Arti Cendera Mata

1781 Kata
Suasana di bandara tampak begitu padat sekali. Sudah menjadi hal yang biasa hiruk pikuk ini terjadi di saat momen tahun baru. Puncaknya hari ini, penerbangan ke Batam tak luput dari pemandangan para penumpang yang membludak. Wisatawan asing maupun domestik memenuhi antrian chek in. Di ruang tunggu keberangkatan terlihat Bram sedang memainkan gantungan kunci bernamakan Zidhiana. Sesekali manik matanya menatap pesawat yang hilir mudik menapaki landasannya. Rasanya ia ingin segera terbang menginjakkan kakinya ke kota kecil itu. Kota Bintan, dimana ia menuntut ilmu dan bertemu dengan gadis itu. “Permisi, kursinya kosong mas?” tanya seorang pria menyapanya. “Silahkan mas. Mau ke Batam juga?” timpal Bram. Pria itu pun mengangguk iya dan tersenyum, lalu duduk di samping Bram. Mereka kembali dengan kesibukan masing-masing demi mengusir rasa jenuh. Masih membutuhkan waktu sekitar 45 menit lagi para penumpang memasuki pesawat. “Batamnya dimana mas?” sapa Bram seraya tersenyum simpul. “Saya di pelabuhan Punggur,” jawabnya singkat. Diikuti anggukan mengerti Bram. Memang sedikit canggung baginya untuk menyapa seseorang yang belum dikenalinya. Kemudian ia kembali memainkan gantungan kunci tadi. Tak sengaja netra pria di sampingnya itu melihat nama yang tercetak di gantungan kunci tersebut. “Gantungan kuncinya pasti bikin di Bandung ya mas?” Pria itu melihat logo dari toko suvenir yang ia kenali. Tapi sebenernya ia ingin memastikan nama yang tertera di sana adalah nama Zidhiana. Bram membuka telapak tangannya membuat nama yang terukir indah itu terbaca nyata olehnya. “Iya mas, ini saya pesan pas saya di Bandung,” ungkapnya. “Namanya Zidhiana?” selidik pria itu. Mengunci pandangan Bram. “Dia pacarku, mas,” ucap Bram enteng. Wajahnya tampak bahagia mengakui Zidhiana adalahnya miliknya. “Hmm.. Koq bisa sama ya, kebetulan banget pacarku juga namanya itu,” pria itu lalu mengeluarkan gelang yang bertuliskan nama Zidhiana. Tepat sekali ... Pria yang sedang mengobrol dengan Bram adalah Dias. Mereka tidak saling mengenal. Dddrrtt.. Drrrtt.. Bram : ya Dhiana. "........" Bram : paling bentar lagi aku berangkat. "........" Bram : hati-hati ya. Sama siapa perginya? "........" Bram : iya nanti aku langsung kabari. Miss you. Tak sengaja Dias menguping pembicaraan mereka. Ia sempat berpikir bahwa Zidhiana pacar pria yang duduk di sampingnya ini adalah pacarnya juga. Di sisi lain dari dirinya berkata tidak mungkin. Nama Zidhiana bisa saja lebih dari satu orang. Dia pun menepis jauh-jauh anggapannya yang salah itu. Ding ding ding diiiiiing.. "Mohon Perhatian.. Panggilan terakhir penumpang pesawat xxx dengan nomer pernerbangan xxx tujuan Batam dipersilahkan segera naik ke pesawat udara melalui pintu 5. Terima kasih." “Saya duluan ya,” pamit Dias kepada Bram. “Silahkan mas,” sahut Bram sembari berdiri mengambil ranselnya. Belum sempat mereka memperkenalkan nama masing-masing, mereka berpisah lalu menuju pintu yang diarahkan operator bandara. Bram kembali ke barisan keluarganya, sedangkan Dias sudah mengantri di barisan terdepan. *** Liburan akhir tahun telah usai, semua kembali ke aktifitasnya masing-masing. Pagi ini Zidhiana tampak bersemangat, raut wajahnya penuh dengan keceriaan. Tatapannya penuh damai seraya menunggu bis sekolah di ujung jalan. “Kemana aja Zi selama liburan?” sapa Rasty. Pagi ini mereka duduk bersebelahan, biasanya Zidhiana sering berdiri. “Di rumah aja Ras, kebetulan ayahku pulang. Pasti kamu ngabisin waktu sama Jack terus nih,” goda Zidhiana. Masih pagi, udah ganti tahun juga nih anak masih suka banget usil, bathin Rasty. Dia yakin pasti sahabatnya yang nyebelin ini akan shock mendengar jawabannya sesaat lagi. “Pastilah, kami pergi ke Pulau Penyengat waktu itu,” timpal Rasty santai. “Berani banget kesana? Ah masa sih? Nggak takut putus?” Zidhiana mencecar pertanyaan kepada sahabatnya ity dengan netranya yang membulat tak percaya. Dugaan Rasty kali ini tidak meleset. Dia puas mengerjai sahabatnya pagi ini. Tinggal menunggu mimik wajahnya yang akan berubah seperti apa sebentar lagi. “Aku sama--- “Ah ... Palingan juga Jack nunggu di seberang pulau,” pungkas Zidhiana santai. Terkekeh geli menyerobot penjelasan sahabatnya. Dia terlalu pintar untuk dikelabui oleh sahabat kecilnya itu. Pulau Penyengat adalah salah satu pulau kecil yang menyimpan sejarah seni budaya Melayu Kepulauan Riau. Disana banyak sekali peninggalan budaya seperti Kerajaan Islam, Mesjid yang terbuat dari kuning telur, Gurindam Dua Belas (syair yang beisi tentang nasehat dan agama) dan masih banyak lagi. Mitosnya, siapa yang berpacaran dan dengan sengaja mengunjungi pulau itu maka hubungan mereka akan segera kandas. “Nah itu udah tahu jawabannya,” cibir Rasty. Menjulurkan lidah mengejeknya. Mana mungkin dia mengajak Jack ke sana, ia hanya pergi bersama mamanya mengunjungi pulau bersejarah itu. Awal tahun ini disambut dengan pelajaran Ekonomi di kelasnya. Sebenarnya Zidhiana kurang tertarik tentang dunia perekonomian, tapi kakeknya pernah berjanji akan menurunkan ilmu akuntansi beliau setelah ia tamat kuliah nanti. Kakeknya dulu adalah seorang akuntan yang dipercayai oleh bosnya untuk membangun Nagoya pada tahun 1990an, nama daerah yang menjadi pusat perdagangan di kota Batam. Kuncinya adalah kejujuran dalam bekerja, kata beliau. Kita kapan bisa kayanya donk kalo cuma ngitungin harta perusahaan orang. Kalimat sakti itu yang selalu menjadi bahan olokan yang Zidhiana lontarkan ketika bercanda bersama kakeknya. Sampai sekarang ia belum memiliki cita-cita apa pun, padahal Zidhiana memiliki kemampuan akademik yang baik. Di kelas itu terasa aura semangat baru di awal tahun semua murid. Mereka sangat antusias sekali menerima pelajaran pagi ini. Biasanya di awal tahun, banyak guru memulai pelajaran dengan bercerita. Masuklah guru pria dengan setelan kemeja biru muda, bercelana hitam, dan berkaca mata. Pak Norman, kami memanggilnya. Beliau adalah guru Ekonomi senior di sekolah kami. Terlihat berwibawa dan sangat tenang saat beliau menerangkan. Cerita pak Norman yang selalu diingat Zidhiana adalah tentang keponakannya yang sama sekali tidak tahu mengoperasikan komputer. Tapi karena menguasai bahasa Inggris akhirnya sekarang ponakannya menjadi ahli komputer. Cerita ini begitu sangat menginspirasi baginya. Drrrtt.. Drrrttt.. Ponsel Zidhiana bergetar hebat. Suaranya terdengar oleh siapa pun, saat ini suasana begitu tenang karena mereka sedang fokus menulis. Zidhiana menunduk membaca pesan singkat dari Bram. Bram : Dhiana,, entar malem kalo nggak sibuk kita ketemu ya. Zidhiana : iya Bram, aku maen ke cafe ya. Met belajar (emoji smile) Bram : okey (emoji kiss) Penyemangat datang, yeess.. Bathin Zidhiana bergemuruh ria. Dia mengulum senyum bahagianya. Sementara di samping kanan dan kiri mejanya ada siswa yang saling bersitatap bingung. Rasty dan Rifai memicingkan alis mereka melihat kelakuan sahabatnya itu. *** Malam harinya Zidhiana menuju cafe. Saat pertama menangkap bayangan Bram berjalan menuju dirinya, netranya berbinar dengan senyuman duchenne yang terbit di bibir tipisnya. Rasanya ia ingin berhamburan ke pelukan Bram. Tapi itu semua harus dipendamnya, ini bukanlah sebuah adegan film. Raut wajah kebahagiaan terpancar dari dua insan yang saling melepas rindu. Bram dan Zidhiana saling mengobrol dan berbagi cerita selama liburan. Cuma satu cerita konyol tentang mimpi Bram yang tidak diutarakan olehnya. Hanya Hendrik yang menjadi saksi gelagat menggelitik kala itu. Bram sendiripun sangat sulit melupakannya. “Kayaknya ada yang kangen aku nih,” goda Bram. Tersirat wajah merona Zidhiana yang ditangkap olehnya. “Kalo iya kenapa, nggak boleh gitu?” timpal gadis itu ketus.. Menahan rasa jengah yang terpancar di dirinya. Ekspresi seperti inilah yang selalu disukai dan dirindukan oleh Bram. Membuatnya gemas dan ingin sekali menggoda gadis itu sepanjang hari. Dia kembali teringat mimpi indahnya saat ia akan mencium bibir tipisnya. Manik matanya menatap dalam dan pandangannya menjadi terpaku saat ini. “Hallo Bram.. Hallooo ... Kamu sakit, Bram?” Zidhiana melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah pria itu untuk membuyarkan lamunannya. Bram berdehem kikuk lalu menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. “Eh.. Ng.. Nggak papa, iya bener ak.. aku nggak papa,” sanggahnya tergagap. Apa yang dipikirkan Bram saat ini. Zidhiana mengernyit melihat gelagat Bram yang membeku menatapnya lama. “Kalo kamu capek atau nggak enak badan, aku pulang dulu ya Bram. Kamu istirahat ya,” saran Zidhiana. Menatapnya tulus dan penuh iba. “Jangan dong Dhiana, aku kan belum hilang kangennya. Kamu jangan pulang ya,” pinta Bram memelas. Gadis itu manggut-manggut dan kemudian mereka melanjutkan ngobrol bersama lagi. “Hei cakep, mana oleh-oleh buat eike,” celetuk Nanda. Tiba-tiba muncul dan menepuk bahu Bram. “Oleh-olehnya capek, pijitin aku donk bang,” sahut Bram terkekeh geli. Entah dari arah mana pria cantik itu muncul seperti si tak kasat mata. Nanda menatap sengit lalu menjewer Bram. “Nih, eike pijitin telinga ye. Puaaass! Dah ah eike mau pergi dulu, bye cantik.” Dia berlalu melambaikan tangannya. Zidhiana membalas dan tersenyum geli. Untungnya Nanda datang mengingatkan oleh-oleh. Bram hampir terlupa bahwa ia membawakan oleh-oleh untuk Zidhiana. “Sebentar ya, aku ke dalam dulu,” pintanya diikuti anggukan oleh gadis itu. Sebuah tote bag berwarna putih bertuliskan nama kota Bandung dibawa oleh Bram dari kamarnya. “Ini buat kamu Dhiana, mudah-mudahan kamu suka ya,” Da menyerahkan kepada Zidhiana. “Makasih ya Bram, kamu udah repot-repot bawain aku oleh-oleh,” ucapnya tulus. Senyum indahnya terpancar yang menyejukkan hati Bram. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Zidhiana pamit kepada Bram lalu meninggalkan cafe itu. Sesampai di rumah, ia tak sabar ingin segera membuka tote bag pemberian Bram. Ada sebuah lampu mungil dan gantungan kunci cantik. Zidhiana sangat suka sekali. Lampu ini akan menjadi hiasan di atas nakas kamarnya. Sedangkan gantungan kunci itu akan ia sematkan di tas sekolahnya. Zidhiana : Bram, makasih banyak ya. Aku suka banget cendera matanya. Bram : Iya Dhi, sama-sama. Kamu tau nggak artinya aku ngasih kamu lampu sama gantungan kunci itu? Zidhiana : Jiiiaah.. main tebak-tebakan nih? (emoji : mengejek) Bram : Jangan nyerah, ayo jawab dulu. Zidhiana : Makasih yaa Bram. Kamu adalah cahaya yang menyinari hatiku seperti lampu ini menerangi ruanganku. Bener nggak ya gitu artinya? Arti dari ukiran nama di gantungan kunci ini sedikit membuatnya berpikir keras mencari makna yang terkandung di dalamnya. Apakah mungkin namanya terukir indah di hati pria itu? Dari pada hanya menerka-nerka sesuatu yang belum pasti, mending biar Bram sendiri yang memberitahunya. Bram : Kemanapun kamu bawa pergi gantungan kunci itu, selalu ingat aku ya yang telah mengukir namamu hatiku. Ternyata benar, jawaban tebakan itu sama persis seperti dugaannya sebelumnya. Dia merasa begitu bahagia membaca pengakuan pria pujaan hatinya itu. Zidhiana : Iya Bram. Tapi kalo gantungan kunci itu rusak gimana Bram? Apa namaku masih terukir di hatimu? (emoji : sedih) Bram : Now and forever, you will be in my heart. Rasanya malam ini bagai malam seribu bintang yang bersinar dan bertebaran di langit-langit kamar Zidhiana. Dia menuliskan kisah cintanya ini ke dalam buku diary kecil berwarna cream miliknya. Aku tersanjung Bram, kamu membuatku serasa melayang diterbangkan oleh kupu-kupu bersayap emas. Kisah ini akan ku kenang Bram. Walaupun kita masih sekolah, kita bisa mengukir kisah romantis ini. Aku, kamu, dan kita bisa bersama entah sampai kapan. Seandainya aku bertemu dengan dirimu di awal, tidak akan pernah ada kalimat Cinta Itu Selalu Datang Terlambat. Tapi memang kita ditakdirkan untuk bersama setelahnya terlambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN