Kanaya yang merasa kesepian sangat sekali ingin jalan-jalan berkeliling Jakarta, namun Tora menghalangi karena Adrian tidak memberikan izin untuk Kanaya keluar pergi.
"Aku suntuk Tora, tiap hari cuma ditemani sama kamu doang" keluh Kanaya yang merasa kesal dengan Adrian yang protektif, sebagai istri yang baik dia menuruti keinginan Adrian walaupun dia merasa terkekang.
"Tapi mau gimana lagi non, bos Adrian nyuruhnya non Kanaya nggak boleh jalan keluar kecuali sama dia" terang Tora menjelaskan kalau dia juga tidak berdaya dengan perintah Adrian.
"Bang Tora boleh nggak aku manggil Ades untuk main kesini, dia pengen ngajak aku ketemuan nih bang. Boleh ya" ucap Kanaya memelas berharap Tora agar menyetujui keinginannya itu.
"Kan aku nggak boleh keluar jadi biar dia aja yang datang kemari"Kanaya mencoba bernegosiasi dengannya. Seandainya dia bukan istri Adrian sudah pasti tidak ada siapapun yang bisa menahannya disini. Sebagai seorang istri yang baik dia harus berbakti dengan perintah sang suami. Meski sampai sekarang sang suami pernah menghubungi atau menanyakan kabarnya. Entah kenapa ada rasa rindu menelisil dalam hati Kanaya.
"Boleh non, kata bos Adrian mungkin besok atau lusa dia pulang" kata Tora menyampaikan pesan yang dikirim Adrian lewat chat. Ada sedikit rasa kesal di hatinya, Adrian tidak memberitahu kepulangannya secara pribadi kepadanya.
"Non, kata si bos. Itu roti tawarnya sudah habis kah? Apa saos strawberry nya masih ada? " dengan bingung Tora menyampaikan pesan dari bos kesayangannya itu kepada Kanaya.
Mendengar hal itu membuat Kanaya merasa malu, pipinya berubah merah merona. Disaat seperti ini Adrian masih sempat-sempatnya mengatakan hal ini. Tora yang tidak mengerti dengan hal itu hanya bingung perkataan Adrian.
"Non, saos strawberrynya masih ada? Kalau nggak biar nanti bang Tora yang belikan. Roti tawarnya apa kah masih ada juga? " mendengar pertanyaan Tora malah membuat Kanaya yang bingunh harus berkata apa.
"Ah itu bang, semuanya udah habis" ujar Kanaya berucap menunduk melihat ke arah handphonenya yang sedang menunggu balasan pesan dari Ades untuk menemuinya di hotel milik Adrian ini.
"Oh baiklah kalau begitu, semuanya dibelikan tunggu dikamar dan jangan keluar ya non., Sebenarnya nggak khawatir juga sih, diluar ada dua orang yang jaga. Di lobi juga masih ada yang lain menjaga takutnya kalau mba Kanaya kabur" Tora berbicara dengan entengnya tanpa ragu untuk berkata-kata seolah Kanaya ada niatan untuk pergi. Kanaya hanya menghembuskan nafas beratnya.
Kanaya melihat ada sebuah pesan masuk, dia pikir dari Ades ternyata Adrian yang mengiriminya.
Jangan lupa ya persiapkan diri kamu ketika aku pulang nanti. Aku ingin kamu memakai salah satu lingerie yang sudah aku belikan untukmu.
Kanaya sontak merasa kaget dengan isi pesan Adrian. Setelah sekian hari tak bertemu ternyata dia masih ingat hal itu. Secara refleks Kanaya menepuk jidatnya, dari mana dia tau kalau aku sudah selesai menstruasi? Apa dari Tora? Dia kan tidak tahu dengan kode roti tawar. Masa iya Adrian segitu terbukanya dengan bodyguard lawak satu itu. Beribu pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Tapi mengingat pesan dari Adrian tadi entah kenapa ada desiran aneh yang menggeliat di dalam hatinya. Kerinduan akan sikap manis dan konyol Adrian. Serta tatapan matanya yang tajam namun penuh gairah. Kanaya merasa dirinya sekarang seperti orang gila atau pun ABG labil yang baru mengenal cinta. Semu merah merona menghiasi pipinya sekarang ini. Beruntungnya tidak siapapun yang melihat tingkah lucunya yang merasa malu jika akan bertemu Adrian.
Seketika lamunannya buyar saat pintu kamar diketuk. Tora masuk bersama Ades dengan membawa bungkusan plastik yang entah apa saja isinya.
"Non, temannya udah datang. Sekalian saya anterin. Habis ini saya ada urusan, saya keluar dulu ya non. Biar non Kanaya bisa ngobrol santai sama temannya. Non kanaya bisa panggil yang lainnya kalau butuh sesuatu" Tora meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja rias yang ada disebelah kanan kasur, meja rias yang baru saja dibelikan untuk kenyamanan Kanaya.
"Iya bang, memangnya ada urusan apa ban? " tanya Kanaya penasaran. Takutnya Adrian akan pulang tiba-tiba saat dia sedang asyik ngobrol dengan Ades.
"Oh, bantuin bos Tony membasmi hama" celetuk Tora santai.
Kanaya merasa bingung dengan Tony, apa pekerjaannya? Dia tidak begitu banyak bertanya tentang teman Adrian yang konyol itu. Apa sekarang dia membuka jasa pembasmi serangga? Pekerjaan yang memiliki masa depan yang menjanjikan, jarang ada yang punya pemikiran kalau membuka bisnis seperti ini akan sangat banyak menguntungkan. Kanaya tersenyum dengan kejeniusan Tony dalam membangun sebuah bisnis. Tanpa dia ketahui, sebenarnya hama yang dimaksud adalah orang-orang yang sedang ingin mencari masalah dengan Adrian.
"Kak Kanaya, aku kangen sama kakak" Ades menghambur memeluk ke tubuh Kanaya.
"Aku juga kangen, gimana nih hidup pengantin baru" ejek Kanaya mengelus punggung Ades yang masih memeluknya.
Ades melepaskan pelukan dan menatap ke arah Kanaya. Tatapan penuh selidik dan mengamati Kanaya.
"Apaan sih kamu ngeliatin aku sampai segitunya? " Kanaya merasa risih dengan tatapan Ades bak penyelidik yang sedang menginterogasi tersangka.
"Bukannya kak Kanaya juga pengantin baru?".
"Kenapa heran kak?"melihat reaksi wajah Kanaya yang terkejut Ades bertanya.
"Kak Kanaya kenapa nggak cerita sih ka? Si manusia songong yang berwajah rupawan berhati iblis itu maksa kakak ya kak" Ades melontarkan berbagai macam pertanyaan yang serasa membuat beban dikepala Kanaya. Berisik itu satu kata yang cocok untuk Ades sekarang ini.
Sebenarnya Kanaya ingin bertemu dengan saudari angkatnya ini karena ingin melepas kerinduannya serta bertanya perihal kehidupan barunya sebagai seorang istri. Tapi malah sebaliknya dia sekarang yang menjadi objek pertanyaan oleh Ades. Bukannya dia merasa tidak senang, tapi bingung dan harus membicarakan hal ini seperti apa.
"Ada yang baru beralih profesi jadi wartawan ya. Gitu amat nanyanya kaya lagi investigasi" celetuk Kanaya yang berdiri melihat kantong plastik yang dibawa oleh Tora tadi.
"Nih ada camilan, makan buat nutupin mukut rewelmu itu"bungkusan plastik tadi di lempar Kanaya kepangkuan Ades. Terlihat raut wajah yang tidak senang di wajah bulat dan pipi chubby milik Ades. Hanya sebuah cekikikan yang terlihat pada wajah Kanaya yang merasa lucu dengan mimik muka Ades.
"Kakak rese deh. Aku marah sama kakak, kenapa sih nggak pernah berubah suka aja bikin aku kesal" gerutu Ades yang selalu merasa dipermainkan oleh Kanaya. Meskipun begitu Ades sangat menyayangi Kanaya.
"Iya, iya. Dari siapa kamu tentang aku sama Adrian?"sekarang giliran Kanaya yang bertanya kepada Ades. Dia merasa bingung karena tidak ada yang mengetahui perihal pernikahan mereka selain orang terdekat Adrian. Lagian dia juga tidak pernah menghubungi Ades setelah pernikahan Ades dan Dio terjadi karena tidak ingin mengganggu waktu kebahagiaan mereka.
"Dari ibu kos. Kemaren kan aku baru ngambilin barang-barang di kos buat dipindah ke rumah mas Dio"jawab Ades dengan santai sambil asyik mengunyah kacang atom yang sedang beradu dalam mulutnya.
Kanaya lupa saat dia mengambil barang-barang nya yang ada di rumah Ades malam itu. Saat si ibu kos ingin mengambil Adrian untuk menjadi menantunya untuk dinikahkan dengan putrinya. Namun Adrian dengan tegas mengatakan bahwa dia adalah suami Kanaya.
"Aku kaget lo kak, saat si ibu kos bilang kalau kak Kanaya sama suaminya ngambil barang kakak di kos. Aku jadi bingung mikir gini, suami siapa? Kapan kak Kanaya nikah lagi? Apa si ibu kos kepo bin julid itu ngarang? " jelas Ades dengan lancarnya tanpa jeda nyerocos seperti kumbang.
"Terus habis itu ibu kos ngegambarin dan cerita sangat merinci tentang sosok yang dikatakan si ibu kepo itu sebagai suami kak Kanaya. Cuma satu nama yang sama persis seperti cerita ibu kos yaitu Adrian si maniak" celoteh Ades tak berhenti mengunyah, malah dia tambah geregetan mengunyah kacang atom seakan sedang ingin melumat seseorang.
Hal tersebut hampir saja membuat Kanaya ingin tertawa keras. Ekspresi Ades ketika menyebutkan nama Adrian si maniak sungguh imut. Rasa rindu yang mengungkung dalam hatinya kini seolah menguap entah kemana hanya bersama Ades yang selalu bisa membuat suasana hatinya lebih baik.