"Sudah sekian lama, tapi baru kali ini aku menyaut, haruskah aku terpaut?"
-------------
Kebiasaan baru Sheila sekarang adalah dia sangat suka men-scroll t****k dan i********:, setelah pulang sekolah Sheila akan duduk santai di kursi yang berada di kamarnya, dan segera membuka benda canggih berbentuk pipih itu dan melihat isi tik-tok yang disediakan oleh aplikasi itu. Uang bulanannya habis untuk sekedar membeli paket kuota agar bisa menonton ditiktok. Bagi teman-temannya Sheila adalah anak yang sangat hemat dalam membeli jajan, tapi bagi Anin, Sheila adalah anak yang sangat boros karena ia menghabiskan uangnya untuk membeli kuota internet.
"Dek, ayo makan. Dari tadi kamu belum makan loh" panggil Anin dari dalam rumah.
"Sebentar, Mak. Aku belum lapar"
Anin menggelengkan kepalanya melihat sikap anak bungsunya yang sudah sangat sulit untuk diajak makan, dan mandi. Sheila sangat nyaman dengan handphone ketimbang menemani Anin untuk jalan-jalan sore. Bahkan ajakan dari Echa untuk nginap dirumahnya tidak digubris oleh Sheila, Sheila lebih memilih untuk berdiam di dalam kamar dan hanya ditemani oleh benda pipih yang tidak pernah jauh darinya disetiap hari.
Lagi asyik melihat-lihat video tik-tok, ada satu video yang membuat Sheila merasa tertarik untuk terus melihatnya, sampai tiga kali Sheila terus mengulangi untuk memutar video itu. Karena semakin penasaran, Sheila memutuskan untuk melihat langsung diakun pemilik video yang membuatnya terkesan. Ada banyak video yang hampir sama disana, satu persatu sudah ditonton oleh Sheila. Seperti tidak puas, sheila beralih untuk mencari di google apa arti dari cara hidup mereka itu.
"Suster? Biarawati? " gumam Sheila di kesendiriannya. Namun, Sheila tidak terlalu peduli dengan video yang sempat membuatnya terusik, Sheila kembali men scroll t****k, ia sibuk mengambil gambar dan mengeditnya menjadi satu video setelah itu dia meng-uploadnya ke media sosial.
Hari-hari berlalu, detik-detik Sheila akan lulus sekolah, semua temannya sudah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir sekolah dan mencari universitas mana yang akan menjadi tujuan mereka setelah lulus. Sedangkan sheila, dia tetap dalam mode santainya. Sheila tidak terlalu mencemaskan bagaimana nantinya dirinya setelah lulus, ia tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas karena minat belajarnya sudah tidak ada lagi, untuk bekerja dia tidak memiliki keahlian dalam mencari uang ditempat orang, hanya duduk santai dirumah itu tidak mungkin, karena akan ada Anin yang akan membujuknya untuk mencari aktivitas yang akan membuat Sheila sibuk dan fokus disepanjang hari.
"Ini video apaan sih?" gumamnya lagi ketika melihat satu video yang pernah mengusik ketenangan jiwanya. Buru-buru ia mengganti tontonannya, tapi sekelebat memori bagaimana dulu Anin sempat menceritakan tentang kakak sepupunya yang sekarang sudah menjadi seorang suster, bagaimana kakak sepupunya itu menjadi orang yang rajin berdoa, selalu berpakaian sederhana dan ceria membuat Sheila lagi-lagi tidak tenang. Apa yang sebenarnya terjadi didalam dirinya, mengapa setiap kali video keseharian para suster itu muncul di hpnya ada kerinduan yang kedamaian yang menyeruak didalam hatinya, dan keinginan untuk terus melihat video itu.
Dengan pertanyaan yang masih menghantuinya, Sheila terus saja melanjutkan kebiasaannya, ditambah lagi dengan sekarang Sheila memberanikan diri untuk terjun ke dunia kepenulisan, ia mengajukan dirinya untuk mengambil kedudukan yang paling tinggi, yang sebenarnya tidak dimengerti oleh Sheila, ia merasa puas ketika dirinya dianggap penting dan dihargai oleh banyak orang, tidak jarang ada satu dua instansi/komunitas yang mengundang Sheila untuk mengisi acara sebagai narasumber, membagikan pengalaman yang bisa memotivasi dan membagikan pengalaman bagaimana Sheila dalam merintis tulisannya didunia digital. Seringkali segala kehormatan yang ia dapatkan malah membebani dirinya. Ia merasa tidak layak dan tidak bebas, Sheila merasa ada sesuatu didalam dirinya yang membuat dia sangat kehausan padahal Sheila terus saja minum, tapi ia tetap merasakan haus yang semakin hari semakin hebat.
Anin yang selalu membujuk Sheila untuk mau berdoa bersama dengannya, membuat Sheila pelan-pelan merasa bahwa berdoa adalah pekerjaan yang sangat membosankan karena dia harus terpaksa diam dalam waktu yang tidak bisa ditentukan dan harus bisa menahan rasa bosan setiap kali Sheila melepaskan benda pipih yang canggih dari tangannya.
Hingga suatu malam ketika Sheila sedang duduk didepan pintu Anin, tepatnya dibawah salib yang menggantung tepat diatas pintu kamar Anin, Sheila merasakan ada sesuatu energi yang mengusik dirinya dan memaksanya untuk melihat kearah atas dimana salib itu menggantung. Salib yang hampir tidak pernah Sheila sadari bahwa selama bertahun-tahun salib itu sudah menggantung diatas pintu kamar Anin, meski sebelumnya Sheila pernah menangis sangat hebat dibawah salib itu, dengan pengalaman yang hampir sama bedanya malam ini, seluruh pikiran dan hatinya sangat dilemaskan oleh sang salib.
"Oh Tuhan, maafkan aku" ucapan yang berhasil keluar dari mulut Sheila setelah lama menatap kearah salin dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tapi Sheila kembali sibuk mengetik dilayar HP-nya, hingga larut malam.
Tapi hari-harinya sangat jauh berbeda, Sheila memang tetap melakukan kebiasaannya yaitu men-scroll t****k dan aku media sosial bahkan ia sangat gencar mencari kedudukan dikomunitas -komunitas berbasis online, yang berbeda adalah kondisi hatinya yang semakin hari semakin merasakan perasaan rindu yang mendalam untuk menyelami arti dari salib yang pernah ia tatap lama pada malam itu.
Sheila diam-diam mencari tau kehidupan biarawati, bahkan ia sangat senang ketika melihat seorang suster bernyanyi di hpnya. Sosok kakak sepupunya yang pernah ditunjukkan Anin kepada semakin jelas dimemorinya, bahkan Sheila sangat ingat bahwa kakak sepupunya itu memakai jubah abu-abu, dan sehelai kain yang menutupi kepalanya yang berwarna senada dengan jubah yang kakaknya kenakan, cerita Anin yang mengatakan kakak sepupunya sudah menjadi pendoa bagi keluarganya membuat Sheila juga ingin seperti kakak sepupunya itu. Saat itu Sheila belum mengerti dengan semua yang ia alami dan rasakan, yang dia tau adalah dia ingin menjadi seorang pendoa. Karena Sheila tiba-tiba memiliki kerinduan yang sangat mendalam untuk berdoa, pekerjaan yang sebenarnya sangat membosankan bagi dirinya yang tidak bisa dia dengan menutup kedua mata itu.
Hatinya menghangat ketika melihat bagaimana kecerian dari wajah para suster yang ia tonton, bagaimana mereka membersihkan pekarangan rumah dan memasak, karena begitu penasaran Sheila mendownload drama seorang suster diaplikasi YouTube. Sheila menontonnya dengan penuh minat, bahkan ia sangat suka dengan cara suster itu berpakaian. Sangat sederhana, dua kata yang berhasil keluar dari mulut Sheila.
"Mak, kalau aku menjadi Suster, boleh?" jika pada saat Sheila mengatakan niatnya itu, Anin sedang makan atau minum sudah dipastikan bahwa makanan atau minuman itu akan keluar dari mulut Anin dengan utuh, sangking terkejutnya Anin mendengar niat yang diungkapkan oleh Sheila. Perkataan yang tidak disangka-sangka akan diucapkan Sheila, anak bungsunya yang ia tahu bahwa Sheila adalah anak yang sangat jauh dari ketaatan beribadah, malah bagi Sheila ia lebih baik tidur sepanjang hari daripada harus ikut beribadah di Gereja. Lalu mengapa ia tiba-tiba ingin menjadi seorang suster? pertanyaan yang malah membuat Anin sendiri merasa ngeri. Sungguhkah Sheila sadar dengan ucapannya itu?