BAB 13 IDE ABIYAN

1273 Kata
   Sinar mentari tampak malu-malu menunjukkan kehangatannya. Wajar saja, sejak semalam gerimis turun tanpa henti. Meskipun ringan. Dan hingga kini sepertinya titik-titik kecil air masih terlihat membasahi bumi.     Pagi ini dengan ogah-ogahan Alena beranjak dari ranjang tidurnya menuju kamar mandi. Antara masih mengantuk dan ada sedikit rasa malas yang menggelayutinya. Perasaan yang sudah sekian lama tidak ia rasakan, kecuali malas berpacaran (Oke, Author curhat).    Cukup lama Alena berada dikamar mandi. Fikirannya tidak benar-benar berada pada tempatnya. Segala kekacauan yang ia yakini akan segera terjadi setelah pengakuan ekstremnya dengan dokter Kim Yeong akhir pekan lalu. Ia meyakini, sebentar lagi hal itu akan menjadi gosip besar di lingkungan rumah sakit.    Alena menghembuskan nafas kasar. Merenungi jalan hidupnya yang harus seperti ini. Tapi memang seperti ucapan Freddy, ini adalah satu-satunya jalan keluar yang mereka miliki pada waktu itu. Bayangkan saja, apa jadinya jika tidak ada dokter Kim Yeong. sudah pasti saat ini status Alena telah menjadi tunangan Freddy.     “Hiii,” Alena bergidik sendiri mengingatnya.    Sekarang yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana kelanjutan sandiwara yang terlanjur mereka buat. Jika semua orang telah mengetahui dia dan dokter Kim Yeong menjalin hubungan, pastilah mereka akan menanyakan dan membicarakannya. Harus bagaimana ia bersikap pada kekasih pura-puranya tersebut. Apakah harus bersikap mesra dan hangat? Atau tetap dingin seperti biasanya? Karena Alena sendiri bukan tipe orang yang suka berakrab-akrab apalagi dihadapan banyak orang.    Setelah menyelesaikan ritual mandinya yang pagi ini lebih menyerupai puteri solo alias lama, Alena kini mematut dirinya cukup lama juga di depan cermin. Gadis itu tersenyum puas dengan penampilannya. Sebuah kemeja tartan berwarna kuning muda dan skirt hitam sepanjang 5 cm lutut membuatnya tampak segar. Alena membubuhkan make up sederhana sesuai kebiasaannya. Sunscreen, cushion, eye liner dan maskara. Serta lipstik warna nude pink. Sebuah stiletto berwarna cream setinggi 5 centimeter mempermanis tampilannya pagi ini.    Begitu yakin dengan penampilannya Alena bergegas keluar dari kamar, ia melangkah menuju kamar Abiyan untuk mengajaknya sarapan. Namun hingga ketukan ke tiga tak kunjung ada jawaban dari dalam. Alena akhirnya meutuskan untuk langsung menuju meja makan.    “Pagi, Ma, Pa,” sapa Alena pada kedua orang tuanya yang sudah berada dimeja makan, bersiap untuk sarapan.    “Hai, Sayang. Pagi juga. Kenapa lemes gitu?” tanya dokter Diana memperhatikan raut wajah putrinya.    “Nggak pa-pa, Ma. Masih ngantuk aja,” jawab Alena diplomatis.     “Masa ngantuk. Kebanyakan mimpiin cowoknya yah pasti.” Datang-datang Abiyan sudah memancing peperangan.    “Cowok dari Hongkong,” sahut Alena sebal.    “Eh? Emang dokter Kim dari Hongkong? Bukannya dari Korea? Pa?” tanya Abiyan meledek.    “Kamu pelajaran Bahasa Indonesia dapet berapa sih, Dek?”    “90 dong,” sahut Abiyan bangga.    “Yakin tuh? Kok zonk gitu sih permajasanmu,” ucap Alena meledek balik.    “Yakin dong. Aku kan anak pinter,” jawab Abiyan sesumbar.    “Pinter ngeles,”    “Ya kalau ada halangan harus pinter ngeles dong,” Abiyan masih tidak mau kalah. Sementara dokter Zafran dan istrinya hanya geleng-geleng melihat kelakuan kedua anaknya yang tidak pernah berubah setiap hari. Meskipun umur mereka bertambah tua.    “Ya pantes aja dapet konsulen rewel,” desis Alena.    “Kak ...” Abiyan kini mendumal. Alena terkekeh.    “Sudah-sudah. Kalian ini. Selalu saja ribut. Nggak dirumah, nggak diluar, sampai mau makan juga masih saja berdebat,” tukas dokter Diana yang gemas pada kedua anaknya.    “Biarkan, Ma. Anggap saja pengganti radio. Hemat kan kita?” seloroh dokter Zafran.    “Hemat dari mana? Kalau lapar malah mereka lebih mahal biayanya dari pada bayar listrik, Pa,” ucap dokter Diana.    “Kan mereka sudah bisa bayar sendiri-sendiri kalau untuk itu, Ma,”     “Tunggu-tunggu, ini kenapa jadi Mama sama Papa yang berdebat ya?” celetuk Abiyan. Mereka berempat terkekeh.    “Kamu tadi habis dari mana, Biy?” tanya Alena.    “Dari depan. Ada paket tadi. Eh, ini Kak. Ada undangan buat kamu,” ujar Abiyan seraya menyodorkan selembar kertas berwarna putih dengan hiasan pita merah muda.     “Invitation?” Alena membeo.    Abiyan mengangguk, “Wedding invitation.” Alena memandang lembaran tersebut dengan seksama. Tertulis bahwa undangan dikirim oleh Vania Maulida, teman sebangkunya saat SMA. Alena menghela nafas pelan. tidak mungkin ia tidak menghadiri acara yang diadakan salah satu teman baiknya itu. Tapi jika dia hadir, maka Alena harus bersiap-siap untuk menerima pertanyaan yang paling ia benci.     “Kenapa, Al?” tanya ibunya.    “Ah, nggak, Ma. Nggak pa-pa kok,”    “Nggak usah bingung gitu, Kak. Dateng aja lagi. Selama ini tiap ada undangan nikah, Kak Al hampir nggak pernah dateng,” tukas Abiyan.    “Males, Biy,”    “Because?” tanya Abiyan tidak mengerti.    “Ditanyain kapan nyusul mulu,” jawab Alena dengan wajah tertekuk. Mendengar jawaban kakaknya, Abiyan sebenarnya ingin tertawa namun ekspresi yang ditampilkan Alena membuatnya tidak tega. Daripada kena sembur kakaknya pagi-pagi. Disembur sih, Abiyan bisa tahan dan mungkin melawan. Abiyan justru takut kalau Alena hanya terdiam. Karena kakaknya itu jauh lebih menyeramkan saat diam.    “Cuekin aja lah, Kak,”     “Nggak semudah itu, Biy. Pasti bakal diburu terus. Kenapa? Nunggu apa? Cari apa? Mau dicariin calon? Bla bla bla. Dikata nikah kaya pilih lotre,” ucap Alena jengkel seraya mengunyah rotinya. Sementara dokter Zafran dan dokter Diana hanya terdiam tanpa ingin menyela. Terlebih dokter Diana yang selama ini seringkali memburu putrinya untuk segera menikah, kini beliau mengerti bagaimana kerisauan hati Alena yang sesungguhnya.    Perempuan berusia 53 tahun tersebut berjalan mendekat dan memeluk putrinya.    “Mama kenapa?” tanya Alena yang terheran dengan sikap ibunya.    “Maafkan Mama ya, selama ini Mama selalu saja mendesak kamu untuk segera menikah. Tanpa pernah bertanya dan memikirkan perasaan kamu. Mama sadar sekarang, pasti berat untuk kamu saat mendapat pertanyaan seperti itu,”    Seketika suasana meja makan berubah menjadi sendu. Alena sendiri kini berkaca-kaca atas ucapan ibunya. Sungguh sesebal apapun Alena pada pertanyaan itu, ia tidak pernah sama sekali marah dan menganggap ibunya salah. Alena sangat mengerti maksud ibunya.    “Al nggak pa-pa kok, Ma. Al ngerti,” jawabnya dengan nafas tercekat.    “Nggak, Sayang. Mama salah. Maafkan Mama ya,” Alena tersenyum dan mengangguk. Abiyan terdiam tanpa ingin berkomentar. Sementara dokter Zafran juga memandang haru pada istri dan putrinya. Selama ini beliau sudah seringkali mengingatkan istrinya agar tidak mendesak Alena terlalu berlebihan namun dokter Diana bergeming. Kini ia senang karena istrinya dengan sendirinya menyadari kekeliruannya.    “Udah, ah. Kenapa sarapan kita jadi mellow gini sih,” Oke, fix! Abiyan memang perusak suasana. Mungkin seharusnya ia lebih cocok menjadi dokter perasaan daripada dokter gigi. Jangan pernah membayangkan apa jadinya jika Abiyan tengah memasang behel pasiennya sambil mengoceh tidak jelas. Jangan.    “Ini anak, memang,” dokter Diana menghadiahkan cubitan sayang pada lengan putra bungsunya.    “Aww,” desis Abiyan manja. Sebuah ide terbesit di otaknya, “Eh, Kak aku punya ide,” tambahnya.    “Ide apaan? Nyeleneh aku lempar kamu,”    “Ish, kejam ih. Hhh, nggak nyeleneh kok. Kakak ajak aja dokter Kim buat ke acara itu,”    “Eh?” Alena mengerjap.    “Iyaa, Kak Al ajak dia aja. Kan kalau kakak ajak seseorang bisa meminimalisir pertanyaan semacam itu.    “Boleh juga idenya adik kamu, Al. Atau biar Mama yang minta ke dokter Kim untuk menemani kamu?” tanya dokter Diana antusias.    “Eh, jangan,” sergah Alena.    “Why?” tanya Abiyan.    “Biar Al sendiri yang bilang,” jawab Alena cepat. Ia tidak mau mengambil resiko jika orang tuanya bertanya macam-macam nanti mengenai hubungan mereka.    “Toh, kalian pacaran kan. nggak masalah dong ngajak pasangannya ke acara nikahan,” seloroh Abiyan. Alena diam saja namun dalam hatinya membenarkan ucapan adiknya itu. Semua orang memang tahunya ia dan dokter Kim Yeong sedang menjalin hubungan. Ah, kepala Alena mendadak berat kembali terfikirkan hal itu.    “Kamu berangkat sendiri atau sama Papa, Al?” tanya dokter Zafran begitu mereka menuntaskan sarapannya.    “Al berangkat sendiri aja, Pa. Mau ambil pesanan buku juga dirumah temen. Kamu mau bareng Biy?” Alena beralih memandang adiknya.    Abiyan menggeleng, “Nope, aku mungkin pulang agak malem beberapa hari ini. persiapan ujian kompetensi.”    “Semangat ya, Adikku Sayang,” Alena memberi kecupan singkat dipipi adiknya itu. Jelas saja Abiyan menerimanya dengan wajah cerah.    “Thankyou,”    Mereka berempat akhirnya berpisah untuk menuju tempat dinasnya masing-masing. Dokter Zafran dan dokter Diana diantar supirnya menuju rumah sakit Cahaya. Alena mengambil pesanan bukunya terlebih dulu dan Abiyan menuju rumah sakit gigi yang letaknya cukup jauh dari rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN