Dia hanya terdiam seraya memandang cahaya berkilau, mungkin itu adalah salah satu lampu terdekat dengan tempat tinggal Dias. Pasti Dias dan Lely sedang memadu kasih, bathinnya bergejolak.
“Kamu tau Dhi, kenapa cinta itu selalu datang terlambat?” sesal Bram. Menatap gadis itu dalam.
Zidhiana mengangguk memandang sendu wajah pujaan hatinya yang samar-samar terlihat di tengah cahaya bulan. Bram merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan tertiup angin dengan menyelipkan di belakang telinganya.
Dia melepaskan tangan pria itu. “Jangan Bram, aku takut,” tolak Zidhiana.
“Takut kalo kamu suka sama aku dan pacarmu tahu gitu?” tebak Bram dengan nada penekanan. Pria itu mengeraskan rahang wajahnya sambil mengepalkan tangannya.
Netra Zidhiana mengerjap terbuka penuh isyarat. Untuk kesekian kalinya Bram bisa membaca pikiran dan hatinya. Ia pun mengalihkan pandangannya lagi ke pantai. Gadis itu tak sanggup memandang Bram lama-lama.
“Aku nggak tahu Bram,” timpalnya ragu.
“Kenapa kita nggak jalani aja dulu Dhi, kamu nggak bisa bohong sama aku,” lirih Bram penuh perasaan agar hati Zidhiana luluh.
Dia menoleh ke arah pria itu. “Maksudmu kita pacaran gitu?” terka gadis itu to the point.
Bram mengangguk, “Pernah dengar kan pepatah bilang 'Sebelum Janur Kuning Melengkung--
“Astaga Bram, kamu random banget,” pungkas Zidhiana. Serta merta ia tersenyum geli.
“Tapi bener kan itu?” tanya Bram kembali ikut terkekeh. Ia langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Gadis itu tersenyum hangat. Sepertinya ia juga harus jujur akan perasaannya yang terpendam selama ini.
“Makasih ya Bram, kamu itu petaka yang membuat aku semakin hari semakin gila,” tuding Zidhiana.
Bram yang tadinya sudah hampir terbang, kini terjatuh mendengar ucapan Zidhiana. “Apa petaka?” tanyanya. Spontan memicingkan matanya.
“Iya semua gara-gara waktu itu. Aku nubruk kamu di lapangan. Nyampe sekarang aku malah jadi inget terus sama kamu,” aku gadis itu jujur.
Untuk pertama kalinya gadis itu mengakui perasaannya di depan Bram.
“Aku juga nggak tahu, kenapa ada seseorang menghuni hatiku juga,” ungkap Bram kembali penuh makna.
“Duh kang, kamu itu bisa nggak sih sehari nggak ngegombal,” sindirnya. Menjawil hidung pria pujaan hatinya itu gemas.
Malam itu mereka bersama mengakui perasaan yang terpendam selama ini. Tapi Bram belum menanyakan soal hubungan gadis itu dengan Dias lebih jauh. Saat ini hanya butuh pengakuan bersama, pikirnya.
Perlahan Zidhiana menceritakan tentang Dias. Tapi ia masih menutupi kebohongan pria b*******k itu di belakangnya. Dia tidak mau Bram mengetahui masalahnya dengan Dias akhir-akhir ini.
“Kamu udah ada Dias yang jelas-jelas lebih dewasa dan mapan, kenapa milih aku?” celoteh Bram mengujinya.
Zidhiana hanya bergeming. Seandainya waktu dapat diputar kembali, tentu ia lebih memilih Bram dibandingkan Dias.
“Aku kan dah bilang tadi, aku nganggap dia nggak lebih dari seorang kakak, Bram.” Bela Zidhiana sekenanya.
“Terus aku cemburu looh waktu Dias nelpon-nelpon kamu waktu itu,” sambung Bram.
Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Wajahnya merona mendengar pria itu berkata jujur dan penuh rasa cemburu mengungkapkan rasanya.
Spontan Zidhiana mencubit gemas pinggang Bram karena ia bingung harus menjawab apa. Sesekali dia mencuri pandang, menatap wajah pria itu sambil memikirkan apa rencananya. Akhirnya ia mendapatkan ide untuk mengajak Bram keesokan harinya.
“Bram, besok kita main cano yuk. Kamu mau nggak?” ajaknya.
Bram menggenggam tangan Zidhiana. “Untuk kamu apa sih yang nggak,” timpalnya setuju.
Zidhiana mengeratkan genggaman kedua tangan Bram. Kini ia tidak perlu lagi menutupi perasaannya. “Makasih ya Bram," ucapnya penuh bahagia.
Saat ini hanya sosok Bram yang mampu mengalihkan rasa gundah di hatinya. Pria itu mampu melengserkan Dias di dalam hatinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Bram mengajaknya pulang. Dia tidak mengizinkan Zidhiana pulang larut malam. Selain menjaga hatinya, pria itu juga menjaga kekasihnya agar selalu merasa aman saat bersamanya.
***
Minggu siang ini cuaca sangat bersahabat untuknya. Zidhiana meminta Bagas untuk mengantarnya ke cafe. Sementara ini dia tidak akan membawa Bram ke rumahnya dulu. Untungnya Bagas tidak menanyakan kepadanya macam-macam soal Bram.
Bram menemui Zidhiana di depan sekaligus membawa kendaraan kesayangannya. Lalu mereka berangkat menuju pantai. Gadis itu memeluknya sedikit erat, karena Bram melajukan kendaraannya kencang.
Pantai terlihat ramai sekali pengunjung. Setiap air laut pasang, banyak sekali wisatawan menyewa cano untuk menyisiri pantai sambil mendayung. kedua sejoli itu menaiki sebuah cano berwarna merah. Mereka mendayung hilir mudik sambil bercanda ria.
“Gimana kalo kita lagi berduaan gini, Dias lihat kita?” goda Bram tersenyum smirk.
“Kita ajak aja Dias sekalian, seru juga, ya kan?” sahut Zidhiana sambil memicingkan matanya.
Gadis itu membaca mimik wajah kekasihnya berubah masam. Dia yakin Bram sedang menahan rasa cemburunya.
“Kamu bikin aku jadi obat nyamuk tuh namanya,” geram Bram semakin kesal.
“Yee.. Lagian kamu nanyanya yang aneh-aneh lagi Bram,“ protesnya santai.
Pria itu kalah telak membuatnya kesal. Namun ia masih terus ingin menggodanya. “Dari semalem nyampe hari ini, Dias nggak ada nelpon kamu Dhi?” uji Bram belum puas.
“Nggak ada tuh, duh Bram nggak usah ngomongin dia deh kalo kita lagi berdua gini,” omel Zidhiana. Menatap sengit dan mencebikkan bibirnya yang tipis.
Bram mengulum senyum geli melihat ekpresi wajah Zidhiana yang menekuk. “Iya deh, jangan ngambek ya. Senyum donk,” godanya. Membuat kekasihnya tersenyum kembali.
Dari kejauhan terdengar suara seseorang memanggil Bram. Kemudian mereka memutar cano menuju arah suara. Ternyata Nanda melambai-lambaikan tangannya ingin ikut serta. Awalnya Bram menolak menepi, tapi karena Zidhiana memujuknya akhirnya mereka menghampiri si pria cantik itu.
“Hei, aku ikut kalian ya,” pinta Nanda. Melangkah mendekat ke arah cano.
“Ayuk kak ... Aku duduk di tengah, kakak yang dayung ya,” usul Zidhiana menyodorkan dayung kepada Nanda.
Bram ingin sekali tak menggubris permintaan Nanda, namun gadis itu keburu memberikan dayungnya. Dia tak habis pikir kenapa makhluk jadi-jadian ini selalu muncul di saat mereka sedang berdua.
“Ngapain sih bang, ganggu aja orang lagi berdua,” kata Bram ketus.
“Abang.. Abang.. Panggil eike Nanda!” perintahnya sewot.
Bram dan Zidhiana sontak terkekeh geli melihat respon Nanda saat itu. Mereka pun akhirnya mendayung hingga 100 meter dari bibir pantai. Pantai ini tidak begitu dalam, hanya setinggi leher mereka kedalamannya dengan jarak tersebut.
Sepanjang mendayung pria cantik itu menyanyikan lagu yang membuat kedua sepasang kekasih itu menjadi tersipu malu. Sebenernya sih lucu medengar suara dan penghayatan Nanda saat bernyanyi dengan gayanya yang gemulai. Tapi lirik lagunya sangat menyentuh perasaan Zidhiana dan Bram saat itu.
...
Caramu memanjakanku
Kau rujuki kesejukan pagi
Memasung hati
Tulus aku memasrahkan diri
Makin aku cinta
Cermin sikapmu
Yang mampu meredam rasa keakuanku
Memahami cinta
...
(Makin Aku Cinta - Anang dan Krisdayanti)
Zidhiana duduk menghadap Bram, mereka tersenyum licik mengisyaratkan sesuatu. Mereka berencana akan memiringkan cano agar Nanda tercebur.
Gadis itu memegang sisi kanan dan kiri cano dengan telapak tangannya erat, lalu Bram mengolengkan cano. Namun, karena pria itu kurang keseimbangan malah ia yang tercebur.
Sontak Zidhiana dan Nanda tertawa renyah melihat gelagatnya. Rencana Bram gagal dan ia malu telak.
“Makanya jangan iseng,” ejek Nanda. Mengetahui keusilan Bram.
Pria itu masih belum terima kekalahannya.
“Ah, curang bang. Turun nggak, kalo nggak mau ku tarik nih,” ancam Bram. Mendekati cano lalu mulai mengolengkannya.
“Iya ya, eike terjun bebas nih. Curang deh, masak eike kudu nyebur juga,” gerutu Nanda. Lalu menceburkan diri ke laut.
Tinggal Zidhiana sendiri di atas cano. Hanya menonton kekonyolan mereka berdua sambil terkekeh tiada henti.
Bram diam-diam menarik tangan gadis itu. Membuat cano oleng. Sontak membuat Zidhiana hampir tercebur, untungnya dia masih bisa mengimbangi cano.
“Jangan Bram, aku nggak bawa baju ganti nih,” tolaknya kesal.
“Bodo' ... Nggak adil, kan bang? Masa kita aja yang basah,” protes Bram. Memberi kode kepada Nanda.
Akhirnya kedua pria itu mengolengkan cano. Dan byuuurr.. Suara orang tercebur terdengar seketika.
“Aduuh, sakit Dhi,” keluh Bram.
“Maap.. Maap.. Yee lagian sapa suruh nyeburin orang,” bela Zidhiana sambil menyengir kuda.
“Aduh hilang nih t*i lalatku. Kita jadi nggak punya tanda yang sama lagi,” rintih Bram. Menunjuk kulit wajah di bawah mata kanannya.
Saat Zidhiana tercebur, tak sengaja kancing celana jeansnya sedikit melukai wajah Bram. Saat itu posisi duduk Zidhiana menyamping dengan kedua kaki turun ke laut. Bram berada di samping kakinya yang menjulur ke bawah.
Mereka saling berenang sesekali bermain, menyipratkan air, dan saling membalas. Walaupun mereka baru saling mengenal, tapi pertemanan mereka sangat akrab sekali.
Setelah puas bermain cano, mereka bertiga menepi. Ternyata banyak saksi mata yang melihat Zidhiana bersama pujaan hatinya.
Sssst.. Ssttt...
Terdengar kode suara memanggil Bram dan Zidhiana. Mereka mencari sumber suara tersebut. Ternyata di sana ada Rasty dan Jack. Lalu kedua pasang kekasih itu menghampiri mereka.
“Cieeee.. Yang basah-basahan,” ledek Rasty. Terkekeh geli diikuti Jack.
“Eh dari tadi ya kalian datangnya?” tanya Zidhiana kikuk.
Dia tidak tahu kalau sahabat kecilnya itu sedang berada di pantai juga.
“Dari awal kalian main cano, kami udah lihat Zi. Berasa lautan milik berdua ya mas,” sindir Rasty. Sambil menyenggol lengan Jack.
Jack hanya menangguk dan tersenyum simpul. Bram mengenalkan dirinya pada Jack. Sebelumnya Rasty sudah menjelaskan tentang pria itu kepadanya agar tidak terjadi salah paham.
Di sana juga terlihat beberapa teman-teman dari sekolah Zidhiana maupun Bram. Tak luput juga dari pandangan penuh kecurigaan dari Jody saat itu.
Namun Zidhiana tidak mengambil pusing jika Jody memberitahu ke Dias tentang apa yang ia lihat hari ini. Semua tentang Dias telah terkikis perlahan di ingatannya. Kini hanya berdiri tembok kokoh bertuliskan nama Bram di lubuk hatinya.
Zidhiana merasa bahagia hari itu, ia bisa bermain cano bersama orang yang selalu ada untuknya. Terkadang ia berpikir, kenapa Dias sulit sekali mengerti keinginannya yang simple ini.