Zidhiana POV
Ku hidupkan ponsel kesayanganku yang tertinggal di rumah. Ada beberapa notifikasi pesan masuk, salah satunya berasal dari Bram. Ku buka pesan darinya dan mengabaikan pesan masuk lainnya.
Bram : Duh sombong amat yang dipanggil nggak mau mampir. (emoji sedih)
Aku : Sorry ya Bram, tadi udah magrib. Aku nggak enak sama Rasty. Next time aku mampir ya.
Kemudian ku lanjutkan meringkas materi pelajaran besok sambil menunggu balasan darinya. Kegiatan seperti ini adalah hal yang biasa ku lakukan selama belajar malam. Keesokan harinya aku hanya santai mendengarkan penjelasan materi dari guru di sekolah.
Mungkin Bram marah ya, pikirku. Sudah hampir 1 jam dia belum juga membalas pesanku tadi. Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Tugasku pun telah selesai, saatnya bersantai ria sebelum netra ini terpejam.
Drrrrtt.. Drrrtt..
Aku mencari sumber bunyi dari benda pipih di tumpukan buku-buku modul di sekelilingku. Kali ini aku tak akan salah lagi memanggil nama penelpon yang menghubungiku.
Aku : Hallo A'.. Happy Brithday ya.
Dias : Makasih ya yank udah dikirimin cakenya. Koq repot-repot sih yank.
Aku : Ya nggak gratis donk he he heee..
Dias : Iya deh, Zi mau apa nih?
Aku : Zi mau jalan ke pantai sama Aa' ya.
Dias : Entar ya kalo pas ke sana, kita ke pantai.
Aku : Beneran ya A', janji looh. Aku nggak mau kalo dipehapein
Dias : Iya yank, ya udah bobo gih besok sekolah, kan?
Aku : Ok, bye.
Setelah ku tutup panggilan dari Dias, betapa senangnya aku. Padahal cuma minta jalan ke pantai, terus di'iya'kan dan bahagianya nggak ketulungan. Seperti seorang adik menagih janji kepada kakaknya saja, bukan?
Besok adalah malam Minggu, aku memikirkan rencana apa tanpa Dias bersamaku. Nggak mungkin juga aku ke rumah Rasty, yang ada aku hanya mengganggu acara ngedatenya mereka.
Ku pikir besok malam aku memang harus tetap di rumah saja. Duduk manis, nonton tv, ngemil sambil maenan ponsel. Hmm.. aktifitas yang bikin mati gaya.
Drrt.. Dddrrtt..
Lagi dan lagi ponsel ini bergetar. Tapi menggetarkan bahagia. "Yeess.." kataku, karena ku lihat ada pesan masuk dari Bram.
Bram : Maap ya. Aku ketiduran nungguin balasan dari kamu, Dhiana. Besok aku nggak pulang ke Batam. Malem Minggu ada acara nggak Dhi?
Aku : Nggak ada Bram.
Bram : Kita keluar yuuk, nongkrong bareng di cafe yang deket pintu masuk dermaga Angkatan Laut itu.
Asyiiiiikk.. Aku membathin ria. Tapi ini kan pertemuan pertama, lebih baik aku membawa Rasty, pikirku.
Aku : Aku boleh bawa temen ya. Kamu mau nggak ajak Icko sekalian?
Bram : Ok deh, entar aku ajak Icko. Met bobo ya udah malem.
Aku : Ketemunya di rumah Septi ya, kan deket tuh sama kosannya Icko. Ok kakang Brahma, sleep tight. (emoji mengejek).
Seandainya tarif pesan singkat tak semahal saat ini, mungkin kami sebagai anak sekolahan sangat merdeka dalam berkomunikasi. Tanpa memperhitungkan, berapa kali mengirim pesan singkat dengan tarif yang sudah dikeluarkan.
Apa yang terjadi setelah ku balas pesan terakhir Bram malam ini?
Spontan ku melompat kegirangan, menghempaskan badanku ke kasur. Kemudian menendang-nendangkan kakiku ke udara. Akhirnya, satniteku tak sekelabu yang ku bayangkan. Aku membathin ria malam ini.
***
Keesokan harinya..
Aku tak sabar mengajak Rasty menemaniku malam Minggu ini. Tapi aku bingung memikirkan alasan apa dia menemaniku. Aku harus memberikan alasan yang tepat ke Jack nantinya.
Saat jam istirahat tiba, aku mengutarakan niatku mengajak Rasty menemaniku nanti malam. Tak sesulit yang ku duga, ternyata ia menerima ajakanku. Dengan satu syarat, aku harus menemaninya menemui Jack di pelabuhan siang ini setelah pulang sekolah.
Hari ini Rasty membawa kendaraan kesayangannya ke sekolah. Jadi aku bisa langsung pulang bersamanya menuju pelabuhan. Masih menggunakan seragam sekolah, kami menemui Jack yang sudah menunggu di sana.
Jack memepersilahkan aku dan Rasty duduk di ruang tunggu keberangkatan sambil mengobrol santai. Katanya malam ini Jack akan menginap di kantor cabang Batam untuk membantu proses audit di sana. Kami mengobrol hanya 1 jam saja.
Terlihat dari depan, ada seorang wanita menggunakan seragam seperti yang Jack gunakan. Pasti mereka satu profesi, bathinku. Wanita itu menatap kami sengit dengan gaya jalan yang dibuat-buat.
“Sapa sih tuh mas?” selidikku bercampur penasaran.
“Oh itu Lely, karyawan yang di Batam,” jawab Jack singkat.
Aku hanya manggut-manggut mengerti tapi tidak dengan sahabatku. “Gayanya norak banget, lipstiknya kayak mau kondangan,” cibir Rasty. Terbaca raut wajahnya yang memandang rendah wanita itu.
“Ssstt.. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya,” bisik Jack mengisyaratkan.
Ku lihat wajah Rasty tampak begitu sewot tak seperti biasanya. Dia hanya ngedumel kecil dan tak ada habisnya. Aku juga heran, kenapa Rasty sampai begitu benci melihat wanita itu.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar kami tidak fokus kepada objek yang membuat sahabat kecilku sedikit gila tak habis mengumpat. Sekalian aku meminta izin kepada Jack agar Rasty bisa menemaniku malam ini ke rumah Septi. Bahagiaku kini lengkap setelah Jack mengabulkannya.
Tepat pukul 7 malam, aku dan Rasty tiba di rumah Septi. Ku lihat sang pemilik rumah sedikit bingung dengan kedatangan kami. Akhirnya setelah ku ceritakan, Septi paham maksud kedatangan kami yang hanya menumpang tunggu.
Sesekali Septi mencubit pinggangku karena gemas melihat gelagatku. “Kemarin baru saja buatin cake untuk Dias, malam ini sudah punya gebetan baru,” ledeknya. Tertawa renyah bersamaku.
Kini Bram dan Icko telah muncul di hadapan kami. Jantung ini mulai berdegub kencang, sama seperti pertama kali aku melihat Bram. Dia terlihat begitu tampan dengan baju kemeja kotak-kotak berwarna hitam putih dipadukan dengan celana jeans panjang.
Aku memperkenalkan Bram dan Icko kepada Septi dan Rasty, walaupun sebenarnya Septi sudah mengenal mereka sebelumnya. Lalu kami pergi menuju cafe yang telah direncanakan semalam.
Setelah sampai di sana, kami mengambil satu meja paling sudut dengan lampu yang terlihat remang-remang. Kami ngobrol dengan canda tawa bersama.
Tiba-tiba tangan Bram menarik pergelangan tanganku dan mengajakku duduk tepat di pembatas bibir pantai. Aku menuruti kemauan Bram. Kami duduk di atas tembok pembatas dengan lebar setengah meter yang membentang panjang memisahkan antara pantai dan cafe.
Dari arah timur terlihat gemerlap cahaya lampu-lampu kapal perang TNI Angkatan Laut yang bersandar di dermaganya. Di sebelah barat terlihat lampu redup kapal-kapal tanker yang jaraknya saling berjauhan satu dan lainnyaa. Ada juga cahaya lampu kecil dari perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan.
Sembari memandang ke arah lautan, aku membuka obrolan ringan bersama Bram.
“Bram, koq tumben nggak pulang? Biasanya kalo malem minggu pulang ke Batam, kan?” tanyaku ingin tahu.
“Kalo dulu kan nggak tau mau kemana pas malem Minggu. Tapi sekarang kan udah ada yang nemenin,” timpal Bram. Tersenyum penuh arti kepadaku.
Yang nemenin? Siapa nih? Aku atau ada yang lainnya, tapi masa aku harus kepo gini, bathinku.
“Satu lagi ya aku nanya,” tambahku.
“Nanya apa aja juga boleh,” ucap Bram. Sepertinya ia memberikan lampu hijau padaku untuk mengetahui tentang dirinya.
Deg.. Aku terdiam sejenak, sempat kehabisan kata-kata. “Koq kamu lebih suka sekolah di sini sih kang?” ledekku. Seraya tertawa geli karena memanggilnya 'Kakang'.
Bram pun ikut terkekeh mendengar ucapanku. “Dulu itu aku pernah pacaran sama anak tetanggaku orang Philip, aku malah jadi nggak bener. Orang tuaku ngirim aku ke sini gitu,” jelas Bram. Beranjak berdiri memandangi pulau di seberang lautan.
“Oh kalo gitu pas banget ya dengan nada deringnya,” godaku mencairkan suasana.
Gara-gara perkataanku membuatku menjadib terpaku saat menangkap manik mata Bram yang sedang menatapku tak berkedip. Sedang apa yang ia pikirkan dengan menatapku seperti itu?
“Kamu punya tanda di wajah yang sama kayak aku,” lirihnya. Membuat aku bertambah bingung.
“Maksudnya gimana Bram?” timpalku.
“Kamu punya t*i lalat di bawah mata sebelah kiri, kalo aku ada di kanan,” ungkap Bram. Lalu tersenyum simpul.
Aku terkesima dengan ucapannya dan membulatkan kedua bola mataku. “Bisa nampak gitu ya, ini kan cahayanya remang-remang kang,” candaku. Tak habis pikir, kenapa Bram begitu memperhatikanku begitu detailnya saat ini.
“Aku kan bisa ngelihat kamu dalam diam dan kegelapan,” ujarnya serius.
Semakin malam kenapa Bram semakin jadi kayak pujangga gini ya, bathinku. “Kamu juga bisa baca hatiku Bram?” Aku menatap netranya yang penuh arti.
“Bisa donk, tapi rahasia,” balasnya terkekeh geli.
Aku langsung mencubit pinggangnya karena gemas menunggu jawabannya yang menggantung.
Malam ini tak terasa begitu cepat berlalu. Kami pulang meninggalkan cafe itu dengan sejuta rasa. Pastinya rasa bahagiaku yang terlukis di sana.
***
Minggu paginya Zidhiana berencana akan menghubungi Bram mengajaknya bermain cano ke pantai. Cano adalah perahu kecil bermuatan 2 hingga 3 orang dan berbentuk tidak melengkung (cendrung rata).
Tapi Zidhiana terlupa kalau ponselnya kehabisan daya dari semalam. Ia urungkan niatnya menghubungi Bram, mungkin siang ini aja pikirnya.
Semua tugas rumah sudah hampir selesai. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, namun karena kelelahan netranya terpejam dan ia terlelap di atas kasur yang beralaskan motiv bunga sakura pink itu.
Cklek..
Terdengar suara pintu terbuka. Sepertinya gadis itu mendengar samar suara ibunya membangunkan mimpi indahnya di siang bolong ini.
“Zi .. Bangun. Ada yang dateng tuh!” ujar beliau. Menggoyang-goyangkan lengan anaknya.
“Iya nanti aja, tutup aja makanannya buk. Zi masih ngantuk,” sahut Zidhiana setengah sadar.
“Bukan .. Itu ada yang dateng nyariin kamu di depan. Udah ibuk suruh duduk nunggu di ruang tamu. Sana cepetan keluar,” perintahnya.
Gadis itu menggeliat, lalu beranjak bangun tanpa melihat kondisi wajahnya yang masih bermuka bantal. Langkahnya sedikit terhuyung menuju ruang tamu sambil mengerjap-ngerjapkan netranya agar terbuka.
Sontak Zidhiana terkesiap melihat seseorang terkekeh geli memandangnya. Kenapa tiba-tiba dia muncul siang ini, bathinnya.
To be Continue...