Video Call

1387 Kata
Kanaya dan Adrian sampai di kosan Ades,sebelumnya Kanaya sudah menghubungi Ades via chat kalau dia akan mengambil barang-barangnya. Kanaya meminta Ades untuk tidak usah datang menemuinya, Kanaya meminta Ades untuk menghubungi ibu kosnya agar membuka kan pintu kosnya. Begitu banyak rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Ades namun Kanaya memilih untuk tidak menjawabnya. Mengatakan kalau dia akan membicarakan semuanya secara langsung. Ibu kos Ades sudah menunggu kedatangan Kanaya dan beliau pun terkejut karena Kanaya datang bersama Adrian. Mata si ibu kos tak berkedip sedikit pun melihat ke arah Adrian. Begitu terlihat nampak sangat jelas beliau mengagumi pahatan tuhan yang begitu sempurna itu. Kanaya hanya tertawa kecil melihat Adrian yang merasa risih dipandangi oleh si ibu kos yang berbadan bonsor itu. "Apakah semua barang-barangmu sudah dibawa semuanya? " tanya Adrian ketika melihat Kanaya membawa kopernya. "Sini biar aku yang mengangkatnya" kata Adrian menghampiri Kanaya dan lewat di depan si ibu kos yang masih terpana menatapnya. "Dek Kanaya siapa itu dek? " tanya si ibu kos tersebut kepada Kanaya. "Kalau boleh kenalin dong sama ibu. Ibu mau jodohin sama Indah anak ibu" ujar ibu kos Ades berbicara berbisik ke Kanaya namun masih terdengar jelas di telinga Adrian. Kanaya yang mendengar perkataan si ibu kos itu bingung mau menjawab apa. Hanya bisa diam dan menutup pintu kosan Ades. Untuk sementara barang-barang Ades masih disini, setelah pulang dari bulan madu baru dia akan memindahkan semau barangnya ke rumah Dio. Kalau ayah Ades tidak tau dia akan tinggal, karena setelah kejadian ini dia merasa malu untuk bertemu Ades dan memilih untuk pergi dari kehidupan Ades. Meski Ades dan Dio sudah meminta untuk tinggal bersama mereka tapu pak Nugrah tidak ingin menjadi beban Ades dan menghalangi kebahagiaannya. Sudah saatnya bagi Ades untuk bahagia sekarang. "Sudah semuanya kan sayang" kata Adrian yang datang mendekati Kanaya. Sontak sang ibu kos terkejut mendengar Adrian memanggil Kanaya dengan sebutan sayang. "Oh iya, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Adrian, suaminya Kanaya" ucap Adrian tegas sambil mengulurkan tangannya ke arah ibu kos yang berniat ingin menjadikannya menantu tadi. "Iya, saya bu Nely pemikik kosan ini" jawabnya sedikit terbata-bata. Merasa malu si ibu kos langsung meminta untuk pamit kembali ke rumahnya. Setibanya di dalam mobil Kanaya tertawa, karena sebenarnya dari tadi dia mencoba untuk menahan tawanya. Adrian yang heran dengan tawa Kanaya hanya mengerutkan keningnya dan menjalankan mobil mewahnya. "Ada yang lucu?" tanya Adrian sedikit bernada kesal. "Nggak ada. Cuma inget si ibu kos tadi pas nanyain tentang kamu dan mau jadiin mantu. Liat ekspresi wajahnya yang kaget syok saat kamu bilang suamiku tadi, apa nggak kena mental tuh ibu kos ceriwis" kata Kanaya menjelaskan alasan dia tertawa. Adrian akhirnya ikut tertawa juga karena mengingat wajah si ibu kos yang menahan malu tadi. "Kamu mau makan apa? " tanya Adrian ke Kanaya. "Nggak ada. Lagian tadi nasi bungkus yang kamu bawa belum aku makan" ujar Kanaya. "Jangan makan yang itu, beli yang baru aja kalau kamu mau makan nasi padang" ucap Adrian. "Nasi padang. Tadi yang kamu beli itu nasi padang. Kalau tau begitu aku langsung makan setelah makan seblak tadi. Nggak ngemil snack dulu" ujar Kanaya membuat Adrian tercengang. "Memang kamu masih bisa makan nasi setelah satu porsi seblak sebanyak itu kamu makan? ". "Itu perut apa tong sih? " kata Adrian yang merasa tidak percaya. Kanaya hanya mengangguk pertanyaan Adrian tersebut. "Badan kecil kaya begini bisa makan banyak. jangan-jangan kamu cacingan ya? ". " Oh mungkin lagi ternak cacing di dalam lambung mu"kata Adrian meledek Kanaya sambil tersenyum kecil saat mengatakannya. Adrian mencoba untuk menggoda Kanaya secara tidak langsung melalui candaannya. "Enak saja. Tapi ya mau gimana. Memang kenyataannya aku bisa makan banyak. Ni ya kalau beli bakso, setidaknya aku bisa menghabiskan tiga mangkok. Kalau mau ngemil-ngemil saja cukup dua mangkok" kata Kanaya yang malah membuat Adrian terkagum-kagum. Pantas saja dia kuat buat menghajar anak buahnya. "Ini the real wonder woman" ucap Adrian dalam hati. "Aku tunggu kejutan apalagi dari kamu Kanaya, kamu selalu mampu membuat diriku membisu" kata Adrian dalam hatinya sambil memandangi istrinya yang sedang asyik memainkan handphonenya. Sepulang mereka dari luar mereka berdua langsung kembali ke hotel. Sebenarnya Adrian memiliki rumah dan apartemen pribadi, tapi dia memang lebih suka untuk tinggal di hotel miliknya. Kamar khusus yang memang hanya untuk ditempati olehnya. Sesampainya mereka di lobi hotel dan berjalan menuju ke lift. Banyak mata yang memperhatikan mereka dan mengambil video serta foto mereka. Jadi obrolan heboh lagi di grup chat khusus karyawan Aston Hotel. Kehebohan tersebut tidak diketahui oleh Adrian ataupun Kanaya. Sesampai di dalam kamar hotel Adrian langsung merebahkan dirinya. Siapa sangka hidupnya langsung berubah seketika dikala dia menginginkan Ades sebagai pembayaran hutang pak Nugrah namun digantikan oleh Kanaya. Sebenarnya Adrian tidak berniat jahat kepada Ades, hanya menyuruhnya untuk menjadi kekasih bohongannya saja agar dia tidak dipaksa untuk menerima perjodohan dari keluarganya. Padahal orang tua Adrian tidak terlalu mendesak, tapi kakeknya yang selalu mempermasalahkan hal tersebut. Kanaya begitu sibuk dengan laptopnya,mencek satu persatu email yang masuk. Sebuah pesan masuk di layar handphonenya. "Kak, Naya. Meeting yuk, membahas tentang pembangunan pabrik pengolahan sawit. Sudah selesai sekitar tujuh puluh persen. Tapi ada kendala ni ka" pesan dari Andre. Kanaya langsung membuka aplikasi panggilan untuk menelpon Andre secara panggilan video. Kanaya melihat ke arah Adrian yang sedang menutup mata, mungkin dia sedang tertidur dan Kanaya bermaksud tidak ingin mengganggu tidurnya. Kemudian panggilan Kanaya terhubung dengan Andre yang kini terlihat sedang sibuk meminum es cappucino sama secup mie instan. "Hai kak Naya. Lagi ngapain kak, maaf nih aku lagi makan. Soalnya disini lagi hujan malas mau keluar jadi makan mie instan aja" kata Andre memulai perbincangan. "Katanya hujan, tapi kok minum es" ucap Kanaya. "Dibelikan sama Maria tadi pas dia nganterin berkas laporan buat rapat besok" Andre menjelaskan perihal es cappucino yang dia minum. "Kenapa nggak sekalian tadi minta belikan makanan? Nasi goreng kek, nasi uduk kek, nasi padang kek" kata Kanaya, dia tahu kalau Andre itu orangnya mudah lupa. Kalau sudah fokus kerja untuk urusan makan bisa tidak makan sampai seharian. "Nggak kepikiran. Cuma kepikiran pengen minum es cappucino" katanya sambil diikuti sedikit tawa. "Oh ya kak,tanah tempat pembangunan pabrik kita ada salah satu warga yang menggugat. Katanya pembangun pabrik tersebut melewati batas tanah milik kita, dan memakai separuh tanahnya" ujar Andre memulai meeting yang sering mereka lakukan. "Tanya berapa untuk kompensasi ganti ruginya? " kata Kanaya singkat. "Dia nggak mau diganti rugi. Maunya bangunan yang berdiri di atasnya tanahnya itu di robohkan saja" jawab Andre dengan nada sedikit kebingungan. "Hah,mana bisa. Sudh kamu selidiki kepemilikan tanah orang tersebut? Benar miliknya atau bukan. Seingatku kita sudah mengukur dengan jelas sebelum pembangunan. Aku rasa tidak mungkin bapa membeli tanah yang bermasalah. Sudah kamu beritahukan masalah ini ke big boss? "tanya Kanaya ke Andre perihal tanah tersebut. "Belum kak,aku kan nunggu intruksi dari kakak dulu. Nggak berani langsung ngomong ke pak Hendri langsung" jawab Andre yang memang sangat menghormati ayah Kanaya. Memang beliau orang yang sangat disegani disini, padahal beliau sangat baik. Mungkin karena predikat mantan preman terlekat pada diri pak Hendri membuat orang jadi segan terhadapnya. "Biar nanti aku yang bicara sama bapa. Tapi tolong dicek dan diukur lagi batas tanah pembangunan pabrik tersebut. Kalau kita tidak menyalahi maka kita bisa mengambil langkah untuk memproses secara hukum karena sudah melakukan pencemaran nama baik. Kalau kita melakukan kesalahan, cari cara yang terbaik agar semuanya bisa diselesaikan secara baik"ujar Kanaya kepada Andre. Namun tiba-tiba Adrian duduk disamping Kanaya sontak membuat Andre yang tengah meminum es cappucino nya langsung memuncratkan keluar. Betapa terkejut dirinya antara iya atau tidak. Nyata atau mimpi sekarang ini dengan sosok yang ada disamping Kanaya. "Kak Adrian. Itu beneran kak Adrian? " tunjuknya ke layar laptopnya. "Kenapa kaget? Sudah lupa sama kakak sendiri hah. Dasar adik laknat tak tau diri" ucap Adrian kesal. "Kakak tuh yang rese, adik sendiri diusir dari rumah disuruh menjauh dari keluarga. Bukankah kakak sendiri yang laknat. Eh bukan, kejam lebih tepatnya" ujar Andre menghisap esnya kembali. Kanaya melihat ke arah Adrian dan mempelototinya. Terlihat sangat jelas Adrian tak berkutik hanya dengan ditatapnya sinis. Wajah dilayar laptop langsung tertawa terbahak-bahak melihat Adrian tak bersuara seperti seekor siput yang tengah bersembunyi di dalam cangkangnya. Kakak yang paling rese dan nyebelin yang bisanya marah-marah dan suka merintah ternyata seperti lumpuh tak berdaya bersama Kanaya. Apa hubungan Adrian dengan Kanaya? Bagaimana bisa mereka bisa saling kenal? Apakah rekan bisnis? Semua pertanyaan itu ada dalam benak Andre.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN