BAB 19 SALAH FAHAM

1899 Kata
Alena’s PoV    Aku berganti pakaian dan menuju tempat parkir. Kim Yeong pasti sudah menungguku cukup lama karena aku harus merapikan beberapa berkas. Sampai depan lobi, aku mengitarkan pandanganku mencari keberadaannya. Ku lihat mobilnya masih terparkir, namun tidak nampak batang hidungnya. Dimana dia? Aku berusaha berfikir positif mungkin dia masih diruangan atau di kamar mandi.    Sedetik kemudian seorang security mendekat. Sebelum security itu benar-benar berada di dekatku, entah apa yang menggerakkan kepalaku. Aku melihat ke arah cafe yang terletak di seberang jalan. Awalnya aku merasa biasa saja, namun pandanganku terhenti ketika aku melihat sesosok yang ku kenal.    "Maaf, Dokter. Tadi saya dapat pesan dari dokter Kim kalau dokter Alena diminta menunggu sebentar. Dokter Kim sedang di cafe seberang menemui seorang temannya," ujar security itu.    "Tolong bilang ke dia kalau saya tidak bisa menunggunya, Pak," ujarku datar tanpa menoleh ke arah security. Aku masih menatap ke arah cafe itu. Mataku nanar. Aku tidak suka diabaikan seperti ini. Dia yang mengajakku. Dan sekarang dia menyuruhku menunggu. Memang dia fikir dia siapa.    Aku menghentikan taxi yang akan keluar halaman rumah sakit, tepat saat Kim Yeong menoleh ke arahku. Aku mengangguk lalu segera masuk ke dalam taxi.     “Aishh, sial,” umpatku     “Maaf, Bu?” Sopir taxi menanyaiku    “Oh tidak, Pak. Tolong antar saya ke perumahan Harmony.”    “Baik, Bu.”    Aku masih terdiam dan berusaha mengontrol emosiku. Aku menyusun rencana bagaimana mengakhiri sandiwara ini. Mungkin aku bisa mengaku kalau kami sudah putus begitu saja. Atau sekalian saja ku jelaskan kalau semua ini hanya pura-pura. Tapi bayangan kebahagiaan kedua orang tuaku berkelebat melintasi fikiranku. Harus kuakui meskipun awalnya mereka nampak terkejut, namun aku bisa melihat rona bahagia terlebih saat mereka menggodaku. Atau saat aku baru pulang dari kencan minggu lalu. Meskipun kencan yang gagal menurutku. Aku mendengus kesal. Sampai suara sopir taxi menyadarkanku.    "Maaf, Bu, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita." Aku menoleh. Itu mobil Yeong. Dia mengejarku?    "Kalau begitu jangan langsung ke perumahan Harmony, Pak. Tolong cari jalur memutar yang melewati keramaian." Aku tidak mau ada drama macam-macam di depan rumahku nanti.    Sopir taxi itu kemudian membelokkan kemudinya ke arah lain. Aku melihat dari spion tengah mobil Yeong masih membuntuti. Cukup jauh karena mulai terjadi kemacetan karena ini memang masih masuk jam pulang kerja. Dan entah dewi fortuna sedang berpihak padaku, perlintasan kereta api ditutup begitu taxi yang ku naiki usai melintas. Aku bernafas lega. Tidak mungkin Kim Yeong bisa mengejarku atau memutar balik mobilnya. Terlalu macet.    Aku segera masuk ke dalam rumah setelah membayar bill taxi. Ku beri sopir itu 2x dari tarif seharusnya. Tak lupa aku sangat berterimakasih karena telah membantuku    "Pak. Nanti kalau ada yang mencari saya. Siapapun itu, bilang kalau saya belum pulang," ucapku pada security rumahku.    "Baik, Non."    "Papa dan Mama belum sampai rumah?"    "Tadi sudah Non. Tapi langsung keluar lagi katanya Ibu sama Bapak harus ke pesta ulang tahun temannya. Den Abi juga belum pulang," jelasnya    "Baik, Pak. Saya masuk dulu."    Aku segera masuk rumah dan menuju kamarku. Aku ingin mandi. Tubuh dan fikiranku sama-sama lelah. Tenaga dan emosiku terlalu terkuras.    Aku sengaja mematikan lampu kamarku agar Yeong tidak curiga. Aku yakin dia segera menyusulku kerumah. Aku tidak mau bertemu dulu dengannya. Ah, aku ini kenapa? ****   Yeong’s PoV    "Sial. Pakai ada kereta pula." Aku mengumpat kesal. "Harusnya tadi aku langsung menuju rumahnya saja. Aku yakin dia hanya berputa-putar untuk mengecohku."     Jalanan sore ini rasanya lebih macet dari biasanya. Aku sudah tidak melihat taxi yang dinaiki Alena. Membuatku semakin gusar saja. Aku harus menjelaskan pada Alena. Aku yakin dia pasti sangat kesal kepadaku karena aku menyuruhnya menungguku yang akan berbicara dengan Andara. Padahal aku sudah mengajaknya untuk makan malam. Atau mengantarnya pulang. Sebenarnya maksudku hanya ingin mengatakan pada Andara agar wanita itu untuk menjauh dari kehidupanku.    Dan saat itu aku merutuki keputusanku untuk duduk di dekat jendela agar dapar melihatnya ketika keluar rumah sakit.    Apes!    Alena justru sudah melihatku terlebih dahulu. Segera ku tinggalkan caffe itu tanpa menggubris rengekan Andara. Biar saja dia kesal. Toh dia yang terlebih dahulu menghianatiku.    Setelah sekitar 30 menit terjebak kemacetan, aku akhirnya sampai didepan rumah Alena. Ku lihat lampu kamarnya masih gelap. Tapi aku merasa sebenarnya dia sudah dirumah. Mungkin menghindariku. God, apa dia membenciku sekarang? Mengakhiri sandiwara ini? Jujur aku sudah mulai bisa membuka perasaanku kembali. Kenapa justru serumit ini. Untuk memastikannya, aku akhirnya bertanya pada security rumahnya.    "Non Alena? Belum datang, Dok. Tadi sore yang pulang hanya bapak dan ibu kemudian langsung keluar lagi. Mungkin masih keluar sama den Abiyan karena tadi pagi berangkat bersama." Jawaban security yang ku tahu bernama Budi itu justru membuatku khawatir. Dimana kamu Al?    "Kalau begitu saya permisi pak. Mari." Pak Budi mengangguk ramah. Aku langsung masuk ke mobil. Dan mengambil ponsel dan mendial sebuah nomor. Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku.    "Ada apa?" sahutnya dari seberang. Terdengar sangat ramai membuatku menjauhkan handphone dari telingaku.    "Lo dimana? Gue mau bicara?" Aku akan menyalakan mesin mobil namun aku merasa ada sepasang mata yang sedang mengamatiku. Aku melihat keadaan. Tidak ada apa-apa.    "Lo kan punya cewek sekarang Yeong. Ganti kek curhatnya. Hhh," ujarnya santai.     "Justru ini menyangkut dia. Lo dimana sih berisik banget. Gue jemput lo."    "Lo apain Alena? Gue di Heaven Club. Yaudah sini gih. Biar lo nggak suntuk." Ya Tuhan, dia pasti mau mabuk.     "Lo tunggu di luar. Gue nggak mau masuk tempat kaya begitu," sungutku. Aku sungguh anti dengan tempat semacam itu.    "Iya bawel. Dah cepetan sini Lo. Gue udah jalan ke depan nih." Aku segera menjalankan mobilku. Namun lagi- lagi kurasakan ada yang sedang mengamatiku. Aku menoleh ke arah kamar Alena. Masih gelap. Tunggu, tirai kamarnya seperti bergerak. Seperti baru saja ada orang disitu. Aku tidak memikirkan hal lain karena memang tidak terlalu percaya pada hal-hal mistis semacam itu. Aku justru menduga sebenarnya Alena sudah di dalam kamar dan dia mengamatiku. Mungkin dia terlalu kesal terhadapku.    Ku pacu mobilku sedikit lebih cepat menuju Heaven Club untuk menjemput Freddy. Di depan perumahan aku berpapasan dengan mobil Abiyan. Tapi aku tidak melihat ada penumpang lain. Baik. Alena jelas dirumah sekarang. Aku lega. Setidaknya dia tidak pergi ke tempat lain.    Sampai di Heaven Club aku melihat Freddy yang sudah menunggu di pos satpam. Tampilannya khas orang baru sedikit mabuk. Kenapa sedikit? Aku pernah menjemputnya saat benar-benar mabuk. Keadaannya sangat mengerikan.    Ku akui, bahkan saat hidup di Korea-pun aku tidak pernah menyentuh tempat-tempat semacam ini. Hanya terkadang aku minum soju itu pun hanya di apartemen atau saat makan bersama kawan- kawanku dan masih dalam batas wajar. Selain karena profesiku, aku juga perlu menjaga reputasi ayahku yang tidak sedikit musuhnya. Teledor sedikit maka habislah keluargaku. Prinsipku, jika aku belum bisa meneruskan perusahaan ayahku setidaknya aku tidak mempermalukan apalagi merusaknya. Apalagi agen gosip di Korea jauh lebih sadis dari pada Indonesia. Membayangkannya saja membuatku bergidik.    "Lo habis muter ke Arab dulu apa gimana? Lama banget," tanyanya sambil memasang seatbelt. Aku mencium bau alkohol yang lumayan menyengat    "Habis berapa botol lo?" sinisku     "Belum juga habis satu botol. Gue nggak mau lo nunggu makanya gue kedepan dulu. Malah lo yang lama," gerutunya.    "Gue dari rumah Alena tadi." Freddy membulatkan matanya.    "Terus lo jauh-jauh kesini ninggalin dia?" Aku menggeleng    "Lalu?"    "Ceritanya panjang. Sampai di apartemen nanti gue ceritain." Freddy mendengus tapi dia diam saja. *****     Sementara disudut lain, Andara masih terduduk di caffe depan rumah sakit Alena. Ia tampak geram dan mengomel sendiri. Ia sangat gusar. Bagaimana mungkin Kim Yeong yang dulu sangat tergila-gila padanya begitu mudah tertarik pada perempuan lain. Ia tahu memang dulu ia sangat berdosa karena menghianati bahkan menghancurkan kehidupan Yeong. Namun ia sama sekali tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya dulu telah membuat Yeong sangat frustasi yang lebih mengerikan dari bayangannya. Bahkan Ny. Aira ibu Kim Yeong sudah sangat tidak sudi hanya sekedar melihat wajahnya meski dari kejauhan.    "Aku sudah susah-susah kemari bahkan rela meninggalkan karirku yang saat ini semakin menanjak," desisnya marah.    Tiba-tiba ia memiliki sebuah ide. "Aku yakin wanita itu pasti sedang kesal terhadap Yeong sekarang. Sekalian saja ku buat mereka berjauhan." Sambil tersenyum sinis ia mengirim pesan kepada seorang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Alena kemudian pulang ke hotel tempatnya menginap.    Andara melupakan satu hal, yakni Alena dan Kim Yeong bekerja di rumah sakit yang sama. "Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka orang lain pun tidak," gumamnya sinis ****    Freddy tak henti-hentinya tertawa mendengar penjelasan Yeong membuat sang empunya kisah semakin kesal.    "Kalau tahu lo masih mabuk, baiknya gue ceritain besok aja. Percuma gue punya temen pinter tapi nggak nasih solusi." Kim Yeong mendengus kesal. Freddy bahkan tertawa lebih lepas melihat kejengkelan sahabatnya ini. Ia tidak mabuk dan ia sadar akan hal itu. Namun ditangannya memang ada sekaleng bir yang Kim Yeong sendiri tidak tahu sejak kapan Freddy membawanya.    "Gue nggak bisa jawab apapun selain ketawa. Gue tanya sekarang. Lo suka sama Alena?" tanya Freddy serius disela tawanya.    "Gue nggak bisa bilang iya, tapi gua juga nggak memungkiri kalau gue tertarik sama dia. Selama ini kami nggak banyak berinteraksi. Tapi lihat dia pergi gitu gue ngerasa sangat bersalah. Dan gue bisa lihat kemarahan dimatanya," jelas Yeong    "Yah, jelaslah dia marah. Lo keterlaluan sih. Lagian lo ngapain juga peduli sama orang kaya Andara. Kenapa lo nggak ajak dia ngobrol di lobi rumah sakit? Atau di pos security?"    "Lo tahu sendiri gimana nguselnya Andara sama gue," protes Yeong    "Dan lo juga tahu gimana agresifnya mantan lo itu kalau menginginkan sesuatu. Bukan nggak mungkin dia bakal ngelakuin hal yang aneh-aneh pada Alena," potong Freddy. Kali ini Yeong terdiam. Sedikit mabuk justru membuat omongan Freddy menjadi lebih kasar namun jauh lebih masuk akal.    "Saran gue sebaiknya lo minta maaf sama Alena. Lo jelasin baik-baik deh. Sekalian Lo ingetin dia soal gimana Andara yang bisa mengandalkan segala cara untuk mencapai ambisinya. Lo kan satu tempat kerja sama dia. Bisa kali nemuin dia kapanpun."    "Bukan perkara gampang buat nemuin Alena. Selain gue nggak mau kena gosip macem-macem dia juga bener-bener pendiem. Susah didekati," jelas Yeong bersungguh-sungguh.    "Udah tahu Alena susah didekati kenapa malah lo bikin begini. For you information, Bro, Alena itu banyak yang suka. Cuma gue rasa keadaan bakal lebih berpihak sama lo seandainya lo nggak ngelakuin kesalahan kayak tadi." Yeong terdiam. Mau tidak mau ia harus mengakui kalau ialah yang salah dalam hal ini.    "Bukan tanpa alasan gue minta bantuan lo waktu itu. Gue tahu lo udah tertarik sama dia sejak awal. Kalau gue mau egois, bisa aja gue iyain kemauan orang tua kami. Persetan dengan yang namanya cinta. Toh Alena juga nggak akan berani bantah orang tuanya," jelas Freddy. Kim Yeong menghela nafas.    “Gue boleh tanya satu hal?” tambahnya. Kim Yeong menautkan kedua alisnya tanda bertanya. “Lo suka beneran sama Alena?”    “Gue...” Kim Yeong menghela nafas. Ia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Meskipun harus diakui, ada semacam rasa yang sulit dijelaskan. Ia tidak mengerti kenapa, bahkan hanya mendengar seseorang menyebut nama Alena saja sudah membuat hatinya bergetar.    “Kalau emang lo beneran suka sama dia, nyatain lah. Cewek itu butuh kepastian. Berhentilah saling menggoda”    “Menggoda?” Kim Yeong melotot.    “Terus apa hubungan kalian, kalian saling menyukai tapi nggak mau mengakui perasaan masing-masing. Ada kata lain yang tepat selain saling menggoda?” Kalimat terakhir Freddy membuat Kim Yeong tertegun.     "Baru kali ini gue ketemu perempuan macam dia. Bahkan ketampanan gue aja nggak bisa meluluhkan hatinya."     Mendengarnya membuat Freddy menunjukkan ekspresi ingin muntah. "Udah lo tidur sono. Dasar pemabuk."    Freddy mendengus kesal, "Biar gue mabuk tapi bisa ngasih pendapat yang masuk akal kan ke lo. Kalau gue lagi sadar bisa-bisa gue nikahin Alena saat ini juga," ujarnya santai membuat Kim Yeong membulatkan matanya. Kim Yeong menuju kamarnya dan mengambil selimut untuk Freddy
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN