Sudah beberapa hari berlalu semenjak pengakuan dokter Kim Yeong di hadapan tamu orang tua Alena. Berita bahwa ia dan Alena berpacaran menyebar begitu cepat di kalangan pegawai rumah sakit. Bahkan ibu kantin-pun tak luput. Ia bahkan sering kali menggoda Kim Yeong saat di kantin. Tanpa Alena tentunya.
“Mau makan siang dok? Tidak bersama calon itrinya?” goda ibu kantin itu. Kim Yeong hanya menjawab dengan senyuman. Sudah sangat bosan sekali rasanya mendapat pertanyaan itu selama beberapa hari. Dan kini ia mendadak berubah menjadi sangat irit bicara.
Ia menuju meja makan bersama dengan rekan-rekannya. Tidak hanya dokter dari Korea, namun dokter asli rumah sakit juga. Lebih tepatnya, dokter Yoga. Sahabat Alena itu tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Itu sebabnya ia ingin bertanya lebih jelasnya pada Kim Yeong. Kalau dia terus saja bertanya pada Alena, bisa habis pantatnya jadi sasaran jarum suntik Alena. Untunglah para dokter tersebut terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Coba saja pakai bahasa Korea, pasti wajah Yoga akan lebih mirip kepiting rebus.
“Kau tidak makan bersama kekasihmu?” goda dokter Lee.
“Aku masih penasaran. Bagaiman kalian bisa bersama?” dokter Park memegang dagunya.
“Kenapa, kau keberatan, Hyung?” tanya Kim Yeong santai. Sampai hari ini, entah sudah berapa kali ia menerima godaan semacam itu dari para sunbae-nimnya.
“Ah tidak. Hanya saja aku bertanya-tanya. Kapan kalian punya waktu untuk pdkt. Hhh,” sahutnya.
“Apa kalian lupa kalau dia biasanya memberikan laporan mingguan kepada kekasihnya. Mungkin saat itulah. Hhh.” Yoga bersuara, kemudian beralih memandang Kim Yeong.
“Dokter Yoga mengawasi kami rupanya.” Kim Yeong berusaha terlihat santai. Padahal dalam hatinya ia menggerutu pada Freddy karena membuatnya terjebak dalam sandiwara konyol ini.
“Aku mengenal Alena sangat lama, dia tidak mudah didekati. Itu sebabnya aku sendiri sangat penasaran dengan kalian,” ujar Yoga santai sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Kim Yeong baru akan bersuara saat melihat dokter Ratih datang. Ia sendirian. Biasanya bersama Alena. Ratih langsung menuju Yoga.
“Mau makan bareng?” tanya Yoga.
“No, no. Hanya ingin melihat kamu sebentar. Aku mau beli makanan buat Alena. Dia terlalu sibuk sampai lupa makan. Kalau dia sampai tumbang, habislah kita. Untung aku tidak ketemu dokter Diana. Habis ini aku balik ke poliku lagi,” jawab Ratih sambil akan berlalu. Mendengar ucapan Ratih yang mengatakan Alena belum makan siang membuat Kim Yeong menahan tangan dokter muda tersebut.
“Biar saya saja, Dok,” ujarnya membuat siapapun yang berada didekatnya menoleh.
“Baiklah. Manfaatkan jam istirahat untuk berduaan,” celetuk dokter Lee menggoda hobae-nimnya itu. Jelas saja semua yang mendengar tertawa. Kim Yeong cuek saja.
“Dokter Alena biasanya makan siang apa?” tanyanya memandang Ratih.
“Alena sukanya sandwich cokelat kacang.” Yoga yang menyahut. Kim Yeong tersenyum mengangguk.
“E-eh, bukan. Alena pesen gado-gado kok,” sergah Ratih. Yoga menyipitkan matanya.
“Lah, tumben tu anak?”
“Tadi emang pesen roti dia, gue omelin. Gila aja siang-siang mau makan roti sama jus doang.”
Setelah mendengar ucapan Ratih, Kim Yeong segera menuju ibu kantin dan membeli makanan pesanan untuk wanita yang diakuinya sebagai kekasih itu. Ibu kantin yang sudah hafal menambahkan, “9Dokter Alena biasanya juga minum jus buah saat siang begini dok. Mau saya buatkan juga?” Kim Yeong Nampak berpikir sebentar, kemudian mengangguk “Ibu sudah tahu seleranya dokter Alena, bukan?” tanyanya. Ibu kantin tersenyum mengangguk.
“Dokter Kim is a very romantic man,” gumam Ratih seraya memangku dagunya.
“Don't you think i am also romantic, more than him?” tanya Yoga sebal. Rekan-rekannya hanya tertawa kecil. Ratih berdecak pinggang kemudian meninggalkannya.
****
Kim Yeong melangkah menuju ruangan Alena. Ia membawa roti dan jus seperti yang disarankan Yoga dan ibu kantin. Tak ayal semua orang memandangnya sepanjang lorong. Seorang dokter rupawan yang berhasil mematahkan banyak hati pegawai rumah sakit Cahaya. Yang menjadi perhatian para pegawai dan pengunjung ialah apa yang dibawanya. Jarang sekali ada yang membawa makanan sendiri. Para dokter biasanya meminta ibu-ibu kantin untuk mengantarnya ke ruangan mereka. Kim Yeong cuek saja. Dia hanya tersenyum dan menganggu sopan pada yang menyapanya.
“Pasti mau ketemu dokter Alena tuh. Mana romantis pula,” bisik-bisik perawat.
“Iya, dokter Alena belum keluar sama sekali dari ruangannya. Padahal jam istirahat sudah hampir selesai.” Perawat lain menyahut. Memang watak orang Indonesia, kalau kerja tidak sambil bergosip memang kurang lengkap.
“Aku patah hati. Tapi mereka benar-benar serasi.” Para perawat yang tengah bergosip tidak menyadari keberadaan Ratih disamping mereka. Dokter muda itu tengah memeriksa beberapa berkas administrasi.
“Hayoo, awas ketahuan lho gosispin Alena. Hhh” ujarnya ringan membuat para perawat itu melongo, “Sejak kapan disini, Dok?”
“Makanya jangan gosip terus. Aku sampai nggak diperhatikan.” Mereka tertawa
Kim Yeong sudah sampai didepan ruangan Alena di lantai 5, berdampingan dengan ruang dokter Zafran. Ruangan dokter Zafran jelas kosong karena sang empunya sedang melakukan perjalanan dinas ke Singapura. Kim Yeong melihat pintu ruangan Alena terbuka sedikit. Awalnya ia ingin mengetuk pintu, namun ia urungkan karena melihat Alena sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa. Ia meletakkan makanan yang dibawanya perlahan. Kemudian duduk disamping Alena. Ia perhatikan wajah Alena lekat-lekat. “Apa benar kamu memang sulit didekati?” lirih Kim Yeong mengingat ucapan Yoga.
Kim Yeong dan Alena memang tidak banyak berinteraksi. Terlebih saat berada di rumah sakit. Hal itu sempat menimbulkan kecurigaan beberapa orang yang mempertanyakan hubungan mereka, tidak terkecuali dokter Zafran dan isterinya. Dia dan Alena sepakat berdalih bahwa mereka tidak perlu menunjukkan hubungan di depan publik. Siapa yang tahu bahwa sebenarnya hubungan mereka hanyalah sandiwara konyol karangan Freddy. Namun Alena dan Yeong juga sama sekali tidak tahu bahwa itulah taktik Freddy agar mereka bisa dekat. Dan jika mereka berjodoh pasti pria itu akan sangat besar kepala.
Tanpa disadari, Kim Yeong mengangkat tangannya dan hampir menyentuh wajah Alena. Namun ia urungkan karena melihat bulu mata lentik Alena bergerak-gerak. Sangat menggemaskan menurutnya. Apa? Menggemaskan? Alena membuka matanya perlahan, namun langsung melotot dan reflek menggeser duduknya menjauhi Kim Yeong.
****
*Alena’s PoV*
Ditinggal ayahku bertugas ke Singapura membuatku mendapat beberapa pekerjaan tambahan. Ini baru seminggu, belum lagi kalau beliau pensiun. Dan Abiyan belum juga bertugas disini, bisa botak mungkin kepalaku. Aku memang merasa rambutku akhir-akhir ini semakin banyak yang rontok. Oke, nggak penting.
Saat ini sudah jam makan siang tapi aku merasa tanggung sekali meninggalkan pekerjaanku. Lagipula sedikit malas berinteraksi dengan orang-orang yang mulai kepo dan mencari tahu tentang hubunganku dengan dokter Kim. Aku memilih menghabiskan waktu berkutat dengan pekerjaanku, meskipun kucuran perutku terdengar cukup keras. Aku memutuskan untuk menelpon bu Atik saja, ibu kantin yang biasanya mengantar makanan pesananku. Baru mengangkat gagang telepon, pintu ruangaanku diketuk.
“Masuk,” jawabku. Nampak wajah Ratih yang menyembul.
“Ruangan lo jauh banget sih. Pindah lagi kek kebawah,” gerutunya. Apa boleh buat, ini ide ibuku. Dan disetujui ayahku tentu dengan kompor gas dari adikku. Alasannya pekerjaanku semakin banyak jadi aku butuh ruangan yang lebih besar dan tenang. Mana bisa aku membantah mereka.
“Lo bilang sendiri gih ke dokter Diana,” ujarku sambil mengedipkan mata. Dia mengangkat tangan.
“Ampun.”
“Lo udah makan siang?” tanyanya begitu duduk di sofa.
“Belum ah. Ntar aja, tanggung nih,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputerku.
“Makan dulu woy. Kerja juga butuh tenaga. Ntar kalau lo sakit, siapa yang pegang ni rumah sakit. Bokap lo kan masih lama main-main sama Singa,” ocehnya. Aku tersenyum. Beginilah perhatiannya.
“Lo sendiri udah makan?” tanyaku.
“Belum juga. Orang gue baru keluar. Poli rame banget. Mau makan sama Yoga juga dia lagi pdkt sama cowok lo.”
Aku menoleh, “Pdkt? Sejak kapan Yoga suka sama cowok?” Dia tertawa geli.
“Lo tau sendiri gimana keponya Yoga. Dia kaya nggak rela lo dapet cowok sembarangan. Gue rasa dia lebih selektif dari pada adek lo. Apa jangan-jangan Yoga kakak lo yang terdampar,” ujarnya cekikian. Aku melempar bolpoin dan sukses mengenai jidat lebarnya.
“Sembarangan lo ngatain dokter Kim sembarangan.”
“Kok lo kesel sih Al? Hayoo.”
“Eh lo kalau ke kantin gue titip ya,” ujarku. Mengalihkan pembicaraan “Gue lagi males turun nih.” tambahku
“Kenapa emang? Eh ... gue panggilin cowok lo aja gimana?” godanya.
“Ratiiiiih.” Aku melotot.
“Lo mau makan apa?” dia sudah berada di pintu akan keluar.
“Roti aja, biasa,” jawabku singkat. Ratih mengangkat sebelah alisnya.
“Lo yakin? Ini siang lho, Al? Masa makan roti? Salad atau apa gitu kek? Gado-gado ya, mau?” Aku mendesah pelan. Ratih memang sangat cerewet soal makananku.
“Ya udah, gado-gado boleh. Pake jus ya kalau ada.”
“Oke deh. As you wish, Princess.”
“Eh, Ratiih,” panggilku.
“Apaan lagi?” kepalanya menyembul dibalik pintu.
“Uangnya?”
“Aelah dah, lo kaya ama siapa aja. Ntar aja gampang ah,” Dia ngeloyor begitu saja meninggalkan pintu yang sedikit terbuka. Aku hanya menggeleng.
Karena sedikit lelah, aku ingin merefleksikan tubuhku. Aku duduk di sofa yang sepertinya akan menjadi tempat favoriteku untuk beristirahat. Tak butuh waktu lama, aku justru tertidur. Tak lama, mungkin beberapa menit ketika aku mendengar suara langkah memasuki ruanganku. Ku fikir mungkin Ratih membawa makanan yang ku minta.
Antara sadar dan tidak. Aku masih diam saja saking lelahnya mata dan tubuhku. Kemudian ku rasakan seseorang duduk di sampingku. Aku sedikit curiga. Kalau ini Ratih kenapa dia tidak mengeluakan suara cemprengnya itu sedikitpun? Mungkin dia saking takutnya mengganggu tidurku.
Aku membuka mata perlahan. Dan begitu mataku terbuka, betapa kagetnya aku saat ku lihat dokter Kim tengah memandangku. Lekat. Dan dekat. Ya Tuhan.
“Dokter Kim.” Aku langsung terbangung. Refleks aku menjauhkan dudukku.
“Maaf aku mengganggu tidurmu. Tadi dokter Ratih bilang kamu belum makan. Aku bawakan makanan yang kamu minta sama jus wortel. Kata ibu kantin itu kesukaan kamu,” ujarnya, datar.
Aku memandang ke meja, benar saja. Makanan dan minuman kesukaanku. Aku tersenyum, girang. “Wah, terima kasih.”
“Berterima kasih untuk makananmu?” tanyanya
“Iya. Dan juga terima kasih sudah menolongku hingga aku tidak jadi dijodohkan dengan temanmu itu.” Aku membuka bungkusan gado-gado dimeja dan mulai memakannya.
“Tapi san….” Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. “Jangan keras-keras,” ujarku sambil membulatkan bola mataku. Dia tertawa
“Kalau kamu takut sandiwara ini ketahuan, bagaimana kalau kita jadikan kenyataan,” bisiknya dengan nada menggoda. Aku merinding mendengarnya. Aku yakin wajahku memerah. Andai saja kamu tahu ... ah, sudahlah.
“Ihhh, maunya.” Aku menggeleng risih. Dia terkikik. Dia mencoba mengelus rambutku namun tanganku ingin mencegah. Sialnya, tanganku malah di pegangnya erat.
“Banyak yang ingin tahu tentang hubungan kita. Pegang tangan seperti ini bisa menyingkirkan keraguan mereka,” bisiknya pelan sambil memberi isyarat melirik ke pintu. Kim Yeong tahu, terlihat ada yang memperhatikan di depan pintu, mengintip lebih tepatnya. Aku menurut saja.
“Aku turun dulu. Selesaikan makanmu. Kalau masih lapar bilang, jangan diem aja. Kerja juga butuh tenaga,” ucapnya sedikit ketus. Aku mendengus kemudian dia kembali memegang kepalaku. Ya Tuhan, aku merinding lagi.
“Terima kasih,” sahutku sambil tersenyum. Ia yang sudah berada dipintu kemudian menoleh dan tersenyum. Lantas menutup pintu.