Tampak banyak kendaraan memenuhi dan terparkir rapi di halaman sekolah itu. Hari ini adalah pembagian rapor semester ganjil. Biasanya wali murid berkumpul dalam satu aula untuk mengetahui pengumuman juara umum di sekolah. Setelah itu mereka kembali ke kelas masing-masing mengambil rapor anak-anaknya. Martinah, ibunya Zidhiana telah hadir bersama wali murid lainnya di sana.
Murid-murid ada yang berdebar menunggu hasil rapor mereka, ada juga yang terlihat biasa saja. Di depan kelas Rasty, Zidhiana dan lainnya duduk santai seraya bercanda ria.
Setelah selesai kata sambutan dari kepala sekolah, kini tiba waktunya pengumuman yang mendebarkan. Di mulai dari urutan juara III umum terlebih dahulu. Tahun ini dipegang oleh kelas X B.
Kemudian pak Suryo sebagai perwakilan dari sekolah melanjutkan membacakan pengumuman tersebut.
“Untuk juara II umum jatuh kepada ...”
“Zidhiana kelas XI B. Dipersilahkan kepada siswa dan wali murid untuk maju ke depan," titah beliau diikuti riuh rendah tepukan selebrasi.
Martinah telah berbaris bersama para siswa penerima juara umum beserta wali muridnya tanpa kehadiran anaknya. Pak Suryo melihat keganjilan itu lalu memerintahkan Rifai untuk mencarinya.
“Ngerempong aja, tuh dipanggil pak Suryo di aula. Cepetan,” omel Rifai yang masih terengah-engah berlari untuk memanggilnya.
“Aku dipanggil? Kenapa ya Ras?” tanya gadis itu heran.
Rasty menggeleng tidak tahu. Tanpa menunggu lama ia pun berlari menuju aula.
Tampak raut kebingungan terbaca di wajahnya. Di sana terlihat semua sorot mata menuju kepadanya yang baru hadir.
“Ada apa ya pak?” Dia mengernyit masih mencari-cari jawaban. Tapi ia melihat ibunya berdiri di depan bersama yang lainnya.
“Sana gabung sama yang lainnya, di samping orang tuamu ya,” sahut pak Suryo. Kemudian dia berdiri di samping Martinah.
Kepala sekolah memberikan ucapan selamat dan tanda penghargaan kepada pemegang juara umum termasuk Zidhiana. Dia tak menyangka bisa mendapatkan predikat juara umum kedua tahun ini. Martinah sangat bangga, lalu mencium pipinya di depan banyak orang.
“Buk jangan cium gini, malu Zi,” bisiknya. Meratapi julukan anak mama yang akan disematkan dari beberapa temannya.
Seorang murid yang bersebelahan dengannya tertawa renyah tidak sengaja mendengar ucapannya. “Nggak papa juga, kan sekali-kali Zi,” goda Harry si predikat juara satu umum abadi.
“Yee... Bang Harry koq nggak pernah lengser sih jabatan umumnya,” balas Zidhiana meledek kakak kelasnya itu.
Harry adalah anak seorang nelayan yang mendapat bea siswa berprestasi seperti Zidhiana. Dia juga mendapat bea siswa kuliah di Singapura dari Pengembang Resort yang ada di pulau kami. Sungguh membanggakan sekali, bathinnya.
Setelah acara selesai dia permisi keluar meninggalkan aula dan kembali ke kelas bersama teman-temannya. Di sana Rasty dan lainnya memberikan selamat kepadanya.
“Zi, tadi Bram nelpon katanya dia sama Icko udah nunggu di pantai,” ujar Rasty. Menyerahkan ponsel yang Zidhiana titipkan tadi kepadanya.
Dia menukikan alisnya dan mencari jawaban ada apa Bram menemuinya. “Ras, pokoknya kamu temenin aku ya,” ajaknya.
Akhirnya semua siswa pulang setelah penerimaan rapor, kedua gadis itu langsung menemui Bram dan Icko di pantai yang telah dijanjikan sebelumnya.
Dari kejauhan tampak senyum Bram terbit di wajah tampannya. Bikin hati adek meleleh bang siang-siang gini, bathinnya.
“Gimana rapornya, Dhi?” tanya Bram.
“Aku dapat juara dua Bram,” timpal Zidhiana santai.
Pria itu mengeryitkan keningnya, kenapa prestasinya jadi menurun. Apa karena mereka selalu bertemu sehingga mengganggu jam belajar Zidhiana. Tapi koq dia tidak menyesalinya, pikirnya.
“Berarti turun donk ya?” sesalnya. Menatap sendu gadis itu.
“Ya nggak donk Bram. Dia malah dapat juara umum kedua,” ujar Rasty tersenyum tipis.
Sedikit lega Bram mendengar penjelasan dari Rasty. Dia spontan menjabat tangan Zidhiana memberikan selamat atas predikat prestasinya.
“Gila emang perjuangan buat dapetin nilai gituan. Bela-belain looh nyampe lari keliling lapangan berhari-hari,” celetuk Icko menepuk pelan jidadnya. Semua terkekeh mendengar cibirannya.
Tanpa membuang waktu mereka berempat turun ke laut yang hampir surut itu lalu bermain air bersama. Tidak ada cano yang disewakan di pantai ini. Karena pantai ini sudah jarang dikunjungi wisatawan.
Gelak tawa ria terdengar dari pantai. Mereka asyik bermain air hingga hampir jam 2 siang. Akhirnya mereka menepi ke pantai menuju tempat pembilasan. Di sana ada aliran sungai yang bersih, biasanya untuk tempat membersihkan tubuh mereka dari air laut.
“Brrrrr... Airnya dingin banget ya,” ucap Icko menggigil.
Semua tertawa melihat tingkah Icko yang seperti anak kecil. Setelah itu mereka mengeringkan pakaian mereka sebentar sebelum pulang. Lebih tepatnya mereka tetap menggunakan pakaian sambil berjemur sebentar.
Tangan Bram terulur sejajar dengan tangan Zidhiana. “Aku malu Bram, kamu nggak gosong kayak aku gini,” keluhnya. Lalu menyembunyikan lengannya.
“Ya nggak papa, kan jadi hitam manis. Lebih exotic,” goda Bram membuat wajah gadis itu bersemu. Kulitnya memang terlihat lebih gelap setelah bermain di pantai.
Baju mereka kini setengah mengering, mereka memutuskan untuk pulang. Tampak beberapa siswa sedang membangun tenda dekat kendaraan mereka yang terparkir. Di sana ada Jody dan teman-temannya.
Melihat senyum smirk yang terpancar di wajah Jody, spontan Rasty menangkap signal gasture tubuh itu.
“Jody itu masih sodaraan sama Lely. Kamu hati-hati ya Zi,” bisik sahabat kecilnya itu mengingatkannya.
Mereka saling senyum tanpa menyapa. Mungkin di satu sisi mereka tidak mengenali Bram dan Icko. Hanya membaca dari baju seragam sekolah yang mereka kenakan menyatakan bahwa mereka adalah anak lapangan.
Akhirnya mereka berlalu meninggalkan pantai itu. Zidhiana minta di antar sampai di depan gang dekat rumahnya. Ia takut diintrogasi dengan ibunya semalaman suntuk kalau tahu alasannnya pulang terlambat. Untungnya saat ia tiba di rumah, beliau sedang pergi.
***
Malam ini Zidhiana tidak menemui Bram karena pria itu pulang ke Batam. Dia baru menyadari dan mulai mencari gelang perak pemberian Dias. Semua sudut kamarnya sudah dibongkar. Zidhiana mendengkus kesal, terlukis wajah frustasinya karena tidak menemukan benda itu. Apa yang harus ia jawab seandainya Dias menanyakannya.
Dddrrtt.. Drrtt..
Zidhiana : Ya A' ... Tumben jam segini nelpon?
Dias : Masih di pantai yank?
Deg.. Dia tersentak mendengar pertanyaan Dias yang lugas. Apa dia tadi ke pantai, bathin Zidhiana.
Zidhiana : Ada di rumah koq A', emank sapa yang bilang aku ke pantai?
Dias : Ya udah kalo di rumah. Aku lanjut kerja dulu ya.
Zidhiana : Tapi A' siapa sih yang bil---
Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Tut...
“Hmm ... Belum juga kelar ngomong udah ditutup. Nggak sopan banget sih,” omelnya kesal dan tak lepas dari bibirnya yang mengerucut.
Ternyata benar kata Rasty, aku harus waspada saat bertemu Jody saat bersama Bram. Mana mungkin Dias bisa tahu kalau tadi kami bermain di pantai. Di sana yang mengenali Dias kan cuma Jody, pikirnya.
Ini semua tidak adil bagiku, Dias di sana bisa saja bertemu Lely setiap saat. Tidak bisa menyalahkan sepenuhnya, kalau aku bersama Bram. Belum saatnya aku buktikan kalau kamu memang sudah mengkhianati aku. Pasti akan ada pembuktiannya, gadis itu mendesah kesal.
Ting..
Satu notifikasi pesan singkat dari Bram.
Bram : Dhiana, aku mungkin tiga hari di Batam. Ada acara keluarga.
Zidhiana : Iya Bram.
Bram : Kamu kangen aku nggak?
Walaupun kamu nggak nanya, aku pasti kangen kamu Bram. Apalagi Dias itu nyebelin banget hari ini. Aku pingin ada kamu sekarang, bathinnya.
Zidhiana : Always (emoji kiss)
Kembali pikirannya ke Dias. Ini adalah pertama kalinya dia membaca gelagat pria itu yang kesal atau lebih tepatnya cemburu. Seperti ini ternyata seorang Dias yang terkenal dengan kekonyolan di netranya menjadi orang yang panas hati.
***
Zidhiana memutuskan menemui Rasty di rumahnya sore ini. Dari semalam ia sangat ingin menelpon sahabatnya itu, namun lebih enjoy kalau curhat langsung.
“Ras, ternyata bener. Si Jody itu ember juga ya,” umpat gadis itu. Mencebikkan bibirnya kesal.
“Emank dia ngapain Zi?” sahut Rasty mengernyit bingung.
Ternyata sahabatnya itu lupa dengan apa yang telah diucapkannya kemarin, pikirnya. “Koq bisa Dias tahu kita main di pantai. Mulutnya siapa coba yang rumpi gitu.” Dia kembali mencibir.
Masih dengan perasaan kesal yang belum menjauh dari hatinya, Zidhiana menceritakan semuanya kepada sahabatnya. Setidaknya bisa mengurangi rasa berangnya untuk hari ini. Rasty juga sudah wanti-wanti mengingatkannya untuk tidak bermain api.
Tapi gadis itu diberi jalan untuk memilih Bram karena kehadiran Lely di antara Dias dan dirinya. Rasty juga orang pertama yang menyesal mengenali Dias kepadanya. Akhirnya sahabatnya itu hanya bisa memberinya kesempatan agar Zidhiana mencari kebahagiaan sendiri.
Bukankah dia adalah gadis yang kuat dan mampu mengendalikan perasaannya. Dia pasti mampu menghadapi apa yang akan terjadi di akhir cerita kisah cintanya nanti. Apakah tetap bersama Bram sang pujaan hati atau Dias sang penakluk hatinya.
Tiba-tiba Dias muncul di hadapan Rasty dan Zidhiana. Kedua sahabat itu saling bersitatap bingung. Rastypun jadi salah tingkah dibuatnya. Akhirnya dia mengalah mempersilahkan Dias duduk di samping sahabatnya.
“Masih lama pulangnya Zi?” tanya Dias. Tidak sedikitpun ada basa basi menyapanya sore ini.
Sepertinya ada yang tidak beres dengan gelagat Dias, bathinnya. “Ini udah mau pulang koq A'. Lagian juga udah mulai magrib, kan.”
Gadis itu berusaha menetralkan perasaan gundah yang menghantuinya dari kemarin. Apapun yang akan Dias putuskan nantinya, dia akan menerima tanpa ada penyesalan.
Akhirnya mereka berpamitan meninggalkan rumah Rasty. Setelah itu Dias membawanya ke cafe tempat biasa dia bertemu dengan Bram. Betapa shocknya dia ketika kendaraan mereka terparkir di depan sana. Apa kata teman-teman Bram atau pengolah cafe melihatnya saat ini bersama pria lain.
Untungnya pria pujaan hatinya tidak ada di kosannya beberapa hari ini. Setidaknya dia bisa menjaga perasaan Bram. Cahaya cintanya akan redup bila melihat pujaan hatinya terluka karenanya.
Tampak kecanggungan di antara mereka. Tidak satupun kata hangat keluar dari bibir mereka saat ini. Aura dingin kini mulai mengisi di pandangan gadis itu.
“Kamu pilih aku atau dia?” tanya Dias lugas.
To be Continue ...