bc

Bianglala Harumi

book_age18+
11
IKUTI
1K
BACA
second chance
arrogant
badboy
goodgirl
drama
sweet
coming of age
intersex
shy
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Bagi Harumi melihat bianglala adalah hal yang menakjubkan, apalagi di desanya bianglala hanya bisa dinaiki ketika ada pasar malam atau perayaan desa saja. Melihatnya saja sudah membuatnya senang apalagi menaikinya. Menurutnya kehidupan itu bak bianglala yang terus berputar, kadang berada di titik terendah, kadang juga berjalan biasa saja dan kadang berada di puncak tertinggi.

Dan hal itu terjadi pada kehidupan Harumi. Gadis desa berusia 22 tahun itu harus menyetujui permintaan ayahnya untuk menerima pinangan dari salah satu teman karibnya di Kota.

Bagai jungkir balik, kehidupan Harumi berubah 180 derajat. Dia menikah dengan Aleandra Kemal, seorang pemuda dari keluarga kaya. Namun, satu hal yang harus Harumi terima bahwa suaminya itu lumpuh karena kecelakaan yang baru saja di alaminya 1 tahun yang lalu dan itu mempengaruhi psikisnya.

Harumi harus menerima setiap kenyataan pahit yang berhubungan dengan Ale, suaminya tentang masa lalu Ale. Mampukah Harumi menjalani kehidupan barunya dan menumbuhkan cinta untuk Ale, begitupun sebaliknya. Temukan jawabanya di Bianglala Harumi.

chap-preview
Pratinjau gratis
NASEHAT AYAH
               Dari balik rumah sederhana sejak sebelum subuh seorang gadis berwajah teduh sudah sibuk berkutat di dapur. Sejak dia SMA sudah terbiasa mengerjakannya semua sendiri terkadang dibantu oleh ayahnya yang merupakan petani jagung di desa tersebut.  Sejak ibunya meninggal, gadis tersebut memang sudah mandiri, mengerjakan tugas rumah sebelum pergi sekolah, membuat sarapan dan juga bekal untuk ayahnya yang akan pergi ke ladang.                Harumi namanya, tetangga dan orang terdekatnya memanggilnya Rumi, sebuah nama indah yang di sematkan oleh almarhum ibunya. Parasnya pun  tak kalah cantik dari ibunya, sikapnya yang tenang, pandangannya yang teduh membuat orang-orang disekitar Harumi merasa nyaman di dekatnya.                “Pak, hari ini Rumi pulang agak telat ya. Mau ngajar privat di rumahnya Bude Rini,” ujar Harumi sambil menata makanan di meja makan dan tangannya dengan gapah menyiapkan bekal untuk ayahnya yang sudah bersiap-siap pergi ke ladang.                “Jadi kamu terima tawaran Budemu, Nduk?” tanya Darta, Ayah Rumi yang menatap gadis itu dengan serius. Dia menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menunggu reaksi anak gadisnya itu.                Harumi berjalan ke arah ayahnya yang sedang memakai sepatu bututnya. Sepatu yang biasa di pakai ayahnya untuk pergi ke ladang, bukan terbuat dari kulit, melainkan terbuat dari ban bekas. Sehingga permukaannya keras dan kaku.                “Nih, bekalnya, Yah.” Harumi menjulurkan tangannya, kemudian Darta menatap putrinya itu.                “Kamu belum jawab pertanyaan, Ayah, Rum,” ucapnya tegas.                Harumi sedikit merunduk. Dia tahu jika ayahnya tidak akan setuju dengan keputusannya ini tetapi dia butuh kegiatan, bosan dirumah seharian dan juga Rumi ingin mengumpulkan uang untuk kuliah.                  “Jadi, Yah. Lumayan uangnya buat nambah-nambah daftar kuliah nanti.” Harumi menjelaskan tanpa berani melihat raut wajah ayahnya.                Darta menghela napas panjang, dia tahu kalau Harumi sedikit keras kepala. Kalau sudah berkemauan keras dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.                  “Yasudah, lagian percuma juga Ayah melarang, toh kamu sudah terlanjur menerima ajakan Budemu. Asalkan kamu tahan kuping saja, mendengar ocehan Budemu yang kadang merendahkan keluarga kita.”                Harumi bergeming, dia masih merunduk. Dalam hatinya dia merasa bersalah karena baru memberitahu ayahnya soal ini sekarang. Padahal dia tahu bagaimana perlakuan Bude Rini kepada dia dan ayahnya.                  Bude Rini adalah Kakak dari almarhum ibunya. Ibunya sudah meninggal sejak Harumi kelas 3 SMP. Disaat keluarga mereka butuh biaya banyak, untuk sekolah Harumi yang sebentar lagi akan tamat dan juga untuk biaya pengobatan ibunya.                  Namun, malang, ibunya tidak tertolong karena terlambat di bawa ke rumah sakit. Keluarga pihak Ibu marah pada Ayah karena tidak becus menjaga Ibu yang sedang sakit. Amarah mereka makin besar kepada Darta dan membencinya, semenjak saat itu hubungan keluarga itu pun merenggang.                Keluarga ibunya berasal dari keluarga mampu, punya berhektar tanah dan juga juragan sapi di desanya, tetapi semenjak Ibunya menikah dengan Ayahnya, keluarga pihak Ibu tidak setuju sebab Ayah hanyalah seorang petani yang kadang pun tidak jelas penghasilannya.                “Yasudah, Ayah pergi ya, Nduk. Ingat, apa pun yang dikatakan Budemu jangan menjawab. Diam saja. Sebab kalau kau jawab akan panjang persoalannya.” Darta mengingatkan putrinya, jelas sekali gurat kekhawatiran terekam di wajahnya. Namun, pria itu tidak ingin membuat hati Rumi jadi ciut hanya karena sikapnya yang menolak Rumi untuk mengajar di rumah Budenya. Semata-mata Darta melarang karena peduli dan cemas kepada Rumi.                “Iya, Ayah. hati-hati.” Rumi mencium takjim punggung tangan ayahnya. Dipandangi dari depan pintu sang Ayah yang pergi sambil memikul cangkul di bahunya.  Bahkan tetangga pun belum bangun untuk berangkat ke ladang, tetapi ayahnya sudah melakukannya.   ***                Seperti biasa, Setiap pagi Rumi mengajar di Madrasah dekat rumahnya. Sekolah yang bahkan tidak layak di sebut sekolah karena buruknya bangunan tersebut. Namun, Rumi nyaman bekerja di sana, walaupun gaji yang didapatnya tidak banyak, tetapi dia selalu bersyukur sebab Allah masih memberinya banyak kelebihan dan keluangan waktu untuk mentransfer ilmunya kepada anak-anak di kampung ini.                               Sepulang dari mengajar, Rumi bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah Bude Rini, dia janji datang pukul 2 siang setelah sholat zuhur dan membersihkan rumah.  Dilihatnya rumah masih kosong, berarti Ayah belum pulang dari ladang. Rumi pun bersiap dan menyelesaikan pekerjaan lalu berangkat ke rumah Bude Rini.                  Tak terlalu jauh dari rumah mereka, Harumi pergi dengan sepedanya. Dikayuhnya sepeda bekas peninggalan ibunya, dia pakai kemana pun dia pergi.  Harumi pun sampai di rumah Budenya, rumah yang lumayan besar untuk kategori di desa.  Rumah panggung beralaskan papan dan juga berdinding papan itu sangat indah di pandang dari luar. Disekelilingnya di pagar dengan pagar beton yang menjulang tinggi.                  Selain itu halamannya yang luas dipergunakan untuk menanam sayuran hijau dan juga berbagai macam bunga, sementara di halaman belakang rumahnya ada kandang kambing dan juga sapi.  Ada juga gudang penyimpanan untuk alat-alat pertanian lainnya, seperti mesin pembajak, mesin panen padi, dan juga lainnya.                   “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu,” ucapnya lalu masuk ke rumah budenya.                “Wa’alaikumslaam, sudah datang, Rum? Sebentar ya, Bude panggil dulu si Dimas dan Dafa.” Harumi hanya mengangguk, dia berdiri mematung sambil memandang sekeliling rumah budenya.                “Masya Allah, rumahnya cantik sekali,”desisnya pelan mengangumi desain dalam rumah Budenya. Semejak ibunya meninggal, sudah sangat lama Harumi tidak menginjak kakinya lagi di rumah Budenya ini. dia tidak punya alasan untuk datang, dulu masih ada Ibu yang masih sering mengajaknya, tetapi sekarang dia bahkan harus berpikir untuk berkunjung.  Takut jika Bude Rini salah menafsirkan maksudnya untuk berkunjung terlebih dahulu.                  “Duduk sebentar, Rum. Si Dimas sama Dafa masih  bersih-bersih dulu, Biasalah habis ngasih makan sapi-sapi yang jumlahnya makin hari makin banyak...” Tawa Bude Rini yang khas menggelegar memenuhi ruang tamunya.                  Harumi tersenyum kecut, dia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Untuk bicara pun dia masih berpikir untuk mengatakan apa.                “Sudah makan, Rum? Kebetulan Bude masak rendang daging tuh. Makan gih, jangan sungkan. Kamu juga belum tentu makan daging sekali setahun kan.” Harumi hanya tersenyum, kali ini dia menelan ludahnya, bukan karena di tergiur akan rendang daging budenya, tetapi lebih kepada ingin membalas ucapan budenya barusan.                  “Astaghfirullah’al ‘adzhim,” desiisnya pelan sambil memegang dadanya. Harumi teringat akan nasehat ayahnya tadi pagi.                  Lalu dia tersenyum menatap Bude yang duduk di hadapannya sedang berselancar indah dengan ponsel canggihnya.                  “Hmm, Terima kasih Bude. Alhamdulillah Rumi sudah makan, Bude.”                  “Oh, Iya. Padahal Bude masak banyak lo, sayang banget kamu uda makan.” Harumi tersenyum kecut, jelas dia merasa risih dengan obrolan seperti ini.                Tak lama dua Abang beradik Dimas dan Dafa datang dari arah dapur sambil berteriak memanggil Ibu mereka.                “Bu, Ibuuu,” teriak mereka berdua secara bersamaan. Bude Rini yang masih asik dengan ponselnya mengabaikan panggilan kedua putranya tanpa menyahut panggilan mereka.                  “Bu, Tadi Dimas dengar ada daging, mana? Lapar nih,” celetuk si sulung sambil menempel di badan ibunya.                “Iya, Bu. Kita makan dulu ya baru mulai belajar,” pinta si bungsu sambil merayu manja.                “Ada, tuh di meja makan.”                “Nggak ada, udah Dimas lihat.”                “Tanya sama Mbak Ratih aja,” ujar Bude Rini yang  malas meladeni rengekan kedua putranya.                “Mbak Ratih..... Mbak Ratih...,” teriak kedua bocah itu makin kencang memanggil Mbak Ratih yang merupakan Asisten rumah tangga Bude Rini.                Mbak Ratih   yang panggil kedua bocah tersebut lari tergopoh-gopoh sambil memegang roknya.                “Iya, Dimas, ada apa?” ujarnya masih mengatur napas.                  “Mana rendang dagingnya?”                “Rendang apaan?” tanyanya balik.                “Rendang daging itu loh, Tih. Yang dimasak tadi pagi.” Seru Rini yang mengalihkan perhatiannya ke Ratih kali ini.                “Ya, sudah habis, Bu. Orang dagingnya juga sedikit, bumbunya yang banyak.” Ratih tersenyum geli.                Rini melirik ke arah Rumi yang juga menahan senyum.  Kemudian Rini berdeham keras untuk menetralkan suasana.                  “Yasudah, kamu ke belakang aja lagi,” ucapnya tak acuh pada Ratih yang masih tersenyum , lalu pandanggannya beralih ke Rumi yang masih menahan senyumya.   ***                “Rumi, Bude akan gaji kamu besar kalau semester ini Dimas dan Dafa bisa masuk 3 besar di kelasnya.”                “Rumi usahakan Bude, tetapi semuanya tergantung kepada Dimas dan Dafa dalam mengulang dan menyerap pelajaran.”                “Ya, tugas kamu juga dong, jangan hanya berusaha saja, tapi harus kerja keras untuk buat Dimas dan Dafa juara kelas.” Rini bersuara sedikit meninggi mendengar ucapan Harumi yang terang-terangan. Rini berpikir bahwa Rumi tidak akan berani berbicara kepadanya, tetapi lihat anak  perempuan itu lebih berani daripada dugaannnya.                  “Iya, Bude. Rumi akan berusaha keras.”                “Iyah, harus dong. Sebab saya sudah bayar kamu mahal.”  Rini berulang kali menegaskan perkataan ‘mahal’ padahal satu perak pun Rumi belum menerimanya.                  “Bude, kalau boleh tahu, berapa Bude akan ba....yar, Rumi,” ucapnya sedikit terbata, lalu merunduk sebentar dan menatap mata Bude Rini.                  “Kerja dulu dong, itu tergantung hasil kerja kamu. Buat saya puas atau tidak,” ucapnya ketus.                Rumi hanya bisa menahan napas mendengar ucapan budenya itu.  Kalau tidak ingat perkataan Ayah, Rumi pasti sudah membalas ucapannya.   ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook