Keesokan paginya..
Menjelang acara seminar hari ini, Zidhiana mengasupi tubuhnya dengan sarapan roti panggang dan segelas s**u cokelat. Sesuatu manfaat yang dipelajarinya sebelum memulai aktifitas pagi yakni lebih baik melakukan sarapan secukupnya karena membantu daya pikir lebih optimal dan lebih bersemangat. Walaupun kadang berat bagi gadis itu menjalaninya, lebih baik ia menghidar dari omelan ibunya dengan menyantap sedikit saja.
“Dihabisin sarapannnya ya,” titah ibunya.
“Iya buk,” angguknya. Menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan beliau dari pagi.
Terdengar suara sepeda motor dengan suara yang sedikit memekakkan gendang telinga berhenti di halaman rumahnya. Itu pasti Rasty duganya.
Dia langsung memakai sepatu sekolah berlogo angkasa yang sangat tenar di jaman mereka kala ini. Hampir rata-rata para siswa memakainya. Zidhiana meraih tas ransel kesayangannya yang berwarna biru muda lalu pamit dengan ibunya, menemui sahabat kecilnya yang telah menunggu di depan rumah.
Acara di mulai setengah jam lagi, mereka melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota kecil itu menuju gedung yang dituju. Hanya menempuh waktu 10 menit untuk sampai ke tempat tujuan.
Di sana sudah ada Rifai yang datang terlebih dahulu. Banyak siswa yang berdatangan. Mereka adalah perwakilan dari sekolah tingkat menengah pertama hingga atas. Aparatur daerah dan nara sumber sudah mulai berdatangan juga.
Mereka dipersilahkan duduk di bangku yang telah ditunjuk oleh panitia. Zidhiana, Rasty, dan Rifai duduk di bangku barisan khusus sekolah menengah atas. Tepat di barisan pertama di hadapan mereka adalah barisan dari sekolah anak lapangan. Setelah semua duduk dengan tertib dan teratur, mereka masih menunggu acara di buka.
Zidhiana POV
Ku tolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Kenapa pagi ini aku harus mencari Bram, kenapa pikiranku isinya hanya Bram, Bram, dan Bram lagi. Sespesial apa sih dia bagiku? Aku pun juga bingung menjawab pertanyaanku sendiri.
“Bram pasti nggak datang,” gumamku. Seraya duduk bersandar dan memainkan ketukan dengan jari-jariku di atas pegangan kursi. Hal ini ternyata membuat Rasty dan salah satu dari anak lapangan yang duduk di depan kami mendengarku.
“Bram lagi ... Bram teruuuss..” cibir Rasty.
Sebelum ia melanjutkan kata-katanya, ku bekap mulut Rasty secepat mungkin. Dan Rasty langsung mencubit lenganku karena kesal akan ulahku. Akhirnya kami saling memandang dan terkekeh geli.
“Bisa nggak sih jangan berisik,” omelku. Sedikit melotot memandang Rasty yang tersenyum puas mengusiliku.
“Cieeee.. ternyata ada juga yang nyari-nyari anak lapangan nih,” goda siswa lapangan yang duduk di depan barisan kami. Ku balas menatap mereka dengan senyum smirk.
Untung saja acara sudah dimulai. Pembawa acara sedang membacakan rangkaian kegiatan seminar hari ini. Semua peserta mengikuti dengan tertib hingga akhir acara. Tepat pukul 12 siang acara telah rampung, kami di persilahkan istirahat dan pulang.
Aku, dan kedua sahabatku masih duduk santai sebentar sambil mengobrol sebelum kami pulang ke rumah masing-masing. Di samping gedung ini ada kursi kosong yang bisa kami gunakan untuk istirahat sejenak.
“Ras, aku tuh mau ngenalin kamu sama temennya Bram yang namanya Icko,” ajakku penuh semangat.
Berharap Rasty mau menerima ajakkanku yang sedikit nyeleneh ini. Mungkin Rasty berpikir, aku hanya bercanda.
“Apa si Icko yang ngekos deket rumahnya si Septi?” sela Rifai. Memicingkan matanya. Pastinya dia mengenali Icko karena rumah Rifai dan Septi tidak berjauhan.
“Kebiasaan deh kalo pingin kenalan sama cowok, aku dibawa-bawa jadi obat nyamuk,” keluh Rasty. Mencebikkan bibirnya kesal. Sebenernya dia adalah teman yang sangat baik, selalu menemaniku walaupun kadang suka sewot sendiri menyesali ajakanku.
Aku menceritakan dari awal saat pertemuanku dengan Icko dan Bram kepada Rasty dan Rifai. Mereka sepertinya juga mengerti perasaanku saat ini sedang berbunga-bunga. Bukankah setiap orang berhak bahagia.
Bagaimana aku bisa berani untuk mengajak Rasty mengenalkannya dengan Icko, sedangkan ada Jack yang telah hadir di hati Rasty. Hanya sebuah alasan pertemanan saja tidak lebih dari itu. Dan akhirnya gayung pun bersambut, dia pun setuju untuk menemaniku.
Alasan klasik aku mengajak sahabatku tak lain hanyalah agar Dias tidak terlalu curiga kemanapun aku pergi selalu ditemani oleh Rasty. Betapa liciknya aku dan ku akui tanpa mengambil pusing hal apa yang akan terjadi. Resiko bermain hati akan tetap ku hadapi sendiri, ku jalani saja seperti air yang mengalir tak bertepi.
***
Sore ini aku diantar Bagas adikku ke lapangan Hang Lekir. Di sana sudah ada Bram yang menunggu di depan pintu pagar sekolah lengkap dengan pakaian olah raga sepertiku. Kami melakukan peregangan statis terlebih dahulu dan kemudian siap untuk mulai berlari.
“Bram, capek nggak lari keliling lapangan ini dua kali putaran?” tanyaku hati-hati takut menyakitinya.
“Jangankan dua puteran, lebih juga nggak papa,” jawab Bram diiringi senyum percaya diri.
“Gaya banget, kalo capek aku tinggal looh,” ejekku sambil berkacak pinggang.
“Kakang Brama koq ditantang,” sahut Bram. Menatapku dengan senyumnya yang bikin hatiku bergemuruh. Tak ku sangka seorang Bram bisa begitu konyol mengatakan dirinya dengan sebutan 'Kakang' seperti cerita di dunia film persilatan.
Akhirnya aku dan Bram memulai melangkahkan kaki dengan penuh semangat menyisiri jalanan yang sepi. Terlihat anak-anak kecil bermain sepeda bersama teman-temannya di jalan. Ada juga beberapa ibu-ibu sedang menggendong dan menyuapi anaknya. Hal ini biasa terjadi menjelang bergantinya senja.
Ku lihat Bram bersemangat sekali berlari mengiringiku. Sudah diakui anak lapangan memang memiliki fisik yang kuat karena mereka terlatih dengan baik untuk kedisiplinan dan kesehatan.
Saat satu putaran berlalu, sepertinya ada sepeda motor yang mengikuti kami berdua dari belakang. Namun kami abaikan saja karena kami juga sudah menepi dan tidak menghabiskan setengah badan jalan.
“Semangat ya larinya Zi, biar nanti nilai larinya bagus,” ujar seseorang dari arah samping kami berlari. Ku tolehkan pandanganku untuk mengetahui siapa yang menyapa dan mengenaliku.
“Siap pak,” jawabku penuh rasa jengah yang tak bisa ditutupi lagi. Dia adalah Pak Suryo guru olah raga kami di sekolah. Angin apa yang membawanya sampai bisa bertemu kami sore ini.
Bram hanya tersenyum dan sedikit terkekeh geli melihat ekpresi memerah wajahku setelah menyapa Pak Suryo. Kami melanjutkan kembali berlari hingga menggenapi dua putaran. Sore ini begitu terik, kami memilih tempat yang teduh untuk beristirahat.
Kemudian kami meluruskan kedua kaki yang lelah ini di atas lantai lapangan volly yang masih dalam satu tempat di lapangan ini. Dengan mengatur nafas yang masih tak beraturan sambil bercanda ringan bersama.
Bram memiliki pribadi yang ramah dan hangat dibalik manik matanya yang dingin itu. Tidak seperti yang ku bayangkan dia begitu acuh dan pemalu.
“Bram ... aku kira kamu ini orangnya dingin looh,” ucapku jujur memandang netranya yang sayu itu.
“Ya nggak laah, tapi tergantung juga sih. Kalo misalnya aku lagi nggak suka ya aku pake tampang cuek,” kata Bram singkat. Lalu menyodorkanku sebotol air mineral.
“Aku tuh hari ini ikut seminar, aku kira kamu ikutan juga,” ujarku.
“Kamu pasti nyariin aku, kangen kan?” terka Bram dengan alisnya sebelah yang bergerak-gerak.
Bruuutt..
Sontak ku semburkan air yang hampir saja tertelan. Oemjih.. di luar dugaanku, cowok di sebelahku ini ternyata bisa membaca apa yang ada di pikiranku.
“Mimpi apa aku bisa ketemu manusia super pede gini,” ledekku. Sambil menepuk keningku pelan. Ku lihat Bram hanya tersenyum kemenangan telah berhasil menebak isi pikiranku.
Rasanya waktu cepat sekali berputar, tidak terasa magrib pun hampir tiba. Menghabiskan waktu bersama Bram sore ini sangat berkesan bagiku. Cerita dan candaan ringan dari Bram membuat hariku indah penuh warna warni.
Aku pamit pulang kepada Bram karena Bagas sudah menjemputku. Sempat tadi ku lihat mereka bertegur sapa sebentar sebelum kami pergi meninggalkan Bram di lapangan. Untung saja adikku orangnya sangat pengertian tanpa menanyakan hal-hal yang aneh.
***
Setelah makan malam, aku belajar di dalam kamarku. Kebiasaanku adalah membaca sambil berbaring. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat mataku rabun jauh sejak kelas 3 sekolah dasar. Aku menggunakan kaca mata saat belajar di kelas saja.
Drrrrtt.. Drrrrttt..
Ponselku bergetar. Ku alihkan pandanganku dari buku yang k*****a mencari keberadaan benda pipih kesayangku ini. Ternyata ada pesan dari Bram.
Bram : lagi ngapain Dhiana, udah makan belum?
Aku : udah tadi. Aku lagi baca buku. Kamu lagi ngapain?
Kadang aku berpikir, Dias jarang sekali memberi perhatian kecil seperti ini.
Bram : mikirin kamu.
Aku : Dubraaaak.. bisa banget gombalnya ya kang. Heheehe.
Ku lanjutkan lagi membacaku, tapi pastinya konsentrasiku buyar karena menunggu ponselku bergetar memberi notifikasi masuk pesan dari Bram. Tiba-tiba ada panggilan masuk, lalu ku angkat dan tanpa k*****a lagi siapa yang menelponku.
Aku : Ya Bram.
Dias : Bram sapa yank?
Betapa cerobohnya aku, netraku mengerjap terbuka, langsung ku tepuk keningku, dan ku lihat nama yang memanggilku. Padahal aku mengenali suara itu, hanya untuk memastikan bahwa seseorang yang menelponku di seberang sana adalah Dias pacarku.
Aku : eh A’ maap, tadi temenku telpon tapi keputus. Abis pulsa kali.
Dias : ooh kirain sapa. Lagi ngapain yank?
Aku : belajar A'. Beneran ya Aa' nggak bisa dateng week end ini?
Dias : iya maap ya, di kantor lagi mau ada audit.
Aku : iya nggak papa A'.
Dias : udah dulu ya, aku mau nyambung lembur dulu ini.
Aku : ok A',, met kerja ya.
Seandainya di jaman tahun 2002 ini ponsel sudah bisa untuk bertatap muka langsung, mungkin kita bisa saling menyapa dari kejauhan. Dan aku tidak akan salah untuk menyebutkan namanya.