BAB 20 JALAN DAMAI?

1386 Kata
   Pagi-pagi sekali, Alena sudah berangkat ke rumah sakit. Hari ini jadwal kepulangan ayahnya. Ia yakin begitu sampai, ayahnya akan langsung memeriksa pekerjaan yang diserahkan padanya selama ditinggal ke Singapura selama hampir dua minggu itu. Ia harus betul-betul memastikan segala pekerjaannya tuntas dengan baik. Meskipun pagi ini sebebarnya ia agak malas ke rumah sakit. Karena mau tidak mau ia pasti akan bertemu dengan Kim Yeong. Ah, ia rasanya ingin menghidari laki-laki itu saja.    Belum jam 7, Alena sudah tiba dirumah sakit. Dan sudah disambut pemandangan yang mencengangkan di IGD. Akhirnya dia mengecek keadaan. Ternyata mereka adalah korban dari kecelakaan bus yang lokasinya tidak berjauhan dengan rumah sakit. Beberapa korban dalam keadaan luka cukup serius sehingga para dokter yang dinas pagi hampir seluruhnya turun tangan.     Alena terkesiap. Ia segera meletakkan tas dan memakai snelli di IGD. Alena tidak mempedulikan masalah pekerjaan yang berkaitan dengan ayahnya nanti. Karena baginya, inilah pekerjaannya yang sesungguhnya. Alena menangani salah satu pasien yang terluka cukup parah. Sepertinya mengalami trauma dan patah tulang. Ia segera melakukan prosedur pertolongan pertama setelah itu meminta suster menyiapkan langkah operasi.    Sesaat setelah selesai memberikan pertolongan pertama pada pasien selanjutnya, seorang perawat memanggilnya.     "Dokter Alena. Ruang operasi 1 membutuhkan Anda." Alena melihat Yoga sudah datang dan langsung mengambil alih pekerjaannya.    "Pergi aja. Biar gue handle yang disini," ujar Yoga. Alena segera bergegas menuju ruang operasi. "Bagaimana keadaannya?" tanya Alena pada perawat sambil berjalan cepat. Tidak. Sangat cepat.    "Pasien mengalami patah tulang di beberapa bagian. Di tambah dari pengecekan awal ternyata pasien memiliki riwayat diabetes dan hipertensi."    Didepan ruang operasi langkah Alena terhenti sejenak, "Saya tidak bisa melakukan operasi ini sendiri." Kemudian membuka kenop pintu. Alena sedikit terkejut.    "Dokter Kim?"     "Dokter Alena."    "Anda sendiri?" tanya Alena sembari mempersiapkan perlengkapannya.    "Harusnya dengan dokter Rudy, tapi ternyata beliau memiliki jadwal operasi lain. Melihat keadaan pasien, saya merasa tidak bisa melakukannya sendiri. Itu sebabnya saya meminta suster memanggil salah satu dokter di IGD."    Alena sudah selesai dengan persiapannya. Kim Yeong menatap mata Alena. Alena menatap mata hitam Kim Yeong. Mereka saling mengangguk kemudian melakukan prosedur operasi bersama.    Di saat seperti inilah, profesionalitas dibutuhkan. Alena dan Kim Yeong memang sedang memiliki masalah. Namun sementara ini, mereka harus saling menurunkan ego masing-masing karena keselamatan pasien adalah hal yang utama. Dan mungkin, ini salah satu cara Tuhan untuk mendamaikan permasalahan mereka. ****   Kim Yeong’s POV    Sudah hampir jam 7 malam ketika aku dan Alena menjalankan operasi untuk satu pasien terakhir. Setelahnya kami bernafas lega. Setelah melepaskan segala perlengkapan operasi dan mencuci tangan dengan cairan desinfektan, Alena langsung terduduk di lantai. Menyandarkan kepalanya di dinding.    Aku sendiri juga merasa lelah. Duduk tak jauh di sampingnya. Ku perhatikan matanya yang terpejam. Bulu mata lentiknya bergerak-gerak lambat. Sangat menggemaskan. Ah, gadis ini benar-benar sudah menguasai hampir seluruh hati dan fikiranku. Saat hendak mengajaknya bicara, aku teringat peristiwa semalam. Aku yakin dia pasti masih kesal terhadapku. Seharian bersamanya, sorot matanya selalu serius. Mungkin memang begitulah Alena saat sedang bekerja.    "Al." Dia diam saja.    "Alena?" ulangku lagi sedikit keras sembari menyentuh bahunya. Ia tidak merespon. Justru tubuhnya akan terjatuh kesamping.    "Dia tertidur rupanya." Aku tersenyum. Aku menahan tubuhnya dan ku gendong dia ala bridal menuju salah satu ruang rawat. Ku baringkan Alena di ranjang pasien. Suhu tubuhnya terasa aneh. Ku sentuh dahinya. Panas. Segera aku mengambil kompres dan infus. Yah, aku teringat kami bahkan tidak sempat makan siang karena mobilitas yang sangat tinggi hari ini. Sekalian memesan makanan pada ibu kantin langganan Alena.     "Belum pulang, Dokter?" tanya bu Atik ketika aku mendekat.    "Belum, Bu. Baru saja selesai melakukan operasi. Soto ayamnya masih, Bu?"     "Masih, Dokter. Mau diantar ke ruangan?"    "Di antar ke ruang Lily saja, Bu." Aku merasa soto ayam merupakan makanan yang tepat malam yang lumayang dingin ini. Hangat dan berkuah. Tidak perlu susah-susah menelannya.    "Siapa yang sakit, Dokter?" tanya beliau seraya menyiapkan makanan yang aku pesan.    "Dokter Alena. Sepertinya kelelahan," jawabku jujur.    "Ah, iya. Saya juga tidak melihatnya sedari pagi," Aku hanya tersenyum.    "Sekalian sama teh hangat ya, Bu. Saya tinggal dulu," ujarku seraya meletakkan uang untuk membayar.    "Silakan, Dokter,"    Aku melangkah menuju ruang Farmasi untuk mengambil infus. Aku meminta 2 kantong infus pada kepala gudang penyimpanan yang bernama pak Agus. Awalnya dia mempertanyakan, namun setelah ku jelaskan keadaanku dan Alena akhirnya dia memberikannya. Aku segera kembali ke ruangan dimana Alena tertidur. Khawatir dia bangun dan butuh sesuatu.    Alena terbangun tepat saat aku kembali dari mengambil infus. Dia mengerjapkan mata kemudian melihat ke arahku. Raut wajahnya terlihat terkejut. Aku mendekati brankarnya saat dia hendak bergerak untuk bangun. "Ukhh," keluhnya sambil memegang kepala    "Kenapa Al? Pusing ya? Kamu tidur aja. Biar aku pasang infus sama kompres kamu. Badan kamu panas sekali." Dia diam saja saat aku mulai memasang infus    "Kamu tidur dulu ya. Aku temani kamu. Siang tadi kamu belum makan kan," ujarku mengelus punggung tangannya.    "K-kamu juga belum makan," sahutnya lirih. Aku tersenyum    "Aku sudah pesan makan ke ibu Atik. Setelah ini kita makan bersama, ya." Ia mengangguk pelan kemudian memejamkan mata.    Aku masih memandangi gadis di hadapanku. Aku teringat harus memberi tahu dokter Diana. Dan juga kemungkinan Alena tidak bisa pulang kerumah malam ini.   Tok, tok!    Ku urungkan niatku mengirim kabar pada dokter Diana, aku beranjak membuka pintu. Ku lihat bu Atik di depan pintu dengan membawa nampan berisi makanan.    "Ini pesanannya tadi, Dok. Biar saya taruh dalam."     "Tidak perlu, Bu. Biar saya saja." Aku mengambil nampan yang di bawa beliau.    "Baik, Dok. Silakan."    Ku letakkan makanan di meja kemudian menutup pintu. Ku lihat Alena kembali tertidur lelap. Aku urung membangunkannya. Biar saja kalau dia bangun nanti aku akan menyuapinya makan.    Aku duduk di sofa ruangan itu kemudian mulai menyantap makananku. Karena perutku sendiri sudah sangat lapar. Aku tidak boleh tumbang. Lalu siapa yang menjaga Alena kalau aku juga tumbang.     Saat suapan kelima, mata Alena mengerjap pelan. Ku letakkan piring dan mendekatinya.    "Dokter Kim." Aku menatap mata sayunya "Yeong. Kamu sudah bangun. Mau makan?" Dia menggeleng.    “Kenapa?”    “Pahit.”    “Justru itu kamu harus makan. Kalau dokternya sakit, gimana kamu mau ngobatin pasien?” Ia menghela nafas, pasrah    Aku mulai menyuapinya. Meskipun awalnya dia menolak. Namun karena tenaganya masih sangat lemah sehingga mau tidak mau dia akhirnya menerima suapanku.    "Sudah." Dia menolak suapan ke enamku.    "Baru 5 sendok Al. Lagi ya."    "Kenyang. Aku mau pulang."    "Kenyang bagaimana? Kamu seharian belum makan. Kalau kamu nggk habiskan makanannya aku nggak ijinin kamu pulang." Matanya membulat ke arahku. Ia akhirnya menurut.    10 menit kemudian makanan itu habis. Porsi makan Alena memang sepertinya tidak terlalu banyak. Makanan malam ini bu Atik sendiri yang menyiapkan dan aku tahu beliau sudah faham dengan selera Alena.     "Kamu nggak makan?" tanyanya setelah aku membantunya minum. Aku mengangguk    Dia melihat ke arah meja kemudian menatapku dengan pandangan seolah, 'kamu bohong'. Membuatku tersenyum geli.     "Sekarang giliranku untuk menghabiskan makananku. Kamu istirahat saja. Biar aku hubungi Ibumu," jarku menenangkan.    "Tapi aku mau pulang. Ukhh." Dia hendak bangun namun kembali memegang kepalanya.    "Kamu yakin mau pulang dengan kondisimu saat ini? Kamu tega ibumu mengomeli aku karena membawamu pulang dalam keadaan seperti ini?" Ku tambahkan ketegasan dalam nada bicaraku.    "Tapi, aku nggak mau berduaan dengan laki-laki di kamar seperti ini." Aku sangat memahami maksud Alena. Namun justru aku ingin menggodanya.    "Kamu kira apa yang seharusnya kita lakukan saat berduaan seperti ini?" godaku sambil tersenyum miring. Ia melotot    "Yeong..!!"    "Haha. Tenanglah Al. Aku tidak akan melakukan apapun pada kamu. Aku selesaikan makanku dulu." Dia mengangguk    "Yeong," panggilnya saat aku selesai makan. Aku melihatnya    "Terima kasih." Aku mendekatinya.    "Aku minta maaf untuk yang kemarin. Ijinkan aku menjelaskannya." Ia menggeleng.    "Tidak perlu. Aku bisa menerimanya."    "Kalau kamu bisa menerimanya, tolong dengarkan penjelasanku. Andara menungguku di parkiran. Aku tidak mungkin berbicara dengannya di tengah kegelapan semacam itu. Aku tidak mau membuatmu justru akan berfikiran buruk terhadapku. Aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikanmu Al. Aku sengaja duduk di dekat jendela agar bisa melihatmu. Aku minta maaf karena kamu yang telah melihatku terlebih dulu," jelasku panjang lebar.    "Kamu ... kenapa kamu minta maaf?"    "Aku tidak mau kita terus terlibat salah faham. Soal di mall kemarin, aku juga tidak bermaksud mengabaikan kamu. Maafkan aku. Aku hanya terlalu terkejut melihat dia. Aku justru memikirkan bagaimana menjelaskan agar kamu tidak salah faham. Tapi aku malah membuatmu kesal dan tidak nyaman." Dia hanya mengedipkan matanya. Ya ampun, dia cuek sekali.    "Aku mau tidur. Bisa tolong beritahu ibuku aku mungkin tidak bisa pulang malam ini." Aku mengangguk. Aku segera keluar ruangan untuk menelepon dokter Diana. *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN