BAB 14 BAGIAN DARI SANDIWARA

1375 Kata
   “Sudah mau berangkat, Son? Tidak sarapan dulu?” tanya nyonya Aira melihat putra bungsunya yang nampak tergesa pagi itu.    “Tidak, Ma. Yeong harus bergegas. Ada pertukaran tugas pagi ini,” jawab Kim Yeong yang hanya meneguk s**u digelasnya. Langsung habis dalam beberapa detik. Sementara anggota keluarga yang lain hanya menggeleng pasrah melihat kegugupan adik bungsu mereka itu.    “Kalau minum mbok ya duduk to, Nak,” keluarlah aslinya nyonya Aira. Jawa medok, karena aslinya beliau orang Semarang.    “Kau terburu-buru sebab ingin segera bertemu Alena?” goda kakak pertamanya, Kim Yoon Hae.    “Tidak, Noona. Aku benar-benar harus segera berangkat. Karena beberapa pasien dokter Arga dialihkan padaku. Dia datang agak siang hari ini,”    “Kalaupun memang iya juga tidak masalah, kan? Kami sangat mengerti,” Kakak keduanya, Kim Eun Ha menimpali. Kim Yeong hanya berdecak sebal pada kedua noonanya yang selalu saja menyebalkan itu.    “Sudah-sudah. Kau bawa ini, untuk sarapan di rumah sakit,” nyonya Aira menyerahkan kotak bekal makanan. Kim Yeong menerimanya dengan wajah ceria.    “Terima kasih, Ma,”    “Bawa pulang kotaknya. Jangan sampai hilang!!” peringat nyonya Aira. Kim Yeong hanya memandangnya jengah sementara yang lainnya tertawa geli. Ibunya tetap saja lebih menyayangi kotak makanan dengan harga cukup mahal itu untuk seukuran kotak makanan.    “Kasihan, kotak makanan lebih berharga daripada kau,” celetuk Eun Ha. Kim Yeong hanya mendatarkan ekspresinya memandang sejenak kakak keduanya yang super jahil tersebut.    “Sudahlah, aku berangkat dulu.” Laki-laki itu hendak beranjak namun suara ayahnya menahannya.    “Sejak kapan kau lupa berpamitan dengan benar?” sontak saja kedua kakak perempuan dan kakak iparnya tertawa.    “Ne, Appa.” Kim Yeong bergegas mencium tangan ayah dan ibunya serta memberikan kecupan singkat dipipi nyonya Aira.    “Kau tidak ingin menciumku?” goda Yoon Hae. Kim Yeong memandangnya dengan malas lalu mengalihkan pandangannya pada suami Yoon Hae.    “Hyung, ciumlah istrimu,” ujarnya singkat membuat Yoon Hae melotot, sementara suaminya terkekeh geli.    “Tidak perlu kau ingatkan,”     “Bye,” ucap Kim Yeong lantang sambil berlalu menuju mobilnya.    “Anak itu memang,” seloroh tuan Kim Joon yang mengundang tawa istri dan anak serta menantunya. ****     Kim Yeong mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang pagi ini. Meskipun masih ada waktu tetap saja ia ingin sampai rumah sakit sesegera mungkin. Dari dulu ia memang terbiasa tepat waktu. Terlebih saat hidup di Korea.    Sesudah memarkirkan mobilnya, laki-laki itu berjalan santai menuju lobi rumah sakit. Saat keluar dari mobil, ia menyadari mobilnya terparkir bersisian dengan mobil Alena, kekasih pura-puranya saat ini sejak beberapa hari yang lalu. Akibat ulah Freddy. Tapi sepertinya ia harus berterima kasih pada sahabatnya itu. Sebab jika Freddy tidak memiliki ide nyeleneh itu, sudah pasti ia akan kehilangan kesempatan untuk bisa mendekati Alena.    Terlepas dari rasa sakitnya dimasa lalu pada seorang wanita, Kim Yeong tetaplah pria normal yang ingin merasakan hidup bersama wanita yang ia cinta. Menikah dan memiliki beberapa anak yang lucu. Laki-laki itu tersenyum sendiri menyadari pemikirannya barusan.    Saat hendak memasuki lobi rumah sakit, serta merta ia melihat Alena berjalan beberapa langkah didepannya.    “Dokter Alena,”    Alena yang tengah berjalan santai sedikit terperanjat mendengar panggilan formal tersebut. Seketika gadis itu menoleh ke belakang.    “Dokter Kim. Pagi sekali,” seru Alena.    “Saya menggantikan jadwal dokter Arga. Beliau datang agak siang hari ini,” jawab Kim Yeong masih penuh formalitas.     “Ah, begitu rupanya,”     Beberapa perawat yang melintas memandang mereka dengan seksama. Terlebih mereka yang sudah mengetahui kabar hubungan kedua dokter favorite tersebut.    “Masih pagi woy. Udah pacaran aja. Di lobi pula, sana pacaran di taman tengah,” celetuk Ratih yang entah darimana datangnya. Alena melotot memandang sahabat jahilnya tersebut.    “Berisik lo, ah. Lagian ini rumah sakit punya siapa,”    Ratih melongo, “Sejak kapan lo jadi sombong gini, Al? Hhh, nggak usah pakai malu-malu gitu dong, Al. Santai aja sama gue, mah,” ujar Ratih seraya menjawil dagu Alena.     “Lagian sama pasangan sendiri kok bicara kalian formal gitu, sih. Sayang-sayangan nggak pa-pa kali,” godanya belum mau menyerah. Sungguh melihat wajah malu-malu Alena saat ini benar-benar menjadi hiburan untuknya dipagi hari.    “Lo kira gue kaya lo sama Yoga yang sayang-sayangan nggak tahu tempat,” seloroh Alena tidak terima. Kini Ratih terkekeh.    “Itu kan, tanda cinta, Al,” jawabnya tidak mau kalah.    “Bucin?” tanya Alena meledek. Kim Yeong hanya tersenyum melihat interaksi dua wanita dihadapannya saat ini.    “Ih biarin yang penting gue bahagia,” Alena hanya menatapnya malas.    “Udah sono kerja. Gangguin orang mulu,”     “Uluh, uluh. Yaudah deh. Gue juga nggak mau ganggu pasangan yang lagi anget-angetnya. Bye, Al. Annyeong, Dokter Kim,” Ratih beralih memandang Kim Yeong yang sedari tadi hanya tertawa geli melihatnya menggoda Alena.    “Iya, Dokter Ratih,”    “Gue salah apa coba punya temen model begitu,” ujar Alena sambil melangkah menuju lift. Kim Yeong mengikuti mengimbangi langkah gadis itu.    “Dia pasti akan terus menggoda,” timpal Kim Yeong. Alena mengangguk.    “Kira-kira, apa semua pegawai disini akan bersikap seprti Ratih?” gumam Alena saat keduanya memasuki lift.    Kim Yeong terkekeh, “Mungkin saja. Tapi rasanya mungkin hanya akan menjadi gosip. Siapa juga yang berani menanyai putri pemilik rumah sakit,”    Giliran Alena yang terkekeh dan memandang lelaki yang berdiri disampingnya itu. Secara kebetulan Kim Yeong juga tengah tersenyum seraya memandang Alena. Mata hitam Kim Yeong bertemu pandang dengan mata bening Alena.  Deg!!    Keduanya buru-buru mengalihkan tatapannya. Tanpa saling menyadari bahwa masing-masing tengah dilanda rasa gugup yang sama.    Ting! Pintu lift terbuka begitu sampai di lantai 3.    “Saya duluan, Dokter Alena,” pamit Kim Yeong sopan.    “Ah, iya, Dokter Kim. Silakan,” Alena tergagap namun masih berusaha menjawab senormal mungkin. ****     Jam istirahat adalah jam favorite Alena. Sedari pagi ia bertugas di IGD dan saat ini dengan menenteng makanan serta jusnya, gadis itu melangkah menuju ruangannya. Alena berjalan dengan tenang, sesekali menyapa para pengunjung dan menyapa balik para pegawainya. Tanpa sedikitpun menyadari bahwa ia tengah menjadi topik perbincangan yang hangat dikalangan pegawai rumah sakit Cahaya.    Alena berjalan menuju lift namun ia tercengang karena lift dalam keadaan penuh. Akhirnya ia memilih menggunakan tangga darurat yang letanya di ujung gedung.     Sambil berjalan menaiki tangga, Alena masih memikirkan undangan pernikahan yang datang dari Vania tadi pagi. Anggaplah ini lebay, tapi Alena sungguh tengah risau. Kalau main tega-tegaan, ya dia bisa saja tidak datang. Toh tidak ada kewajiban juga untuk menghadiri. Tapi mengingat Vania adalah teman sebangkunya selama 2 tahun lebih, meskipun sejak ia berkuliah di Jogja mereka jarang sekali bertemu, tetap saja Alena sungkan jika tidak datang. Sekalipun Vania tidak mempermasalahkannya.    Ditengah lamunannya, tanpa sadar Alena justru menabrak punggung seseorang yang tengah berjalan pelan didepannya. Tepat saat menginjak lantai 3. Gadis itu terlonjak dan buru-buru minta maaf. Yang ditabrak Alena lantas menoleh.    “Dokter Alena,”     “Dokter Kim. Maaf, maaf. Saya tidak sengaja,” Alena memperhatikan punggung dokter tampan itu. Khawatir kalau-kalau jus yang ia bawa menumpahi jas putihnya.    “Tidak apa-apa, Dokter. Dokter sedang melamun?” Alena tersenyum tipis. Merasa de javu.     “Ah, ya. Sedikit,” jawabnya diplomatis.    “Dokter bisa bercerita pada saya jika membutuhkan,” Kim Yeong menawarkan diri.    “Eh?’ Alena terperangah. Ia tiba-tiba teringat ide dari adiknya pagi tadi. Alena masih melamun memandang Kim Yeong.    “Dokter Alena,” Kim Yeong mengibaskan tangannya dihadapan dokter cantik yang mulai menarik perhatiannya tersebut.    “Ah, iya. Em ... bagaimana ya, Dok. Saya ... sepertinya, butuh bantuan dokter,” ujar Alena terbata. Ia terkejut pada dirinya sendiri karena seberani itu pada orang yang baru beberapa hari dikenalnya itu.    “Apa itu, Dokter? Saya pasti bantu jika mampu,”    Alena terdiam beberapa detik. Antara yakin dan tidak untuk meminta bantuan pada Kim Yeong seperti ide Abiyan. Dengan menyingkirkan segala kegengsiannya akhirnya Alena menceritakan masalahnya, tentu saja lengkap dengan ide jahil Abiyan. Karena ya, Alena tidak pandai berbohong.    Diluar dugaan, Kim Yeong justru tersenyum geli mendengar penuturan gadis itu. Terbesit keinginan untuk menggoda Alena.    “Jadi, kamu akan datang dan meminta aku benar-benar menjadi kekasihmu?” tiba-tiba saja Kim Yeong berbicara informal membuat Alena membolakan matanya.    “Eh, kenapa tiba-tiba jadi berbicara santai?” Kim Yeong terkekeh.    “Bukankah aneh kalau dengan kekasih berbicara formal,” Alena tergelak. Memang benar ucapan laki-laki itu. Jika ada yang mendengar tentu akan menjadi aneh, mengingat beberapa orang pasti sudah mengetahui peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Kim Yeong di pesta orang tuanya.    “Jadi bagaimana? Bisa bantu? Kalau tidak, lebih baik aku tidak usah datang.”    “Aku dapat apa kalau membantumu?” goda Kim Yeong. Alena melotot lebar.    “Ish, tidak ikhlas nih? Nggak mau, yasudah.”    Kim Yeong tertawa geli, “Jangan marah begitu. Baiklah, aku akan temani kamu. Kapan acaranya?”    “Terima kasih. Dua minggu dari sekarang. Nanti aku ingatkan lagi satu hari sebelumnya,” Kim Yeong mengangguk.    “Kalau begitu aku ke atas dulu,” jawab Alena dengan tersenyum. Lantas kembali melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai 5. Sementara Kim Yeong kembali keruangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN