Rahasia Dias

1530 Kata
Tiba saatnya kelas Zidhiana mengambil nilai olah raga lari dengan jarak 200 meter. Rifai sebagai ketua kelas mempersiapkan barisan siswi yang akan berlari di putaran pertama. Dia merasa begitu siap untuk mengikuti ujian ini. Hanya satu saingannya si Nova yang selalu unggul di setiap ujian lari. Kata ibunya, Nova juga masih saudara jauh dengannya “Semua siaaaap.. satu ... dua ... tiga ..!” hitung Rifai. Mengangkat bendera start. Priiiitt.. Suara peluit berbunyi menandakan mereka siap melepaskan seluruh tenaga menuju garis finish yang dituju. Zidhiana berlari dengan nafas yang terartur sehingga ia bisa menempuh jarak jauh dengan baik. Memang sudah ia buktikan, langkahnya lebih ringan menuju ke garis finish. Dia menempati urutan kedua setelah Nova. Usahanya kini berbuah hasil dengan berlatih setiap sore. “Tumben Zi, larinya bisa cepet?” tanya Nova masih dengan nafas yang tersengal-sengal. “Bisa donk, latihan larinya sama cowok gitu sore-sore. Ya kan Zi”” celetuk pak Suryo sedikit terkekeh melihatnya. Dia merotasikan bola matanya malas. “Yang penting nilainya bagus, kan pak?” sahut Zidhiana tak mau kalah. Dia juga melemparkan senyum menyeringai saat menangkap Nova yang sedang menatapnya dengan rasa curiga. Saudaranya itu sedikit penasaran dengan apa yang diucapan pak Suryo. Karena dia banyak sekali mengetahui informasi tentang anak lapangan. Dari kejauhan Zidhiana melihat Rasty masih terus berlari sekuat tenaga menuju ke garis finish. Padahal ia sudah beristirahat selama 10 menit di sana. Nafasnya sudah lebih stabil dan keringatpun sudah mulai mengering. Dia berteriak menyemangati sahabat kecilnya itu. Sepertinya Rasty kelelahan melangkah dengan bobot tubuhnya yang besar. Dia terlihat beberapa kali berhenti mengatur nafas dan berlari lagi. Zidhiana jadi teringat ketika pengambilan nilai lari semester lalu. Beberapa kali ia berhenti menghirup oksigen dan mengeluarkannya lagi sebaik mungkin. Akhirnya ia telat sampai ke garis finish. Setelah beberapa menit, kini Rasty sampai juga dengan nomer urutan 3 dari belakang untuk siswi di putaran pertama. Selanjutnya mereka menunggu siswa pria yang akan berlari di putaran kedua. Dia melihat wajah Rasty memucat dengan peluh keringat membasahi pipinya yang tembem. “Aku koq di ... ditinggal sih Zi,” omel Rasty. Mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia ingin sekali tertawa renyah tapi tidak tega melihat sahabatnya yang menggemaskan ini. “Ambil nafas dulu, protesnya nanti ya,” saran Zidhiana sedikit mengusili Rasty. “Makanya kamu Rasty, sore-sore latihan lari juga sama siswa lapangan kayak Zi,” ledek pak Suryo lagi. Membuat Zidhiana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Nova ingin sekali mencari tahu apa yang ia lakukan tiap sore. Dia sepertinya penasaran dengan siapa gadis itu berlari. Namun ia pastikan, Nova tidak akan lagi menjumpai mereka di sore hari ini sedang lari bersama. Zidhiana hanya mengulum senyum geli melihat ke arah Nova. Setelah semua murid sampai ke garis finish dan pengambilan nilai hari ini berakhir, mereka bergegas pulang menuju sekolah. Menikmati terik matahari di sepanjang jalan yang ditumbuhi ilalang. Zidhiana berjalan bersebelahan dengan Rasty sambil mengobrol santai. “Ras, sore nanti jangan lupa temenin aku ke rumah Septi ya. Terus kita ke pelabuhan nitip cake buat Dias,” pinta Zidhiana kepada sahabat kecilnya yang selalu setia. “Entar dititipin sama mas Jack aja Zi, sekalian dia yang bawa. Katanya sore ini dia mau ke sana,” usul Rasty. Gadis itu menyetujui apa yang Rasty sarankan. Jack juga orangnya pengertian dan selalu membantunya di saat ia ingin menanyakan hal apa saja yang terjadi selama Dias jauh darinya. *** Sore harinya Zidhiana menjemput Rasty, kemudian mereka berangkat bersama menuju ke rumah Septi. Di sana telah menunggu sekotak cake ulang tahun untuk dikirim ke seberang lautan. Hari ini tepatnya Dias berulang tahun yang ke 24. Sudah cukup dewasa bukan untuk seorang pria. Namun sepertinya tidak bagi Dias. Yang gadis itu lihat, Dias masih ingin menikmati masa mudanya yang tak kunjung berakhir. Walaupun dia masih berumur 17 tahun, tapi ia bisa membaca karakter seseorang. Menurutnya tua itu pasti, namun dewasa itu belum tentu. Selama Zidhiana menjalin hubungannya bersama Dias, ia selalu membawa pria itu ke rumahnya. Agar orang tuanya mengetahui dengan siapa anaknya menjalin kasih. Dan Zidhiana juga tidak pernah menuntut apapun dari Dias selama mereka berpacaran. Mungkin karena sifatnya yang terlalu keras dan memegang prinsip yaitu meraih cita-cita dibanding urusan hati. Terkadang ia juga merasa hatinya sepi saat terbesit ingatannya kepada Dias. Namun berbeda ketika bersama Bram, seeolah hadir cahaya cinta untuk Zidhiana. Tok.. Tok.. Tok.. Dia mengetuk pintu rumah Septi. Tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu, Zidhiana mencium tangan beliau sambil mengucapkan salam. Wanita itu adalah ibunya Septi yang sudah ia anggap sebagai tantenya sendiri. Ibu Zidhiana pun sangat mengenal baik dengan beliau. Sepertinya Septi tidak sedang berada di rumah. Terlihat begitu sepi rumah ini karena ayah Septi telah tiada dan Septi hanya seorang anak tunggal. Mereka tinggal berdua saja di rumah minimalis yang asri ini. "Tante makasih banyak ya,” ucap Zidhiana. Lalu menyelipkan amplop kecil di saku beliau. “Eeh.. Ini apa Zi, nggak usah gitu. Nan-- “Tante terima ya, kan ini bukan Zi yang ultah, pliiiss” potong Zidhiana. Membujuk ibunya Septi untuk menerima pemberian darinya. Akhirnya beliau menerima setelah dia berhasil meluluhkan hati mama Septi dengan rayuan pulau kelapa. Zidhiana dan Rasty pun pamit dan segera meluncur ke pelabuhan. Di sana Jack telah menunggu membawa titipannya. “Mas Jack, tolong titip ini ke Dias ya,” ujar Zidhiana penuh rasa terima kasih. “Hayo ... Apa ini mbak Zi?” tanya Jack pura-pura tidak tahu. Pria itu memang memanggil Zidhiana dengan sebutan ’mbak’, mungkin ini sudah menjadi kebiasan baginya dalam menyapa seseorang. “Nanti bisa nyicip bareng-bareng ya mas,” tutur gadis itu. Mempersilahkan Jack untuk merayakannya bersama Dias. Kemudian Jack berpamitan kepada mereka meninggalkan pelabuhan dan menuju kapal. Zidhiana dan Rasty pun langsung pulang ke rumah. Saat kendaraan mereka keluar dari pelabuhan, Rasty mengajaknya untuk jalan-jalan sebentar sambil menikmati udara sore. Setelah puas berkeliling menyusuri jalanan kota kecil ini, mereka pun bergegas untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang, ada seseorang berseru memanggil namanya 'Dhiana'. Ia sangat tanggap dengan sebutan yang sedikit berbeda dipanggil oleh seseorang. Zidhiana mencari sumber suara itu dan tepat sekali, Bram yang sedang melambaikan tangannya dari kejauhan. Dia hanya mengangguk dan membalas dengan lambaian tangannya. Ia tak mungkin mampir karena waktu sudah hampir magrib. Rasty yang melihat seseorang dari kejauhan memanggil sahabatnya itu hanya sempat menoleh dengan rasa bingung. Lalu ia menduga bahwa itu adalah Bram, tanpa menanyakan kepada Zidhiana terlebih dulu. “Thanks ya Ras, udah nemenin dan bantuin aku,” ucapnya setelah sampai mengantarkan Rasty ke rumahnya. “Nggak gratis loo,” sindir Rasty dengan alisnya yang naik sebelah penuh makna imbalan atas bantuannya. Dia terkekeh geli mendengar ucapan sahabatnya itu. “Nanti aku kenalin sama Icko aja ya, lunas kan?” tawar Zidhiana mencubit pipi Rasty yang gembul itu. Seperti biasa jawabannya selalu membuat Rasty malas untuk berdebat panjang. “Eh tadi itu yang namanya Bram bukan?” selidik Rasty meyakinkan dugaannya. “Yup benaaar, udah ya aku mau cabut dulu,” pamit Zidhiana meninggalkan rumah Rasty tanpa menjelaskan lebih lama lagi. Nampak Rasty mengerucutkan bibirnya sebal. Sahabatnya itu bukannya menjelaskan tentang Bram, malah meninggalkannya. Jack POV Setelah hampir sejam aku mengarungi lautan yang menghubungkan antara dua pulau ini. Akhirnya aku menginjakkan kakiku ke kantor cabang tempat Dias bekerja. Ku selusuri ruangan yang sudah hampir sepi ditinggalkan oleh para karyawannya. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Ku lihat ruangan devisi keuangan masih menyala lampunya menandakan masih ada orang di dalamnya. Ketika aku hampir masuk ke dalam ruangan yang hanya setengah terbuka pintu kacanya itu, aku mendengar suara orang sedang tertawa renyah. Suara seorang pria dan wanita, seperti suara orang yang ku kenal juga. Aku mencoba untuk mencari tahu pasti, siapa pemilik suara yang ada di dalam ruangan ini. Di balik pintu kaca yang bagian sebelahnya masih tertutup, ku tarik nafasku dalam-dalam, lalu ku hembuskan dengan perlahan. Betapa terkejutnya aku menangkap pemilik suara yang sedang tertawa bahagia dan sepertinya sedang memadu asmara. Mereka adalah Dias dan Lely. Mereka juga bekerja di satu devisi. Lebih baik aku pergi untuk kembali ke ruang tunggu dan mengurungkan niatku bertemu Dias sekarang. Aku akan menemuinya setelah ia keluar dari ruangan ini. Akhirnya 30 menit berselang mereka keluar dari ruangan itu saling bergandengan tangan dan masih tertawa renyah bersama. Kebetulan Dias yang tak sengaja melihatku menunggu, ia langsung melepaskan tangannya dan menghampiriku tanpa Lely. Ku lihat wanita itu tampak sedikit terkejut melihat kedatanganku. Setelah Lely berlalu dari pandangan kami, ku serahkan kepada Dias titipan dari Zidhiana dan ku ucapkan selamat kepadanya atas bertambah usianya. Di sana ada beberapa teman kami yang belum pulang dan Dias memanggil mereka untuk bergabung bersama kami menikmati cake ultah ini. Sepertinya hubungan antara Dias dan Lely bukan rahasia lagi. Saat kami menikmati cake bersama, ada seorang teman kami tak sengaja menyindir Dias yang pintar bermain hati. Aku menunduk menahan amarahku karena Zidhiana sudah ku anggap sebagai temanku sendiri yang dipermainkan seperti ini. Aku tak menyangka Dias pintar sekali bermain hati. Dari sudut penampilan, ku lihat Zidhiana lebih cantik alami tanpa polesan make up dibandingkan dengan gaya Lely yang sangat berlebihan menurutku. Rasanya aku ingin sekali memberitahukan Zidhiana saat ini juga. Tapi biarkan waktu yang menjawab semuanya. Semoga rahasia ini segera terbongkar, bathinku. Bagaimanapun bangkai yang tertutup rapat, akan tercium juga baunya. Pepatah tak pernah salah membuat suatu kiasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN