Dan ketika itu lagi

1066 Kata
"Aku hanya terkesan, bukan terhanyut. Bahkan mengeja namamu saja aku hampir remedial, bagaimana mungkin aku, Kau kenal?" ------- "Ok anak-anak, kelas hari ini sampai disini dulu. Minggu depan kita lanjutkan, dan tolong kerjakan tugas yang Ibu beri, semua paham?" "Paham, Bu" Ketika Sheila memasukkan peralatan belajarnya, tiba-tiba handphonenya berdering pertanda ada yang menelponnya, dengan sigap ia mengambil benda berbentuk pipih itu dan mendekatkannya ke daun telinganya setelah ia memencet tombol hijau tanda ia merespon panggilan yang bertuliskan nama ibu-nya. "Iya, Mak, selamat malam." respon Sheila setelah mendengar beberapa kata sapaan dari Anin yang ternyata sudah berada dirumah beberapa menit lalu. "Udah selesai, kelasnya? Mamak udah minta tolong sama Abang untuk jemput ya, kebetulan Abang juga udah selesai latihannya" Sheila mengangguk padahal jelas ia tau, Anin tidak akan bisa melihat apakah Sheila sedang mengangguk atau tidak. "Iya, Mak. Ini juga mau keluar kelas, tapi Abang beneran udah selesai latihannya kan? takutnya dia bohong lagi, dan ujung-ujungnya dia malah makan lem selama perjalanan pulang karena nahan kesal samaku" ujar Sheila yang sebenarnya lebih tepat seperti mengadu, karena memang seperti itulah Edghard jika sedang dalam mode kesal kepada adik satu-satunya itu, dia tidak akan mengatakannya langsung melainkan Edghard akan lebih memilih untuk diam yang membuat Sheila menjadi merasa tidak nyaman. "Iya, beneran. Abang sendiri yang bilang sama Mamak. Lagian kalau Abang belum selesai kan, Mamak bisa jemput kamu" mendengar penuturan Anin, Sheila percaya dan mengatakan ia akan menunggu ditempat biasa ia menunggu Edghard menjemputnya. Sebenarnya mereka itu satu sekolah, namun karena Edghard banyak melakukan latihan yang berada diluar sekolah, jadinya Edghard dan Sheila seperti tidak satu sekolah. Apalagi ditahun terakhir Edghard SMA, dia memang benar-benar harus bisa ekstra aktif selain untuk mendapatkan nilai ekstrakurikuler yang memuaskan, Edghard juga sambil menyiapkan dirinya untuk mimpinya setelah lulus SMA, yaitu masuk Angkatan Udara. Itu adalah cita-cita masa kecilnya yang selalu ia amini sampai sekarang. "Cieeeeeee..." seru Sheila ketika Edghard menghentikan sepeda motor tepat ditempat ia duduk. "Apaan, bukannya ngucap salam malah cieeee yang enggak jelas" ujar Edghard memberikan satu helm kepada Sheila yang sudah manyun. "Emang gak boleh? lagian, tadi pagi pakai seragam SMA, sekarang malah tiba-tiba pakai seragam ala atlet angkat besi gitu, gimana aku gak bilang cieee" Edghard hanya diam, dan mengendarai motornya melewati jalan-jalan kecil hingga benar-benar keluar dari halaman sekolah. Disepanjang jalan mereka tetap diam. Edghard yang fokus mengambil jalan-jalan yang aman untuk membawa motornya sedangkan Sheila yang sudah melanglang buana pikirannya, hingga sangking asiknya berkhayal Sheila tidak sadar jika mereka telah sampai didalam Garasi. "Turun" perintah Edghard membangunkan Sheila dari khayalannya. "Oh udah sampai, nah helmnya, terimakasih seribu...." ujar Sheila sedikit memberi nada hingga sampai didalam rumah, barulah suaranya yang tidak jelas menggunakan jenis suara apa berhenti seiring matanya menangkap seluet asing yang tidak pernah ia lihat ada didalam rumahnya, sudah tujuh belas tahun ia hidup di dunia baru malam inilah ia melihat sosok itu. "Mak..." panggil Sheila, mendekati sang Ibu yang menyambutnya dengan senyuman tulus khas Anin setiap kali anak-anaknya pulang. "Itu kakakmu" ujar Anin berusaha meyakinkan Sheila bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Kakak sepupu, maksud Mamak. Cantikkan?" tanyanya lagi membuat kepala Sheila seketika penuh. "Dek?" panggil Anin yang menyadari reaksi sang anak yang begitu dalam, tapi belum bisa dipastikan apakah Sheila menyukai kejadian itu atau tidak, karena sang anak sangat sulit ditebak. Sheila akan tiba-tiba diam ataupun marah dengan begitu saja, membuat Anin harus benar-benar siap dan sabar, menghadapi sifat anaknya yang labil tersebut. "Itu namanya, Suster" ujar Edghard setelah benar-benar berada didekat Anin dan Sheila duduk. "Oh ya?" Edghard dan Anin kompak menyerngit, bingung dengan beo'an Sheila yang seperti tidak setuju dengan pemberitahuan mereka. "Itu gambar!" ucap Sheila kemudian dilanjutkan dengan deraian tawa membuat Anin dan Edghard mengela nafas. "Astaga, iya benar itu gambar, adek. Tapi kan itu gambar seorang Suster." ujar Anin yang berusaha sabar. Edghard sudah masuk kedalam kamarnya. "Oh itu yang namanya suster, cakep sih" puji Sheila tapi yang membuat Anin tidak puas adalah ekspresi datar yang ditunjukkan Sheila sangat jelas, dan seperti tidak ada tanda-tanda bahwa ia menganggumi gambar suster yang saat ini menjadi objek utama pembicaraan mereka berdua. "Yaudah aku mandi dulu ya, Mak. Soalnya udah bau asem, aku aja enggak nyaman ngendus bau badan aku sendiri apalagi orang lain, selamat malam Mamak cantik" Setelah kecupan mesra dari Sheila, Anin terduduk lemas di sofa dengan masih memandang foto suster yang adalah anak Kakaknya tersebut. "Enggak ada respon bahagianya sama sekali, mungkin ini salahku dan mas Bima yang terlambat mengenalkan katolik kepada mereka berdua, tapi Sheila lebih terlihat tidak memiliki minat untuk mengetahui apa itu katolik, padahal katolik adalah agama asli Mas Bima yang juga adalah agama mereka mereka berdua." Setelah mengatakan itu, Anin beranjak dari duduknya dan membawa foto yang berukuran besar itu ke salah satu ruang khusus foto-foto didalam rumah mereka. "Semoga dari mereka berdua ada yang menjadi hambamu ya Bapa (Tuhan)" bisik Anin penuh harap sambil memegang dadanya. Sheila yang sudah selesai mandi, langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sibuk membalas pesan dari aplikasi berwarna hijau di handphonenya. "Sheila, udah nyampe rumah? "Ada tugas sekolah dari Pak Budi, katanya dikumpul besok" "Gilaaaaaaa, vibesnya Justin Bieber keren banget..." "Yang lagi jaga telur ayam kampung mah diam aja" Sheila tertawa membaca pesan yang diketik Olin dichat grup mereka berlima. Memang ada saja ketikan aneh yang membuat Sheila berhasil tertawa. "Aku udah nyampe rumah, udah makan, udah mandi, udah.. udah... udah..." balas Sheila seperti sedang bernyanyi dan dibalas emot menangis oleh Tania, sedangkan Echa mengirim stiker seorang anak laki-laki yang berhasil menendang bola dan mengenai perut penonton ditribun itu ditujukan kepada Tania. "Dasar... Echa galak" balas Thania lagi. Sheila menutup aplikasi hijaunya dan beralih ke media sosialnya yang lain, setelah tidak ada yang benar-benar menyita waktu fokusnya, barulah Sheila mengecas handphonenya dan segera mematikan lampu kamar untuk segera tidur seperti itulah rutinitas Sheila disetiap harinya, pulang sampai malam dan langsung tidur tanpa ada jadwal lainnya lagi, kalau Sheila baru tidur jam sebelas malam itu karena Echa dan teman-temannya berhasil merayu Sheila untuk bergadang bersama mereka, atau mereka berempat mengajak Sheila keluar malam dan tidur bersama. Jika tidak ada yang mengajaknya Sheila adalah anak yang polos dan lugu, kuper dan si paling santai. anak kedua dari Anin dan Bima itu memang yang paling berbeda dari anak remaja lainnya, Sheila juga merasakan perbedaan dirinya dengan anak seusianya tapi itu tidak menjadikan Sheilla merasa khawatir akan masa depannya karena Sheila percaya dia akan menemukan masa depan yang sesuai dengan dirinya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN