Tampak kecanggungan di antara mereka. Tidak satupun kata hangat keluar dari bibir mereka saat ini. Aura dingin kini mulai mengisi di pandangan gadis itu.
“Kamu pilih aku atau dia?” tanya Dias lugas.
Zidhiana terperangah mendengar ucapan Dias. Selama ini dia selalu merasa nyaman berdekatan dengan pria penakluk hatinya itu. Namun, kali ini ia harus menerima tatapan tajam dari manik hazel di depannya.
“Kamu pilih aku atau Lely?” timpalnya. Zidhiana memandangnya dengan wajah datar.
Seketika Dias membeliakkan matanya. Dari mana dia tahu hubungannya dengan Lely. Dia tidak menyangka gadis polos yang di hadapannya saat ini membuatnya terpaku.
“Okey, aku akan jelasin. Aku hanya sebatas hubungan perkerjaan dengannya. Nggak lebih koq yank,” jelasnya sedikit melunak.
Zidhiana melengos setelah merespon kata-kata kebohongan yang diucapkan Dias. “Yakin?” tekannya.
Pertanyaan yang begitu singkat membuat Dias bungkam. Sebelum ia menjawabnya, gadis itu serta merta memungkas terlebih dulu.
“Jadi sekarang aku harus gimana A'? Membiarkan kalian tetap bercengkrama?” cecarnya.
“Ayo jawab Dias Putra Wijaya,” desaknya. Membuat pria itu semakin mati kutu di depannya saat ini.
“Kita tetap ber--”
Dengan terpaksa Dias memutuskan pembicaraannya karena pelayan cafe mengantarkan minuman ke meja mereka.
“Silahkan Zi,” sapa seorang pelayan cafe yang mengenalinya. Zidhiana menggangguk kikuk membalasnya.
“Sepertinya kalian udah saling kenal ya?” sindir Dias.
Gadis itu mendesah lelah. “Terus yang tadi dilanjutin aja, nggak perlu mengomentari yang lainnya,” sahutnya ketus.
Sebelum melanjutkan, Dias membasahi tenggorokannya dulu dengan minuman dingin di depan matanya. Berharap pikiran dan hatinya yang kalut saat ini menjadi adem seketika.
“Kita tetap bersama, Zi. Aku akan menjauhi Lely dan kamu juga meninggalkannya,” pintanya.
Ini adalah pilihan terberat baginya untuk meninggalkan Bram. Padahal Zidhiana berharap Dias akan mengakhiri hubungan mereka. Tapi malah sebaliknya. Ingin rasanya ia menolak, tapi apadaya dia hanya bisa mengangguk pasrah.
Sebelum Bram hadir membawa cahaya cinta di hatinya yang mulai redup, Dias telah mengisi kisah cintanya terlebih dahulu. Zidhiana harus bertanggung jawab atas permainan asmaranya sendiri.
***
Diary,
Aku sangat menyayangi Bram.
Hanya Bram ...
Cuma Bram ...
Dia yang menghiasi hatiku
Dia yang mewarnai hari-hariku
Aku bisa apa saat ini
Hanya menyakitinya???
Setitik cahaya bening keluar dari pelupuk matanya setelah menutup buku catatan hariannya. Dia menangis di sudut tempat tidurnya sambil menggenggam gantungan kunci pemberian Bram.
Memorinya berputar kembali dari awal sejak pertemuan pertama dengan Bram hingga terakhir mereka bermain di pantai. Cahaya cintanya kembali mulai redup. Hanya pria itu yang mampu membuatnya kembali bersinar.
Dddrrtt.. Drrrtt..
Panggilan pertama ...
Panggilan kedua ...
Bram : Hallo Dhiana
Air matanya belum juga berhenti mengalir di pelupuk matanya. Suaranya tercekat menahan tangis untuk menjawab panggilan Bram.
Zidhiana : Ya Bram. Ada apa?
Bram : Kamu sakit?
Zidhiana : Aku agak flu Bram.
Bram : Bohong ... Pasti kamu habis nangis, kan? Jujur ...
Zidhiana : Bener Bram, aku emank lagi--
Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Tut..
Zidhiana sengaja mematikan ponselnya agar Bram tidak menanyakan lebih tentang dirinya malam ini. Setelah gejolak emosinya mulai stabil, ia akan menghubungi Bram kembali.
Dia selalu ada untukku. Dia yang mengerti semua mauku. Dia yang selalu menemaniku, sedangkan kamu Dias ... hanya sebagai pengisi statusku. Betapa bodohnya aku memilih perak dan malah membuang berlian. Zidhiana mengusap wajahnya kasar.
Hari semakin larut, namun kedua bola matanya yang sendu belum juga bisa dipejamkan. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ini adalah hal pertama yang membuatnya seperti kehilangan jati diri.
Bukan seorang Zidhiana yang lemah seperti saat ini. “Aku harus bisa. Aku bisa menghapus jejak Bram di ingatanku,” tekadnya. Netranya mulai menutup, mencoba menghilangkan semua kenangan indah bersama pria pujaan hatinya. Akhirnya ia terlelap karena hatinya yang lelah.
***
Terdengar suara burung bersahut-sahutan dan bernyanyi di atas dahan pohon besar di tengah hutan itu. Alunannya telah menyadarkan tidur indah seorang gadis yang sedang patah hati di antara akarnya yang kokoh.Tempat ini begitu menyegarkan, tenang, damai, dan asing baginya.
“Kenapa aku bisa berada di sini?” gumamnya. Zidhiana berkali-kali mengerjapkan netranya. Setelah kesadarannya telah benar-benar kembali, ia pun melanjutkan langkah kakinya menyusuri sebuah jalan setapak yang di penuhi bunga-bunga Krisan nan indah di kanan kirinya.
“Hallooo ... Ada orang di sana?” teriaknya berkali-kali. Dia hampir putus asa mencari jalan keluar dari hutan itu. Tak satupun panggilannya ada yang menyahut.
Dia mulai lunglai kelelahan melangkahkan kakinya yang lemah hingga ia bertemu sebuah jembatan tua. Di bawahnya ada sebuah sungai dengan air yang mengalir sangat deras. Sedangkan di seberangnya ada sebuah perkampungan. Senyum indahnya terpancar seketika.
Sangking bersemangatnya dengan sisa tenaga yang ada, ia menyusuri jembatan ringkih tersebut. Dia berlari tanpa memikirkan kondisi jembatan tua yang hampir roboh itu.
Praakk...
Kakinya menginjak sebuah kayu keropos. Dia terperosok jatuh ke bawah. Untung saja tangannya sigap menggapai sisi jembatan yang masih kuat. Kini ia menggelantung, ibarat nasibnya sedang di ujung tombak.
“Tolooooong ... Tolong saya,” jeritnya histeris. Bibirnya tak henti memanjatkan doa, sesekali sesegukan dengan linangan air mata. Dia berharap akan ada pertolongan segera menghampirinya.
Tampak sebuah uluran tangan menjulur di hadapannya. Sepertinya ia sangat mengenali pemilik tangan itu. Kepalanya menengadah ketika namanya dipanggil oleh si penolong. “Ayo Dhiana, pegang tanganku cepat!” perintah Bram.
Dengan sekuat tenaga pria itu menarik tangan Zidhiana hingga akhirnya ia terselamatkan. “Makasih ya Bram,” ucapnya penuh haru.
Dia memeluk pria itu erat, meluapkan segala ketakutannya. Bram mengusap punggungnya perlahan hingga ia merasa nyaman. Lalu mereka meneruskan perjalan ke seberang sungai. Zidhiana jalan di depan diikuti oleh pria pujaan hatinya itu. Entah dari arah mana Dias muncul di belakang Bram. Dengan emosi yang menggelegak, pria itu menarik baju Bram dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke sungai.
Byuuuurrr..
Sontak Zidhiana menoleh ke belakang karena mendengar suara benda tercebur. Betapa terkejutnya ia melihat Bram sudah tidak ada lagi di belakangnya dan kini tergantikan oleh sosok Dias yang sedang tersenyum licik.
Dia berlari ke tepian sungai itu tapi tak jua menemukan pujaan hatinya. Hatinya pupus sudah. Dia menangis meraung-raung meluapkan perasaannya yang hancur berkeping-keping.
Tanpa disadari setetes cairan putih bening mengalir, membasahi pipinya. Semakin lama semakin deras, dia tersedu-sedu. Dia menyerka air matanya, lalu perlahan netranya terbuka. Ternyata ini semua hanya sebuah mimpi.
Dia sangat bersyukur apa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi. Ada perasaan takut jika benar suatu saat Dias mencelakai Bram. Lalu ia beranjak dari tidurnya. Jam menunjukkan masih pukul 3 pagi. Ini adalah saat yang tepat, pikirnya.
Kemudian dia bersuci dengan berwudhu, ia memanjatkan doa dan curhat kepada sang Khaliq di atas sejadahnya. Pelupuk matanya tak henti meneteskan air mata. Dia memasrahkan semuanya hanya kepada Maha Pemilik Hati setiap umatnya.
Ini adalah pertama baginya mengadu di sepertiga malam. Sesuatu tidak ada yang tidak mungkin terjadi tanpa seizinNya. Memintalah hanya kepadaNya, karena dia percaya suatu hari nanti ia akan menemukan cintanya kembali.
Hampir saja ia terlupa mengaktifkan ponselnya kembali. Dia mengambil benda pipih kesayangannya itu di atas nakas yang bersebelahan dengan lampu hias pemberian Bram, lalu menyalakannya. Serta merta muncul pesan singkat dari sang pujaan hati yang mungkin sebentar lagi akan ia lupakan.
Bram : Dhiana, kamu nggak papa, kan?
Bram : Koq belum aktif, aku khawatir Dhi? (emoji sedih)
Bram : Ya udah met bobo ya Dhi, kabari aku kalo kamu udah baik-baik aja (emoji kiss)
Pesan yang terkirim hampir sejam sekali itu menandakan kekhawatiran Bram tanpa kabar dari dirinya. Zidhiana mendesah lelah, bagaimanapun juga ia harus bersikap lebih dewasa. Dia akan meminta maaf dan akan menjaga jarak dengan Bram.
Beberapa kali ia menulis balasan pesan, lalu menghapusnya lagi. Begitu terus berulang-ulang sampai ia mendengkus kesal. Entah mengapa kata-kata ini sulit dirangkai, bathinnya. Akhirnya, ia mencoba mengetik kembali membalas pesan singkatnya.
Zidhiana : Aku nggak papa Bram. Tadi ponselku kehabisan daya. Maafin aku ya Bram (emoji kiss)
Zidhiana : Sleep tight Bram
***
Hari ini semua murid pengurus organisasi kesiswaan bergabung untuk memulai rapat tentang pertandingan olah raga camat cup. Biasanya sekolah anak pantai selalu menyabet piala kejuaraan bola voli setiap tahunnya. Kali ini mereka akan mempersiapkan team pemain unggul.
Sebagai seksi penanggung jawab di lapangan, Zidhiana dan team mulai sibuk ria akhir-akhir ini. Kesempatan ini akan dijadikannya alasan untuk menjaga jarak dengan Bram. Walaupun berat baginya, tapi ia sudah terlanjur berkomitmen kepada Dias.
Lapangan yang biasa digunakan untuk pertandingan, lokasinya tidak jauh dari kosannya Bram. Ini juga menjadi kesempatan pria itu menemui Zidhiana langsung. Beberapa hari ini mereka tidak pernah bertemu hanya komunikasi via ponsel. Terbesit rindu yang membelenggu Bram di hari-harinya.
Sore ini jadwal pertandingan antara anak pantai melawan anak gunung. Zidhiana hadir sebelum acara di mulai. Dia sangat cekatan mempersiapkan kebutuhan team pemain sekolahnya. Pak Suryo yang menunjuk langsung karena kinerjanya yang patut diacungkan jempol.
Begitu juga dengan Rasty dan Rifai turut hadir membantunya. Tapi hari ini ia hanya di temani oleh Rifai karena sahabat kecilnya itu sedang berhalangan hadir.
“Semangat bang, ayoooo ....” Zidhiana berseru menyemangati team mereka. Tepuk tangannya bergemuruh ikut berperan memberikan spirit.
Dari kejauhan Bram melihatnya yang begitu antusias menggelorakan semangat untuk mereka. Perlahan pria itu mendekatinya dan berdiri tepat di belakangnya.
Kini Bram berdiri sejajar dengan Rifai. Dia memberi kode dengan jari telunjuknya yang menempel ke bibir agar Rifai tidak berbicara sedikitpun. Rifai tersenyum dan mengerti apa yang diutarakan Bram.
Kedua telapak tangan Bram, menutup rapat kedua netra Zidhiana yang sedang fokus mengikuti pertandingan bola voli itu. Dia sontak memegang tangan berbulu halus yang menutupi kedua matanya itu sambil menggurutu.
“Aduuuhh Rifai ... Lepasin nggak!
Orang lagi seru-serunya gini koq malah bercanda,” omelnya.
Rifai yang melihatnya terkekeh geli. Begitu juga dengan Bram. Namun, belum juga kedua tangan Bram melepaskannya.
“Asem Faiiii ... Lepasin nggak!” umpatnya.
Setelah kedua tangan Bram dilepas, ia spontan membalikkan badannya dengan emosi yang menggelegak. “Kurang as--”
“Kenapa, mau marah ya?” Dia tersenyum menyeringai. Bram sangat puas mengusilinya. Sebenarnya ia tidak kuat menahan tawanya sedari tadi.
Wajah Zidhiana merona seketika. Karena kesalnya belum hilang, ia mencubit manja lengan pujaan hatinya itu. Rifai melihat mereka menjadi ikut tertawa renyah. Akhirnya mereka bertiga menonton bersama hingga acara selesai.