BAB 18 THE PAST

1780 Kata
   "Ren," panggil Alena. Gadis itu menghentikan aktivitasnya mengaduk-aduk es puternya lantas menoleh namun Alena ternyata tidak memandangnya. Rena mengikuti arah pandang Alena. Seketika matanya membola. Rena kembali menatap Alena dan mendapati mata bening Alena yang berubah mengeruh.    "Lena," Rena mengusap lembut pundak Alena. Gadis itu masih membatu. Otaknya berfikir keras mencari sebuah ide yang ternyata tidak mudah. Buntu. Apa yang dia saksikan saat ini benar-benar seperti skakmat.    "Lo mau temui mereka?" tanya Rena hati-hati. Alena menggeleng.    Alena, Rena dan Luna adalah teman yang begitu dekat. Rumah kontrakan merekapun masih dalam satu komplek. Sejauh yang Alena dan Rena ketahui, Luna sudah memiliki kekasih. Tapi pemandangan yang tersaji dihadapan mereka seolah begitu menohok bagi Alena. Hingga dia bingung harus bersikap bagaimana.    Ingin sedih? Ingin menangis? Rasanya percuma menangisi kedua penghianat tersebut. Tapi, please, Alena juga manusia biasa. Tak bisa ia pungkiri jika perasaannya terluka, terlebih Luna adalah temannya sendiri. Apakah dia harus bahagia? Karena Tuhan begitu baik menunjukkan siapa sebenarnya mereka berdua. Terlebih Jonathan. Disadari atau tidak hal itu membuat Alena sedikit bersyukur karena belum pernah sekalipun mengenalkan laki-laki itu pada keluarganya, sekalipun itu Abiyan.    "Potret mereka, Ren. Gue mohon," Alena akhirnya menyodorkan ponselnya pada Rena dan tanpa membantah apapun Rena menuruti permintaan Alena. Jujur, hati Renapun merasakan sakit. Bagaimana tidak, dengan mata kepala mereka sendiri Jonathan tengah berciuman dengan seseorang yang pada kenyataannya adalah sahabat mereka juga, Luna. Sangat intim, padahal saat ini mereka berada ditempat umum.     "Gue udah dapet fotonya. Apa yang akan lo lakukan?" tanya Rena memecah kesunyian dan kembali menyodorkan ponsel Alena pada empunya. Tanpa Rena duga, Alena justru menghubungi nomor Jonathan. Rena menatap ke arah Jonathan dan Luna yang kini melepaskan pagutan mereka. Jarak antara Alena dan Rena dengan Jonathan dan Luna hanya sekitar 20 meter dengan beberapa tanaman yang menjulang cukup tinggi berderet didepan Alena. Tampak jelas kegugupan dari sikap mereka berdua.     "Halo, Sayang," sahut Jonathan dari seberang. Rena juga bisa mendengarkan suara laki-laki itu karena Alena mengaktifkan loudspeaker.    "Sayang, kamu dimana? Sibuk nggak?" tanya Alena berusaha tenang. Sumpah Neptunus Rena harus mengakui kemampuan sandiwara sahabatnya ini. Meskipun tipis, Rena tentu bisa mendengar suara Alena yang sedikit bergetar.    "Aku, ya nggak seberapa sibuk, Sayang. Ada apa?" Alena dan Rena saling menatap dan Rena tersenyum miring. Bibirnya berucap tanpa suara 'Ya iyalah nggak sibuk,' Alena tersenyum tipis meskipun genangan air mata sudah nampak berkumpul di pelupuk mata Alena, bersiap melompat keluar.    Katakanlah Alena bukan tipe orang yang akan merayu-rayu dan sebucin itu pada cinta. Tapi penghiatan semacam ini, siapa bisa menduganya?    "Aku butuh pendapat kamu tentang sesuatu. Aku kirim fotonya ke kamu, ya?" suara Alena sangat lembut. Rena sedikit bergidik melihat ketenangan Alena. Memang ya, orang pendiam kalau marah lebih menyeramkan. Apalagi tipe-tipe semacam Alena. Marah dalam diam dan tetap menunjukkan ketenangan. Tapi pada akhirnya, boom.    Alena lantas berdiri dan menatap layar ponselnya. Ia amati lekat-lekat gambar tersebut. Sakit. Hati Alena sangat sakit. Bohong kalau dia tidak ingin menangis, tapi itu nanti. Alena akan menangis nanti saat sampai dirumahnya. Rena mengikuti sikap Alena.    "Gue tunggu lo di mobil," ucap Rena. Ia bisa menebak apa yang akan dilakukan Alena. Alena mengangguk.    Begitu Rena beranjak, Alena menatap tajam Jonathan yang masih mengamati layar ponselnya. Lunapun terlihat penasaran meskipun wajahnya masih menunjukkan cemburu.    "Gue yang pacarnya kenapa muka lo yang cemburu," desis Alena lantas segera menekan tombol 'send' di aplikasi chatnya untuk mengirim gambar yang berhasil di ambil Rena.     Alena sudah memutar badannya untuk menuju mobil Rena yang menantinya diseberang jalan. Namun wajahnya masih melihat kearah Jonathan dan Luna yang tampak terkejut dan kini celingukan seperti mencari sesuatu disekitar mereka. Begitu mereka berdua melihat keberadaannya, tanpa ekspresi apapun Alena melangkah meninggalkan tempatnya berpijak saat ini.     Alena bergegas memasuki mobil Rena saat Jonathan bergerak mengejarmya. Tangisnya seketika pecah didalam mobil. Rena langsung menjalankan mobil dan hanya bisa diam sambil sesekali menenangkan dengan mengusap pelan punggung Alena. Karena Rena sendiri berada diposisi yang sulit. Ia tidak tahu apa alasan Jonathan dan Luna melakukan hal tersebut. Tapi yang jelas, sebagai wanita normal ia bisa merasakan sakitnya perasaan Alena. Rena tidak ingin ikut campur, namun dimatanya apa yang dilakukan Luna memang sebuah kesalahan. Apapun alasannya. ** flashback out **    Lee Andara adalah wanita keturunan Indonesia- Korea namun berkebangsaan Korea. Ia berprofesi sebagai seorang fashion desainer yang karyanya telah merambah pasar internasional. Dengan usia yang masih sangat muda, ia menjadi sangat diperhitungkan di dunia mode. Clientnya pun tersebar di berbagai belahan dunia. Hampir semua pecinta industri mode mengenalnya. Baik secara personal maupun secara profesional.    Ialah wanita yang selama beberapa tahun mewarnai kehidupan Kim Yeong. Dimulai semenjak laki-laki itu menyelesaikan pendidikan spesialisnya. Sebagai pasangan mereka tampak saling mencintai dan serasi. Serta memiliki masa depan yang bagus. Hanya satu kesulitannya. Ia sempat kesulitan untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua Kim Yeong, terutama Nyonya Aira. Ibu Kim Yeong memang bukan orang yang mudah untuk memberi restu. Beliau merasa Andara tidak cocok dengan Kim Yeong.    Sebagai seorang ibu, Ny. Aira tahu betul bagaimana instingnya mengenai wanita yang dicintai putranya tersebut. Selain itu, ibu Kim Yeong tersebut berharap agar putranya menikah dengan gadis warga Indonesia saja. Itu juga akan memudahkan untuk menahan Kim Yeong agar ia bersedia pulang ke Indonesia. Namun, perjuangan Kim Yeong dan Andara membuahkan hasil. Kedua orang tuanya merestui. Pernikahan-pun sudah direncanakan dengan matang.     Tiba-tiba Andara menghilang yang membuat gusar Kim Yeong beserta orang tua mereka. Bagaimana tidak, pernikahan tinggal kurang dari satu bulan, sang calon pengantin wanita seperti hilang ditelan bumi.    Seminggu kemudian, ia datang menemui Kim Yeong. Mengembalikan cincin pertunangan yang pernah disematkan Kim Yeong ke jari manisnya. Tak lupa barang-barang hadiah dari Kim Yeong juga dikembalikan.    "Aku tidak bisa bersamamu, Kim Yeong-ssi." Kata- katanya waktu itu    "Tapi kau begitu bersemangat saat menerima lamaranku, Andara," jawab Kim Yeong    "Waktu itu aku salah mengartikan segalanya tentang cinta," ujarnya kemudian. "Aku tidak ingin kehilangan karirku dengan menikah." Kemudian meninggalkan Kim Yeong dan justru sengaja bermain gila dengan salah satu teman Kim Yeong saat hari dimana pernikahan mereka harusnya dilakukan.    Ya, Lee Andara begitu takut kehilangan karirnya. Ia merasa dengan menikah maka tak akan bisa bebas berkarir seperti saat dia masih sendiri.    Lalu apakah kini Andara menemukan kebahagiannya? Saat karirnya melambung, ia justru dihadapkan pada suatu penyesalan. Penyesalan mendalam. Meninggalkan Kim Yeong. Kemudian menghianatinya di hari yang harusnya mereka berbahagia. Ia teringat betapa murkanya ibu Kim Yeong hingga menumpahkan sumpah serapah. Nyonya Aira sangat menyesal pernah memberikan kata restu pada wanita tersebut untuk menikahi putranya.     Lalu Kim Yeong? Ia mengalami rasa sakit yang cukup mendalam. Menjadi sosok yang dingin dan penyendiri. Sedikit menyesal karena tidak mendengarkan ucapan ibunya. Meskipun ibunya tidak menyalahkan dirinya. Lebih dari tiga tahun ia seperti itu. Lalu ada tawaran untuk bertugas di Indonesia, tanpa babibu lagi ia langsung mengiyakan. Terutama untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya yang sempat murka karena ia tidak bersedia meneruskan estafet perusahaan.    Andara menyusul Kim Yeong ke Indonesia. Ia ingin meminta maaf sekaligus memperbaiki hubungannya dengan dokter tampan tersebut. Namun, harapannya sirna seketika, manakala ia melihat Kim Yeong dengan bahagianya bergandengan tangan dengan gadis lain. Ia merasa cemburu. Dan Andara bertekad akan mengambil Kim Yeong dari gadis itu.    Kini Andara sudah menemukan kembali Kim Yeong. Akankah dia bisa mendapatkan simpati dari Kim Yeong lagi? ****      Suasana rumah sakit hari ini cukup sibuk. Alena baru keluar dari ruang operasi setelah berjuang selama 6 jam. Setelah membersihkan tangan dengan cairan desinfektan, ia menuju ruangannya untuk berganti pakaian. Ia menengok jam di tangannya. Sudah jam 6 sore.    Alena baru saja menjalani operasi bersama beberapa rekannya. Salah satunya dokter Kim Yeong. Beberapa hari telah berlalu semenjak kencan mereka, Alena sama sekali belum berinteraksi dengan Kim Yeong. Ia lebih memilih menghindar.     Alena menghindar bukan karena tidak peduli. Ia hanya ingin memberi Kim Yeong dan Andara untuk menyelesaikan masalah mereka. Ia tidak mau terlalu ikut campur dan terlibat perasaan dengan orang yang masih memiliki masa lalu yang nampaknya masih mengejarnya.    Kim Yeong menyadarinya. Terutama saat melakukan prosedur operasi tadi. Ia merasa Alena sangat menyeramkan. Tegasnya luar biasa, dan sudah beberapa hari ia tidak melihat Alena tersenyum. Alena bahkan jarang terlihat untuk sekedar ke kantin.     Kim Yeong mengikuti Alena. Ia tidak tahan jika terlalu lama didiamkan oleh gadis yang mulai memenuhi sebagian akal sehatnya itu    "Dokter Alena," panggilnya sebelum gadis itu masuk lift. Alena menoleh    "Iya, dokter Kim. Ada yang bisa saya bantu?" Suara Alena terdengar datar. Tanpa ekspresi    "Saya yakin dokter belum makan dari siang. Mau saya temani?"    "Oh terima kasih dokter Kim. Tapi saya akan makan malam dirumah. Permisi." Alena menghindar.    "Al." Kim Yeong menahan tangannya, "Ada yang harus aku bicarakan." Kalimat akhir dari Kim Yeong membuat Alena luruh. "Baiklah."    "Aku tunggu kamu di parkiran ya. Aku lihat tadi pagi kamu di antar adikmu." Alena hanya mengangguk kemudian masuk lift. ****    Kim Yeong sedang menuju tempat parkir ketika di lihatnya ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Wanita. Ia melihat kearah Kim Yeong kemudian berjalan mendekat    "Syukurlah aku bisa menemuimu disini. Ada yang ingin aku bicarakan," ujar wanita itu yang tak lain adalah Andara    "Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Andara? Menggirlah aku sedang buru-buru." Yeong berjalan ke sisi kanan. Namun Andara mengejar langkahnya dengan menghadang Kim Yeong.    "Apa maumu?" Kim Yeong geram     "Tolonglah, Kim Yeong-ssi. Sebentar saja." Andara memohon. Kim Yeong berfikir sejenak.    "Baiklah. Kita ke cafe diseberang jalan." Tampak mata Andara berbinar.    "Pak, saya mau ke cafe depan. Kalau dokter Alena keluar tolong beritahu untuk menunggu sebentar," ujar Kim Yeong kepada security.    "Baik, Dok."    Ketika mereka akan menyeberang, Andara sengaja meraih tangan Kim Yeong, namun segera di tepis oleh lelaki itu. Ia berjalan sedikit cepat didepan Andara, karena menyadari betapa agresifnya wanita di sampingnya ini. Membuat wanita itu sempat kesulitan untuk mengejar langkahnya hingga nyaris terjungkal, namun Kim Yeong cuek saja.    Sampai di cafe, mereka duduk di bangku yang terletak di samping jendela kaca. Tujuan Kim Yeong duduk disitu adalah agar dia dapat melihat Alena saat keluar dari rumah sakit. Namun bukannya Kim Yeong yang melihat Alena. Justru gadis itu saat ini berdiri terpaku ditempatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.    "Kenapa aku membiarkan dia membodohiku lagi? Masa lalunya telah kembali. Mereka juga terlihat serasi. Seharusnya sandiwara ini segera ku akhiri," desis Alena. Ia terus menatap ke arah Kim Yeong duduk dan terlihat sangat serius berbicara dengan Andara.    Alena melihat ada taxi yang akan keluar dari rumah sakit. Ia menghentikannya. Tepat saat taxi berhenti, Kim Yeong melihat Alena. Dan Alena masih menatap ke arahnya. Kemudian dengan anggukan gadis itu masuk ke dalam taxi. Kim Yeong segera berlari keluar cafe. Ia sempat ditahan oleh Andara, namun disibaknya tangan Andara.    "Pergilah. Dan jangan pernah muncul di hadapanku atau kekasihku lagi," ujar Kim Yeong gusar meninggalkan Andara    "Sial. Kau sudah gila dengan mengejar gadis itu dan mengabaikanku, Kim Yeong-ssi," desis Andara kesal. Ia sendiri hendak mengejar Kim Yeong namun laki-laki itu sudah masuk ke mobilnya. Mengejar taxi Alena. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN