Saling Terbuka

1532 Kata
Kanaya membuka seblak terlebih dahulu, karena memang dia sudah begitu sangat ingin makan seblak itu sedari dan penasaran dengan rasanya. "Apakah kamu tau? Seblak adalah salah satu list makanan yang ingin aku makan saat datang ke Jakarta" kata Kanaya membuat Adrian terkejut dengan penuturan Kanaya, artinya Kanaya bukan orang Jakarta. Pantas saja dia tidak mengenalnya sama sekali. "Kalau kamu bukan orang Jakarta, terus kamu berasal dari mana? " tanya Adrian dengan istrinya yang baru dinikahi beberapa jam yang lalu tanpa tau asal usul dirinya. "Aku orang banjar. Aku tinggal di Kalimantan Selatan. Tepatnya Batulicin" jawab Kanaya sambil memasukkan sendok yang penuh berisi seblak ke dalam mulutnya. Kini wajah Kanaya pun juga dipenuhi oleh keringat karena makanan pedas tersebut. "Hah. Kalimantan Selatan. Jauhnya" kata Adrian yang sungguh terkejut seperti terkena setrum. Siapa sangka istrinya orang seberang pulau?. "Memangnya kenapa? Kan kalau naik pesawat paling juga sampai cuma satu jam dari bandara Soetta ke bandara Syamsudin noor" jawab Kanaya enteng. "Kamu pernah ke Jakarta sebelumnya? " tanya Adrian. "Belum pernah. Ini baru pertama kalinya, dan karena ke Jakarta akhirnya aku ketemu cowok b******k seperti dirimu" jawabnya dengan sedikit ketus. Adrian hanya menghela nafas karena tidak ingin terpancing emosi. "Kenapa baru pertama kali? Bukannya kamu punya banyak duit. Segitu sulitnya kah kamu untuk jalan-jalan ke Jakarta? " tanya Adrian menyelidiki latar belakang istrinya ini. "Tidak bisa. Aku sibuk, yang sering pergi ke Jakarta cuma bapa" jawab Kanaya. "Kamu kerja apa sih jadi sampai begitu sibuknya? Kayak CEO seperti diriku aja kamu"ucap Adrian penuh bangga dengan sedikit menyombongkan dirinya. "Bisa dibilang begitu" jawab Kanaya dengan santai sambil menyuap seblak suapan yang terakhir. Wajah mulusnya yang cantik sekarang dipenuhi keringat karena habis makan seblak pedas yang dia tidak tau level berapa kepedasannya. Tidak ada sikap yang sok cantik ataupun anggun,dia duduk bersila di lantai dengan santainya hingga satu porsi seblak sudah habis tanpa tersisa. Untuk standar sebagai seorang wanita terhormat tidak ada sopan sopannya sih sikapnya sekarang ini. Adrian yang melihat penampakan istrinya yang tidak menjaga imej seperti perempuan lainnya yang sering dia temui,begitu sangat kontras perbedaannya. Apalagi setelah mendengar Kanaya berkata kesibukan dia hampir sama dengan Adrian. Apa benar dia seorang CEO? "Apa benar kamu seorang CEO? " tanya Adrian menyelidiki. Kanaya yang tengah membuka botol minuman s**u coklat yang dibeli Adrian tadi hanya mengangguk tanda iya. "Jangan bercanda kamu" ujar Adrian. "Siapa juga bercanda. Beneran kok, semenjak suamiku meninggal aku lah yang bertanggung jawab atas perusahaan suamiku" ujar Kanaya menatap ke arah Adrian. "Kamu seriusan seorang janda? " tanya Adrian untuk merasa yakin kalau Kanaya berkata jujur. "Iya. Aku juga sudah punya tiga anak lho" kata Kanaya sambil mengedipkan kedua matanya. "Kenapa? Udah nggak nafsu punya istri janda yang sudah punya tiga anak" ledek Kanaya berharap Adrian akan melepaskannya begitu saja. "Nggak, malah aku senang. Artinya kamu memang bibit unggul untuk mencetak anak-anak ku nanti. Kalau begitu kamu harus memberikan aku sedikitnya empat anak" ujar Adrian menggoda Kanaya. "What? Gila, emang kamu pikir aku peternakan anak apa? " kata Kanaya kesal. Melihat wajah Kanaya yang begitu kesal spontan membuat Adrian tertawa lepas karena wajah Kanaya terlihat begitu lucu dimatanya. Tawa Adrian membuat Kanaya terkejut, seakan tidak percaya kalau Adrian bisa tertawa lepas seperti ini. Setelah tawanya mereda Adrian mencoba menenangkan dirinya. "Bergerak dibidang apa perusahaan yang kamu kelola? " tanya Adrian lagi setelah tawanya mereda karena dia masih penasaran dengan wanita galak yang menjadi istrinya sekarang ini namun ternyata wanita galak ini adalah seorang pengusaha. "Pertambangan" jawab Kanaya singkat. Sekali ini dia dibuat terkejut kembali. "Tambang apa? Batu bara, batu kromit, atau... " belum selesai lagi Adrian berbicara Kanaya sudah menjawabnya "Batu bara" jawab Kanaya memotong perkataan Adrian. Jadi Kanaya CEO perusahaan tambang batu bara. Tidak heran sih kalau uang dia banyak. Tapi penampakan dia tidak mencerminkan seorang pemimpin sama sekali. Kalau untuk pemimpin preman wanita sangat pas sekali, mungkin lebih bagusnya diberi gelar "preman cantik" pikir Adrian dalam kepalanya berimajinasi yang mengandai-andai membuat dia tersenyum sendiri. "Nama perusahaan kamu apa? Aku ada invest di salah satu perusahaan pertambangan di Batulicin, Kalimantan Selatan juga" kata Adrian. "Benarkah. Apa kamu mau jadi investor di perusahaanku juga? " tanya Kanaya yang masih belum menjawab pertanyaan Adrian. Tapi dia malah balik bertanya ke Adrian. "Nama perusahaan kamu apa? Untuk invest ke perusahaan kamu nanti bisa dipikirkan lah" ujar Adrian. "BAS atau Borneo Alam Sejahtera" ucap Kanaya bangga dengan perusahaannya. Pasti banggalah, karena perusahaan yang dikelola olehnya semenjak suaminya meninggal mengalami kemajuan yang begitu pesat. Dia bangga bisa meneruskan perjuangan mendiang suaminya itu. "Aku salah satu investor diperusahaan tersebut" ucap Adrian terkejut mendengar nama perusahaan Kanaya. "Perusahaan itu milik temanku yang namanya Radit. Jangan-jangan kamu istrinya Radit" kata Adrian membuat Kanaya jauh lebih terkejut. "Kamu kenal mas Radit. Iya dia suamiku" kata Kanaya. "Astaghfirullah. Nggak nyangka aku menikahi istri sahabatku sendiri" ujar Adrian seolah merasa bersalah. "Kalian berdua sahabatan. Tapi mas Radit tidak pernah bercerita tentang kamu atau menyebutkan nama kamu. Dia pernah cerita tentang temannya yang selalu dia panggil boba alias bola bantet itu aja"cerita Kanaya mengingat candaan suaminya yang sering bercerita tentang si boba. Seketika raut wajah Adrian berubah kesal. "Dasar landak, sukanya menusuk orang. Sudah besar masih saja ngatain orang dasar landak. Eh, landak lihat istrimu sekarang jadi istriku" teriak Adrian kesal terhadap mendiang suami Kanaya yang merupakan sahabatnya sendiri. Dia kesal kenapa Radit malah masih memanggilnya boba dan menceritakan ke Kanaya tentang sebutan yang paling dia benci itu darinya? "Hah, jangan bilang kalau boba itu kamu" tawa Kanaya lepas dikala dia mengingat cerita-cerita suaminya tentang sahabat kecilnya yang dia panggil boba itu. Adrian hanya bisa pasrah melihat Kanaya tertawa, pasti Radit sudah bercerita memalukan kepada Kanaya tentang dirinya dulu. Dasar Radit yang menjengkelkan. Tapi dia merasa sedih juga karena tidak bisa datang saat pemakaman sahabatnya itu. Padahal seminggu sebelum Radit meninggal mereka ketemuan di Jakarta, karena Radit memang ada urusan ke Jakarta jadi mereka bertemu dan berbincang-bincang sebentar. Sebelum mereka berpisah Radit berkata kepada Adrian dia berharap Adrian mendapatkan seorang istri seperti istrinya. Adrian hanya menanggapi ucapan sahabatnya tersebut sebagai hal yang konyol. Namun ternyata menjadi nyata, sungguh takdir yang tidak terduga. "Tapi salah satu investor dari Jakarta yang sering datang ke perusahaan, apalagi kalau rapat pemegang saham. Hanya Andre Rizky Anggara" kata Kanaya mencoba mengingat salah satu investornya yang nyentrik ini. Pemuda yang selalu suka menjahili para karyawannya. Pria yang sangat dekat dengan dirinya seperti adiknya saja, karena Andre sangat ingin memiliki kakak perempuan seperti dirinya. Dia tidak suka dengan kakak laki-laki nya yang galak dan suka memaksa. Hal itu selalu membuat dirinya merasa kurang bisa bebas mengekspresikan keinginan dirinya. "Andre itu adekku. Aku yang menyuruh dia untuk menangani segala sesuatunya di perusahaan BAS" kata Adrian membuat Kanaya terpaku seolah dia baru saja mendapatkan sambaran petir. Apakah wish Andre benar-benar menjadi nyata? Dia sekarang secara resmi telah menjadi kakak perempuan Andre walaupun sebatas kakak ipar. "Jadi kamu ya kakaknya yang super galak dan suka maksa itu" kata Kanaya sambil menunjuk ke arah Adrian. "What? " jawab Adrian terkejut. "Jadi dia mengatakan aku kakak yang galak dan pemaksa. Dasar berandal tidak tau diri itu ya. Bisanya cuma menjelek-jelekkan kakaknya saja. Awas kamu Andre" kata Adrian merasa kesal dengan adiknya yang suka usil dan pemalas itu. "Tuh kan beneran galak kamu ke Andre, ya wajarlah dia ngomong seperti itu. Kenyataannya kamu memang galak, jadi dia nggak perlu menjelek-jelekkan kamu karena kamu memang sudah jelek tau" ledek Kanaya dengan acuh berpaling tidak menatap ke arah Adrian. Hal ini malah membuat Adrian merasa kesal terhadap Kanaya. "Kamu pikir kamu cantik,wajahmu itu biasa aja. Aku sendiri aja nggak tertarik sama kamu" kata Adrian merasa jengkel. "Bagus lah kalau begitu, artinya secepatnya kita akan menyudahi pernikahan ini dong" ujar Kanaya membuat Adrian tambah emosi. "Jangan pernah berharap aku akan melepaskan kamu. Sampai aku mati, kamu tetap akan menjadi istriku" ucap Adrian marah. "Bodo amat. Kalau kamu mati ni ya, nggak bisa juga tuh ngalangin aku buat nikah lagi" jawab Kanaya santai sesantai-santainya. "Aku bakal jadi hantu buat nakutin calon suami kamu itu nanti. Kalau perlu aku bikin dia kena serangan jantung biar mati juga seperti aku nanti"kata Adrian yang bermain dengan imajinasinya yang malah membuat Kanaya merasa lucu hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak. Spontan Adrian jadi terdiam bingung dengan sikap Kanaya seperti itu, hal lucu apa yang membuatnya jadi tertawa? Dia bukanlah seorang komedian yang suka menghibur. Dia tidak menyadari bahwa tingkahnya tadi begitu konyol. "Jadi kamu sudah berniat ingin mati muda ya. Hahahaha" tawa Kanaya. Adrian tersipu malu dan sadar bahwa dia sudah bertingkah konyol. "Siapa bilang? Maaf aku masih ingin hidup lama. Cukup Radit saja yang meninggal muda" ujar Adrian membuat Kanaya sedih mengingat mendiang suaminya. Melihat perubahan wajah Kanaya Adrian merasa bersalah dan tidak enak hati. "Maaf aku tidak bermaksud seperti itu" ujar Adrian. "Kamu tau, saat pertemuan terakhirku dengan Radit. Dia berharap aku mempunyai istri seperti istrinya. Sekarang istrinya menjadi istriku seperti harapannya. Dia pasti sangat menyayangimu" kata Adrian lembut sambil mengelus puncak kepala Kanaya. Sontak membuat Kanaya menangis karena mengingat pesan terakhir mendiang suaminya yang berkata kalau dia suatu hari nanti meninggal dia berharap Kanaya mendapatkan suami seperti boba sahabatnya yang selalu diceritakan oleh Radit. Entah apa maksud dari perkataan Radit tersebut? Berharap Adrian menjadi suami Kanaya. Apakah benar kalau Adrian jauh lebih baik dari Radit?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN