Di Alur yang masih sama

1243 Kata
"Bukan karena takdir hanya saja, nasib pura-pura merangkulku" ------- Di sekolah...... "Ceileh... guru tadi hobinya nyerocos mulu, dia kira kita bakal minat apa? mana iklannya lebih banyak dari pada intinya. Aku heran kenapa guru-guru jaman sekarang lebih senang ceramah sih? kenapa gak pindah jadi Pendeta aja yang kerjanya cuma nyeramahin hidup orang" Siang itu, tepatnya dikantin sekolah lima orang siswi SMA sedang mendinginkan kepala usai belajar satu jam bersama guru aneh yang tidak mereka sukai. Bu Anin, meski masih muda dan cantik tapi tidak banyak yang menyukai kehadirannya, bukan karena ia cerewet, Bu Anin adalah guru muda yang terkenal pendiam dan sangat lembut bicaranya. Yang membuat dia tidak masuk kategori guru favorit adalah isi ucapannya yang selalu menyangkut pautkan kehidupan Biara yang diketahui banyak orang adalah tempat yang paling membosankan di seluruh dunia, karena bagi mereka itu adalah penjara yang paling menyeramkan karena semua orang didalamnya tidak mengenal apa itu gadget, apa itu sosial media dan percintaan dengan lawan jenis. Yang mereka tau dan hidupi adalah doa, doa dan doa. Mereka buta akan berita terkini tentang rok mahal yang dikenakan Lisa Blackpink dan mereka sama sekali tidak tau ukuran d**a wanita yang disukai Justin Bieber setiap kali berkencan. Itu yang membuat Siswa-siswi SMA tersebut, tidak banyak menyukai Bu Anin. Apalagi ketika ia sudah membicarakan bagaimana seorang laki-laki ada baiknya menjadi Pastor, sudah dipastikan banyak murid laki-laki akan pura-pura kebelet buang air kecil, karena mereka sangat tidak menyukai pembicaraan semacam itu, yang mereka ingin dengar adalah, "Sudah berapa kali menggaet gadis berlesung pipi dimalam Minggu" Sempat ada yang memberikan pertanyaan kepada Bu Anin yang membuat semuanya merasa menang, "Bu, dulu ibu pengen menjadi Suster ya?" Bu Anin tersenyum kecil. "Ko gak jadi Bu? atau karena keburu kepincut suami Ibu ya?" Derai tawa memenuhi ruangan kelas saat itu, padahal jam itu seharusnya dipakai untuk pelajaran Bioteknologi tapi malah dihabiskan dengan pertanyaan yang sebenarnya ingin membuat Bu Anin malu dan akhirnya kapok untuk berbicara soal kehidupan diBiara. "Emang ada di jaman sekarang yang gak mau nikah? gak mau hangat-hangatan? gila sih kalau beneran ada" Cerocos salah satu siswi yang tampaknya berapi-api. Memang dialah yang paling tidak suka setiap kali Bu Anin masuk ke dalam kelas. Ekspresi bahagia yang tampil di wajahnya seketika berubah menjadi masam dan tidak bersahabat. Dia sangat membenci hidup membiara apalagi jika melihat ada Pastor ataupun Suster yang lewat didepan rumahnya, ingin sekali ia melemparkan batu yang paling besar ke arah Pastor ataupun Suster tersebut. "Gimana menurut kamu, Sheila? pasti kamu juga kesal kan? Bu Anin seperti orang yang pengen menjadi kudus. Dia, salah tempat promosiin hidup membiara disini" "Untuk aku keren sih" ujar Sheila pelan, matanya seperti menerawang jauh sangat jauh sampai -sampai teman-temannya terkejut mendengar jawabannya. Seorang Sheila yang terkenal kembarannya Lucifer, malah menganggap Bu Anin itu keren karena selalu berbicara tentang hidup membiara, padahal Sheila sangat jelas tidak tau apa itu hidup membiara. "Sheila..." panggil temannya dengan pelan. "Eh maksudku, gila sih tuh guru. Dia kira kita sekudus dia apa, kalau dia mau masuk ya dia aja enggak usah ngajak-ngajak kita. Bener gak?" ujar Sheila yang kembali ke modenya, matanya yang sibuk mencari dukungan dari teman-temannya yang semula sempat dibuat shok olehnya. "Fiuhh... aku hampir ngira kamu sama gilanya sama Bu Anin " ujar Echa si paling tomboy diantara mereka. Echa Paramitha, Anak dari pengusaha lontong terenak di Riau, meskipun Rumahnya hampir setengah lapangan bola Gelora Bung Karno, tapi Echa bukan anak yang suka pamer. Malah dia sering mengatakan bahwa dialah anak yang paling miskin dan tidak memiliki uang jajan banyak, semula ketika pertama kali aku melihatnya memang gelar anak kurang mampu sangat cocok untuknya karena pakaian yang urakan dan terkesan sangat sederhana. Dan ketika aku udah mulai dekat dengan Echa barulah aku tau ternyata penampilannya yang super sederhana itu hanya untuk membuat orang-orang enggak segan untuk berteman dengannya, karena dari ceritanya dulu ketika masih SMP banyak yang tidak mau berteman dengan Echa karena Echa anak orang kaya. "Padahal hanya anak tukang lontong, udah dikira Bapakku seperti Raffi Ahmad" tutur Echa suatu kali, ketika kami menanyai alasan kenapa dia memilih untuk berpakaian super sederhana seperti itu. "Lagian malah lebih santai aja, gaya kayak gini" tambahnya lagi menaikkan sebelah alisnya. "Masuk woylah, kalian kira ini tongkrongan yang enggak ada batas waktunya? udah ditungguin Pak kumis dikelas," Teriak Azhar yang menjadi ketua kelas di kelas sepuluh MIPA. Sontak Sheila dan ke-empat temannya lari berhamburan, sangking terhanyutnya dengan mencerita Bu Anin yang enggak kapok-kapok promosi hidup membiara, mereka malah lupa kalau tinggal mereka yang duduk dikursi kantin, murid-murid lain sudah dua menit lalu telah berada dibangku mereka masing-masing didalam kelas. "Astaga, capek banget." keluh Tania, mengatur nafasnya yang putus-putus. Sitambah Nesya yang sudah seperti asma membuat Echa menahan ketawa dibangku paling belakang. "Kocak banget sih, punya teman aneh seperti mereka " ternyata Sheila juga mendengarnya, ia juga ikutan senyum memperhatikan bagaimana teman-temannya itu memposisikan diri mereka agar tetap terlihat anggun dan enjoy, didepan Pak Kumis yang menatap mereka sejak masuk kedalam kelas tanpa permisi tadi. Ketika kelas telah selesai, Sheila menuju ruangan yang menjadi tempat Bu Tio akan memberikan kelas tambahan untuknya dan teman-temannya yang lain. Kali ini tidak ada Echa, si tomboy, ataupun ke-tiga temannya yang selalu mengikuti kemana Sheila pergi, karena mereka tidak mau mengikuti kelas tambahan setelah pulang sekolah bagi mereka, mengikuti kelas tambahan hanya akan menyia-nyiakan waktu berharga karena diusia mereka yang masih muda itu lebih tepat jika mereka menghabiskannya dengan berkeliling kota ataupun bermalas-malasan diatas tempat tidur, bukan belajar dan belajar. "Enggak usah serius kali, Sheila. Masih kelas sepuluh, nikmatin ajalah waktu ini lagian jam pulang sekolah setengah enam trus ngambil kelas tambahan lagi, beneran jadi teman pocong disekolah kita setiap harinya." itulah kata-kata teman-temannya setiap kali Sheila mengejak mereka untuk mengambil kelas tambahan sama seperti dirinya. "Lagian, nilaiku enggak jelek-jelek amat, masih bisa diandalkan."Tutur Tania, menunjukkan bahwa dia adalah anak yang bisa diandalkan jika dalam pelajaran. "he'em... aku juga ya meskipun nilaiku enggak sebagus Tania tapi kalau dipamerin ke keluarga masih bisa" tambah Nesya. Teman-temannya yang lain tidak mau ikutan untuk mengatakan bagaimana keadaan nilai mereka, karena yang biasa seperti itu hanya Tania dan Nesya. Sheila juga tau bahwa ke-empat temannya bukan orang yang terlalu malas belajar bahkan mereka termasuk anak yang pandai, hanya saja sebenarnya Sheila mengajak mereka untuk mengambil kelas tambahan agar Sheila memiliki teman diruang kelas Bu Tio itu. Memang, ada beberapa teman yang sekelas dengan Sheila, namun yang sedekat Echa, Nesya, Tania, Olin, tidak ada. Nesya hanya bisa dekat dan bercerita banyak kepada mereka. "Yaudah deh, ngajakin orang pintar mah susah" kata Sheila akhirnya, membuat Echa si tomboy merasa terusik. "Yang bantuin Bapakku goreng kerupuk enggak ada, Seila. Karyawan/i nya lagi pulang kampung" seperti itulah Echa untuk mengamankan dirinya, padahal jelas-jelas semua temannya tau dia tidak sering ikut membantu Bapaknya berjualan lontong, jika ada waktu Echa hanya mengambil bagian berdiri disamping pintu masuk untuk menakut-nakuti pembeli yang sedikit nakal kepada kasir yang adalah sepupu Echa. "Oh iya, Aku juga tadi ditelepon Mamak, katanya tugasku ngepel kandang Momo" mereka yang mendengarnya tertawa mendengar perkataan Olin yang kelewat polos, beda halnya dengan Echa yang merotasikan bola matanya. "Kandang kucingmu sekecil p****t periuk, sok-sokan mau di pel, nyari alasan ko terlalu klise, dasar Olin" Begitulah mereka, ada saja yang mereka lakukan dan katakan membuat Sheila yang sebenarnya tidak terlalu bisa berbicara banyak hal, menjadi terbiasa karena kehadiran mereka. Echa si tomboy, Tania yang ke kakak'an, Nesya yang feminim dan Olin yang polos membuat Sheila merasa terhibur dan bersyukur memiliki teman yang baik seperti mereka. #Berika suara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN