Cinta Dalam Diam

1649 Kata
Gadis itu menggeliat, lalu beranjak bangun tanpa melihat kondisi wajahnya yang masih bermuka bantal. Langkahnya sedikit terhuyung menuju ruang tamu sambil mengerjap-ngerjapkan netranya agar terbuka. Sontak Zidhiana terkesiap melihat seseorang terkekeh geli memandangnya. Kenapa tiba-tiba dia muncul siang ini, bathinnya. “A' koq nggak ngabarin,” tanya Zidhiana bercampur rasa mengantuk dan bahagia. “Mandi gih, mau ke pantai nggak?” ajak Dias. Mencubit hidung gadis itu gemas. Tanpa menunggu rasa kantuknya hilang, dia melesat menuju kamar mandi dan bersiap-siap menuju pantai bersama pria si penakluk hatinya. Kemudian Dias pamit ke Martinah, ibunya Zidhiana. Mereka pergi siang ini menuju pantai yang tak jauh dari sekolahnya. Tampak dari kejauhan air laut pasang, paling asyik kalau bermain cano menyusuri pinggiran laut. “Main cano yuuk A' mumpung airnya pasang nih,” pinta Zidhiana. Menggandeng tangan Dias. “Nggak mau ah, nanti bajuku basah. Aku nggak bawa pakaian ganti Zi,” tolak Dias yang beralasan. Moodnya jadi malas menginjakkan kaki ke pantai. “Nanti kan bisa pake baju kaosku. Ayuk donk a', masa ke pantai nggak mainan air sih,” rengek Zidhiana kesal. “Kapan-kapan ya, tar kalo aku dateng lagi kita main cano ya. Senyum donk, nanti manisnya luntur diterjang ombak laut,” pujuknya. Menggoda gadis itu yang nampak mencebikkan bibir tipisnya dengan raut wajah menekuk. Gadis itu hanya membalas dengan senyum kecut. Ia pun melanjutkan menikmati air kelapa dan angin sepoi-sepoi yang berhembus. Padahal ia sangat ingin sekali bermain cano bersama Dias. Di pantai itu, mereka berjumpa dengan Jody teman seangkatan Zidhiana tapi berbeda kelas. Dia juga sedang berkumpul dengan teman-temannya. Sempat Jody menghampiri mereka dan bertemu sapa. Ternyata mereka saling kenal karena ayah Jody sekantor dengan Dias. Ia juga menceritakannya kepada Zidhiana. Pantas saja mereka terlihat begitu akrab. Ada sedikit rasa malu ketika Zidhiana sedang bersama Dias karena teman-temannya selalu berpikir pacarnya bukan anak sekolahan. Jarang sekali mereka jalan bersama siang hari seperti ini, seringnya mereka bertemu dan mengobrol di rumahnya saja. Sorenya sekitar pukul 5, dia mengantarkan Dias ke pelabuhan. Kebetulan kendaraan pria itu sedang dipinjam oleh temannya. Dia akan kembali ke Batam segera karena besok pagi sudah beraktifitas seperti biasa. Gadis itu pamit mencium punggung tangan Dias lalu pulang ke rumah. Zidhiana melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Setiap kali ia melewati jalanan di halte pemberhentian bus karyawan selalu saja ia mendengar seruan seseorang memanggilnya 'Dhiana' dari kejauhan. Ia yakin bahwa itu adalah suara Bram. Lalu dia memutarkan kendaraanya untuk menemui pujaan hatinya itu. “Ngekos di sini Bram?” tanyanya ingin tahu. “Iya Dhiana, sini duduk dulu. Mau minum dingin apa hangat?” tawar Bram dengan senyuman khasnya yang membuat meleleh hati gadis itu. Bram tinggal di rumah yang bagian depannya dibuat cafe kecil dan di bagian belakang dibangun kamar kosan buat anak-anak sekolah yang merantau ke kota ini. “Nggak usah Bram, ini udah mau magrib. Next time yaa aku mampir ke sini lagi,” ucap Zidhiana. “Kamu dari mana Dhi?” ujarnya. Melihat jam di tangannya. “Aku tadi baru dari pelabuhan nganterin saudaraku,” jawab Zidhiana sekenanya. Dalam hati kecilnya ia merutuki kebohongan yang sudah ia ciptakan. Setelah berbincang-bincang sebentar, gadis itu mengakhiri obrolannya dan berpamitan kepada Bram. Sebenarnya ia sangat ingin sekali berlama-lama bersamanya. Baginya Bram adalah seorang yang menenangkan hatinya. *** Saat jam istirahat di sekolah tiba, Rasty dengan sergap menarik tangan Zidhiana menuju kantin yang biasa mereka datangi. Kali ini tanpa Rifai karena ia sedang menemani gebetan barunya makan di kantin sebelah. Zidhiana dan Rasty memesan soto ayam dan es teh kesukaan mereka. Setelah selesai menyantap, sahabat kecilnya itu membuka obrolan yang membuat Zidhiana sedikit curiga. Tidak biasanya sahabatnya seserius ini wajahnya. “Zi ... Sebelumnya aku minta maaf ya. Karena aku udah ngenalin Dias sama kamu,” lirih Rasty. Tidak tega memandang wajah gadis itu. “Jangan bikin penasaran gitu donk Ras, ceritaiin aja,” ujar Zidhiana. Sambil menarik nafas, Rasty bingung harus memulai dari mana dulu. Ia tahu kalau sahabatnya ini pasti bisa menghadapinya dengan tegar. “Dias itu ... Haduh gimana yaa?” ucap Rasty. Menggigit jarinya kebingungan. “Kenapa ... Dia udah ada yang lain di Batam?” tebak gadis itu asal. Dia heran menatap Zidhiana hanya bersikap santai. “Tau dari mana Zi?” selidik Rasty. Memicingkan manik matanya. “Sudah ku duga,” balas Zidhiana datar. Dia menutupi rasa kecewanya yang teramat dalam. “Itu si ganjen Lely, denger-denger sering datang ke kontrakannya Dias. Ternyata bukan rahasia lagi,” jelas Rasti dengan sedikit emosi yang tersulut. Dia tak akan meneruskan lagi informasi yang ia dapat sebelum Zidhiana memintanya. “Makasih ya Ras, aku jadi udah nggak kaget lagi,” tutur Zidhiana menggenggam tangan sahabatnya itu. Rasty memeluk Zidhiana erat, ada rasa menyesal dan bersalah bahwa Rasty telah mengenalkannya dengan pria mata keranjang itu. Ia juga yakin sahabatnya itu adalah wanita yang kuat. Semenjak Zidhiana mengetahui hubungan Dias dan Lely, ia tak begitu mengambil pusing karena Bram yang telah menjadi pengobat luka hatinya. Ia juga sangat berterima kasih sekali kepada Rasty dan Jack yang selalu memberinya semangat. Zidhiana tetap merespon baik apabila Dias menelpon dan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Semakin hari perasaannya kepada Dias semakin luntur dan ia berusaha untuk melupakannya sejenak. Namun berbeda, setiap hari ada rasa yang tumbuh antara dirinya dan Bram. Hampir setiap hari Zidhiana dan Bram bertemu. Mereka saling mengobrol dan bercanda bersama. Kadang mereka mengerjakan tugas bersama di cafe tempat kosannya Bram. “Bram,, aku tiap hari ke sini ganggu kamu ya?” lirih Zidhiana. Tersenyum kecut memandang makhluk berwajah tampan di depan matanya saat ini. “Ya nggak laah, aku malah seneng tiap hari bisa ketemu kamu Dhiana,” timpal Bram jujur menggetarkan hatinya. Deg.. Untuk kesekian kalinya. Nih cowok bikin aku senam jantung. Nggak perlakuannnya, nggak kata-katanya, semuanya bikin adek meleleh kang, bathin gadis itu. “Udah terpesonanya?” Bram terkekeh geli. Seketika manik mata gadis itu membulat dan wajahnya merona. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. “Ekspresimu kalo gitu jadi inget waktu pertama kali kita ketubruk,” goda pria itu. “Plis deh Bram, jangan diinget-inget lagi yaa. Aku kan jadi malu,” protes Zidhiana. Memanyunkan bibirnya lalu mencubit kecil pinggang Bram. Bram tertawa melihat ulah gadis itu yang begitu polos mengakuinya. Dari perlakuannya yang begitu hangat dan perhatian kepada Zidhiana, sepertinya ia berhasil membuat gadis itu menyukainya. Tiba-tiba seseorang pria cantik berlenggak lenggok datang menemui tempat duduk mereka. Dia adalah Rio teman kosan Bram di kamar paling ujung dan lebih dikenal dengan nama panggilan Nanda. Gayanya lemah gemulai dan sangat luwes saat berbicara. “Hai ... Duh siapa nih yang baru eike kenal?” sapa Nanda. Memandang Zidhiana dengan senyum merekah. “Duh bang, ganggu aja deh. Balik ke kamar gih!” usir Bram sambil menarik tangan Nanda. Bram mengusap wajahnya kasar. Terlihat kekesalan dari raut wajahnya yang tenang itu. “Udah Bram, nggak papa. Kan seru ngobrol bareng-bareng gini. Sini kak, duduk di sini aja,” ujar gadis itu. Mempersilahkan duduk Nanda di sampingnya. “Makasih yaa cantik, kenalan donk. Eike Nanda, ngekos di sini juga.” Memperkenalkan dirinya dengan penuh kelembutan. Unik juga ya orang-orang yang ngekos di sini, pikirnya. “Aku Zi, kak,” timpal Zidhiana. Menjabat tangan Nanda. Nanda memperhatikan mereka seksama bak seorang polisi sedang mengintrogasi tersangka. “Yang ini cakep, yang ini cantik. Udah deh cucok meong, kalian pacaran aja,” dukung Nanda penuh semangat membara. “Pacaran?” Zidhiana mengerutkan dahinya. “Iya pacaran aja, atau emank udah pacaran lagi. Hihihi..” terka Nanda terkekeh. Apakah kami seperti orang pacaran, bathin Zidhiana. Memang nggak salah juga tebakan Nanda karena mereka begitu dekat akhir-akhir ini. “Tuh kan abang ganggu aja. Balik sono bang,” perintah Bram kesal. “Aku temennnya Bram koq kak,” jelas Zidhiana. “Ah boong, eike lihat dari mata ye berdua itu ada rasa benih-benih cinta yang muncul, ya kan?” tegas Nanda tentang prediksinya. Zidhiana dan Bram hanya saling menatap dan tersenyum penuh makna setelah mendengar ucapan dari Nanda. Kali ini mereka tidak berani menyangkal tentang hal itu. Hanya mampu menjawabnya dalam hati. “Berarti cocok kan kita berdua?” timpal Bram. Menggoda gadis itu yang mulai bersemu wajahnya. “Apaan sih Bram,” ujarnya kehabisan kata-kata untuk mengelak. “Udah ah, eike cuz dulu. Dari pada jadi obat nyamuk, mending eike jadi obat pelangsing. Bye cantik,” pamit Nanda meninggalkan mereka berdua. Mereka terkekeh melihat Nanda yang mengundang sejuta tawa. Sesaat kedua insan itu terdiam bersama memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bingung untuk memulai pembicaraan yang terputus. Bram menatap Zidhiana yang masih mendorong gelas jus alpukat maju dan mundur. Sehingga membuat basah meja kayu karena batu es yang mencair. Dia mengambil tisu, lalu mengelapnya. Membuat gadis itu berhenti melakukannya. “Koq suka bikin meja basah sih Dhi,” omel Bram. Sambil mengelap meja yang basah. “Eh, maaf ya Bram,” sesal gadis itu. “Jangan diulang ya, aku nggak suka kalo kamu mainin gelas berembun gitu,” pinta Bram lembut. Diikuti anggukan mengerti Zidhiana. Harus gadis itu akui. Selain tampan, Bram juga sangat rapi dan bersih. Hal baru dalam mempelajari karekter Bram yang berbeda dengan Dias yang cendrung santai bahkan terkadang sembrono. Tapi hal ini tidak menyurutkan rasa sukanya kepada Bram. Entah mengapa pria itu terlalu istimewa di mata dan di hatinya. “Dhi ... Malem Minggu jalan yuuk. Tapi berdua aja ya, nggak usah bawa pasukan,” ledek Bram. “Boleh, emang kita mau kemana Bram?” tanya Zidhiana antusias. “Ya entar ikut aja,” jawab Bram santai. Zidhiana mengenyitkan dahinya, ia bingung kemana tujuan saat malam Minggu di kota kecil ini. Selama bersama Dias, selalu mereka lewati di rumah. Ia hanya bisa mengganggukan setuju ajakan dari Bram. Sementara ia bisa melupakan masalah cintanya dengan Dias. Dengan kehadiran Bram yang membawa cahaya cintanya hidup kembali di hatinya. Tanpa disadari rasa cinta di hatinya mulai tumbuh. Mungkin lebih tepatnya cinta dalam diam, cinta yang indah tanpa harus dikatakan. Tapi terlalu sakit untuk disimpan selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN