Ciuman Pertama

1790 Kata
Semenjak kepulangan Dias dari Bandung, belum ada kabarnya sedikitpun untuk Zidhiana. Dia juga tidak mengambil pusing tentang hal itu. Hari-harinya kini telah terisi oleh kehadiran Bram. Sabtu siang sepulang dari sekolah. Lagi dan lagi Zidhiana dikejutkan oleh kedatangan Dias tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sayangnya, ayahnya telah kembali ke kapal. Kalau tidak, ia pasti sudah mengenalkan beliau kepada Dias. “A' udah nunggu dari tadi?” Zidhiana menyapa Dias masih dengan pakaian seragam sekolahnya. “Sekitar setengah jam yang lalu, kamu mau ikut aku nggak?” ajak Dias. Sebelumnya ia sudah meminta izin kepada Martinah untuk membawa gadis itu keluar. Mau jalan kemana siang bolong gini pikirnya. “Tapi aku belum makan A'. Emanknya mau kemana sih?” tanya Zidhiana memicingkan alisnya. Masih dirahasiakan oleh Dias tempat yang akan mereka kunjungi. Dia lalu mengganti baju seragam sekolahnya dengan pakaian casual. Mereka pamit lalu berangkat bersama. Sebelumnya, ia minta ditraktirin bakso halilintar dengan porsi jumbo. Memang porsi seorang Zidhiana seperti seorang kuli. Postur tubuhnya memang terlihat kutilang (kurus, tinggi, langsing) tapi untuk urusan makan jangan ditanya. Jadi tidak menjamin kalau bertubuh kurus itu karena kekurangan asupan. Kini kendaraan mereka menyusuri jalanan setapak menuju ke sebuah pulau. Pulau ini sangat kecil dan letaknya tak jauh dari sekolahnya. Banyak orang menyebutnya dengan nama Pulau Putus, sungguh membuat sejuta pertanyaan, kenapa dinamakan seperti itu. Apalagi ada mitos yang tersimpan di sana. Sebenarnya pulau ini terbentuk dari pantai yang terkena abrasi laut, lambat laun seperti terpisah membentuk pulau kecil. Apalagi saat air pasang, terlihat jelas pulau tersebut menyendiri. “Koq kita kesini sih A'?” Zidhiana menatap heran. Ada angin apa Dias mengajaknya ke tempat ini, bathinnya. “Aku tuh penasaran denger cerita dari anak-anak. Pingin tahu aja kayak apa sih Pulau Putus ini. Nggak usah percaya mitos ya yank. Jodoh, kematian, dan rezeki itu di tangan Tuhan,” jelas Dias tersenyum tipis. Mitos dari pulau ini sesuai dengan julukan yang disematkan ’Pulau Putus’. Bagi pasangan yang datang kemari, prediksinya hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Zidhiana mengangguk setuju. Mereka lalu turun ke pantai yang berpasir putih itu menyusurinya sambil bergandengan tangan. Akhirnya mereka berteduh, duduk di bawah sebuah pohon cemara. Di sana Dias mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah gelang perak bertuliskan nama ‘Zidhiana’ dengan ukiran yang cantik. Lalu ia memakaikan ke pergelangan tangan gadis itu. “Ini buat kamu ya yank,” Dias menatap dalam Zidhiana sambil merapikan anak rambutnya yang tertiup angin sepoi-sepoi. “Makasih ya A' ,” ucap Zidhiana. Lalu tangannya bergelayut manja. Kepalanya ia sandarkan di pundak pria itu. Kini jantungnya mulai berdegub kencang ketika Dias memajukan rahangnya dan mengangkat dagu runcing Zidhiana. Jarak mereka kini sangat dekat sekali. Kedua netra mereka saling menatap intens. Lalu Dias mengecup lembut bibir ranumnya. Bibir yang selalu ia jaga dan belum pernah tersentuh oleh siapapun. Ia mematung dengan netranya yang tertutup menikmati setiap permainan bibir Dias tanpa membalasnya. Oemjih, ini adalah ciuman pertama bagi Zidhiana. Dia masih membeku menatap manik hazel kecokelatan yang tajam dan disukainya itu. Pastinya perasaannya saat ini sulit terbacakan. Wajahnya bersemu seketika. Dias mengulum senyum menatapnya yang saat ini sungguh menggemaskan. Suasana menjadi agak sedikit canggung. Mulutnya tiba-tiba terkunci rapat. “Ngapa neng, koq jadi kayak tomat gitu mukanya,” goda pria itu mencairkan suasana. Dasar Dias, emang sukanya ngusilin orang. Gimana aku nggak kayak tomat gini, orang ini aja first kiss aku. Terus maunya aku tuh santuy gitu aja, kayak nggak ada kejadian apa-apa, bathinnya menggerutu. “Bodo' ah,” timpal Zidhiana sambil mengerucutkan bibirnya. Dias terkekeh geli melihat perangai gadis itu saat ini. Kemudian Dias menarik tangannya, kini mereka berdiri sejajar. Manik mata mereka bersitatap kembali, lalu Dias memeluknya erat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "I Love You". Entah kenapa dia sulit sekali membalas ungkapan pria si penakluk hatinya saat ini. Bibirnya membungkam, ia hanya menjawab dengan anggukan. Dias menyadari, mungkin Zidhiana masih belum mampu menstabilkan jantungnya yang terus memompa kencang. “Kita pulang yuuk. Aku harus balik ke Batam sore ini,” ujarnya. Kenapa week end aja harus pulang ke Batam, bathin Zidhiana kesal. “Mau pulang? Koq cepet banget sih bang toyib,” cibir gadis itu. Dias mengelus lembut puncak kepalanya tanpa memberinya alasan. Lalu pria itu mengantarnya pulang dan langsung menuju pelabuhan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, setengah jam lagi adalah keberangkatan kapal terakhir. ‘Zidhiana,’ Dia membaca ukiran gelang yang tertera namanya di pergelangan tangannya yang ringkih. Lalu ia mengusap lembut bibirnya, memejamkan kedua netranya untuk menghapus jejak ingatannya tentang kejadian tadi. Ada rasa bahagia yang tercipta dan ada pula rasa benci yang bersemayam di hatinya bila mengingat Dias mempermainkan kepercayaannya. Rasanya ia ingin sekali menenggelamkan Dias ke laut Antartika dan membekukannya selamanya. Namun, berkali-kali Dias selalu meluluhkan hatinya yang goyah. Memang ini tidak adil bagi Dias karena Zidhiana juga lebih mencintai Bram. Keegoan Zidhiana muncul karena pria itulah yang memulai dulu bermaun di belakangnya. *** Satnite ini Bram menunggu kedatangan Zidhiana menemuinya di tempat biasa. Mereka akan mengobrol di cafe saja sesuai permintaan Zidhiana. Dia tidak mau pergi kemanapun. Tampak senyum sumringah terpancar di wajah Bram. Dia menyambut kedatangan gadis yang telah mengisi hatinya beberapa bulan ini dengan hangat. Menggandeng tangan mungil itu, lalu Bram menarik kursi mempersilahkan Zidhiana untuk duduk disampingnya. Kini mereka duduk tidak lagi saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Semua penghuni kosan juga sudah mengetahui hubungan yang terjalin antara mereka berdua. Kisah cinta antara dua pelajar sekolah. Lebih tepatnya cinta segitiga bagi yang mengetahui peliknya alur kisah cinta mereka. “Kamu tumben nggak mau keluar jalan-jalan Dhi?” tanya Bram datar. Memandangi wajah gadis itu yang tampak lesu. “Aku pingin deket kamu aja Bram, nggak mau kemana-mana malam ini,” sahut Zidhiana. Sebenarnya ia masih belum bisa melupakan momen yang ia lewati bersama Dias tadi. Tak biasanya Bram menangkap gelagat gadis itu sedikit tak bersemangat. Lalu ia mengelus puncak kepala Zidhiana seraya mengangguk setuju. Tak lama ada sepasang pemuda datang memasuki cafe itu. Di sana terlihat Jody bersama pacarnya. Sorot matanya langsung tertuju pada Zidhiana. Ini kedua kalinya ia menangkap temannya bersama pria itu. Gadis itu belum mengetahui bahwa dirinya telah menjadi objek penyelidikan Jody. Terlihat Bram menggenggam tangan Zidhiana erat dengan tatapan penuh cinta. Begitupun Zidhiana terlihat sesekali manja bercanda ria. “Aku mau ke toilet bentar ya Bram. Titip ponselku kalo ada yang telpon,” pintanya. Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kemudian ia pergi meninggalkan pria itu sendirian. Karena karakter minusnya Zidhiana yang selalu sembrono, ia tidak menyadari ada sesuatu yang terjatuh dari sakunya. Bram menyadarinya lalu mengambil benda itu di samping kakinya. Sebuah gelang perak yang pernah ia lihat sebelumnya, tapi dimana. Memorinya tidak bersahabat saat ini. Ia akan menyimpannya tanpa sepengetahuan Zidhiana. Dari arah belakang tampak gadis itu berjalan menuju ke mejanya. Dengan sergap Bram menyembunyikan gelang itu ke saku celananya. Dia memasang wajah datarnya dengan sorot mata yang dingin seolah-olah tidak terjadi apapun. Sambil melangkah Zidhiana terkesiap ketika netranya tak sengaja menangkap Jody yang sedang duduk bersama pacarnya di cafe itu. Dia berlalu dengan santai tanpa memikirkan apa yang dipikirkan temannya itu saat ini. “Kayaknya itu temenmu Dhi?” ujar Bram. Menunjuk dengan mengangkat dagunya ke arah Jody. “Oh iya, tapi kami nggak sekelas,” timpal Zidhiana singkat. Diatak menghiraukan pandangan Jody yang menatapnya penuh rencana. Sedari tadi Bram juga memperhatikan cara memandang Jody yang tak biasa itu. “Koq dia lihat kita kayak gimana gitu ya? Emanknya dia pernah suka sama kamu Dhi?” cecar Bram penuh selidik. “Ah ngawur aja kamu, dengerin ya Bram ... Aku memang banyak yang naksir, tapi yang ada dihatiku cuma kamu,” jelas Zidhiana to the point. “Kalo Dias masih ada di hatimu?” Bram bertanya dengan manik matanya yang mengintimidasi gadis itu. Merasa ditatap Bram seperti itu, Zidhiana berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Ya ampun kang, kamu cemburuan banget ya. Harus aku jawab berapa kali sama kamu kakang Brama,” belanya. Sembari terkekeh geli. Bram menjawil hidung Zidhiana. Pria itu sangat gemas mendengar jawaban nyeleneh dari pacarnya malam ini. Selalu aja ada alasan yang mencoba membuatnya luluh dan termakan senjatanya sendiri akibat pertanyaan konyol yang ia ciptakan. Akhirnya sampailah di penghujung waktu pertemuan mereka di satnite ini. Bram mengantarkan Zidhiana ke parkiran. Mereka berjalan bersisihan dengan meja Jody. “Hei bro, aku duluan ya,” sapa Zidhiana kepada temannya itu. “Baru juga jam segini, b***i aja pulang pagi,” ledek Jody. Zidhiana hanya terkekeh dan berlalu meninggalkannya. Setelah ia pulang, Bram masuk ke kamarnya. Kemudian dia mengeluarkan gelang perak yang tersimpan disakunya. Dia membolak balikkan gelang tersebut seraya mengingat kapan terakhir ia melihat benda yang sama seperti ini. Sepuluh menit berlalu, kemudian Bram mendesah lelah. Dia menggenggam erat gelang perak itu dengan emosinya yang mulai tersulut karena cemburu. Ternyata Dias adalah orang yang waktu itu duduk bersebelahan dengannya saat di Bandara. Rahangnya mulai mengeras, terlihat buku-buku di genggaman tangannnya memutih. Lalu ia memukul keras tembok yang berdiri kokoh menjadi saksi bisu kecemburuannya. Gelang perak itu akhirnya terputus menjadi dua bagian. Di balik wajahnya yang dingin ternyata Bram tak mampu menstabilkan hatinya yang bergejolak termakan api cemburu malam itu. *** Drrrtt.. Drrrtt.. Ponsel Bram bergetar kencang menyadarkan dirinya yang masih terlelap dalam bilik peraduannya saat ini. Zidhiana : Hallo Bram, kamu dimana? Begitu mendengar suara yang tak asing lagi memanggilnya, Bram spontan mengerjapkan matanya dan mengumpulkan semua kesadaraannya untuk menjawab panggilan itu. Bram : Ya Dhi, aku masih di kamar. Suara serak nan s**y khas bangun tidur pun masih terdengar oleh Zidhiana. Tak biasanya pria itu bangun siang seperti ini, pikirnya. Zidhiana : Kamu baru bangun? Ini udah siang looh Bram. aku udah di depan cafe nih. Bram terkesiap mendengar Zidhiana sudah berada di depan cafe. Padahal ia baru saja bisa memejamkan netranya jam 5 pagi tadi. Dengan langkah lunglai ia pun menemuinya. Tampak sedikit bingung dia memandang raut wajah Bram yang tak terbacakan siang ini. Walaupun dalam keadaan bangun tidur, karisma coolnya nggak pernah luntur, bathinnya. Hal itu yang selalu membekas di pikirannya. Dia sangat mengagumi ketenangan dalam diri pria itu. “Kamu sakit ya Bram?” Zidhiana mendekatkan punggung tanggannya ke dahi dan ceruk leher Bram. “Aku nggak papa Dhiana,” jawabnya. Memegang pergelangan tangan Zidhiana. Dia tak sengaja melihat punggung tangan Bram yang sedikit lebam. “Ini tanggannya kenapa Bram?” tanyanya khawatir. “Ini nggak sengaja kepentok tembok semalem,” jelas Bram. Menutupi alasannya cemburu. Mendengar penjelasan pria itu membuatnya mengernyitkan kening. “Aku obatin ya Bram, aku pulang ambil salep bentar,” ucap Zidhiana. Lalu beranjak berdiri. “Jangan Dhiana, ini udah nggak papa koq,” tolak Bram menarik tangannya. Gadis itu pun manut dan kembali duduk di sebelahnya. Hingga siang itu Zidhiana masih belum menyadari gelang perak pemberian Dias telah hilang. Bram juga menutupi rapat-rapat darinya. Hanya menunggu waktu yang pas untuk mengembalikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN