Kedatangan Sosok yang Dirindukan

1578 Kata
Hari demi hari kedekatan Zidhiana dan Bram semakin lekat. Tapi kemesraan mereka tidak lebih jauh, sekedar bergandengan tangan saja. Bram adalah pria yang mampu menahan hasratnya, ia sangat mengerti apa yang diinginkan Zidhiana. Tidak melakukan apapun yang mendekati hal yang tidak diinginkan sebelum menikah. Sabtu siang itu mereka berjanji akan bertemu di cafe tempat biasanya. Bram sudah menunggu dari jam 2 setelah pulang sekolah. Ia tampak kebingungan menunggu kedatangan gadis itu yang tidak kunjung muncul dari hadapannya. Saat itu Zidhiana sudah bersiap-siap akan berangkat menuju cafe. Namun, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang. Ia membukakan pintu tanpa mengintip dahulu dari balik tirai. Siapa gerangan yang datang? Dia terbelalak melihat kedatangan Dias yang tiba-tiba tanpa kabar sebelumnya. Padahal ia sudah telat untuk menemui Bram siang ini. Akhirnya ia mempersilahkan Dias masuk agar tidak ketahuan rencananya siang ini. “Eh A' koq nggak ngabari Zi kalo mau dateng?” sapanya sedikit kikuk. “Kenapa? Aku nggak boleh datang lagi ya?” timpal Dias penuh selidik. “Ya nggak gitu A', biasanya kan ngabari dulu. Iya kalo akunya di rumah, kalo pas keluar pasti kan Aa' kecelik,” jelas Zidhiana. Dias menatap penampilan Zidhiana dari atas ke bawah. “Kamu udah rapi mau kemana emangnya Zi?” tanya pria itu. Gadis itu menelan salivanya pelan, otaknya berpikir keras mencari alasan apa yang akan dibuatnya saat ini. “Malah diem ditanyain,” tegurnya kembali. Membuyarkan pikiran gadis itu seketika. Dia mengerjapkan matanya. “Mm.. M.. Mauu ... ke rumah Rasty. Iya A', tadi aku udah janji mau ke sana siang ini,” jawabnya tergagap. “Ya udah kalo gitu aku anterin yuk kesana,” ajaknya lalu menarik tangan Zidhiana. Dia tidak bisa menolak dengan alasan apapun agar rencananya tidak ketahuan. Akhirnya ia menuruti ajakan pria si penakluk hatinya itu. “Bentar ya A'.. Aku pamit dulu sekalian ambil ponsel,” pintanya. Zidhiana masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel. Di sana banyak sekali panggilan tak terjawab dan dua pesan masuk. Bram menelponnya tadi berkali-kali tanpa dijawab dan mengirim pesan singkat untuknya juga. Namun ia belum sempat membalas atau menelpon Bram kembali. Dia pikir nanti setelah Dias pulang, baru akan menghubungi Bram. Dalam hatinya, gadis itu sangat ingin sekali menemui Bram dibanding pergi bersama Dias. Sekarang Dias mengunjungi gadis itu hanya dua minggu sekali, tidak seperti dulu mereka bisa bertemu seminggu sekali. Semenjak ada Lely hadir di tengah mereka, hubungan mereka semakin berjarak. Tanpa menunggu lama setelah mereka berpamitan ke Martinah, ibunya, mereka pergi menuju ke rumah Rasty. Dias jarang bertemu dengan ayahnya Zidhiana karena beliau bekerja di Singapura sebagai pelaut. Bisa 6 bulan sekali atau lebih baru pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sahabatnya, Zidhiana merutuki dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan Bram menunggunya tanpa kabar. Pria itu pasti kecewa dengannya. Manalagi ponselnya kini kehabisan daya. Begitu mereka sampai di rumah Rasty, di sana terlihat Jack sedang duduk mengobrol bersama sahabatnya itu yang masih menggunakan seragam olah raga. Suatu kebetulan bisa kumpul bersama seperti ini. “Nih, aku udah anterin Zi ke sini Ras. Katanya kalian udah janjian bareng tadi,” ujar Dias. Rasty mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dias. Zidhiana yang berdiri di belakang Dias spontan mengedipkan matanya sebelah. Rasty pun menerima kode isyarat itu lalu manggut-manggut kepada Dias. “Tumben Yas, loe dah nongol aja di sini?” sindir Jack mengalihkan. Ia mengerti makna kode dari Zidhiana tadi. “Ah emanknya lu Jack yang bisa ke sini tiap hari, gue juga bisa,” sahutnya enteng. Karena mereka baru mendapatkan bonus akhir tahun dari perusahaan, Jack dan Dias mengajak kedua gadis itu untuk kulineran Gong-Gong bersama. Gong-Gong adalah siput laut yang hidup hanya di tiga provinsi di Indonesia yaitu di perairan laut Kepulauan Riau, Bangka dan Belitung. Biasanya Gong-Gong dimakan menggunakan sambal belacan (terasi) atau sambal kecap. Gong-Gong merupakan makanan khas dan sekarang menjadi icon untuk Kepulauan Riau. Mereka pun pergi menuju restoran yang menjorok ke lautan itu. Restoran ini berbentuk panggung, di bawah lantainya kita dapat melihat langsung air laut. Di dalam laut ada sekatan-sekatan yang dibuat menggunakan jaring. Setiap sekatan terdapat Gong-Gong yang dipelihara. Pemilik restoran mengambil siput laut tersebut, lalu menimbangnya sebelum dimasak. Mereka berempat duduk di meja yang mengarah ke laut. Sambil menunggu pesanan datang mereka berbincang bersama. “Tahun baru balik ke Bandung nggak lu Yas?” tanya Jack membuka obrolan. “Baliklah, gue dah beli tiket. Dua hari lagi gue berangkat,” timpal Dias antusias. Mendengar percakapan mereka, membuat Zidhiana terpaku. Kenapa Dias tidak memberitahunya tentang rencananya mudik. “Berapa hari A' kalo cuti?” ujarnya ingin tahu. “Biasanya nyampe awal tahun, paling 10 hari gitu laah,” jawab Dias santai. Melihat sahabatnya itu tampak sedikit tak bersemangat, muncul ide Rasty mengusilinya. “Ciiee.. Yang ditinggal mudik. Kesepian mode ON,” ledeknya. “Sorry yee.. Emanknya aku j****y,” cibirnya tertawa lepas. Alih-alih Zidhiana kesepian, malah membuatnya tambah happy. “Kalo aku tinggal mudik, jangan macam-macam loo ya,” sindir Dias. Menatap gadis itu. “Nggak laah A'.. Nggak macem-macem, cuma satu macem aja. Ya kan, Ras?” aku Zidhiana asal. Rasty sontak tersedak mendengar pentanyaan konyol dari sahabatnya itu. Jack membantu menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu. Setelah Rasty kembali dalam keadaan normal, ia pun mendelik menatap Zidhiana. Dias tertawa lepas melihat kelakuan kedua gadis itu. Padahal Zidhiana berkata jujur, cuma Dias menganggap itu sebuah lelucon saja. Jack tampak santai seperti biasa walaupun ia tahu maksud dari Zidhiana tadi. Gong-Gong rebus 3 kg sudah tersaji di atas meja mereka beserta sambal belacan, sebakul nasi, capcay dan es jeruk. Mereka menikmati hidangan tersebut bersama. Setelah selesai menghabiskan semua hidangan tersebut, mereka menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup. Menstabilkan perut yang penuh dengan kenikmatan hidangan kuliner khas kota ini. Walaupun Jack dan Dias pada awalnya enggan mencoba, akhirnya menjadi pecinta Gong-Gong setelah mengetahui rasanya. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, mereka meninggalkan restoran dan pulang ke rumah. Jack mengantarkan Rasty sedangkan Dias mengantarkan Zidhiana. Dias langsung pamit tanpa masuk ataupun sekedar duduk sebentar. “Aku pulang dulu ya, salam buat ibuk. Inget yaa pesanku yang tadi,” singgung Dias. “Iya A' cuma satu macam aja, kan?” jawabnya menggoda. Dias mengacak-acak rambut Zidhiana gemas. “Dasar anak sekolahan, bisanya ngeles aja,” omel Dias sambil terkekeh. “Tiati ya A' ... Makasih yaa udah ditraktir,” ucap Zidhiana. Kemudian menyalami punggung telapak tangan pria itu. Gadis itu segera meninggalkan teras setelah Dias telah pergi dari rumahnya. Ia segera masuk ke kamar, mencari kabel penambah daya untuk ponselnya yang telah mati dari siang tadi. Begitu ponselnya menyala, masuk beberapa notifikasi panggilan tak terjawab lebih dari 20 kali. Pesan singkat diterima 10 kali dengan penelpon dan pengirim yang sama yaitu Bram. Rasa bersalah Zidhiana tidak menemui Bram siang tadi membuatnya frustasi. Alasan apa yang akan diutarakan olehnya untuk Bram. Ia tersentak, lamunannya buyar ketika ponselnya berbunyi. Ddrrrtt.. Ddrrtt.. Bram : Dhiana kamu nggak papa, kan? Belum sempat Zidhiana mengucapkan pembuka salam, Bram sudah menanyakannya penuh kekhawatiran. Aku : Mmm.. Maaf Bram, aku tadi ada acara keluarga tiba-tiba. Ponselku ketinggalan di rumah. Bram : Tau nggak, aku khawatir dari tadi siang nggak ada kabar kamu Dhi. Aku : Maafin aku yaa Bram. Aku udah nggak ngabarin kamu sebelumnya. Tapi ini dadakan bener. Bram : Dhi,, aku besok mau ke Bandung liburan bareng keluarga. Aku mendadak pulang sore tadi, mama udah beliin tiket buatku. Aku : ke Bandung? Oh ya udah, hati-hati ya Bram. Happy Holiday. Bram : Iya Dhi, makasih ya. Nanti kita kabar-kabaran lagi key. Aku : Okey bye.. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur queen size miliknya, menatap langit-langit kamarnya. Akhir tahun tanpa Dias dan Bram, sepiiii.. Biasanya ada canda tawa bersama Bram, bathinnya. Akhirnya netranyapun terpejam, Zidhiana sangat merindukan pujaan hatinya. Meskipun pria itu telah menelponnya tadi, tapi ia masih ingin melihat wajah Bram. Sehari tanpa bertemunya, seperti makan tanpa garam. Beginikah orang yang dinamakan bucin? *** Liburan akhir tahun telah di mulai, namun Zidhiana hanya duduk manis di rumah saja. Siang itu udara terasa sangat panas tidak seperti biasanya. Gadis itu hanya menghabiskan waktunya di rumah tanpa ada kegiatan yang membuatnya tampak sibuk. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Zidhiana hanya santai menonton televisi, membaca majalah, dan sesekali menunggu kabar dari Bram yang sedang menikmati liburannya. Tok.. Tok.. Tok.. Pintu di depan terdengar diketuk oleh seseorang. Gadis itu yang kebetulan lewat di ruang tamu langsung membukakan pintu. Betapa gembiranya ketika dia melihat siapa yang datang. Zidhiana menyambut dan menyalami laki-laki yang selalu dirindukannya selama ini. Melihatnya saja bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Beliau adalah ayahnya yang pulang dari kapal. Dari kecil Zidhiana terlahir sebagai anak pelaut, hal ini sudah terbiasa baginya tanpa kehadiran seorang ayah yang mendampinginya. Mungkin karena hal ini juga, terbentuk jiwanya menjadi sosok yang mandiri. “Ini untuk kalian,” katanya. Machbub menyerahkan sekotak oleh-oleh kepadanya. “Aseeek,, apanih Yah?” tanya gadis itu menimbang-nimbang isi kotak tersebut. “Buka aja ya,” titah beliau. Zidhiana membuka kotak yang isinya lumayan berat itu. Ternyata di dalamnya ada bermacam-macam jenis cokelat. Ayahnya memang selalu membawakan cokelat dari negeri singa itu saat pulang ke rumah untuknya dan Bagas. Martinah yang mendengar sesuatu di depan langsung menghampiri mereka. Beliau menyambut kedatangan suaminya. “Akhir tahun ini kita lengkap ngumpul bareng keluarga di rumah,” ucapnya. “Enaknya bikin acara BBQ nih buk,” usul Zidhiana antusias. “Boleh juga, kita bikin ikan dan sotong bakar aja,” saran ayahnya. Tak lama Bagas pun muncul dari arah belakang. Mereka berbincang hangat bersama saling melepas rindu. Sembari menikmati cokelat, Zidhiana mampu melupakan sejenak kegalauan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN