BAB 21 SEMALAM

1433 Kata
   Aku masih menemani Alena untuk beberapa menit. Sikapnya masih dingin dan cuek meskipun aku sudah berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Selepas memastikan Alena tidur dengan nyaman, aku bergegas melangkah ke ruanganku untuk berganti pakaian dan mengambil ponsel. Dengan pelan aku menutup pintu. Berjalan menyusuri lorong lantas memasuki lift yang akan membawaku menuju lantai 3, dimana ruanganku berada.     Cklekk!!    Begitu membuka pintu, aku dikejutkan dengan keberadaan rekanku seruangan yang ternyata juga akan menarik knop. Spontan kami tertawa.    "Ah, kita bahkan lebih romantis dari pasangan pada umumnya," celetuknya. Aku terkekeh lantas berjalan menuju loker untuk mengambil baju ganti. .  "Kenapa kau belum pulang, Hyung?" tanyaku padanya.    "Aku tertidur. Sungguh lelah sekali hari ini," Aku tersenyum. Aktivitas rumah sakit seharian ini memang super sibuk. Bahkan hingga dokter yang bertugas sift duapun harus turun tangan.    "Kau darimana? Aku tidak melihatmu sejak pagi," ucapnya seakan mengintrogasiku. Bagaimana menjawabnya, jika aku katakan aku bersama Alena sudah pasti dia akan membuliku habis-habisan.    "Aku mendadak menjadi penunggu ruang operasi dua hari ini," jawabku setengah bergurau.    "Dengan Alena?" ucapnya dengan mengulum senyum jahilnya.    "Yahh, sepertinya ... kau sudah mengetahuinya," jawabku malas. Dia terkekeh.    "Apa kalian akan melanjutkan kencan malam ini?" Aku menggeleng. Kencan? Yang benar saja. Kencan waktu itu saja berakhir buruk, mungkin sekarang Alena trauma berkencan denganku.    "Alena sedang sakit. Dia sedang beristirahat di ruang Lily,"     "Ah, kau akan menemaninya. Itu pasti!" Lee Hyun Hae mengerling padaku. Alih-alih menjawabnya, aku justru ketakutan.    "Kau jangan genit padaku, Hyung. Aku masih waras," pecahlah tawanya. Aku sendiri juga tertawa.    "Baiklah, aku tak akan mengganggu pasangan yang sedang dimabuk asmara. Aku pulang dulu. Annyeong," Dia berjalan keluar ruangan, masih dengan sisa tawanya.    "Nae-il tto mannayo," Aku lantas mengganti seragam scrubku dengan kemeja dan celana kain yang ku kenakan pagi tadi. (Sampai jumpa besok)    Aku bergegas kembali ke ruangan dimana Alena berada. Aku menelepon dokter Diana dari depan ruangan.    "Tidak apa dok. Alena memang biasanya seperti itu, kalau kerja lupa makan akhirnya tumbang sendiri. Entah kapan dia akan kapok. Kalau dokter Kim mau pulang silakan. Besok pagi pasti dia sudah pulih kembali." Suara dokter Diana dari seberang.    "Em. Maaf dokter. Kalau boleh saya mau minta ijin untuk menemani dokter Alena malam ini. Khawatir kalau nanti ada apa-apa pada Alena." Aku mengatakannya dengan perasaan gemetar. Sebenarnya aku tidak seratus persen bohong, aku memang mengkhawatirkan keadannya saat ini. Dan aku juga cukup lelah untuk mengemudi. Mungkin setelah ini aku akan di pulangkan ke Korea. Namun diluar dugaanku, justru terdengar beliau tertawa kecil.    "Hhh. Tentu saja boleh dokter Kim. Saya justru senang dokter Kim bersedia menemani dan menjaga Alena. Tapi apa tidak merepotkan dokter? Dokter Kim juga membutuhkan istirahat setelah menjalani mobilitas yang cukup pelik hari ini."    "Sama sekali tidak dokter. Saya bisa tidur di sofa ruangan."    "Baiklah. Biar saya beritahu ayahnya Alena agar besok kalian bebas dinas." Aku sedikit terkejut. Bagiku seperti ini termasuk perlakuan istimewa.    "Tidak perlu dokter. Saya rasa besok juga sudah sehat lagi."    "O'o, tidak. Sudah jelas Alena kelelahan. Dan malam ini dokter Kim masih bertugas menjaga Alena. Besok harus libur. Yasudah kalau begitu, tolong jaga Alena ya dok. Adiknya tidak bisa menjaga karena lusa harus menjalani ujian kompetensi koasnya."    "B-baik dokter Diana. Selamat beristirahat. Selamat malam."    "Selamat malam." Aku masuk ruangan mendapati Alena sudah tertidur. Sangat lelap. Ku lihat infusnya sudah berkurang seperempat kantong. Tubuhnya benar-benar dehidrasi. Segera ku ganti dengan infus baru kemudian aku berbaring di sofa. Tak lama kemudian aku terlelap. ****     "Telfon dari siapa, Ma?" Tanya dokter Zafran yang masih duduk di ruang TV. Dokter Diana mendekat.     "Dokter Kim, Pa. Alena harus infus katanya. Dia nggk bisa pulang. Mama juga nggak ijinin dokter Kim antar Alena pulang. Mereka sudah terlalu lelah hari ini. Besok tolong kasih mereka libur ya, Pa." Dokter Zafran manggut-manggut sambil mengusap rambut isterinya.    "Ck, kebiasaan emang. Eh tapi, Kak Al berduaan sama cowoknya?" Entah sejak kapan Abiyan muncul dengan segelas orange juice di tangannya. Dokter Diana mengangguk.    "Emang Papa tadi nggak kerumah sakit?" Tanyanya kemudian duduk disamping ayahnya.     "Papa ke rumah sakit Biy. Tapi kakak kamu hampir seharian di ruang operasi. Kamu tahu sendiri bagaimana fokusnya kakak kamu itu kalau sudah bekerja." Abiyan mengangguk-angguk.    "Gimana ujian kompetensi kamu, Nak?"    "Beres, Pa. Abi janji minimal masuk 10 wisudawan terbaik. Meskipun belum sebaik Kak Al," ujarnya optimis.    "Papa tahu kamu bisa. Buat papa dan mama kalian tetap yang terbaik dengan cara kalian sendiri."    "Eh, tapi Abi ngerasa ada yang aneh deh, Pa, Ma."     "Soal?" Ibunya bertanya.    "Hubungan Kak Al sama ... what should i call him? Kak Yeong?.." belum selesai Abiyan berbicara sudah dipotong oleh ayahnya.    "Sudahlah Biy. Kita biarkan saja. Kakakmu kan juga sudah dewasa. Toh kalau mereka memang berhubungan papa sama mama juga ikhlas. Papa lihat justru kakakmu sekarang lebih sering bahagianya. Ya kan, Ma?"    "Lagian siapa yang nggak mau punya anak tampan dan mengagumkan seperti dokter Kim. Ya, Pa?" Dokter Diana melirik suaminya. Abiyan membulatkan matanya.    "Kan udah ada Abi. Abi juga tampan. Huhh," sungutnya. Ayah dan ibunya tertawa geli.    "Kamu jelas tak tergantikan sayang." Abiyan mendapat kecupan dari ibunya. Sebuah fikiran jahil muncul di kepalanya.    "Kira-kira mereka berdua lagi ngapain ya, Ma. Hhh," ucapnya yang mendapat pelototan dari ayah dan ibunya, "Abiiiii..." Hhh. ****  Alena’s POV    Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, kesadaranku kembali. Mencoba mengingat apa yang ku lalui. Mataku menatap langit-langit ruangan. Ini bukan kamarku. Ah, aku ingat masih dirumah sakit. Disebelah kiri terdapat infus yang sudah hampir habis. Aku bergerak untuk bangun. Mengitarkan pandangan ke sekitar. Melihat jam dinding di ujung ranjang. Baru jam 2. Aku menoleh ke arah kanan dan Oh Tuhan, nampak Yeong sedang tertidur lelap di sofa. Jadi ia benar-benar menjagaku? Ada perasaan aneh dalam hatiku melihatnya seperhatian ini padaku.    Aku melepas jarum infus. Tubuhku sudah kembali. Aku tidak membutuhkannya lagi. Turun dari ranjang pasien itu, aku menuju kabinet didekat pintu kamar mandi, mengeluarkan selimut dan kemudian memakaikannya pada tubuh Yeong.    "Dasar keras kepala. Kamu pun sama lelahnya dengan aku. Kenapa nggak pulang aja sih," gumamku pelan. Aku terkesiap melihatnya mengeliat pelan.    Aku duduk di sampingnya. Memandang lekat wajahnya. Wajah yang entah bagaimana bisa membuat hatiku terbolak-balik merasakan sesuatu yang tidak biasa. Terkadang senang, kadang tersipu, dan baru saja kemarin malam membuatku sangat kesal, marah dan kecewa. Aku teringat ucapannya semalam. Permintaan maafnya dengan ekspresi wajah yang begitu tulus dan menyesal. Aku tersenyum tipis.    "Mau sampai kapan memandangiku, Nona," ujarnya dengan mata terpejam.    “Eh?” Aku terkejut. Reflek aku bangun hendak menghindar, namun tangannya menahanku. Diusapnya punggung tanganku. Masih dengan mata terpejam. Oh God, jangan sampai dia tahu seberapa gugupnya diriku.    "Em. Kamu kenapa nggak pulang?" tanyaku tanpa berani melihat wajahnya. Bisa pingsan aku.    "Kan aku sudah bilang, aku akan jagain kamu malam ini. Masa aku tega ninggalin kekasihku sendiri," ujarnya dengan ekspresi dan senyum yang sulit ku artikan. Ia memandangku.     "Tapi kan kita cuma ..." ia menutup mulutku dengan jari telunjuknya    "Kamu mau ini semua terbongkar?" potongnya cepat. Aku bingung.    "Ah, entahlah." Dia menarik tubuhku dipelukannya. "Tidurlah, Al. Ini masih terlalu pagi," ujarnya sambil memeluk pinggangku. Sepertinya dia juga akan tidur lagi.    "Yeong."     "Hmm."    "Lepasin ah. Sempit tau. Nanti aku jatuh bagaimana?" ujarku kesal sambil bergerak untuk bangun. Dia malah memelukku semakin erat. Ah, ulat bulu ini namanya.    "Yeong."     "Hmm."    "Aku mau pasang infus ini." Sebenarnya ini hanya akalku saja agar dia melepaskanku. Sebab hembusan nafasnya di leherku membuat jantungku berdetak semakin cepat dan fikiranku kemana-mana.    Berhasil. Dia merenggangkan pelukannya kemudian melepaskanku. Aku berdiri akan kembali ke ranjang ketika tiba-tiba dia menggendongku ala bridal.    "Eh, Yeong. Ngapain ini. Yhaa." Aku melotot. Dia tersenyum jahil.    "Bantuin kamu lah. Katanya mau pasang infus. Berarti kamu belum sehat betul. Sekalian aku pasangin." Aku menatapnya dengan ekspresi malas.    "Tangan kamu taruh leherku dong Al. Nanti kamu jatuh." Masih dengan ekspresi jahilnya. Aku justru ingin mengerjainya. Ku letakkan jari-jariku di lehernya seperti akan mencekiknya.    "Begini?" Matanya membulat menanggapi apa yang aku lakukan.    "Kamu mau bunuh aku itu namanya." Aku terkikik. Dia sungguh menggendongku ke ranjang. Mau tidak mau aku memeluk lehernya.    "Yeong." Dia hendak memasang kembali infusku namun aku menahannya.    "Kamu yang bawa aku kesini semalam? Kamu gendong aku seperti tadi?"    "Oh, of course not. Aku bawa kamu pakai troli. Kamu berat. Hhh." Aku melihatnya dengan sebal.    “Berat, huh? Buat apa punya otot kaya gini kalau gendong aku aja nggak kuat,” ucapku seraya memukul lengannya. Dia terkekeh.    "Beneran nggak mau pakai infus lagi?" tanyanya. Aku menggeleng    "Tidurlah lagi," ujarnya sambil mengelus rambutku. Tunggu, apakah kami terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan saat ini?    "Kamu juga." Aku berusaha tersenyum menutupi kegugupanku atas apa yang dia lakukan.    "Kamu mau aku tidur di samping kamu saat ini?" Matanya mengedip nakal.    "Aish, tau ah." Aku memutar badan memunggunginya. Malas meladeni omongannya yang mulai berani melantur kemana-mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN