Dilabrak Selingkuhan Suami

1153 Kata
"Maksud kamu apa nyuruh Aksa putusin saya? Sengaja, ya?!" Kirana memutar bola matanya malas saat menghadapi wanita yang tiba-tiba datang menghampirinya di pagi buta. Sungguh! Dia benar-benar tak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi. Maksud Kirana ..., hei! Di mana ada sejarah seorang istri sah dilabrak oleh selingkuhan suami? Tak ada! Kalaupun ada, dia tak pernah berpikir kalau hal itu akan terjadi padanya. "Ah, saya tahu ...." Devina tersenyum sinis sembari menyilangkan kedua lengan di depan d**a. Ditatapnya Kirana dengan tatapan mencemooh. "Kamu enggak mau cerai dari dia, kan? Makanya menjadikan sakitnya wanita tua itu sebagai alasan!" tuduhnya. Kirana sempat ternganga selama beberapa saat. Sedikit tak menyangka bahwa kata-kata seperti ini akan keluar dari mulut kekasih Aksa. 'Wanita tua itu', entah kenapa ia jadi emosi mendengarnya. Bisa-bisanya Devina menyebut calon ibu mertuanya sendiri dengan sebutan tak pantas seperti itu. kirana benar-benar tak habis pikir dibuatnya. "Kirana ..., Kirana ..., sudah saya duga. Kamu pasti orang yang seperti ini." Seakan tak pernah bosan, Devina terus mencecar Kirana dengan spekulasi buruknya. "Menyesal saya, sudah sempat kasihan sama kamu," sambung wanita itu. Meski merasa jengah, tapi pada awalnya Kirana masih mencoba bersabar menghadapi kekasih suaminya itu. Namun, makin ke sini, ia jadi semakin tak bisa bersabar lagi. Bagaimana tidak, pasalnya mulut wanita itu benar-benar kotor! Bukan hanya menyebut ibu mertuanya dengan sebutan 'wanita tua', kekasih suaminya itu juga bahkan menuduhnya yang tidak-tidak. Benar-benar menyebalkan! Kalau sudah begini, tentu dia tak boleh diam saja, kan? Kirana membulatkan tekad. Tak peduli siapa Devina di hati suaminya, dia akan membuat mulut wanita itu bungkam! "Memangnya kenapa kalau saya enggak mau cerai sama Mas Aksa? Masalah untuk Mbak? Toh, Mas Aksanya juga enggak keberatan sama permintaan saya, kan?" balas Kirana setelah sekian lama. Sengaja dia menggunakan nada bicara yang cukup tinggi dengan harapan dapat membuat wanita di depannya merasa terprovokasi. Dan ..., benar saja. Belum apa-apa, Devina sudah menunjukkan tanda-tanda ketidaksukaan. "Lagi pula, Mbak enggak dengar apa kata Mas Aksa kemarin? Dia mau putus dari Mbak!" kata Kirana penuh percaya diri. "Yah, saya tahu sih, kalau Mas Aksa ngelakuin itu demi mamanya, tapi ..., harusnya Mbak sadar kan, kalau ini baru permulaan?" "Sekarang, mungkin saya belum bisa buat Mas Aksa bertahan karena cinta, tapi nanti ..., saya bisa pastikan kalau Mas Aksa akan mencintai saya sampai-sampai enggak bakal berpikir untuk kembali dengan selingkuhannya!" Kirana tersenyum lebar di hadapan Devina. Sungguh! Dia tak tahu kalau melihat wajah merah padam selingkuhan suaminya itu akan semenyenangkan ini. Huh! Diam-diam, Kirana menghela napas pelan. Meski senang karena berhasil memprovokasi Devina, tapi ia sendiri juga tak begitu percaya diri. Tentu saja! Mau dipikirkan bagaimanapun juga, mustahil ia bisa membuat Aksa jatuh cinta padanya hingga tak akan berpikir untuk kembali bersama mantan. Ah, kalau memang bisa melakukan hal itu, mungkin hari-hari seperti hari ini tak akan pernah ada. "Enggak ada lagi yang mau saya bicarakan sama Mbak. Jadi, saya harap Mbak bisa pergi dari sini. Pintu keluar ada di sebelah sana!" usir Kirana sambil melirik ke arah pagar yang terbuka. Mereka memang sedang berada di rumahnya saat ini. Tempat yang beberapa hari belakangan sangat jarang ia kunjungi. Tadinya, Kirana berpikir untuk pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali agar dapat membawakan sarapan serta baju ganti bagi suami dan sang ayah mertua. Namun, baru saja keluar dari pintu utama, dirinya sudah dihadang oleh Devina. Wanita itu menyerbunya dengan berbagai cacian dan makian karena tak terima sudah diputuskan oleh Aksa. Yah, setidaknya itu yang Kirana yakini, sebelum .... "Heh! Saya penasaran dari mana kamu dapat kepercayaan diri sebesar itu?!" Devina kembali tersenyum sinis. Sama seperti sebelumnya, dia menatap Kirana dengan tatapan merendahkan. "Padahal semua orang juga tahu kalau kamu itu hanya istri yang enggak dianggap oleh Aksa. Kalau bukan karena orang tuanya, mana mungkin kamu masih berstatus sebagai istrinya sekarang." TELAK! Dari sekian banyak kata-kata menjengkelkan yang keluar dari mulut Devina, kata-kata ini lah, yang paling mengena di hati Kirana. Kata-kata yang membuatnya merasa seperti tertikam tepat di ulu hati. Menyebalkan! "Memang benar, tapi bukankah saya punya kekuatan yang lebih besar dari Mbak? Secara, seluruh keluarga Mas Aksa setuju sama hubungan kami. Jadi, bukan enggak mungkin kalau suatu saat nanti, hati Mas Aksa akan ikut luluh karena hal itu." "Sementara Mbak? Selain hati Mas Aksa, apa lagi yang Mbak punya? Enggak ada, kan?" tanya Kirana bertubi-tubi. "Jangan terlalu sombong, Mbak. Karena sebentar lagi, satu-satunya hal yang Mbak miliki akan saya rebut! Dan Mbak hanya akan menjadi wanita yang paling dirugikan dalam hubungan enggak sehat kalian!" Setelah menegaskan hal itu, buru-buru Kirana meninggalkan Devina yang tampak menggeram marah. Tak dipedulikannya lagi cacian serta makian yang wanita itu layangkan padanya. Masa bodoh! Begitu pikir Kirana. Lagi pula, Devina bisa sampai semarah itu pasti karena dia benar-benar merasa terancam, kan? Ya, pasti begitu! "Pak, tolong suruh orang itu pergi, ya," ujar Kirana pada seorang petugas keamanan yang bekerja di rumahnya. Usai mendapat persetujuan, ia langsung bergegas pergi. Melanjutkan niatnya yang sempat tertunda karena kehadiran orang yang tak diinginkan. *** Singkatnya, sudah satu minggu berlalu sejak kedatangan Devina ke kediamannya. Hingga saat ini, tak sekalipun Kirana melihat batang hidung wanita itu lagi. Dia benar-benar hilang bak ditelan bumi. Entah karena perkataannya tempo hari atau karena hal lainnya. Kirana pun, tak tahu. Tak ingin tahu, lebih tepatnya. Kirana sendiri merasa bersyukur karena Devina tak ada lagi. Setidaknya dengan begitu dia bisa menjalani hidup dengan tenang. Tanpa perlu melihat wajah wanita yang tak dia inginkan. "Kirana." Perhatian Kirana teralihkan seketika saat suara yang cukup familier menyapa indera pendengarannya. "Ada apa, Mas?" tanya Kirana penasaran. Sejak kejadian hari itu pula, ia dan Aksa memang jarang sekali bicara. Jadi, dipanggil seperti ini tentu bukan hal biasa bagi Kirana. "Mama mau bicara sama kita," jawab Aksa seadanya. Mendengar hal ini, tanpa berbasa-basi lagi, buru-buru Kirana masuk ke dalam ruang rawat sang ibu mertua. Meninggalkan Aksa yang raut wajahnya tampak frustrasi. "Mama," sapa Kirana setibanya di dalam. "Ada apa, Ma? Ada yang Mama butuhkan?" tanya wanita itu kemudian. "Duduk dulu." Ibu mertua Kirana menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong di sebelahnya. Memberi instruksi kepada sang menantu agar duduk di sana. Kirana sendiri langsung menurut. Hanya saja, ia tak duduk di tempat yang ibu mertuanya tunjuk. Melainkan pada kursi yang terdapat di sebelahnya. "Ada apa, Ma?" tanya wanita itu sekali lagi. "Kata Aksa, dia sudah putus dengan wanita itu. Benar?" Kirana tertegun saat mendengar pertanyaan itu. Merasa bingung harus menjawab bagaimana. Kalau ditanya, apa benar Aksa telah memutuskan hubungan dengan Devina, maka sepertinya iya. Namun, ia tak begitu yakin tentang hal itu. "Benar, Ma." "Kamu yakin?" "Saya enggak yakin, tapi seenggaknya Mas Aksa enggak menemui wanita itu lagi." Kirana melirik suaminya yang baru sekali masuk. "Iya kan, Mas?" tanyanya kemudian. Aksa tak menjawab. Namun, juga tak mengelak. Dia hanya melirik sang mama dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Baiklah kalau memang begitu. Berarti Mama sudah bisa tenang." "Iya, Ma. Mam--" "Kalau begitu, kapan kalian bisa kasih Mama cucu?" "UHUUKKK!!!" Kirana terbatuk hebat saat mendapat pertanyaan itu. "M-maksud M-mama a-apa?" -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN