"Setelah hari itu, aku mulai gemar melihat diriku dari pantulan kaca, sungguhkah aku se-epesial ini?
-----------
Ternyata setelah Sheila mengatakan niatnya menjadi suster, Anin juga menyampaikan keresahan hatinya kepada Kakak keduanya yang memiliki anak sebagai Suster. Dia takut jika Sheila sebenarnya tidak serius dengan perkataannya beberapa hari lalu, tapi dia lebih khawatir jika memang sudah memikirkan secara matang apa yang ingin ia katakan kepada Anin.
"Udahlah, mungkin dia juga pengen menjadi seperti kakaknya" Anin malah semakin resah, mendengar perkataan sang kakak yang malah sangat senang jika Sheila mengikuti jejak kakak sepupunya.
"Enggak seperti itu yang sebenarnya, Kak. Mungkin Sheila hanya bercanda, dia itu enggak pernah serius dengan apa yang dia katakan, tau saja Sheila masih anak SMA yang masih sangat labil, takutnya dia nyesal dengan pilihannya itu" Anin semakin gencar mengungkapkan bahwa sebenarnya dia tidak mau jika Sheila menjadi Suster, karena dengan Sheila menjadi Suster itu berarti Sheila akan sepenuhnya jauh dari jangkauan Anin, ditinggal mati oleh suami sudah mengiris hati Anin sampai ia jatuh sakit, apalagi jika Sheila benar-benar pergi untuk mewujudkan niatnya sebagai Suster, entahlah Anin tidak sanggup membayangkannya karena memikirkannya saja sudah membuat kepala Anin sangat sakit.
"Dek, Sheila itu udah besar. Mungkin benar kata kamu dia masih anak labil, dan dia enggak pernah serius dengan perkataannya, tapi kamu enggak pernah lihat kedalaman matanya ketika mengungkapkan niatnya mau menjadi suster kan? bagaimana dengan nada suaranya apakah sama dengan ketika ia mengatakan ingin bermain badminton bersama teman-temannya atau nginap dirumah sahabatnya? udah deh, jangan terlalu terbebani dengan pikiran kamu, aku tau sebenarnya kamu enggak mau kan kalau Sheila jauh dari kamu? kamu takut kalau Sheila tidak akan pernah ada disisi kamu nantinya, takut kalau Sheila sakit disana dan kamu enggak bisa ngurus dia, iya kan?" Anin diam saja, karena memang benar apa yang dikatakan kakaknya itu, semua ketakutan Anin terhadap keinginan Sheila memang benar dia takut kehilangan untuk kedua kalinya.
"Aku juga pernah diposisi kamu, bedanya Sheila mau ngasih tau kalau dia pengen menjadi suster, itu Kurnia mana ada! diam enggak pernah singgung kalau dia senang lihat suster yang ia lihat disekolah, dia juga enggak pernah bilang kalau dia suka cara mengajar suster-suster di Asmika, dan cara mereka berbicara. Tau-tau setelah lulus Kurnia menghilang dari rumah, kami semua cemas, kamu taukan bagaimana kecemasan seorang ibu ketika mengetahui anaknya menghilang semua baju yang ada di lemari tinggal beberapa pasang saja? aku sempat mau bunuh diri aja pada saat itu, tapi beruntungnya Abang ipar kamu mengatakan untuk menunggu beberapa hari lagi sebelum Kurnia benar-benar dilaporkan ke polisi dengan catatan bahwa dia lari dari rumah, dan benar setelah beberapa hari aku dapat kabar ternyata Kurnia udah tinggal disebuah Biara yang dekat disekolah nya dulu. Ketika kami tanyai mengapa dia tidak mau memberitahukan kepada kami dia ingin menjadi suster, kamu tau apa jawabannya?" Anin menggeleng dari seberang, kakaknya yang bisa menebak apa respon Anin mengangguk dan menarik nafas untuk melanjutkan ceritanya.
"Dia mengatakan, takut jika kami tidak mengijinkannya untuk menjadi Suster dan malah memaksanya untuk mengikuti apa yang kamu inginkan darinya untuk masa depannya yang sama sekali tidak diinginkan Kurnia. Aku dan Abang iparmu, merasa sedih dan gagal sebagai orangtua, karena kami tidak bisa melihat keinginan terdalam dari anak-anak kami, kami sibuk dengan masa depan yang kami rancang sendiri untuk mereka yang menurut kami itu terbaik bagi mereka, yang sebenarnya terjadi adalah mereka sama sekali tidak merasa bahagia dengan semua yang kami pilihkan untuk mereka." Anin merasa terhanyut mendengar ucapan kakaknya, bahkan ia sangat tersentuh dengan ungkapan kakaknya yang mengatakan bahwa mereka gagal menjadi orangtua yang memahami anak-anak mereka, menciptakan pertanyaan baru bagi Anin "Sungguhkah selama ini, apa yang dia lakukan membuat Edghard dan Sheila bahagia? atau malah sebaliknya?"
Tapi Edghard dan Sheila tidak pernah mengatakan sesuatu yang mengungkapkan bahwa mereka tidak bahagia dengan apa yang selama ini Anin lakukan kepada mereka, tapi perkataan kakaknya selanjutnya membuat Anin benar-benar tertohok, dan benar tidak semua rasa ketidak nyamanan seseorang diungkapkan melalui kata-kata.
"Jadi bagaimana? kamu tetap pada keinginan pribadimu untuk terus menyembunyikan Sheila dibawah ketiakmu? hayolah ini bukan lagi jaman kita sewaktu masih kecil, sekarang anak-anak bebas menentukan pilihan hidup mereka jika itu memang membuat membuat bahagia dan enjoy ngejalaninnya"
Satu jam bertukar pikiran dengan kakak keduanya sungguh membuka cakrawala Anin, ia tidak akan mengerti sedalam ini jika kakaknya tidak pernah memiliki pengalaman yang hampir mirip dengannya. Pertanyaannya sekarang apakah dia mau mengalami pengalaman yang pernah kakaknya alami yaitu perginya kurnia diam-diam dari rumah? oh tentu tidak! membayangkan itu saja membuat bulu kuduknya Anin berdiri, dia tidak sanggup apalagi jika Sheila pergi ketempat yang sangat sulit Anin jangkau.
"Terimakasih, Kak. Mungkin jika aku tidak mengatakan ini kepadamu aku tidak akan mendapatkan solusi dari keresahan ku ini. Tapi kakak taukan betapa sedihnya hatiku?"
"Iya aku tau, bahkan aku sangat tau bagaimana keadaanmu sekarang tapi tidak bisakah engkau mengesampingkan kepentingan pribadimu? sadar atau tidak sadar sebenarnya kamu sedang memperjuangkan keinginanmu sendiri ketimbang kebahagiaan Sheila, kamu tau sendirikan bagaimana ibu dan bapak menyusun masa depan untuk kita anak-anak mereka? lihat bagaimana kakak pertama menjalani hidupnya sekarang, sungguh sangat jauh dari kata bahagia bukan? beruntungnya kamu anak yang sangat nakal yang tidak mau menuruti permintaan orangtua dengan kerajinanmu dalam berladang, jadilah kamu dari kita ber-empat yang sangat menikmati hidup, benarkan?"
Anin tertawa kecil mendengar kalimat terakhir kakaknya itu, benar! dialah satu-satunya yang tidak mengijinkan adanya perjodohan didalam hidupnya, sekaya dan setampan apa pria yang dikenalkan orangtua kepadanya tidak pernah membuat Anin setuju dengan itu, dia bahkan demi membatalkan perjodohan yang akan dilangsungkan diam-diam kabur dari rumah dan merantau ditanah Sumatra hanya agar tidak mengalami nasib seperti orang-orang di kampungnya. Anin sangat tidak menyukai adanya perjodohan, tapi membantah sama saja melanggar tata kesopanan jadilah satu-satunya cara agar ia selamat adalah dengan kabur dari rumah, sama dengan apa yang dialami oleh kakak keduanya itu, orang tua dan sanak keluarga kepanikan saat bangun pagi tidak menemukan Anin di segala tempat, bahkan kapal laut yang akan ditumpangi Anin sempat dikejar oleh sanak keluarganya, beruntungnya Anin memakai nama samaran sehingga tidak satupun mereka yang menyadari bahwa dari ratusan penumpang ada Anin yang tengah bersembunyi agar tidak terlihat oleh keluarga yang mencarinya. Memang tidak ada yang menyangka bagaimana hidup seseorang kedepannya, takluk kepada perintah perjodohan dan menghabiskan sisa hidup dengan pilihan orang tua yang sama sekali tidak kita kenal dan cintai sama seperti menggigit batu yang berukuran sangat besar, tidak menyenangkan!
"Kak, doakan aku dan anak-anakku" pinta Anin akhirnya sebelum telepon mereka akhiri secara sepihak.
"Ah, Tuhan. Kaulah yang mengetahui segalanya."