Setelahnya 1

1016 Kata
"Entah aku ada di jalur yang benar atau tidak" ---- Dulu ketika diajak berdoa, Sheila akan menjawab "Nanti, sebentar lagi" kalau diajak ke Gereja, banyak alasan yang membuatnya selalu absen menghadap altar kristus, ketika disuruh bersihkan rumah selalu remedial, bangun pagi selalu ngadain acara debat, disuruh mandi selalu membuat orang kesal, disuruh makan enggak pernah lulus, disuruh masak apalagi, boro-boro tau bedain kemiri dan lengkuas, tau kalau air yang direbus aja, selalu tinggal kelas. Yang selalu dinasehati untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri sekarang selalu nahan air mata, pura - pura biasa aja, padahal hampir setiap malam kerjanya nangis terus dan itu dikamar mandi, yang ketika dirumah janji bakal enggak ngerepotin di biara selalu buat orang sakit kepala. "Maaf, aku enggak bisa" adalah kalimat yang selalu sama yang setiap ditanya, "Kamu bisa melakukan ini?" semua orang yang udah mikir Sheila adalah anak desa yang kolot dan itu emang benar, nada suara dan pemilihan setiap kata saja yang terdengar seperti anak kota, tapi bagaimana Sheila bernafas dan kentut itu sangat mencerminkan anak desa yang paling pelosok, membuat orang-orang disekitarnya harus mengelus d**a berkali-kali agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang bakal buat Sheila down, apalagi dia anak baru disitu. Adik panti berjumlah sepuluh yang bakal dia jaga, ternyata tidak ada, gadis-gadis yang seusianya dan yang berwajah preman itu adalah teman-teman angkatannya yang sama seperti Sheila adalah calon suster. Bedanya, mereka hampir selalu membuat para suster pendamping tersenyum sedangkan menghadapi Sheila, seperti sedang menghadapi anak bayi yang lagi demam, pusing tujuh keliling. "Aduh, kaki aku sakit" keluh Sheila saat pertama kali mencoba bantal berbentuk bulat yang ia duduki selama berdoa di ruangan berukuran sedang yang didesain sebagai tempat doa, ada lemari berbentuk persegi yang di pintunya ada gambar berbentuk salib yang terbuat dari besi, disisi kanan kirinya ada patung Maria dan hati kudus Yesus. Hari pertama, salah seorang temannya membantu Sheila untuk berdiri karena Sheila kesusahan untuk berdiri, akibat nyeri dikedua kakinya. Bahkan sempat kedua kaki Sheila mati rasa dan susah ditegakkan, membuat Sheila meringis menahan sakir. Hari kedua, masih ada tapi hari ketiga dan selanjutnya Sheila dibiarkan sendiri untuk bisa berdiri sendiri, disitulah perjuangan paling berat Sheila dalam mengurus dirinya sendiri. Apalagi ketika sedang makan, etika makan yang selalu Anin ajarkan yang selalu Sheila hindari sekarang benar-benar membuat Sheila ingin mencium telapak kaki Anin walau terkena kotoran sapi sekalipun sangking kosongnya Sheila dalam beretika dimeja makan, semua orang malah ngeri melihat cara makan yang terkesan amburadul dan seperti pekerja berat yang dilakukan Sheila di ruang makan. Untuk menghindari keluhan para suster kepadanya, ia selalu mengambil makanan sangat banyak sampai-sampai ada yang menyeletuk "Lagi mindahin gunung ya?" bukan Sheila namanya kalau tidak lemot, dia tetap melanjutkan kebiasaannya itu, hingga kesabaran salah seorang suster benar-benar menjadi setipis daun bawang, "Ngambil makanan itu secukupnya aja, kalau masih mau baru tambah, enggak usah takut enggak bakal habis ko" Hidup yang selalu menyendiri dan jauh dari keramaian menjadi identitas Sheila selama hidupnya, tapi diBiara ia berkali-kali harus menahan nafasnya karena bodoh dalam bergaul, ia ingin menyalahkan Anin karena terlalu sedikit memberinya ruang dalam bergaul, tapi itu tidak bisa sepenuhnya ia lakukan karena Sheila juga sangat menikmati waktu-waktu kesendiriannya, dan keterasingannya dengan dunia remaja. Selain cara berperilaku dan bekerja Sheila selalu remedial ternyata dalam hal berteman pun ia sangat tragis, Sheila tidak tau caranya berteman dan merasakan bagaimana kehadiran seorang sahabat pun tidak, selama ini baginya berteman adalah suatu kegiatan yang sangat membosankan dan super memaksa jadinya dia lebih memilih sendiri karena tidak akan ada tuntutan waktu dan uang yang harus Sheila korbankan untuk mempertahankan sebuah pertemanan. Jadinya, meskipun ada yang sangat menyukai kehadiran Sheila yang sangat polos dan lugu, tapi Sheila tidak pernah berfikir bahwa ia harus berperilaku baik dan dewasa untuk mendekatkan diri kepada teman-teman barunya diBiara, Sheila dengan keterburu-buruannya menetapkan batas yang harus dicapai oleh seseorang jika ingin berteman dengannya, apalagi Sheila bukanlah tipe orang yang nyaman didekati, sehingga setiap orang yang selalu ingin bercerita dengan Sheila akan masuk kedalam daftar orang yang harus dijauhinya, entah penyakit atau karena terlalu biasa tidak memiliki teman yang lama bersamanya membuat Sheila menjadi pribadi yang apatis bahkan sangat - sangat apatis, Sheila tidak peduli dengan semua orang, lingkungan baru yang semula cukup menyiksa pun menjadi seperti tidak pernah dilintasi oleh Sheila, sangking malasnya Sheila menyimpan kenangan kepada lingkungan baru yang ia tempati itu. "Kenapa kamu tidak mau berteman dengan kami?" pertanyaan yang pernah dilemparkan kepada Sheila dulu ketika masih SMA. "Apa karena kami bukan anak kota?" lagi-lagi Sheila membiarkan orang -orang salah paham kepadanya, namun bukannya mau meluruskan dan membuktikan bahwa Sheila bukanlah tipe orang yang suka memilih siapa yang akan menjadi temannya, Sheila malah memilih untuk diam dan bersikap seolah-olah dia memang memiliki sifat yang pemilih dalam berteman. Kebiasaannya dalam mendiamkan opini miring kepadanya nyatanya tetap Sheila budidayakan apalagi diBiara ia tinggal sekarang, semua hal buruk sekalipun dan tudingan orang - orang yang hidup bersamanya tidak begitu Sheila permasalahkan membuat orang - orang menjadi bertanya "Mengapa Sheila selalu menghindar?" Sheila dan Sheila, tidak pernah habis-habisnya jika berbicara bagaimana Sheila sangat menonjol dalam sikap keluguannya yang sangat berlebihan. Apalagi kebiasaannya yang selalu menangis membuat suster pembina dan teman-temannya ingin sekali memberikan lem perekat dimulutnya agar Sheila bisa berhenti meraung ketika semua orang sudah terlelap di tidurnya. "Kenapa kamu selalu menangis?" tanya seorang teman dengan menyimpan rasa muak atas sikap yang sangat kekanakan yang ditampilkan oleh Sheila disetiap harinya. Usia yang tidak lagi balita ataupun batita, tapi membuat orang melabelinya dengan kata "seperti anak kecil" Pernah menjadi alasan orang untuk berselisih paham, karena sikap Sheila yang tidak ingin disalahkan. Apalagi drama makan daging babi yang membuat Sheila berfikir untuk pulang ke rumah, ia ingat pesan Anin ketika Sheila masih dirumah. "Di Biara itu harus bisa makan apa saja, dan harus bisa makan daging babi, emang adek bisa nantinya? dirumah aja kalau bisa tengah malam itu warung Indomie tetap terbuka pasti kamu akan makan dengan ditemani Indomie yang kamu beli ketimbang harus menyicipi daging babi yang selama ini adek katakan"haram untuk perut." "Mak.... dipaksa aku makan daging babi" adunya tanpa malu ia berharap angin siang itu mau menyampaikan suaranya kepada Anin, ibu yang paling mengerti anak-anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN