedangkan tangannya bergerilya dibadan Kanaya. Dia tak menghiraukan Adrian hanya membiarkan tangannya menulusuri badannya. Namun tangan itu berhenti tepat di area sensitif Kanaya. Terasa tebal dan keras namanya juga lagi haid ya ditutupi pembalut lah. Adrian menarik nafas panjang dan menghembuskan secara berat.
"Nasib... Nasib... Malam pertama bukannya bahagia malah bikin sakit kepala. Istri merajuk, bongkar gudang nggak bisa. Ngenes amat sih nasibku ya Allah" ucap Adrian yang membuat Kanaya tertawa kecil mendengar penuturan suaminya yang kadang bikin emosi kadang membuat dia tertawa. Dia merasa Adrian seperti ABG labil saja sikapnya
Adrian keluar dari selimut dan pergi meninggalkan Kanaya yang dikiranya tengah meraju. Padahal dia sedang menahan tawa didalam selimut karena sikap Adrian tadi.
"Aku keluar dulu mau shalat isya. Kamu tidur saja disini, aku tidur di apartemen nanti. Dekat kamu bikin aku tambah pusing kepala atas sama bawah" ucap Adrian kemudian dia pergi meninggalkan kamar.
Kanaya pun membuka selimutnya dan kemudian tertawa. Sikap Adrian persis seperti anak kecil yang tidak diijinkan untuk makan coklat. Hal itu membuatnya merasa sedang menghadapi kelakuan anaknya.