"Kamu mau pergi, Nak?" tanya nyonya Aira ketika mendapati putra bungsunya yang tampak rapi dan sepertinya akan keluar petang ini.
"Iya, Ma. Yeong punya janji,"
"Kenapa terburu-buru? Kau belum dua jam disini," ibunda Kim Yeong menampilkan ekspresi sedih. Kim Yeong mengerti ibunya masih ingin dia berlama-lama disitu, tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah punya janji dengan Alena.
"Biarlah dia keluar. Namanya juga anak muda. Mungkin mau malam mingguan," sahut tuan Kim Joon yang datang dari arah dapur dengan membawa segelas teh panas.
"Appa memang sangat pengertian," Kim Yeong mengulum senyum manisnya.
"Jangan merayu Ayah," jawaban ayahnya membuat Kim Yeong tergelak.
"Ah, Mama sangat kesepian. Kamu cepatlah menikah dengan Alena dan segera berikan Mama cucu," ucapan ibunya membuat Kim Yeong membelalakkan mata.
"Padahal Mama sudah punya cucu," jawabnya cuek.
"Joon Young dan Elsa terlalu jauh. Kamu kan yang disini, tentu Mama minta ke kamu," sekarang Kim Yeong yakin kalau dia benar-benar anak ibunya.
"Iya, kalau Mama menginginkan cucu dariku maka aku harus keluar sekarang, Ma,"
"Apa maksudmu?"
"Yeong mau kerumah Alena, Ma,"
Nyonya Aira segera mengerti dan mengangguk dengan penuh semangat, membuat suami dan putranya tertawa geli.
"Kenapa kau berubah semangat saat mendengar nama Alena, Sayang?" tanya tuan Kim Joon.
"Tentu saja karena Mama lebih menyayangi Alena, Pa. Mungkin kalau Alena benar-benar menjadi menantu Mama, Yeong justru yang berubah menjadi menantu Mama," Kim Yeong justru yang menjawab, dengan nada pasrah.
"Anak Mama memang pintar," sahut nyonya Aira yang diiringi kekehan suaminya.
"Yasudah, Yeong pergi dulu," ucapnya lantas bergantian mencium tangan ayah dan ibunya. Budaya yang memang diterapkan oleh keluarga mereka, mengingat nyonya Aira merupakan orang jawa asli.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab tuan Kim Joon dan istrinya bersamaan.
****
Saat ini Kim Yeong sudah berada diruang tamu rumah Alena bersama Abiyan.
“Kalian, mau kencan ya?” tanya Abiyan dengan senyum jahilnya. Kim Yeong mengangguk ramah.
“Kita belum berkenalan secara resmi. Kamu Abiyan, kan?” tanya Kim Yeong. Dokter gigi muda itu mengangguk yakin.
“Sampai sekarang aku masih belum percaya lho kakakku itu punya pacar,” kekehnya. Kim Yeong tersenyum geli mendengarnya.
“Memang Alena belum pernah pacaran?”
Abiyan menggeleng, “Pacaran jaman SMA, cinta monyet gitu. Kalau saat kuliah, sih, entahlah,” Abiyan memilih untuk tidak menceritakan kisah yang pernah diceritakan kakaknya. Baginya tidak penting karena selain itu melukai perasaan kakaknya, Alena juga belum mengenalkan kekasihnya saat itu. Jadi Abiyan menganggapnya tidak pernah ada. (Kalau nggak penting mah dibuang sama Abi, hhh).
“Em. Ngomong-ngomong aku manggilnya bagaimana ini, ya?” tanya Abiyan jujur. Kim Yeong terkekeh.
“Sama seperti kamu memanggi Alena saja. Aku panggil kamu apa? Adik?”
“Abi saja, Kak. Eh, bahasa koreanya apa?”
Kim Yeong tertawa pelan, “Hyung,”
“Baiklah, Hyung. Aku panggil kakakku dulu ya. Dia kalau dandan lama memang,” seloroh Abiyan seraya menaiki tangga menuju kamar kakaknya. Kim Yeong kembali terkekeh.
“Kak, buruan sih. Udah di tungguin noh,” teriak Abiyan dari puncak tangga. Jaraknya dengan kamar Alena sekitar 5 meter.
"Iya, bentar," sahut suara dari dalam
"Dasar cewek." Abiyan kembali turun, menemui laki-laki yang diharapkan akan menjadi kakak iparnya itu.
"Tunggu ya, Kak. Kak Al emang lelet kalo dandan." Kim Yeong tersenyum mengangguk.
"Siapa yang lelet." Abiyan menoleh, mendapat pelototan dari kakaknya. Kim Yeong memandang takjub
"Siapa lagi? Kamu lah, Kak." Alena mencibir. Abiyan melipir ke kamarnya
"Titip kakakku ya, calon kakak ipar. Ati-ati dia kalau ngomel ... beuh, kaya polar express," iseng Abiyan dari tangga. Kim Yeong tertawa ringan.
“Dasar jones,” sungut Alena. Abiyan hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
"Dia aman bersamaku." Alena mengelus dadanya, 'itu adik satu minta dikirim ke kutub utara kali ya'.
"Kita jalan?" tanya Kim Yeong. Alena mengangguk. Ia merasa aneh saat harus berduaan dengan Kim Yeong. Ya, malam ini Alena akhirnya berkencan dengan Kim Yeong. Laki-laki itu mengajaknya jalan berdua setelah dia bertemu ibu Alena saat berada di rumah sakit.
*flashback in*
Kembali dari ruangan Alena, Kim Yeong hendak menuju bagian administrasi untuk mengecek beberapa berkas. Saat itu ia melihat seorang ibu yang tengah hamil besar merintih. Usia kehamilannya mungkin sudah sekitar 8 bulan. Kim Yeong menghampirinya ketika ibu itu akan berdiri.
"Ada yang sakit bu?" Ibu itu tidak menjawab, hanya memegang perutnya.
"Sedikit kontraksi dok," jawabnya lemah.
"Ibu datang sendirian?" Ibu itu menggeleng.
"Suami saya sebentar lagi menyusul. Saya mau periksa kehamilan dengan dokter Diana."
"Kalau begitu mari saya antar," Kim Yeong menawarkan.
"Masih antri dok."
"Tidak masalah bu. Mari." Dokter tampan itu memapahnya menuju ruangan dokter Diana (atau haruskah menyebutnya calon ibu mertua?)
Sesuai ucapan ibu itu, poli kandungan memang agak ramai. Tapi tempat duduknya juga terlalu jauh dengan kondisi semacam itu. Kim Yeong mengetuk pintu yang memang terbuka. Dokter Diana yang tidak menyadari kedatangannya karena sedang menulis resep di beritahu oleh suster, beliau menoleh, kemudian tersenyum. Senyumnya seperti milik Alena
"Dokter Kim, kebetulan sekali. Ada yang bisa saya bantu?" Kim Yeong sedikit tercengang. Ini satu keluarga memang sangat sopan.
“I-ini dok, saya hanya mengantar ibu ini karena beliau duduk terlalu jauh dari poli kandungan. Melihat kondisinya sepertinya akan kesulitan berjalan sendiri ke sini.” Dokter Diana memandang ke arah ibu itu. Kemudian suster memapahnya ke ruang pemeriksaan.
“Kalau begitu saya permisi dokter,” pamitnya kemudian.
“Dokter Kim tunggu sebentar.” Dokter muda itu kembali menghadap beliau.
“Saya belum melihat Alena, Dok. Apa dia masih diruangannya?”
“Benar, Dok. Dokter Alena sedang di ruangannya. Saya baru saja dari sana membawakan makan siangnya.”
“Jadi dia lupa makan siang. Anak satu itu memang,” geram dokter Diana penuh sayang.
“Sepertinya dokter Alena sangat sibuk, Dok. Apalagi semenjak dokter Zafran ke Singapura,” ujar Kim Yeong.
Pasien yang diantar Kim Yeong masih memandangnya hingga perawat berkata, “'Beliau calon menantu dokter Diana.”
“Iya memang. Ah bagaimana kalau weekend nanti dokter ajak Alena berkencan? Mungkin Alena butuh refreshing. Saya juga belum lihat kalian berdua semenjak pesta.” Kim Yeong menjadi kikuk sendiri. Ia merasa sandiwara ini mulai berjalan sedikit rumit.
“I-itu ... em, saya tanya dokter Alena dulu, Dok. Kalau begitu saya permisi. Saya masih harus mengecek administrasi.”
“Silakan dokter Kim.”
Ucapan dokter Diana masih terngiang hingga Kim Yeong sampai di ruangannya. Ia merasa ada benarnya. Semenjak insiden pengakuanku malam itu, mereka justru jarang terlihat berdua. Dan ia yakin, hal itu tentu saja memantik rasa penasaran serta curiga orang lain. Mengingat ia dan Alena kini menjadi pusat perhatian. Kim Yeong lantas menghubungi Alena untuk merealisasikan ucapan ibu gadis itu.
“Halo,” suara dari seberang selalu membuat hati laki-laki itu berdesir
“H-halo Al. Hari sabtu nanti kita jalan ya. Kamu mau?” tanya Kim Yeong senormal mungkin.
“J-jalan? K-kenapa tiba-tiba, Dokter?” Kim Yeong tersenyum geli karena Alena masih memanggilnya seformal itu, padahal ia sudah berusaha memanggil nama.
“Tidak. Aku lupa tadi menyampaikannya saat di ruanganmu. Baik aku jemput jam 6 sore ya.”
“B-baik dokter Kim.” Bisa dibayangkan betapa merahnya wajah Alena saat ini.
“Baiklah, selamat bekerja.”
“Terima kasih.” Laki-laki itu gemas sendiri mendengar jawaban singkat Alena. Rencana awal memang hanya bersandiwara, namun kalau mau bersandiwara sekalian totalitas. Hhh.
** flashback out **
“Kamu udah makan, Al?” Suara Kim Yeong memecah keheningan didalam Honda BRV yang dikendarainya.
“B-belum. Tadi pulang langsung bersiap, Dok,” jawab Alena. Wajahnya memerah.
“Yeong. Panggil aku Yeong.” Alena menoleh, “Yeong?”
“Kan kita sedang tidak jadi dokter sekarang, Al."
“Baiklah,” jawabnya datar
“Mau makan dimana?” Alena menggeleng.
“Nggak usah makan. Aku pengen ice cream di mall Grand Indo.” Kim Yeong tersenyum, ‘Baiklah.”
Begitu sampai di mall, Yeong langsung mengambil VIP parking. Setelah itu mereka masuk berdua melalui lobi utama mall. Alena berjalan sedikit cepat di depan Kim Yeong. Entah karena dia malu atau saking inginnya segera makan ice cream.
“Jangan buru-buru. Ice creamnya juga masih banyak,” ujar Kim Yeong mengimbangi langkah Alena kemudian meraih tangan putih nan lembut itu. Langkah Alena terhenti. “Dok?” Alena menatap tangannya yang di genggam Yeong
“Yeong,” tegas lelaki itu sambil menyentuh hidung Alena. Dan sukses membuatnya memerah. “Kita kan sedang kencan. Apa tidak aneh kalau berjalan sendiri-sendiri. Kalau ada yang mengenali kita bagaimana?” Alena tampak berfikir, ia menyetujui pendapat Yeong.
“Tapi ya jangan dekat-dekat gini jalannya.” Alena agak menjaga jarak namun justru di tarik mendekat oleh Yeong.
“Kalau mau sandiwara yang totalitas. Hhh,” kekehnya. Alena melotot kemudian tercengir. Mereka terus berjalan hingga sampai di outlet Ice Sandwich. Kim Yeong terus menggandeng tangan Alena.
“Mau rasa apa?”
“Choco sandwich with hazelnut,” jawab Alena tanpa melihat menu
"Kamu sering ya beli disini sampai hafal?"
"Pacarnya ya, Kak?" tanya pelayan yang sudah hafal dengan Alena. Karena memang Alena sering membeli ice cream disitu. Alena hendak menjawab bukan namun sudah di dahului oleh anggukan dari Kim Yeong. Ia hanya mendengus
"Kalau gitu saya vanila oreo cup," ujar Yeong setelah melihat daftar menu.
“Ih, pacar?” lirih Alena di telinga laki-laki itu. Kim Yeong memandang Alena dan tersenyum geli.
“Memang bukan, ya?” tanyanya menggoda. Alena hanya nyengir kuda tanpa dosa.
Setelah membayar mereka duduk di kursi antrian karena memang tidah menyediakan dine in. Kim Yeong duduk bersisian dengan Alena. Masih menggenggam erat tangan Alena kemudian memandangi wajah gadis itu. Alena yang menyadarinya menjadi salah tingkah.
“Mau kemana setelah ini?” tanya Alena
“Kamu maunya kemana?”
“Ditanya malah tanya balik.” Gadis itu cemberut, Kim Yeong tersenyum geli
“Karena aku yang ngajak kamu. Aku pengen tahu apa yang kamu suka.” Alena menoleh sambil menarik mundur kepalanya, ucapan Yeong membuatnya semakin berdebar.
Obrolan mereka terhenti saat ice cream pesanannya sudah siap. Mereka kemudian meninggalkan outlet tersebut.
“Gimana Al?” Alena akan menggeleng kemudian matanya berbinar, “Nonton aja yuk. Ada film bagus."
“Horor lagi?” Yeong memandangnya. Alena terkikik, “Bukan lah. Gimana, boleh?”
“Boleh dong. Yaudah ayo,” ujar Yeong