*Alena's PoV*
Sambil menikmati ice cream, aku dan Yeong berjalan menuju CinemaX. Ya, di kencan pertama dalam hububngan sandiwara ini aku ingin menonton The Pirates of Carribean. Dan senangku karena laki-laki disampingku ini menyetujui ideku. Ia nampak antusias.
"Kita masuk?" tanyanya setelah membayar tiket.
Sekotak popcorn telah siap ditanganku. Aku mengangguk pelan. Saat berjalan menuju theater, kami melewati tempat dimana kami pertama kali bertemu. Ya, didepan pintu toilet.
"Ingat tempat ini?" tanyanya sambil menahan tawa. Aku hanya terkekeh
"Kim Yeong-ssi? Kaukah itu?" suara seseorang memanggil. Aku dan Yeong kompak menoleh. Wanita.
"Oh Tuhan, ternyata benar itu kau," sambungnya. Aku melihat perubahan di wajah Yeong. Sulit kuartikan.
"Oh. Hai, Andara," sapanya pendek
"Kebetulan sekali. Aku memang ingin menemuimu." Wanita bernama Andara itu berjalan mendekat. Terlihat sangat antusias.
"Ada perlu apa kau mencariku?"
"Kita bisa bicara? Berdua?" Pandanganku berfokus pada Yeong
"Tidakkah kau lihat aku sedang bersama orang lain?" Andara melihatku. Nampaknya ia baru sadar ada orang lain (atau mungkin tidak peduli?)
"Yeoja chingu?" Tanyanya. Yeong mengangguk. "Maaf kami harus pergi." Yeong menggandengku masuk.
"Ah, apakah aku bisa menghubungimu? Aku sangat merindukanmu!" Ia sedikit berteriak. Tapi entah kenapa, justru aku yang malu
Kim Yeong tidak mempedulikannya dan terus menggandengku masuk ke dalam theater. Aku sempat menoleh dibalik punggungku dan melihat ekspresi sangat kesal dari wanita bernama Andara itu.
Film di putar, namun sepanjang menonton aku perhatikan Yeong lebih sering melamun. Aku tidak nyaman seperti ini. Walaupun aku tidak suka mengobrol saat nonton, namun aku juga tidak bisa diam terus begini. Akhirnya saat film baru berjalan sekitar 40% aku menariknya keluar.
"Are you ok?” Kami duduk di loby CinemaX. Dia hanya mengangguk pelan.
“Kalau kamu tidak nyaman, lebih baik kita pulang.” Aku berdiri. Namun dia masih duduk saja.
“Yeong-ah,” panggilku.
“Dia masa laluku,” ujarnya lirih saat kami menuju parkiran. Aku berhenti sejenak, menolehnya.
“Kamu memikirkan dia?” selidikku. Wajahnya terlihat sangat sendu.
Entah kenapa aku sangat tidak suka melihatnya seperti ini. Saat berangkat tadi ia terlihat antusias dan menyenangkan. Namun semua berubah setelah bertemu wanita bernama Andara itu. Aku terdiam. Hingga dalam mobil-pun aku tetap diam, sepanjang perjalanan kami.
"Maafkan aku merusak acara kita," ujarnya pelan saat sudah sampai di depan rumahku.
"Terima kasih atas ajakannya. Permisi." Aku membuka pintu mobil dan langsung masuk rumah.
Begitu menutup pintu rumah, aku masih melihat mobilnya di depan gerbang rumahku. Hingga aku naik ke kamarku, ku lihat sekilas dari jendela kamarku, ia masih disana. Ah, bodolah. Aku ingin tidur.
*Yeong’s PoV*
Aku meletakkan tubuhku di kasur dengan gusar. Aku mengutuk diriku berulangkali. Ingatanku berputar. Aku mengajak Alena berkencan dan harus kuakui dia sangat memesona.
Rok putih dibawah lutut dengan atasan kuning muda berlengan dengan aksen pita. Aku menggandeng tangannya. Melihatnya begitu bahagia mendapatkan ice cream kesukaannya. Ada perasaan senang dan hangat melihatnya seceria itu.
Tiba-tiba sesosok wanita muncul di hadapanku. Wanita yang sudah tidak kuharapkan lagi kehadirannya. Wanita yang membuatku sempat merasa ketakutan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Ingatan itu kembali. Luka yang dulu dibuatnya.
Aku pernah sangat berbahagia dengannya. Melamarnya. Ingin menjadikannya wanitaku satu- satunya seumur hidupku. Namun sirna. Dua minggu sebelum pernikahan, ia mengembalikan cincin pertunangan kami. Mengembalikan semua benda yang ku berikan padanya.
"Aku tidak bisa bersamamu, Kim Yeong-ssi." Kata- katanya kembali terngiang di telingaku.
"Tapi kau begitu bersemangat saat menerima lamaranku, Andara," jawabku
"Waktu itu aku salah mengartikan segalanya tentang cinta," ujarnya kemudian. "Aku tidak ingin kehilangan karirku dengan menikah."
Semakin hancur perasaanku, ketika pada hari yang seharusnya aku menikah dengannya aku justru melihatnya bermesraan dengan salah satu teman karibku semasa kuliah.
Deg!!
Malam ini dia muncul. Dengan tanpa rasa berdosa ia mengatakan 'merindukanku'. Sialnya, aku sedang bersama Alena. Sesungguhnya aku terdiam bukan karena Andara, namun aku memikirkan Alena. Bagaimana perasaannya saat itu.
Lebih kurang ajar lagi, ingatan buruk itu muncul. Alena yang menyadari aku tidak bisa fokus kemudian mengajakku pulang.
"Are you ok?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.
"Kalau kamu tidak nyaman, lebih baik kita pulang." Dia berdiri. Berjalan 2 langkah di depanku.
"Yeong-ah," panggilnya lagi.
"Dia masa laluku," ujarku lirih saat kami menuju parkiran. Langkah Alena terhenti, menolehku, "Kamu memikirkan dia?" Dan setelahnya ia hanya terdiam. Sepanjang perjalanan hingga sampai kerumahnya.
Aku meminta maaf karena telah bersikap seperti ini. Aku mungkin telah menghancurkan moodnya malam ini. Dan dia, hanya berterima kasih kemudian keluar dari mobilku. Terdengar nada kekesalan dan kekecewaan. Aku menghela nafas. Aku jelas membuatnya kecewa.
Aku masih memperhatikannya. Hingga ia masuk rumah. Hingga lampu disalah satu ruangan di lantai dua menyala. Aku yakin itu kamarnya. Setelahnya aku kembali ke apartemenku.
Aku meraih ponselku. Ingin menelpon Alena. Aku ingin mendengar suaranya. Mungkin ini terdengar klise, namun mendengar suaranya mampu membuat hatiku merasa lebih tenang. Namun, kuurungkan niat itu. Tak mungkin dia mengangkatnya. Mungkin sandiwara ini akan berakhir lebih cepat dari dugaanku. Aku memejamkan mata. Ingin membawa Alena kedalam mimpi, dengan tampilannya yang hari ini telah menyihirku.
****
Author's PoV
Hingga menjelang tengah malam Alena masih belum bisa memejamkan matanya. Fikirannya masih berkeliaran mengingat acara kencannya dengan Kim Yeong beberapa jam yang lalu. Harus diakui ia menjadi sedikit gusar. Bukan hanya karena gagal menonton film yang sudah diinginkannya sejak lama, namun ada sedikit rasa tidak rela mendapati laki-laki yang tengah berkencan dengannya justru bertemu masa lalunya.
Alena bisa melihat dengan jelas binar cinta di mata wanita itu. Pun dengan sorot mata Kim Yeong yang berubah mengeruh, padahal beberapa menit sebelumnya mereka masih tertawa bersama. Kesal, itulah yang Alena rasakan.
Jujur, Alena sendiri pernah merasakan hal yang juga menyakitkan. Dan hingga kini nampaknya ia harus bersyukur karena tidak pernah bertemu Jonathan. Alena jadi berfikir, jika suatu hari nanti ia bertemu pria yang pernah sedemikian melukainya tersebut meskipun Alena sama sekali tidak mengharapkannya, mungkinkah dia juga akan bersikap demikian?
Biar bagaimanapun, mereka pernah saling mencintai. Meskipun harus di akhiri dengan sakit hati pada diri Alena atas perbuatan Jonathan.
** flashback in **
"Lo langsung pulang, Len?" tanya Rena, teman dekat Alena sesaat setelah kelas berakhir.
"Gue mau ke perpustakaan dulu sih, rencananya," jawab Alena sambil bersiap dan mengemasi beberapa bukunya.
"Untuk?"
"Mau pinjam beberapa buku. Sama mau nebeng wifi bentar,"
"Buru-buru nggak?"
Kening Alena mengernyit, "Ada apa emang?"
"Ada sesuatu yang harus gue bilang ke lo," ucap Rena.
"Apaan?"
"Jangan disini. Gue temenin lo ke perpustakaan," Rena bangkit dan keduanya berjalan meninggalkan kelas menuju tempat parkir.
"Ngomong-ngomong si Luna kemana ya, Ren? Kok beberapa hari ini gue nggak lihat dia dikampus?" tanya Alena seraya memasang seatbelt. Mereka mengendarai mobil Rena, jelas karena Alena masih belum berani mengemudi sendiri.
Rena menghela nafas panjang. Apa yang ingin dia sampaikan memang berkaitan dengan salah satu sahabat mereka itu. Antara yakin dan tidak, sebab Rena takut menyakiti perasaan Alena.
"Yang mau gue bicarakan sama lo, ya ... mengenai Luna,"
"Ada apa?" tanya Alena penasaran.
"Gue ... gue nggak tahu lo bakal percaya atau nggak sama gue, Len ... tapi, tapi beberapa hari terakhir ... gue sering lihat cowok lo keluar dari kontrakannya si Luna ... hampir tengah malem," jelas Rena hati-hati.
Alena terdiam. Masih mencerna maksud perkataan Rena. Nyaris tanpa ekspresi. Dan ... ada sedikit perasaan aneh dalam hatinya. Lebih tepatnya, rasa sakit.
"Jonathan?" tanya Alena memastikan. Rena mengangguk.
"Gue tahu ini pasti sulit buat lo. Tapi sumpah, itu yang gue lihat. Gue juga nggak mau nuduh macem-macem. Tapi ..." Rena sengaja menggantung kalimatnya untuk memancing reaksi Alena.
"Tapi?" buru Alena tidak sabar.
"Gue cuma minta lo persiapkan buat kemungkinan terburuk. Gue nggak tahu kenapa, Len. Tapi insting gue punya firasat yang kuat. Apalagi gue sama Luna udah temenan dari SMA,"
Raut wajah Alena sama sekali tidak terbaca oleh Rena. Karena memang Alena adalah sosok yang tidak tertebak. Terkadang cenderung dingin dan cuek.
"Tapi, Jonathan kan lagi training kerjaan di Semarang, Ren," bantah Alena. Ia tidak meragukan ucapan Rena, tetapi memang setahu dia kekasihnya tersebut harusnya berada di Semarang.
"Gue juga tahu itu, Lena. Malah waktu lo sakit kemarin gue kabarin dia, katanya belum bisa jengukin lo karena masih awal training kan?" Alena mengangguk.
"Gue harus cari tahu dulu, Ren. Bukan gue nggak percaya sama lo,"
Rena mengangguk mengerti, "Iya gue ngerti, Len. Gue juga bakal bantu lo. Gue nggak mau dua temen baik gue kenapa-kenapa gara-gara satu cowok,"
"Thanks, Ren,"
"Jadi ke perpus?" tanya Rena sebelum menarik tuas transmisi gigi. Alena yang menggeleng membuat Rena keheranan.
"Tiba-tiba mood gue nggak enak. Kita muter-muter aja yuk. Keliling kampus, gimana?"
"Oke," Rena segera menjalankan mobilnya dengan tenang untuk mengitari area seluas kurang lebih 180 ha tersebut.
Sesekali kedua sahabat tersebut melontarkan candaan. Atau menanggapi ucapan dari penyiar radio yang dinyalakan oleh Rena. Mengomentari apapun yang mereka lihat. Rena tahu Alena memang cenderung dingin dan tenang, tapi itu hanya berlaku jika mereka berada dikelas. Saat mereka berduaan seperti ini, lain lagi ceritanya.
"Mata kuliah lo banyak banget yang kacau, Len?"
Alena yang tengah menoleh ke sisi luar jendelapun menoleh, "Nggak seberapa sih. Masih bisa ngejar skripsian disemester 7 kok,"
"Syukurlah. Gue takut kalau lo jadi molor gara-gara sakit lo waktu itu."
"Thanks, Ren. Untungnya sih dari semester awal udah banyak yang gue ambil. Jadi, ya, nggak seberapa ngefek. Masih bisa gue kejar kok," jawab Alena lugas.
"Lo liburan minggu depan nggak pulang ke Jakarta?"
"Pulang dong,"
"Nyetir?" Alena menggeleng cepat.
"Gue masih takut. Kayaknya, gue bakal coba naik kereta api aja,"
"Whoa, yakin lho? Emang belum pernah sama sekali?" Kembali Alena menggeleng.
"Makanya gue pengen coba. Lagian rumah gue deket kok dari Stasiun Gambir. Kayaknya ... seru sih ... naik kereta api," tukas Alena bersemangat. Dari dulu Alena selalu berkeinginan untuk bisa menaiki moda transportasi umum tersebut namun belum memiliki kesempatan sama sekali. Mungkin, Alena harus tetap bersyukur meskipun pernah mengalami kecelakaan pagi itu. Karena ia masih takut mengemudi, membuatnya memiliki kesempatan. Dan sepertinya, ada hal lain yang akan disyukuri Alena setelah ini.
Ketika akhirnya mereka sampai di tepi danau kampus, keduanya memutuskan untuk turun. Terlihat penjaja es puter favorite Alena. Tanpa babibu lagi gadis itu segera menghambur ke arah penjual es langganannya yang siang ini tampak ramai tersebut. Rena yang sangat mengerti kebiasaan Alena hanya tertawa geli melihat betapa kekanakannya Alena jika sudah bertemu 'es'. Gadis itu juga segera turun dari mobil untuk menyusul langkah Alena. Rena juga menyukai kudapan dingin tersebut, hanya saja tidak segila Alena.
"Lenaa, gue satu. Pake roti, dipotong," teriak Rena dari pintu kemudi. Cukup kencang. Mengingat posisi Alena kini berada diseberang jalan selebar 10 meter. Alena mengacungkan jarinya membentuk simbol 'ok'.
Keluar dari mobilnya, Rena mengitarkan pandangan ke segala penjuru. Gadis itu duduk di sebuah bangku panjang dan bersandar pada sebuah pohon disampingnya. Dengan tersenyum seraya menghirup udara segar nan sejuk yang berhembus.
Cuaca cukup terik namun rindangnya pepohonan tentu menjadi penolong siang itu. Meskipun Rena menyadari ia menjadi salah satu penyumbang emisi karbon. Apalagi kalau bukan dengan mobilnya.
Begitu membuka mata, entah apa yang menggerakkannya, mata gadis itu bergerak menatap ke salah satu sudut danau. Dan, bola mata Rena seketika melebar mendapati pemandangan yang ... Rena mengalihkan pandangannya pada Alena. Gadis itu kini berjalan menuju ke arahnya.
"Lihatin apaan sih? Serius banget?" tanya Alena seraya menyodorkan es puter pesanan Rena. Alena mengikuti arah pandang Rena namun gadis itu bergegas menarik wajah Alena agar menghadapnya.
"Len, lo ... udah siap belum untuk tahu tentang kenyataan mengenai Jonathan,"
Alena yang tengah menikmati es puternya dengan rakus lantas menghentikan gerakan tangannya, "Rena, biarin gue cari tahu dulu yang sebenarnya,"
"Gue tahu, Lena. Tapi kali ini gue mohon lo ikutin saran gue. Gue nggak mungkin bohongin lo, kan?"
Alena menghela nafasnya yang tercekat. Sebenarnya ia juga menaruh sedikit curiga pada kekasihnya tersebut. Semenjak dia sakit beberapa bulan yang lalu, Alena memang merasa Jonathan semakin menghindarinya. Awalnya ia fikir karena laki-laki itu masih menjalani masa percobaan dalam pekerjaannya. Namun, ucapan Rena beberapa menit yang lalu semakin menguatkan kecurigaan Alena.
Alena telah menandaskan es puter ditangannya. Rena masih mengamatinya dengan seksama, sesekali menyendokkan es puter yang mulai mencair. Perasaan yang sama sebenarnya ikut menghampiri gadis asal Madiun itu. Meskipun dulunya Rena mendukung hubungan Alena dengan Jonathan, kenyataan yang dilihatnya selama ini membuatnya merasa harus membantu Alena lepas dari laki-laki itu.
* to be continued *