Cinta Selalu Datang Terlambat

2003 Kata
Akhir-akhir ini, Rasty sedikit curiga dengan perubahan sikap sahabatnya. Dia selalu melihat Zidhiana lebih bersemangat dan bahagia. Demi menjawab rasa penasarannya, Rasty menguntitnya pada malam itu. Sebelumnya Rasty memastikan dulu sahabatnya itu ada di rumah atau tidak. Sering ia mendengar setiap malam Zidhiana tidak berada di rumah. Melainkan belajar bersama di cafe xxx, kata Bagas. Tanpa mengulur waktu, dia diam-diam menuju cafe tersebut untuk melihat apa yang dilakukan gadis itu di sana. Setiba di depan parkiran, sontak ia terkejut menangkap Zidhiana sedang belajar bersama Bram sambil bercanda ria. Bagaimana mungkin mereka memiliki pelajaran yang sama sedangkan sekolah mereka berbeda. Bram mengambil kejuruan mesin sedangkan sahabatnya itu bukan berasal dari sekolah kejuruan. Ah sudahlah, hal terpenting adalah sahabat kecilnya itu tidak larut dalam kesedihannya, bathinnya. Dia yakin Zidhiana menutupi rasa kecewanya, tapi ia terlalu pintar untuk mengalihkan semua rasa itu. Ia pun kini lega karena tidak ada pertanyaan yang menggantung di hatinya lagi, terjawab sudah kenapa Zidhiana berbeda akhir-akhir ini. Malam ini Zidhiana akan mengetest Bram tentang pelajaran menghitung di aplikasi laptopnya. Sebenarnya ia sudah mengerti rumus dan cara kerjanya, tapi ia sengaja untuk mengetahui seberapa minatnya Bram tentang pelajaran. “Bram, ini gimana ya bikin rumus penjumlahan kalo udah diketik semuanya gini?” tanyanya polos. “Mana coba aku lihat,” ujar Bram. Beranjak berdiri tepat di belakang Zidhiana. Tubuh pria itu sedikit menunduk. Tangan kanannya menggerakkan mouse sambil menjelaskannya. Sehingga Zidhiana dapat mencium aroma parfum Bram dengan jelas. Dia menjadi salah tingkah dibuat oleh pria itu. Saat ia mengetahui Bram diam-diam memperhatikannya. “Coba kamu tekan enter kalo tandanya udah kedip-kedip gitu,” pinta Bram sambil memandu Zidhiana. “Oh.. gitu ya ... Aku paham sekarang,” timpal gadis itu. Beberapa saat terdengar senyap, hanya suara ketikan mouse dan keyboard. Zidhiana menengadahkan kepalanya ke atas. Dia melihat pria pujaan hatinya itu tersenyum hangat kepadanya. Pipi gadis itu saat ini merona. Ternyata dari tadi Bram masih memperhatikannya. Dia masih di belakang Zidhiana dan tangannya masih bersandar di samping mouse yang digerakkan oleh gadis itu. Seharusnya aku yang ngerjain Bram, ini malah kebalik. Bathin Zidhiana menggerutu. Sudah beberapa malam ini Zidhiana mengunjungi Bram di cafe xxx tempat ia tinggal. Hanya dua jam saja sudah cukup baginya untuk menemui pujaan hatinya saat ini. Tapi malam ini tidak seperti biasanya ponselnya bergetar di saat ia sedang bersama Bram. Drrrtt.. Drrrttt.. Alih-alih mau diangkat, gadis itu hanya memutarkan bola matanya malas melihat nama panggilan yang muncul di layar ponselnya. Bram sempat membaca nama Dias tertera di ponsel Zidhiana sedang memanggil. “Kenapa nggak diangkat, atau aku aja yang angkat ya,” tawar Bram. Meminta izin kepada Zidhiana. “Eh jangan Bram, biarin aja. Nanti juga mati sendiri kalo dah capek,” ujar Zidhiana malas menanggapi. Bram mengangkat kedua bahunya. Ia juga tak mau mengambil langkah jauh saat ini. Sebenarnya ada rasa curiga kenapa Zidhiana tidak mau mengangkatnya. Sepertinya sudah saatnya pulang, pikirnya. Zidhiana pamit kepada Bram karena hampir jam 9.30 malam. Akibat ia terburu-buru memasukkan buku dan laptop yang ia bawa ke dalam tasnya, ponselnya pun tertinggal di atas meja. Lalu ditemukan oleh Bram karena benda pipih tersebut bergetar kembali setelah Zidhiana meninggalkan cafe itu. Drrrt.. Drrtt.. Panggilan pertama.. Panggilan kedua.. Masih dengan nama penelpon yang sama yaitu Dias. Akhirnya pada panggilan ketiga, Bram mengangkat panggilan tersebut. Dias : Halo yank, koq nggak diangkat-angkat sih? Bram sedikit terkejut mendengar suara seseorang memanggil sayang ketika ia belum sempat mengucapkan satu katapun. Bram : Maaf, ponsel Dhiana ketinggalan di tempat saya. Dias : Ini sapa ya? Bukannya ini nomornya Zi? Dias mencecar pertanyaan kepada Bram. Tidak biasanya gadis itu bersama pria malam-malam gini, bathin Dias. Bram : Iya bener ini nomernya Zi, saya manggil dia 'Dhiana'. Saya temennya, tadi kami baru belajar bareng. Dias : Oh ya udah kalo gitu, paling entar dia balik lagi kesana ngambil ponselnya. Ok thanks ya. Bram : Ok. Bram menutup panggilan dari Dias. Sedikit rasa kesal mendengar Dias memanggil Zidhiana dengan sebutan 'yank'. Dia kembali ke kamarnya dan menanti gadis itu kembali mengambil ponselnya atau tidak. Bram POV Aku masuk ke dalam kosku. Menatap langit-langit kamar sambil menunggu apakah Dhiana akan kembali mengambil ponselnya. Ku putar musik dan terlintas memoriku beberapa hari ini. Semenjak pertemuan pertama di cafe waktu malam Minggu yang lalu, aku dan Dhiana semakin dekat. Hampir setiap malam kami bertemu. Sepertinya dia menyadari kalau aku menyukainya. Terlihat dari manik matanya yang tak bisa berbohong. Besok malam Minggu aku akan mengajaknya keluar, tapi tidak tahu kemana. Kota kecil ini sulit sekali mencari tempat hiburan di malam hari. Dhiana juga tampak kebingungan, kemana nantinya aku akan membawanya. Saat aku menunjukkan cara menghitung penjumlahan kepadanya tadi, jarakku sangat dekat sekali dengannya. Aku bisa mencium bau strawberry dari rambutnya yang halus dan tipis terurai sebahu itu. Parfumnya yang beraroma rose lembut, seperti aroma wewangian khas bayi melekat sekali padanya. Semua yang ada pada Dhiana aku sangat menyukainya. Tingkahnya yang kadang terlihat lucu dengan wajah yang bersemu menggemaskan, saat aku menggodanya dengan menatapnya lebih dalam. Sepertinya ia tidak bisa membalas tatapanku. Dari manik matanya tersirat sebuah masalah yang disembunyikan. Ternyata Dhiana adalah seseorang yang memeiliki kepribadian tertutup. Aku masih ingin sekali mengenalnya lebih jauh. Entah kenapa aku merasa sangat tidak suka saat seseorang menelponnya tadi. Pria itu memanggilnya dengan sebutan mesra seperti seseorang memanggil pacarnya. Kenapa dia telah dimiliki seseorang saat aku menyadari rasa cintaku mulai tumbuh padanya. Kenapa aku juga harus cemburu? Aku bukanlah siapa-siapanya. Ku acak-acak rambut cepakku karena frustasi oleh rasa cinta ini. Sebelum janur kuning melengkung, Dhiana akan jadi milikku. Aku akan menaklukkan hatinya ... Aku harus bisa. *** Keesokan paginya.. Zidhiana tak biasanya dibangunkan oleh ibunya. Ia terlupa menyetel alarmnya semalam. Sesampai di rumah, dia langsung masuk ke bilik peraduannya dan matanya terpejam damai. Puas ia mencari dimana keberadaan benda pipih kesayangannya itu. Namun tak ditemukan juga. Gadis itu memutar memorinya yang semalam. Kini ia mendengkus sebal akan sikap sembrononya yang telah dilakukan yaitu meninggalkan ponselnya tak sengaja di cafe setelah bertemu dengan Bram. Ia meremas rambutnya kasar setelah merutuki keteledorannya itu. Setelah sampai di rumah semalam, ia langsung tidur tanpa memeriksa kembali ponselnya. Kemudian dia meminjam ponsel Bagas untuk menelpon Bram dari nomernya. Tapi tak diangkat, mungkin pria itu meninggalkan ponselnya di kamarnya. Akhirnya gadis itu mencari nomer ponsel Bram di buku hariannya. Ia mengirim pesan kepada Bram bahwa dia akan menjemput ponsel kesayangannya itu setelah pulang sekolah. Hari ini ia membawa kendaraan Bagas ke sekolah. Karena bangun terlambat semua menjadi kacau. Bis sekolah pasti sudah lewat 15 menit yang lalu. Pagi ini Zidhiana melajukan kendaraannya kencang. Hanya butuh 15 menit untuk menempuh jarak 8 km dari rumahnya ke sekolah. Sampai di parkiran sekolah, gadis itu melihat semua siswa telah berbaris rapi untuk memulai senam pagi. Setiap hari Sabtu pagi adalah jadwal senam bersama di sekolah. Pak Suryo melihatnya datang terlambat. “Hayoo, jam segini baru dateng,” tegurnya. Dengan memasang wajah memelasnya, Zidhiana melangkah mendekati pak Suryo. “Maaf pak, hari ini kesiangan saya,” ucapnya. Lalu beliau memintanya untuk menjadi instruktur senam bersama 2 temannya yang lain di barisan terdepan. Gadis itu tak bisa menghindar karena lebih baik menerima perintah pak Suryo dibandingkan dengan hukuman lain. Musik pengiring senam poco-poco pun dimulai. Semua bergerak mengikuti gerakan dengan irama yang selaras. Hari ini Zidhiana tidak menceritakan rencananya nanti malam bersama Bram. Mungkin kali ini saja Rasty tidak mengetahui acaranya. Setelah pulang sekolah, dia mengajak Rasty pulang bersama. Sekalian mampir ke kosannya Bram, pikirnya. Rasty yang sebenarnya sudah tahu keberadaan sahabatnya semalam, ia hanya mengiyakan saja ajakan gadia itu. Akhirnya mereka sampai di cafe depan kosannya Bram. Disana ada Icko sedang mampir juga. Suatu kebetulan mereka bertemu bersamaan siang ini. “Eh ada Icko juga,” sapa Zidhiana tersenyum. “Katanya dia mau ketemu sama Rasty nih,” goda Bram kepada Icko yang terlihat jengah. “Masa sih Icko mau ketemu aku juga, ah yang bener bang Icko?” tambah Rasty ikutan menggodanya. Pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak berkata sedikitpun dan hanya terkekeh geli. Icko adalah tipekal pemalu jadi sering menjadi bahan godaan Bram. Bram memberikan ponsel Zidhiana yang tertinggal. Ia tidak menceritakan bahwa semalam Dias telah menghubunginya. Pria itu juga tidak memberitahu Icko dan Rasty tentang rencannya bersama Zidhiana nanti malam. kedua gadis itu pamit setelah 15 menit mereka di sana. Hari ini Icko akan pulang ke Batam sore harinya. Tak seperti Bram yang sudah mulai jarang pulang ke rumahnya. Sekarang ia lebih betah tinggal di kota kecil ini. Sesampai di rumah, Zidhiana memeriksa ponselnya. Ia melihat ada panggilan masuk dari Dias. Dia menautkan kedua alisnya, ia menduga bahwa Dias telah menelponnya kembali dan berbicara dengan Bram. Seketika ada pesan masuk dari pria itu. Bram : Dhiana, maapin aku ya semalam Dias nelpon terus ku angkat. Gadis itu yakin pasti Dias mencarinya. Hal yang membuatnya tak enak hati pada Bram saat Dias menyapanya dengan sebutan kata 'sayang' itu. Bram pasti sudah tahu hubungannya dengan Dias. Zidhiana : Nggak papa Bram. Tapi kamu nggak marah kan? Bram : Kenapa harus marah Dhi, itu nanti yayanknya malah yang cemburu looh sama aku. (emoji mengejek) Duh kenapa harus nanya Bram marah apa nggak sih, pikirnya. Malah jadi absurb gini, lagi dan lagi Zidhiana menepuk keningnya karena merutuki gelagatnya sendiri. Zidhiana : Bodo' ah.. Tar malem nggak lupa, kan? Jangan amnesia looh kang. (emoji terkekeh) *** Tepat pukul 7 malam Zidhiana bersiap menuju ke kosan Bram. Sesampainya di sana, ia melihat pria itu sudah menunggu di cafe. Dengan kaos putih bergambar logo kecil penunggang berkuda dan jeans navy, Bram terlihat begitu tampan di matanya malam ini. Karena sering menggunakan sepeda motor, Zidhiana selalu bergaya casual. Malam ini ia memakai baju kaos putih berlengan sepanjang sikut dan celana jeans navy juga. Malam ini mereka terlihat kompak menghunakan outfit yang berwarna sama. Warna putih adalah warna favorit gadis itu. Bram memutar kunci kendaraan sportnya, lalu membawa Zidhiana menembus malam dingin. Entah mau kemana arah tujuannya. Kenapa dia begitu tahan tanpa jacket menutupi tubuhnya. Kendaraan ini mengarah ke jalanan yang menuju sekolah Zidhiana. Mau kemana sih sebenernya Bram mengajaknya. Sepanjang jalan seribu pertanyaan menggantung di dalam hatinya. “Bram ini dingin banget, kita mau kemana? Aku nggak sekolah malam-malam gini looh,” ujar Zihiana sambil sedikit menggigil. “Dingin ya, sini peluk aku aja,” usul pria itu. Lalu melingkarkan tangan kiri Zidhiana ke pinggangnya. Gadis itu menarik kembali tangannya, tapi ditahan oleh Bram. Mau tidak mau Zhidiana menuruti keinginan Bram. Akhirnya mereka menyusuri sebuah jalan dengan lebar setengah meter menuju ke arah pantai. Di sana masih banyak pantai yang masih belum terjamah dan banyak semak belukar. Hanya beberapa jalan setapak yang menghubungkan ke pantai yang memiliki pasir indah itu. Mereka duduk di atas sebuah akar pohon cemara besar yang menjalar ke arah bibir pantai. Sembari menatap hamparan laut, Zidhiana menatap dalam cahaya yang berkilau dari lampu bertebaran di ujung pulau seberang. Itu adalah pulau Batam yang terlihat jelas dari pantai ini. Hampir 5 menit mereka tak bersuara yang terdengar hanya suara deru ombak menggulung ke arah laut, menandakan air akan surut malam ini. Akhirnya Bram mulai membuka percakapannya terlebih dulu. “Dhiana ... Ambil batu ini. Terus kamu lempar sejauh mungkin. Teriaklah kalo kamu mau, luapkan semua amarah yang dipendam,” lirih Bram. Memberikan sebuah batu karang kepada Zidhiana. “Aku boleh melemparnya berapa kali Bram?” tanya gadis itu datar. “Sebanyak rasa amarah yang kamu pendam,” ucap Bram tenang. Lalu Zidhiana berjalan menuju pinggiran pantai dan melempar beberapa batu karang ke laut. Sepertinya Zidhiana benar-benar meluapkan amarahnya malam ini kepada alam. “Bram, bantu aku lempar batu ini ke arah lampu di ujung pulau Batam itu please,” mohon gadis itu. “Terlalu jauh Dhiana, apa sih yang bikin kamu kesel sampai ke seberang laut sana Dhi?” selidik pria itu. Kemudian menarik tangan Zidhiana untuk mendekatinya. Dia hanya terdiam seraya memandang cahaya berkilau, mungkin itu adalah salah satu lampu terdekat dengan tempat tinggal Dias. Pasti Dias dan Lely sedang memadu kasih, bathinnya bergejolak. “Kamu tau Dhi, kenapa cinta itu selalu datang terlambat?” sesal Bram. Menatap gadis itu dalam. To be Continue..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN