Kita Harus Putus

1061 Kata
"Jangan bercanda, Aksa! Pokoknya aku enggak mau putus! Titik!" Devina yang sudah seperti orang kesetanan terus mengatakan hal yang sama. Menolak untuk diputuskan oleh Aksa. "Aksa! Kamu sudah janji mau menikahi aku, kan?" ujar wanita itu lagi. Sengaja mengungkit tentang janji Aksa. Beberapa pekan lalu, lebih tepatnya sebelum mereka kembali ke tanah air, Aksa sudah berjanji untuk menikahinya. Pria itu bahkan sampai meminta restu kepada kedua orang tuanya yang juga tinggal di Amerika. Setelah melakukan semua itu, lalu dia berniat mengakhiri hubungan mereka? Tidak! Sampai kapan pun, Devina tak rela jika dirinya diputuskan seperti ini. Apa lagi hanya karena wanita seperti Kirana. "Jangan kecewakan kedua orang tuaku, Sa," kata Devina lirih. Sangat lirih hingga mampu membuat siapa pun, yang mendengarnya merasa iba. Terkecuali Kirana. Kirana tak bodoh! Meski baru mengenal Devina beberapa hari, tapi ia tahu betul bagaimana sifat wanita itu. Dia sangat licik! "Aksa ...." Devina meraih lengan bagian atas sang kekasih, kemudian mengusap-usapnya dengan lembut. Kirana yang melihat hal itu hanya dapat memutar bola matanya malas sambil menggeram dalam hati. Sekarang dia merasa bodoh karena sudah sempat termakan omongan Aksa beberapa waktu lalu. Aksa mau memutuskan kekasihnya yang memberi banyak keuntungan begini? Mustahil! Apa lagi hanya karena dirinya yang bahkan tak tahu bagaimana cara .... Ah, sudahlah! Dari pada pusing memikirkan sepasang kekasih itu, lebih baik dia pergi. Begitu pikir Kirana. Baru saja berniat pergi, lagi-lagi pergerakan Kirana kembali dibuat terhenti karena mendapat interupsi dari Aksa. "Jangan pergi." Pria itu menahannya untuk ke sekian kali. Kirana menatap Aksa dan wanita di sampingnya secara bergantian. "Alih-alih menahan saya, lebih baik Mas urusi dulu selingkuhan Mas itu," katanya dengan raut wajah datar. Setelah mengatakan hal itu, tanpa memedulikan apa pun, lagi, buru-buru Kirana meninggalkan Aksa dan Devina yang tengah memelas di samping pria itu. Persetan dengan mereka! Kirana mencoba tak peduli. Toh, ia sudah bertekad untuk tak termakan omongan Aksa lagi. Sementara itu, Aksa yang baru saja ditinggalkan oleh sang istri masih tampak diam tak bergeming hingga beberapa saat berikutnya. Matanya menatap fokus ke arah punggung kirana yang semakin lama terlihat semakin mengecil seiring menjauhnya tubuh wanita itu. Entah kenapa, tapi perasaannya jadi semakin kacau akhir-akhir ini. "Aksa, lihat aku!" Perhatian Aksa baru teralihkan saat kedua pipinya ditangkup oleh Devina. "Kenapa?" tanyanya datar. "Kamu enggak serius kan, sama perkataanmu tadi?" tanya Devina penuh harap. Aksa tak langsung menjawab pertanyaan itu. Hingga beberapa saat berikutnya, dia hanya diam sembari mengamati raut wajah sang kekasih. "Aksa, jawab aku! Kamu enggak serius kan? Kamu cuma bercand--" "Aku serius, Dev. Kita harus putus." Bagai tersambar petir di siang bolong, rasanya tubuh Devina tak bisa bergerak sama sekali. A-aksa, pria itu serius dengan perkataannya beberapa waktu lalu? I-ini ..., dia tak sedang salah dengar, kan? Devina menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat. Dia benar-benar terkejut. Sepersekian detik kemudian, Aksa meraih tangan Devina kemudian menurunkannya. Digenggamnya kedua tangan itu dengan erat. "Kita harus putus," ujarnya. Besar harapan Aksa bahwa Devina akan mengerti. Namun .... "Jangan bercanda, Sa! Aku enggak mau putus!" tolak Devina mentah-mentah. "Kamu sudah janji bakal nikahin aku, Aksa! Kamu juga sudah janji bakal jagain aku!" lanjutnya. "Orang tuaku sudah mempercayai kamu, Sa. Jangan kecewakan mereka. Dan jangan jadi lelaki b******k yang bisanya hanya mengingkari janji!" lanjutnya. Aksa tertegun beberapa jenak saat mendengar kalimat demi kalimat yang berisikan kemarahan itu. "Jangan menjadi lelaki b******k ...." Bukan Devina, yang harusnya mengatakan hal ini adalah Kirana, istri yang sudah ia tinggalkan tiga tahun lalu. "Maaf, Dev, tapi kita benar-benar harus put--" "AKSA!" Devina menginterupsi perkataan Aksa dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam. Dia benar-benar kesal karena Aksa tetap saja kukuh ingin mengakhiri hubungan mereka. "Aku enggak mau putus! Kamu sudah janji mau nikahin aku!" kata Devina menuntut. "Aku akan tetap nikahi kamu, Dev, tapi nanti!" sahut Aksa cepat. Tidak, Aksa tak berbohong. Dia serius dengan perkataannya. Dia akan tetap menikahi Devina. Hanya saja ..., bukan sekarang. "Maksud kamu apa?" Devina menatap Aksa dengan kening mengerut hebat. Meski Aksa mengatakan bahwa pria itu akan tetap menikahinya, tapi dia juga tak bisa tenang begitu saja. Tidak, selama masih ada Kirana di antara mereka. "Kita akan tetap menikah, Dev, tapi bukan sekarang. Nanti, setelah keadaannya lebih kondusif," jelas Aksa hati-hati. "Untuk sekarang, aku mau mengutamakan kesehatan mama dulu." "Jangan bohong! Bilang aja kamu belum mau cerai sama wanita itu!" Devina membuang muka ke arah lain. Merasa kesal pada Aksa yang lebih mementingkan orang lain, di banding dirinya. "Mana mungkin begitu. Sejak awal pun, kamu tahu apa tujuanku datang ke sini, kan?" tanya Aksa kemudian. Sebisa mungkin ia membujuk Devina agar tak merajuk lagi. "Jangan marah. Aku janji, hanya sampai mama benar-benar sembuh. Setelah itu, kami akan bercerai dan aku akan menikahi kamu secepatnya," lanjut Aksa sambil mengeratkan genggamannya di tangan Devina. "Dev ...." "Berapa lama?" Devina mengembalikan fokusnya pada Aksa. "Aku enggak tahu pasti, tapi yang jelas hanya sampai mama benar-benar sembuh," jawab Aksa meyakinkan. Devina yang mendengar hal itu kembali memberengut sebal. Dia benci ketidakpastian! "Oke. Aku terima," putus Devina akhirnya. Meski kesal, tapi ia tak memiliki pilihan lain, selain menerima keputusan Aksa. Masalahnya, tak ada juga yang dapat ia lakukan selain setuju. Apa lagi jika melihat betapa teguhnya keyakinan pria itu saat ini. Semoga saja dia melakukan hal ini karena benar-benar mengkhawatirkan ibunya yang sakit itu. Bukan karena hal lain. Devina berdoa dalam hati. "Terima kasih, Dev. Ak--" "Tapi ada syaratnya!" sela Devina cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Aksa sempat menyelesaikan perkataannya. "Syarat? Syarat apa?" "Terserah kalau kamu mau bilang kita putus di depan mereka, tapi yang jelas, aku enggak mau benar-benar putus. Aku juga akan menetap di sini sampai mama kamu sembuh." Aksa tertegun. Merasa bingung harus bereaksi bagaimana. "Kamu juga harus kabari aku tiap hari dan temui aku minimal satu minggu sekali. Dan lagi ...." Untuk beberapa saat, Devina menjeda kalimatnya. Entah apa yang akan dikatakan oleh wanita itu. Aksa pun, tak tahu. Namun, yang jelas, jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya itu bukanlah sesuatu yang baik. "Kamu enggak boleh berhubungan suami istri sama dia." Lagi. Untuk kedua kalinya, Aksa dibuat tertegun karena perkataan Devina. Tidak, dia bukannya ingin melakukan hal itu dengan Kirana. Hanya saja, mendapat larangan seperti ini rasanya juga agak ..., menyebalkan! Huh! Aksa menghela napas panjang. "Oke. Aku enggak akan berhubungan sama dia." "Janji, ya? Pokoknya kamu enggak boleh tergoda sama dia!" "Lagi pula, kalau butuh menyalurkan hasrat, kamu tahu harus pergi ke mana," kata Devina dengan senyum menggoda. -Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN