Maniak Tampan

1159 Kata
"Mely,apakah suamimu masih lama berada di Surabaya?" Adrian bertanya kepada Mely ketika mereka sedang santai di sebuah kafe. "Masi butuh beberapa hari, makanya aku tidak keberatan untuk tinggal beberapa hari disini mengurus masalah dikantor. Aku ingin berduaan dengan suamiku lebih lama" Mely mengedipkan sebelah matanya seakan menggoda Adrian yang kini jauh dari Kanaya. "Mas itu lucu deh, masa baru nikah istrinya sudah ditinggal. Apa nggak kangen tuh?" gida Mely lagi terhadap Adrian, yang digoda hanya senyum-senyum nggak jelas. "Ya kangen lah masa nggak. Makanya aku mau buru-buru pulang. Sudah enam hari kan aku tidak bertemu dengannya" Adrian memberikan kode kepada Mely dengan mengangkat kedua alisnya. "Sekarang kamu tidak bisa lagi meledekku, karena sudah ada seorang wanita disampingku. Jangan memanggilku dan Tony sebagai sweet couple lagi" ucap Adrian dengan nada mengejek. Mely hanya tertawa mendengar keluhannya, tapi itulah yang paling disukanya dari Adrian. "Kan memang bener sweet couple. Kemana-mana sering berdua, kalau mau menghajar orang berdua. Mana pernah mas Adrian membawa aku" dengan sengit lagi Mely berucap disaat menunggu sebuah jawaban hanya senyuman manis yang diperlihatkan olehnya ketika membaca sesuatu dari handphonenya. Senyuman yang jarak terlihat dari seorang Adrian. "Aku begitu penasaran dengan sosokmu kakak ipar, bisa membuat seorang Adrian tersenyum seperti ini" ucap Mely dalam hatinya yang merasa bahagia melihat senyum kebahagiaan diwajah Adrian. "Kamu kan perempuan, masa iya mau diajak kelahi. Nggak lucu tau" kata Adrian sambil menyeruput kopi lattenya. "Masa iya aku gelut sama angka-angka terus, kan pengen nyari hiburan juga kali mas"balas Mely sambil cekikikan. "Menurut kamu kira-kira siapa ya yang pantas untuk megang kantor cabang yang disini. Anak buah kepercayaan papa kan sudah terbukti tidak bisa dipercaya. So, nyari yang lain. Aku berniat ingin menarik suami kamu Mel, mungkin kamu juga setuju" ungkap Adrian ingin menunjuk suami Mely sebagai pimpinan kantor cabang. "Jangan mas, suamiku kan petugas PLN masa iya tiba-tiba jadi Pimpinan kantor cabang. Lagian ntar susah aku kalau mau eksekusi karyawan yang membandel. Suamiku kan nggak tau masa laluku, dan sepak terjang kita dalam bekerja mas. Menurutku jangan deh, dia terlalu baik untuk melihat kebenaran semua hal yang buruk dari kita"jujur saja Mely sangat tidak setuju, karena tidak ingin suaminya tau tentang ketegasan dirinya dan tatapan sinis miliknya. Dia bercerita kalau dirinya seorang janda yang ditinggalkan suaminya. Selalu bersikap lembut dan manja. Seakan dirinya wanita yang lemah dan rapuh. "Aku ada satu kandidat, namanya Ahmad di bagian keuangan. Dari dia semua kecurangan di kantor cabang bisa diketahui. Alasan dia melapor karena tidak ingin menjadi orang yang dzalim setelah mengetahui kecurangan itu. Ya dia ada cerita sedikit sih, setelah shalat istikharah selama tiga hari diberi petunjuk kalau dia harus segera melapor" cerita Mely tentang kebenaran dia bisa mengetahui kecurangan dikantor cabang. Dia tau Adrian sangat menyukai orang yang shaleh, karena dia yakin pasti orang yang shaleh orang yang bertanggungjawab dan berpegang teguh kepada Allah. Sekeji-kejinya Adrian dia tetap seorang manusia. Tindakannya yang kejam bukan tak berdasar, dia tidak akan menghukum mereka jika dianggapnya hanya melakukan kesalahan kecil. Jika sudah banyak kesalahan yang mereka buat maka dia yang akan menegakkan hukum sendiri, karena dia tau hukum itu tajam kepada mereka yang bisa membayar mahal. Walaupun Adrian orang yang kaya namun dia tidak suka menghamburkan uangnya untuk sesuatu yang tidak baik seperti menyogok. "Well,, kamu urus saja selama kamu masih disini. Kamu bisa angkat Ahmad jadi pimpinan di kantor cabang. Urusan disini aku serahkan semuanya ke kamu Mel, aku balik ke Jakarta mau honeymoon" ucap Adrian mengakhiri perbincangan dirinya dengan Mely kemudian dia pergi dari kafe dan meninggalkan Mely disana, karena dia sedang menunggu suaminya. *** "Kak,Kanaya cerita dong kenapa kakak mau jadi istrinya si penjahat tampan itu? Apa karena aku kak? " rengek Ades yang masih belum bisa mengorek apapun dari Kanaya. "Dari tadi aku dengar kamu selalu memberikan julukan tampan terus kepada Adrian, apa jangan-jangan kamu jatuh hati ya sama dia? Ku adukan sama Dio baru tau rasa kamu? " Kanaya mencoba mengancam Ades agar berhenti merengek perihal dirinya yang telah menjadi istri Adrian. "Jangan dong kak, aku kan cinta matinya sama dio bukan sama si penjahat itu. Ini nih gara-gara si ibu kos yang manggil Adrian si tampan, aku kan jadinya ketempelan omongan dia" ujar Ades bernada kesal. Ades memang orang yang berkata apa saja yang ada dipikirannya, terkadang dia memang tidak memfilter kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ades bukan tipikal orang yang bisa berbohong. Jika dia berbohong maka akan terlihat sangat jelasa dari raut wajahnya. Seperti sekarang terlihat dia sangat kesal dengan Adrian bukan seperti seorang pemuja. "Nggak, ini nggak ada hubungannya dengan kamu kok. Kakak yang salah sebenarnya, kakak yang nantangin dia buat nikahin kakak kalau dia memang pria sejati. And then, seperti yang kamu bilang tadi aku sekarang istrinya Adrian" kanaya mencoba menerangkab perihal pernikahan antara dirinya dengan Adrian. "Dia jahatin kakak nggak? "tanya Ades dengan khawatir, dijawab gelengan oleh Kanaya. Hembusan nafas berat keluar dari hidung Ades seolah merasa lega. "Dia baik kok, cuma kadang ya ngeselin sih sedikit. Nggak jahat sama sekali" ungkap Kanaya menceritakan tentang perlakuan Adrian terhadap dirinya. Tentunya dia tidak ingin mengatakan kalau Adrian romantis. Pasti dia akan dicecar ribuan pertanyaan oleh Ades. Bisa-bisa malah di bully oleh Ades kalau dia jatuh cinta kepada Adrian. "Syukurlah kalau begitu, tapi beneran baik sama kakak kan. Kakak nggak lagi ngelindungi dia aja kan?" seolah tak percaya Ades masih bertanya lagi. "Dasar bawel. Kalau dia mau jahatin ataupun berlaku kasar ke aku, emang dia mampu melumpuhkan aku? Kamu tai sendiri siapa seorang Kanaya" sahut Kanaya yang sudah merasa bosan dengan pertanyaan yang diberikan oleh Ades. Dia memang tau sekali sifat Ades, dia tidak akan berhenti bertanya kalau jawaban yang dia dapat belum memuaskan hatinya. Setelah dijawab Kanaya seperti itu, dua jempol Ades diacungkan olehnya tanda dia setuju dengan yang dikatakan oleh Kanaya. "Kakak memang the best" Ades tersenyum setelah mengucapkannya. Tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh seseorang, dan suara langkah kaki yang masuk membuat mereka berdua terkejut. Ades berpikir mungkin Tora yang datang, secara sudah lama juga dia pergi. Kanaya berdiri dan melangkah menuju kearah luar namun dia terkejut dengan orang yang masuk ke kamarnya. "Kenapa? Sepertinya kamu tidak terlihat senang dengan kedatanganku?"kata Adrian yang ingin menggoda Kanaya dengan keterkejutan dirinya atas kedatangannya yang tiba-tiba. "Bukan seperti itu. Tapi...."perkataan Kanaya dicegat oleh Adrian. "Tapi apa?" Adrian mendekat ke arah Kanaya dan menyentuj lembut bibirnya. Beberapa detik kemudian Adrian mencoba untuk menciun bibir Kanaya. "Kak, eh si maniak tampan sudah pulang ya" kata Ases nyaring, kedua orang yang berdiri saling berhadapan itu seketika menoleh ke arah dirinya. Tanpa disadari Ades menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seakan sadar atas apa yang diucapkannya tadi. "Aduh apes dah. Mampus dah kali ini kalau berurusan sama Adrian. Aduh ini mulut kok nggak punya rem ya"Ades berbicara berbisik namun masih terdengar ditelinga Adrian dan Kanaya. Seketika ide jahat muncul dipikiran Adrian untuk membalas ucapannya Ades yang mengatakan dirinya maniak tampan. Adrian merasa senang dengan kata tampannya, namun tidak suka dengan kata maniaknya. Walaupun mungkin bisa dibilang kalau dia benar-benar seorang maniak, tapi dalam urusan kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN