Setelahnya 2

1054 Kata
"Dan aku harus benar-benar berlari ketika semua orang berjalan dengan santai" ----- Dimeja makan yang dipenuhi oleh belasan piring diatas meja dengan masing-masing orang yang menikmati makanan didalamnya, sangat menikmati makanan yang terhidang apalagi dalam keadaan lapar mereka sangat lahap tidak ketinggalan dengan Sheila, gadis Riau yang mencoba peruntungan dikota orang. Setelah semuanya selesai, sembari menunggu agar perut mereka yang penuh sedikit memiliki ruang, Sheila mulai menjadi pusat cerita pada malam itu, kebetulan langit malam sangat bersahabat tidak ada petir ataupun kilat yang menyambar -nyambar. "Dulu, ketika dirumah aku jarang sekali ke Gereja" curhat Sheila dengan semangat, ia berpikir gelak tawa dan banyaknya guyonan dari teman-teman dan para suster pembina adalah suatu bentuk keakraban. Sheila tidak pernah berpikir sebab akibat dari setiap apa yang ia ucapkan, sehingga semua yang dia tau dan alami sebelum masuk Biara Sheila ceritakan dengan begitu legowo nya. Ada memang yang memujinya karena begitu percaya dengan orang-orang asing yang baru Sheila kenal, namun ada juga yang menyayangkan kepolosan yang dimiliki Sheila, karena tidak semua apa yang keluar dari mulut kita tidak akan menjadi batu sandungan untuk kita kedepannya, itulah nasihat yang selalu orang bijak katakan apalagi bagi mereka yang terlalu sering merasakan pahitnya garam kehidupan karena hidup dikampung orang. "Trus, bagaimana bisa kamu mau menjadi Suster, sedangkan dari ceritamu enggak pernah kamu bertemu dengan suster?" pertanyaan yang akhirnya terlontar, karena Sheila adalah tipe anak yang tidak berpikir sebelum berbicara, Sheila dengan bahasa tubuhnya menceritakan dengan bebas bagaimana dulu akhirnya Sheila memutuskan bahwa ia ingin menjadi suster. Bulan berganti bulan, tibalah mereka harus menentukan pilihan hidup mereka selanjutnya, Sheila yang masih buta akan dunia biara, ikut untuk menyodorkan dirinya untuk tetap melangkah ke tahap selanjutnya dalam dunia pembinaan diBiara yang saat ini tempat ia mewujudkan impiannya. Satu persatu temannya keluar dari ruangan kecil dengan dinding berkarpet merah yang memilki fasilitas dua kursi rotan satu meja dan satu AC yang selalu menyala jika ada yang melakukan pembicaraan serius didalam ruangan itu, tibalah bagi Sheila untuk berbicara empat mata dengan pimpinan umum kongregasi. Karena melihat teman-temannya keluar dengan cerita yang sangat bahagia dan senyum yang merekah, Sheila jadi berfikir ia juga akan mendapatkan hal yang sama. Nyatanya.... "Saya lagi bicara serius tidak main-main, bagaimana kamu bisa menjalani aturan hidup yang sama sekali kamu enggak tau" ucap pimpinan Umum itu kepada Sheila. "Kamu mempercayai adanya Maria?" "Berapanya IQ-mu" "Kamu benar-benar harus banyak belajar, memang ketika temanmu berjalan kamu harus berlari untuk bisa mendahului mereka, karena saat ini kamu sangat ketinggalan jauh dari mereka " "Ok, kami memberikanmu kesempatan untuk lanjut ketahap Novisiat, semangat dan proficiat!" Dan sejak saat itu, dengan menerima jubah pertobatan disaat semua temannya tertawa bahagia menikmati hiburan dari para suster, ucapan selamat dan kado-kado yang begitu banyak, Sheila tetap menahan duka dihatinya. Ia tidak sanggup membiarkan dirinya berada ditengah-tengah acara yang begitu mewah sedangkan sebenarnya acara itu tidak pantas untuk posisinya saat ini, apalagi setelah kejadian malam sebelum hari pesta, Sheila adalah orang yang benar-benar sekarat. Karena semua kejadian yang tidak pernah ia sangka akan menelungkupkannya kedalam kesedihan yang begitu dalam Sheila mulai menyadari betapa tidak layaknya ia mengenakan jubah pertobatan itu, betapa tidak pantasnya anak yang seharusnya tidak memiliki kursi di pesta duduk diantara Novis baru yang memang memiliki garis takdir dan sangat cocok dengan jubah pertobatan mereka. "Oh Tuhan sedih kali hatiku. Kalau tau bakal jadi seperti ini, lebih baik aku tidak menjadi suster" ujarnya suatu kali ketika melihat dirinya lewat pantulan kaca dan wajah teman-teman angkatannya satu persatu. "Seandainya aku juga terlahir seberuntung mereka mungkin aku tidak akan takut melihat cahaya pagi" Sadar atau tidak, Sheila seperti anak yang memiliki kesalahan yang hampir-hampir tidak terbukti, ia merasa seperti selalu diintai, dan semua yang dilakukannya menjadi bahan kesalahan oleh pembina barunya di Novisiat. Dengan teguh Sheila berusaha agar bisa berjalan sejajar dengan teman-teman angkatannya, buku katekismus setebal buku dosa diakhirat terpaksa menjadi buku favoritnya selama novis tahun pertama. Sheila yang sangat hobi tidur, menjadi jarang sekali menikmati pulau kapuk dikamarnya sendiri, seperti waktu terus saja berjalan dan tidak menunggunya untuk sekedar membaringkan tubuh. Tapi, semuanya tidak pernah berarti apa-apa, bagi pembinanya ia seperti siput yang sangat-sangat lamban, memang Sheila bukanlah gadis yang suka kebersihan, memasak pun tidak Sheila hanya tau makan. Bekerja di ladang ia bisa tapi tidak se-tekun kenyataan. Disuatu malam yang sepi Sheila mengeluh, "Tuhan, sebenarnya ngantuk kali aku loh. Tapi takut aku tidur, kalau belum k*****a buku katekismus ini. Tapi k*****a pun aku tidak mengerti isinya, ah Tuhan seandainya aku terlahir sebagai katolik mungkin aku akan senyenyak mereka jika masuk kedalam kamar" Dan melihat bagaimana teman-temannya setelah selesai bimbingan dengan wajah cerah, ia malah berbisik di dalam hati, "Aku tidak mau bimbingan" karena yang akan ia dengar adalah, bagaimana keluhan pembinanya kepadanya, bagaimana dirinya semakin ditelanjangi oleh takdir hidupnya sendiri yang sangat-sangat berbeda dengan orang -orang diBiara. "Apa yang sudah berkembang dari dirimu setelah menjalani hidup sebagai suster novis?" "Kamu termasuk anak yang beruntung, mana orang yang ketika baru masuk katolik langsung menjadi suster, enggak ada! hanya kamu, jadi kamu harus banyak belajar, adanya usaha kamu untuk belajar tentang katolik?" "Semua kami pembina mu disini mengeluh karena kamu tidak bisa bekerja dengan baik, kamu lihat saya selalu datang ke post dimana kamu ditugaskan karena kami tidak yakin kamu bisa menyelesaikannya." "Sebenarnya kalau kamu jujur, tidak ada yang berkembang di dalam dirimu kan?" "Pikirkan hidupmu, sepertinya kamu lebih baik kalau menjalani hidup diluar sebagai guru atau kuliah" Ingin sekali Sheila berbicara, "Aku memang bukan orang yang memiliki keberuntungan seperti orang lain, tapi tidak pernahkah kalian mau melihat kedalaman mataku? usaha kecilku? kepura-puraan ku, semuanya hanya agar aku bisa mensejajarkan diriku dengan teman angkatanku yang memiliki keberuntungan yang jauh diatas ku, aku juga ingin mengeluhkan sakit tubuhku dan lelahnya aku menahan perih di mataku, tapi semuanya hanya sampai diujung lidahku tidak pernah berhasil keluar dari mulutku, semua karena agar aku tidak terlihat lemah, karena aku tau dan sangat tau tidak ada keluhan ku seperti teman-temanku saja aku selalu diragukan, aku selalu disuruh pulang tanpa ada alasan yang benar-benar jelas bahwa memang apa yang ada didalam diriku semuanya adalah kesalahan dan tidak ditemukan didalam diri teman-temanku, bagaimana jika aku akhirnya mengeluh? bukankah aku akan benar-benar ditendang? tidak taukah kalian seberapa besar aku mengemis kepada Tuhan agar bisa mengetuk pintu hati kalian untuk terus mempertahankan ku? aku juga ingin dipertahankan seperti layaknya orang yang memiliki takdir disini "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN