Mely menangis dan menjerit tidak percaya dengan semua ini. Orang yang telah menghancurkan masa depannya adalah ibu tirinya, kenapa mereka tega kepadaku? Beribu pertanyaan bergentayangan didalam kepala Mely.
"Apakah kau sudah selesai dengan mereka? " tanya Adrian yang melihat Mely duduk bersimpuh sambil menangis tak bersuara. Adrian memerintahkan anak buahnya untuk membawa Mely kembali dan membereskan ketiga pria yang sudah disiksa Mely tadi.
Adrian semakin penasaran dengan kehidupan Mely, seperti apa kehidupan dia sebelum hal ini menimpa dirinya. Adrian menyuruh anak buahnya untuk meyelidiki tentang gadis yang baru saja dia tolong. Berharap bisa menolongnya yang tengah berada dalam keputus asaan. Tak membutuhkan waktu lama bagi anak buah Adrian untuk menelisik kehidupan Mely dan sebuah senyuman sinis tersirat dari bibirnya.
"Tidak usah kau tangisi mereka yang telah mencoba untuk menghancurkan hidupmu. Sebenarnya yang mereka inginkan adalah kematianmu" Adrian mengungkapkan motif Angie sang ibu tiri melakukan hal itu.
"Maksud kamu apa? Kamu tidak tau apa-apa tentang hidup saya? " ucap Mely dengan sorot tatapan yang tajam.
"Tentu saya tau tentang dirimu. Mely Andriani putri dari Ahmad Saufi dan Rahimah. Lulusan jurusan akuntansi, sudah bertunangan dengan pria yang bernama Fikri. Namun dibatalkan karena merasa hina mempunyai seorang istri yang sudah tidak suci lagi. Bukan begitu" dengan sengit Adrian menceritakan perihal tentang dirinya.
"Kalian itu sudah dibodohi oleh wanita yang bernama Angie itu. Mereka hanya ingin mengambil harta yang dimiliki ayahmu, mereka pikir ayahmu memiliki banyak harta".
"Hahaha.... Mereka itu sangat bodoh, dengan menikahi ayahmu sama saja dengan menggali kuburan mereka sendiri. Ini semua salah ayahmu sendiri yang terlalu arogan dan suka main perempuan. Apakah kamu tau bahwa ibumu dibunuh oleh ayahmu sendiri? " mendengar penuturan Adrian Mely terkejut dan menggeleng tidak percaya. Bagaimana mungkin dia harus mempercayai pria yang baru dikenalnya?
"Aku mengerti kamu tidak akan percaya hal ini. Asal kau tau, ayahmu berhutang banyak kepada seorang rentenir. Rumah yang sekarang ibu tirimu tempati adalah jaminannya. Ayahmu membunuh ibumu karena ingin mengambil alih semua harta peninggalan orang tua ibumu, serta ingin menguasainya dan akhirnya dia dibunuh oleh istri barunya karena".
"Heh, ckck. Itulah yang dinamakan karma. Hal yang menimpa dirimu hanya imbas dari perbuatan ayahmu" ujar Adrian menjelaskan penemuan tentang hidup Mely yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
"Biadab, tega-teganya mereka mencurangi ayahku dan merusakku" teriak Mely geram.
"Kamu tidak perlu membalas dendam kepada mereka, karena sebentar lagi mereka akan hancur. Oh ya, kakak tirimu sedang hamil anak mantan kekasihmu itu. Mantanmu adalah seorang buronan polisi. Bersyukurlah kamu sudah lepas dari dirinya" ucap Adrian.
"Apa kamu mau bekerja denganku sebagai manajer keuangan perusahaanku? Jangan kau sia-siakan kepintaran mu itu girl" ajak Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya seolah memberikan semangat untuk Mely. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Mely perihal tawaran Adrian tadi.
"Pikirkanlah dulu, untuk urusan ibu tirimu dan saudara tirimu serta mantan kekasihmu sebentar lagi mereka akan merasakan dinginnya jeruji besi. Tidak usah memikirkan balas dendam kepada mereka sebaiknya kamu menata hidupmu lebih baik lagi" jelas Adrian berharap Mely tidak melakukan hal bodoh lagi, sebab setelah ini dia tidak akan menolong dia lagi.
Setelah membutuhkan waktu berpikir selama dua hari akhirnya Mely menerima tawaran Adrian. Semenjak hari itu Mely menjadi salah satu orang kepercayaan Adrian, apalagi Mely yang benar sangat bisa diandalkan dalam mengurus keuangan perusahaan. Serta banyak menemukan kejanggalan pengeluaran perusahaan yang tidak diketahui oleh ayahnya saat ayahnya mengelola perusahaan.
Banyak kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh karyawan ayahnya, sehingga membuat Adrian maupun ayahnya merasa geram. Setelah segala kecurangan yang terbongkar di perusahaan, membuat Mely menjadi salah satu karyawan yang disegani oleh karyawan lainnya. Apalagi sikap Mely yang dingin dan juga begitu disiplin banyak yang menyebut dirinya eksekutor. Setelah memutuskan melangkah disisi Adrian, Mely melupakan semua kenangan pahit dalam hidupnya dan menjadi pribadi yang lebih kuat serta mandiri.
***
"Pak Angga bisa bapa jelaskan perbedaan angka pada lembar kertas yang anda pegang? Bagaimana bisa selisih keuangan laporan yang anda kirim tiap bulan selam empat bulan terakhir ni bisa hampir tiga puluh persen selisih laporannya" ujar Mely pada rapat mengenai masalah keuangan di kantor cabang.
"Laporan keuangan yang anda tulis dengan uang kas yang tersedia serta uang pengeluaran dan pemasukan semua yang anda laporkan itu sangat banyak selisihnya pa Angga".
"Bu Mely jangan mengada-ada. Semua laporan yang saya berikan itu sudah sesuai" elak Angga kepada Mely sedangkan Adrian hanya mengamati perdebatan antara Mely dan Angga. Angga yang merupakan orang kepercayaan ayahnya walaupun sebenarnya dia meragukan hal itu. Dengan sengaja Adrian menugaskan Angga untuk mengurusi kantor cabang yang di Surabaya ini.
"Pak Angga tidak bisa mengelak, pak Angga bukankah meminta uang tambahan untuk proyek perumahan Malang Asri dengan nominal dua milyar, tapi disini untuk tambahan proyek tersebut hanya tertulis sebsar satu koma tiga milyar. Terus uang sisanya sebesar tujuh ratus jutanya kemana?"Mely yang dari tadi sudah tak kuasa menahan emosinya berbicara dengan sangat lantang. Hingga membuat bulu kuduk orang-orang yang mengikuti rapat sekarang ini merinding. Tidak ada yang berani menatap ke arah Mely sang eksekutor Adrian. Pak Angga pun hanya terdiam, mungkin dia merasa telah melakukan kecerobohan atau kesalahan.
"Apa ada yang bisa pak Angga jelaskan? Haruskah saya yang membeberkan semuanya. Sebaiknya anda katakan dengan jujur sebelum saya mengambil tindakan yang akan pak Angga sesali" Adrian bersuara setelah dari tadi hanya diam mengamati pak Angga yang menurutnya berbohong dengan ucapannya. Seketika wajah pak Angga langsung memucat karena ketika Adrian bersuara tidak ada yang bisa menyelamatkan dirinya meski itu ayah Adrian sendiri.
"Maafkan saya pak, sebenarnya uang itu dipakai untuk melakukan memuluskan pembanguna perumahan tersebut pa" mohon Angga ke Adrian karena takut dengan ancaman Adrian tadi.
"Tapi uang tersebut masuk ke rekening bapa lo" ucap Mely dengan seringaian yang sinis. Hal itu membuat karyawan yang ada dalam rapat tersebut bergidik ngeri.
"Silahkan pak Angga membereskan barang-barang bapa keluar dan jangan pernah menginjakan kaki bapa ke perusahaan saya. Jika bapa masih bersikeras dengan keinginan bapa silahkan saja. Tapi jangan bapa sesali yang akan terjadi nanti" kata Adrian dengan santai masih duduk dikursi kebesarannya.
"Untuk uang yang sudah bapa pindahkan ke rekening pribadi bapa, anggap saja pesangon bapa yang sudah bekerja lama di perusahaan ayah saya sebelumnya" Adrian berdiri dan pergi meninggalkan ruang rapat.
"Oh ya Mel, untuk sementara waktu kamu tinggal beberapa hari lagi di Surabaya ini. Saya ingin kamu mengurus serta membereskan semua masalah yang ada di perusahaan ini. Jika ada yang tidak beres atau karyawan yang bandel pecat saja tanpa pesangon. Saya benci dengan orang-orang yang suka bermain curang" ucap Adrian sinis sambil melihat ke arah para karyawan yang hadir dalam rapat, seluruh karyawan menunduk tak ada yang berani menatap ke arah Adrian. Meski aturan yang diberikan oleh Adrian sangat ketat dan terkesan seperti kejam. Nyatanya dia tidak segan memberikan bonus yang besar kepada karyawan yang sudah berjasa untuk perusahaannya. Boleh dibilang gaji yang diberikan oleh perusahaan Adrian diatas UMR.