Aku Tau semuanya dari-Mu

1041 Kata
"Berharap ada lagi yang bilang, hati-hati tapi sekarang sepertinya dinding pun milih untuk diam" ----- Semakin hari, niat Sheila semakin bulat, ia sudah mempersiapkan dirinya untuk masuk biara. Namun, satu yang menjadi beban pikiran Anin yaitu niat Sheila untuk menjadi suster memang semakin berapi-api bahkan dari caranya Sheila bersikap setiap hari pun sudah tampak seperti seorang gadis dewasa apalagi ketika sudah menerima ijazah kelulusannya dua hari lalu, yaitu sampai sekarang Sheila masih tidak mau ke Gereja, setiap diajak Sheila pasti akan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan, kurang tidur atau lainnya sampai-sampai ketua stasi yang sudah mengetahui bahwa Sheila akan menjadi Suster sangat tidak yakin dengan niat anak itu, disaat semua anak seusianya duduk berderet dibangku Gereja, Sheila malah sibuk bermain gadget, isi HP-nya penuh dengan status galau atau tulisan-tulisan yang sangat dekat dengan gadis yang sedang jatuh cinta kepada seorang pria. "Bu, kalau benar anak ibu mau menjadi Suster tolong Minggu depan ajak ke gereja ya bu. Karena bagaimana mau menjadi Suster sedangkan untuk datang ke Gereja saja dia tidak mau, maaf saya mengatakan ini, ini demi kebaikan anak ibu juga, umat juga pengen melihat anak ibu aktif di gereja" ujar ketua stasi suatu kali setelah ibadat sabda selesai. Dengan menahan rasa malu Anin mengatakan ia berjanji akan membujuk anaknya untuk datang bersamanya ke Gereja Minggu depan. "Aduh, Mamak malu sekali tadi ketika di Gereja." keluh Anin memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut, padahal dia sudah atur porsi makan dan sudah mengikuti gaya hidup sehat, tapi karena mendengar penuturan ketua stasi di Gereja tadi, sakit kepalanya kumat lagi. Tidak bisa disalahkan ini juga salahnya yang tidak setia membujuk Sheila untuk datang ke Gereja, malah dia seakan mengijinkan Sheila untuk selalu absen beribadah. Setiap kali Sheila memberikan alasan agar tidak pergi ke gereja, Anin pasti tidak memaksa anaknya lagi, utu juga membuat Sheila ketagihan untuk selalu memberi alasan setiap kali Anin mengajaknya beribadah. "Malu kenapa, Mak?" tanya Anin setelah berhasil memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya. Anin menatap wajah polos anaknya kemudian menghela nafas panjang membuat Sheila mengerut bingung. "Sebenarnya kamu niat gak jadi suster, Dek?" Sheila mengangguk mantap, tapi mulutnya terus mengunyah keripik kentang yang sangat lezat menurutnya itu. "Tapi ko malas datang ke Gereja? tadi ketua stasi menegur Mamak, karena mempunyai anak yang pengen jadi suster tapi malas beribadah ke Gereja, aduh mana didepan banyak orang lagi tadi ketua stasi bilangnya, Mamak malu sekali" ujar Anin berapi-api, meluapkan emosi yang sudah ia tahan sejak keluar dari area Gereja. Tidak menyangka jika hal itu akan ia dengarkan juga, memang sebelumnya dia juga sempat terusik oleh pikirannya tentang niat Sheila yang ingin menjadi suster, karena sampai sekarang setelah Bima meninggal memang Sheila sama sekali tidak ingin menginjakan kakinya kedalam Gereja, dia pergi datang namun hanya ketika akan ujian agama itupun karena nilai agama katolik sangat diperlukan untuk ujian akhir sekolah, setelah ia lulus mendengar kata Gereja saja bola matanya secara refleks berputar, jangankan mau beribadah ke Gereja, ikut doa sebelum dan sesudah tidur saja tulang-tulang Sheila seperti berat sekali, itu yang membuat Anin semakin khawatir bagaimana nantinya jika Sheila sudah berada diBiara, mampukah anak bungsunya itu untuk menjalani hidup doa hampir sepenuh hari? dan beribadah di Gereja setiap hari? memikirkan itu membuat Anin ingin menangis saja, dia tidak tau lagi harus berbuat apa, cerita kepada kakak keduanya, jawaban yang ia terima beberapa bulan lalu akan ia dengar lagi, tapi melihat tingkah Sheila yang dingin-dingin taik kuku membuat Anin semakin urung untuk meyakinkan dirinya bahwa anaknya itu pasti sanggup menjalani hidup diBiara. "Omongan kayak gitu ko dipikirin, udah deh Mak, percaya aja samaku, kalau nanti aku udah diBiara pasti aku berubah seratus persen malah lebih rajin dari orang lain" jawab Sheila sekenanya, bukannya lega Anin malah semakin tidak tenang, jawaban anaknya terlalu mudah dikeluarkan, Sheila tidak tau sama sekali Dunia Biara itu seperti apa, bisa mengeja kata "Suster" saja baru-baru ini, setelah ia mempunya niat untuk menjadi Suster, sedangkan Biara? aturan hidup didalamnya? Anin hanya bisa berdoa semoga anaknya benar-benar dipanggil Tuhan untuk menjadi Suster dan bukan inisiatif dari Sheila sendiri yang ingin mencoba-coba, karena anak sejenis Sheila benar-benar meresahkan! "Dek, coba pikirkan niat kamu betul-betul" ajak Anin kepada Sheila untuk lebih merenung lagi, tapi jawaban Sheila selanjutnya malah membuat Anin merasa sia-sia saja menasehati anak selabil dan sepolos Sheila. "Betul... betul... betullllll" Melihat ekspresi ibunya yang semakin pias, Sheila malah tertawa besar ia sangat puas melihat raut wajah Anin yang sangat nelangsa, karena pikir Sheila, Ibunya terlalu overthinking dengan niat Sheila untuk menjadi Suster, karena Sheila sangat yakin bahwa Tuhan pasti langsung merubah sifat dan sikap Sheila ketika sudah diBiara nanti, tantangan? apa itu tantangan? tidak ada di kamus hidup Sheila tentang tantangan yang akan di alaminya nanti. Karena bagi Sheila jika niatnya sudah bulat maka apapun itu pasti bisa ia hadapi dengan mudah. "Terserah mu saja, Dek. Yang penting Mamak sudah bilang, kalau hidup dirumah sama Mamak sangat jauh berbeda dengan hidup diBiara. Disini kalau kamu lama bangun Mamak hanya bisa menghela nafas dan nasehatin kamu untuk bisa bangun cepat kalau diBiara mungkin kamu bakal digantung karena tidak bisa menghayati hidup miskin yaitu sederhana dengan hidup disiplin waktu. Disana harus bangun cepat karena berdoa pagi-pagi buta, sedangkan pagi-pagi buta kamu masih sibuk mimpi sampai ngigau. Adek, Mamak bukannya meragukan niatmu atau tidak percaya kalau kamu bisa bahkan lebih dari kakak sepupu mu tapi Mamak kenal anak bungsu Mamak, bagaimana dia setiap harinya. Yang Mamak takutkan kamu nanti menyesal, ok mungkin kamu bisa mengikuti cara hidup atau bisa dibilang seluruh rutinitas diBiara, tapi untuk lepas dari gadget emang bisa? disini aja hal pertama yang kamu cari ketika kelopak matamu terbuka itu bukan kaca matamu atau Mamakmu, yang kamu cari itu gadget mu, dan pertanyaan pertama yang kamu tanyakan bukan 'Apakah kita berdoa bersama?' tapi 'Apakah baterai hp-ku penuh?'" Mendengar semua keluhan Anin membuat Sheila lemas, ia sadar pilihan ini terkesan terburu-buru dan tanpa aksi nyata yang bisa meyakinkan orang setidaknya sepuluh persen bahwa dia benar-benar se-niat itu untuk menjadi Suster. Tapi tidak taukah mereka dengan mukjizat itu nyata? lagi-lagi Sheila berdebat dengan pikirannya sendiri sibuk mencari pembenaran dari dalam dirinya sendiri, sedangkan menanyai kehendak Tuhan atas dirinya? itu jelas sangat telat ia tanyakan. Karena kesehariannya hanya sibuk bermain gadget dan mem-boomingkan bahwa dia akan menjadi gadis alim dengan cara masuk Biara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN