Bram telah berada di bandara Hang Nadim, Batam. Setelah check in, ia memilih memainkan ponselnya sambil menunggu keberangkatan pesawat. Hal utama yang ia lakukan selama menunggu ini adalah mengirim pesan singkat kepada Zidhiana.
Bram : Aku lagi nunggu nih Dhi. Kamu lagi ngapain?
Saat itu Zidhiana sedang berada di halaman belakang membereskan tempat untuk acara bebakaran tahun baru nanti. Seperti biasa, ia jarang membawa ponsel saat sedang melakukan pekerjaan.
Detik demi detik berlalu, menit berganti menit berselang namun balasan dari gadis itj tak kunjung diterima. Tercermin raut wajah Bram penuh kekhawatiran. Pesawat akan segera take off, segera ia menonaktifkan ponselnya.
Setelah selesai membereskan semua, Zidhiana bergegas masuk ke rumah mencari ponselnya. Ia membaca pesan singkat dari Bram. Wajah sendunya tersirat menyimpan rasa rindu untuk pria itu. Baru 2 hari tidak bertemu benar-benar membuat gadis itu kehilangan cahaya cintanya.
Zidhiana : Maaf Bram, tadi aku lagi beres-beres buat persiapan tahun baruan di belakang. Hati-hati ya Bram, kabari aku kalo kamu udah nyampe. Miz U
Dia beranjak membersihkan diri, lalu beristirahat sebentar sembari rebahan menunggu balasan dari pria pujaan hatinya. Rasa kantuknya mulai menjelajahi kedua netranya. Akhirnya ia pun terlelap dengan tangan yang masih menggenggam benda pipih kesayangannya itu.
Tepat pukul 15.20 WIB pesawat yang ditumpangi Bram dan keluarganya landing di bandara Soekarno - Hatta. Rencananya dia akan menginap sehari di rumah tantenya di Jakarta, keesokan harinya mereka sekeluarga akan berangkat menuju kota Bandung.
Di dalam taxi Bram membaca pesan yang dikirim oleh gadis itu. Terlihat senyum penuh arti terbit di bibirnya, ada sesuatu yang berbeda dari kata terakhir dalam isi pesan singkat Zidhiana. Tidak biasanya ia menyelipkan kata 'Miz U' di setiap pesan yang dikirimnya kepada Bram selama ini.
Bram : Beneran Miz U nih? (emoji : tersenyum)
Dddrrt.. Ddrrtt..
Zidhiana tergugah oleh getaran ponsel yang masih digenggamnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil mengumpulkan sisa kesadarannya. Jarinya menuntun membuka isi pesan dari Bram. Ia terkesiap membaca kata 'Miz U'. Apa yang sudah dia kirim sebelumnya kepada pria itu?
Kembali dia membuka folder sent dalam ponselnya. Ia mengernyitkan dahi menelaah apa yang tadi ia ketik. Ternyata benar adanya, Zidhiana mengungkapkan rasa rindunya kepada Bram tanpa sengaja.
Zidhiana : Ya Bram, kali ini aku jujur pake banget.
Bram : Miz U too Dhiana (emoji kiss). Entar kita sambung lagi ya, nanti aku kabari.
Zidhiana : Okey Bram.
Kesepian adalah kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan suasana hati Zidhiana. Kini ia hanya membolak balikkan ponsel menghapus kegalauannya.
***
Keesokan harinya..
Hari ini Dias akan pulang ke Bandung. Zidhiana tak merasa kehilangan saat ia berjauhan dengannya. Ia lebih menikmati kesibukannya bersama keluarga di belakang untuk acara hari ini.
Tepatnya nanti malam adalah malam pergantian tahun. Ikan dan sotong bakar bumbu padang beserta sambal kecap menjadi menu spesial di rumah gadis itu. Setelah habis Isya mereka akan mulai acara bebakaran.
Ayahnya bertugas di bagian pemanggangan. Beliau terbiasa memasak saat di kapal. Menurut Zidhiana citarasa masakan yang dimasak oleh kaum laki-laki itu lebih lezat. Walaupun realitanya mereka hanya cemplang cemplung bumbu tanpa takaran yang pasti.
“Tolong tambahin arangnya ya, Gas,” titah Machbub. Bagas yang sedang mengolesi bumbu langsung beralih mengambil tumpukan arang.
“Mau bikin es jeruk atau es teh nih,” seru Zidhiana menawarkan kepada ayah dan adiknya Bagas.
Bara api mulai menyala. Ayah Zidhiana nampak mengelap peluh ketingatnya. “Es jeruk aja,” pinta beliau. Gadis itu lalu dengan cekatan membuatkan es jeruk seteko besar.
Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, hidangan bebakaran sudah tersaji beserta es jeruk. Tak lupa sambal kecap, nasi, dan lalapan hadir melengkapi keseruan acara malam tahun baru ini. Mereka menikmati dengan lahap dan penuh kehangatan bersama.
***
Di kota Bandung, Dias berkumpul bersama keluarga besarnya. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Sebulan yang lalu, keluarganya kehadiran anggota baru seorang ponakan perempuan dari kakaknya.
Sebelum malam pergantian tahun baru, Dias berniat menghubungi Zidhiana.
02242075xxx memanggil..
Zidhiana menukikkan alisnya ketika melihat nomer yang belum pernah tersimpan di ponselnya sedang memanggil. Kemudian ia berlari menuju ke dalam rumah, lalu mengangkatnya.
Zidhiana : Assalamu'alaikum.
Dias : Wa'alaikum salam. Lagi ngapain yank?
Zidhiana : Ooh Aa', baru habis bebakaran nih. Ini nomer sapa A'?
Dias : Ini nomer rumahku, disimpen ya.
Zidhiana : Oke A'.. Met tahun baru ya. Di rumah lagi ada ayah nih, mau ngobrol nggak?
Gadis itu terkekeh geli menunggu reaksi jawaban dari pria sang penakluk hatinya. Bagaimana raut wajah Dias di sana saat ini telah tergambar olehnya.
Dias : Aduuuhh,, jangan dulu yank. Aku belum siap nih. Kamu lanjut lagi gih acara kumpul keluarganya ya. Salam aja buat semua.
Zidhiana : Okey A' jangan nakal ya. Jangan suka ngetrack-ngetrackan, inget umur.
Dias terkekeh mendengar pesan darinya. Salah satu alasan orang tuanya mengirim Dias kerja di Batam adalah untuk mengurangi pengaruh buruk dari teman-temannya.
Ddrrtt.. Drrrtt..
Sebelum menuju ke belakang, ponsel gadis itu kembali berbunyi. Kali ini nama pujaan hatinya yang memanggil.
Zidhiana : Hallo Bram.
Bram : Masih kangen nggak sama aku?
Deg.. Suara yang terdengar serak berat itu membuat jantung Zidhiana berdetak hebat seperti tabuhan genderang perang.
Zidhiana : Bram, please deh aku malu. Happy new year ya.
Bram : Happy new year too. Tinggal jawab iya atau nggak susah gitu yaa?
Kekehan geli terdengar di telinga Zidhiana. Bram bisa membayangkan wajah gadis itu yang kini pasti sedang bersemu dengan bibirnya yang manyun.
Zidhiana : Braaaaaam,, aku tutup nih kalo kamu usil gitu.
Bram : Yaaa.. Jangan donk. Oh ya, kamu mau oleh-oleh apa Dhi?
Zidhiana : Aku cuma mau kamu aja Bram. Nggak mau yang lain.
Mendengar jawabannya, Bram merasakan dirinya sudah menembus pintu hati Zidhiana. Keberadaan Dias bukan jadi halang rintangannya saat ini.
Bram : Iya Dhiana, aku akan segera pulang nemuin kamu kalo liburanku udah selesai. Jaga diri baik-baik ya. Jangan sama Dias terus.
Zidhiana : Ya nggak mungkin laah Bram. Dias kan pulang ke Bandung juga. Ok Bram, aku tunggu yaa.
Ada perasaan tenang di hati Bram ketika mendengar Dias jauh dari gadis itu saat dia tidak di dekatnya. Dari lubuk hati terdalam, sebenarnya ia tidak menyukai nama Dias ada di antara mereka. Tapi terkadang ia sering menguji perasaan Zidhiana dengan menanyakan keberadaan Dias.
Pergantian tahun tinggal hitungan menit. Zidhiana kembali ke belakang menemui keluarganya. Terlihat beberapa mercon menggelegar dan menghiasi langit malam ini. Tampak dari berbagai sudut bola lampu merah terjun bebas di atas dermaga Angkatan Laut.
Dari rumahnya terlihat jelas sekali cahaya merah itu menyala. Kata ayahnya, “itu adalah mercon emergency ketika kita dalam keadaan darurat di tengah laut.” Sedikit banyaknya tentang kelautan seperti rasi bintang, tanda-tanda pasang surut, arah angin, bentuk awan dan sebagainya dipelajari Zidhiana dari ayahnya yang notabenenya sebagai pelaut.
***
Siang ini Bram diajak sepupunya, Hendrik jalan-jalan. Di bawah hujan rintik-rintik ini menuntunnya untuk berhenti ke sebuah coffee shop. Bram memesan dua moccacino. Hendrik menunggunya sambil menghisap sebatang r***k.
Mereka duduk di samping jendela kaca yang membuat pandangan mereka dapat mengeksplor apa yang ada di sekitar coffee shop tersebut. Tahun baru ini sangat syahdu diiringi turunnya gerimis di kota kembang ini.
Di seberang sana ada toko suvenir dan oleh-oleh. Bram ingin melihatnya, siapa tahu ada yang bisa ia belikan untuk pujaan hatinya. Ia meminta kepada Hendrik untuk menemaninya ke sana setelah gerimis reda.
“Entar temenin gue kesono ya bro.” Bram menunjuk ke arah toko suvenir itu.
Hendrik mengernyitkan dahinya mendengar permintaan sepupunya itu. “Mau nyari oleh-oleh buat sapa bro, keluarga lu kan ada di sini semua,” tanyanya heran.
“Buat temen gue,” jawab Bram singkat.
“Temen apa demen?” cibir Hendrik. Menyebulkan asap r***k ke arah wajah Bram.
Dia hanya tersenyum miring. Berdebat dengan Hendrik bakal tidak ada titik akhirnya. Sepupunya yang satu ini memang sedikit menyebalkan.
Setiba di toko suvenir itu, matanya tertuju pada sebuah lampu hias mungil terbuat dari rotan yang cantik. Bram akan membelikannya untuk Zidhiana. Di netranya menangkap sosok gadis itu bagaikan cahaya yang selalu bersinar seperti lampu ini.
Kemudian dia beralih ke etalase di sampingnya. Ia juga sangat tertarik dengan gantungan kunci bertuliskan nama. Bram memesan untuk membuatkan dua gantungan kunci yang bertuliskan nama Zidhiana dan namanya. Gantungan kunci berwarna pink ini bertulisakan nama kekasihnya dan tulisan berwarna biru miliknya.
“Ooh jadi ini nama pacar lu, Bram?” goda Hendrik. Memicingkan matanya sebelah.
“Berisik aja sih lu,” timpal Bram. Menyenggol lengan sepupunya yang menyebalkan itu.
Mereka memang selalu rame sejak kecil. Kadang permasalahan kecil menjadi ribet. Tapi mereka tetap kompak dalam persaudaraan. Hendrik yang terkenal nakal, arogan, dan menang sendiri. Namun ia selalu mementingkan kebersamaan terutama kepada Bram.
Setelah puas berkeliling-keliling, mereka pulang ke rumah keluarga besar. Bram memilih ke kamar karena ingin beristirahat dibanding berkumpul bersama yang lainnya. Begitu juga dengan Hendrik.
Di dalam kamar, Bram memandang gantungan kunci bertuliskan nama Zidhiana di jari telunjuknya. Ia mengoyang-goyangkan seperti ayunan. Sesekali ia tersenyum membayangkan wajah gadis pujaan hatinya itu. Tak lama ia pun tertidur lelap.
“Bram ... bangun.” Terdengar suara seseorang sedang membangunkannya. Matanya berusaha mengerjap terbuka.
Bram tak menyangka kini Zidhiana ada di sampingnya. Ia pun spontan memeluk erat dan posesif.
“Kamu koq nggak bilang aku kalo kamu di sini. Aku kangen banget sama kamu Dhi,” lirih Bram. Masih tak mau melepaskan pelukannya.
Gadis itu membelai lembut wajah Bram seraya tersenyum memandangnya. “Aku akan ikut kemanapun kamu pergi Bram.”
Bram memegang dagu Zidhiana, lalu mendekatkan wajahnya. Gadis itu pun memejamkan kedua bola matanya.
“Ciiiiaaa.. Gue masih normal Bram, nyampe segitunya lu. Ampun dah gue punya sodara kayak gini,” ketus Hendrik. Lalu menoyor kepala Bram.
Bram tersentak, ternyata semua hanya mimpi. Ia mengusap kasar wajahnya. Hendrik terkekeh geli menyaksikan adegan konyol dari Bram malam ini.
“Ganggu orang lagi enak aja sih lu bro,” protes Bram. Rasanya ia ingin sekali menendang Hendrik dengan jurus tendangan seribu bayangan.
Hendrik sampai sakit perut menertawai sepupunya itu. “Gue cuma disuruh tante bangunin lu. Dah ditungguin makan tuh. Buruan sono, mimpinya lanjut lagi kan bisa,” Hendrik tertawa renyah.
Bram melempar bantal tepat ke arah wajah Hendrik karena kesal mimpinya terputus. Mengapa sampai terbawa mimpi ya, pikirnya. Mana lagi tadi pake acara peluk-pelukan segala lagi. Bram meremas rambutnya.
Kini yang merasakan kerinduan bukan hanya Zidhiana sendiri, tapi pria itu juga sangat merindukannya. Saat kedua insan ini berjauhan, hanya kata rindu yang bertahta di hati mereka.